Jokowi Minta Inflasi Ekonomi RI Dijaga Tidak Terlalu Rendah

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 22 Oktober 2020
Dibaca Normal 1 menit
Jokowi meminta jajarannya mampu mempertahankan tingkat inflasi agar tidak terlalu rendah di masa pandemi saat ini.
tirto.id - Presiden Joko Widodo meminta jajarannya menjaga agar inflasi Indonesia tidak terlalu rendah. Menurut Jokowi inflasi yang terlalu rendah bisa menunjukan adanya tekanan permintaan yang dikhawatirkan akan berdampak pada produsen.

“Kondisi ekonomi 2020 sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Kali ini kita dituntut mampu mempertahankan tingkat inflasi agar tidak terlalu rendah,” ucap Jokowi dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi Tahun 2020, Kamis (22/10/2020).

Jokowi mengatakan keseimbangan antara suplai dan permintaan perlu dijaga dengan baik. Ia bilang hal ini akan berpengaruh signifikan bila ekonomi sudah pulih nanti agar produsen dapat terus bergerak.

“Saat perekonomian mulai pulih dan daya beli sudah kembali normal tidak terjadi tekanan signifikan pada harga,” ucap Jokowi.

Untuk menjaga daya beli masyarakat, Jokowi mengatakan pemerintah sudah menggelontorkan program bantuan sosial tunai. Mulai dari Program Keluarga Harapan (PKH), BLT dana desa, kartu Prakerja, subsidi gaji, dan bansos produktif dari presiden.

Adapun inflasi Indonesia sayangnya sudah mencapai posisi yang paling rendah selama era reformasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat untuk pertama kalinya Indonesia mengalami deflasi tiga bulan berturut-turut alias yang terburuk sejak tahun 1999 yang kala itu terjadi deflasi 7 bulan berturut-turut.

“Juli 2020 deflasi 0,1 persen mtom. Agustus 2020 deflasi 0,05 persen mtom. Kembali terjadi lagi di September deflasi 0,05 persen mtom,” ucap Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Kamis (1/10/2020).

Pada kondisi normal, deflasi bisa diartikan sebagai sesuatu yang positif. Deflasi berarti pemerintah berhasil mengendalikan harga-harga barang yang dikonsumsi masyarakat.

Namun, deflasi kali ini punya makna lain. Deflasi yang terjadi di tengah pandemi COVID-19 ini bisa dimaknai sebagai wujud rendahnya daya beli masyarakat. Dalam hukum ekonomi, rendahnya permintaan sementara pasokan tetap, maka akan diikuti dengan penurunan harga.

Rendahnya daya beli masyarakat juga tercermin dari inflasi inti yang terus menurun. Pada September 2020 inflasi inti tercatat hanya 1,86 persen year of year (yoy), lebih rendah dari inflasi inti 2019 yang mencapai 3,32 persen yoy. Inflasi inti ini juga disebut sebagai yang terendah sepanjang sejarah pencatatan BPS dan Bank Indonesia yang dimulai sejak 2004.


Baca juga artikel terkait INFLASI 2020 atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Bayu Septianto
DarkLight