Nuruzzaman
Ketua Bidang Kajian dan Hubungan Strategis PP GP Ansor

Jejak dan Ideologi ISIS serta Al-Qaeda

30 Mei 2017
Dibaca Normal 3 menit
Pelaku bom bunuh diri di Kampung Melayu telah dinyatakan Kapolri sebagai bagian dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD)—atau jaringan ISIS Indonesia.

Sejumlah WNI tercatat bergabung dengan ISIS, bahkan terlibat dalam aktivitas teror. Termasuk dalam kelompok Maute yang kini menduduki Kota Marawi, Filipina selatan. Pada Maret 2016, aparat keamanan Turki menangkap 16 WNI yang hilang di perbatasan Turki-Suriah.

Kementerian Luar Negeri, Badan Intelijen Nasional, dan Polri mensinyalir mereka menyeberang ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Motifnya macam-macam, entah itu ekonomi (mendapatkan uang yang besar ketika bekerja di ISIS) maupun ideologi (baiat kepada khalifah dan menjadi warga negara ISIS). BIN menyatakan sudah sekitar 500 WNI bergabung dengan ISIS.


Wajah Baru al-Qaeda

ISIS sebenarnya bukan spesies baru dalam gerakan Islam radikal, alih-alih metamorfosis dari Al-Qaeda. Embrionya muncul saat Abu Mus’ab al Zarqawi, pentolan Jamaah Tauhid wal Jihad, mengubah organisasinya menjadi al-Qaeda Iraq (AQI) pada 2004 dan mengklaim franchise al-Qaeda di Irak dan Semenanjung Arab.

Begitu Saddam Hussein jatuh pada April 2003, Al-Zarqawi yang sebelumnya berbasis di Herat, Afganistan Barat, segera pindah ke Irak Utara yang dihuni mayoritas Sunni. Irak pun jadi medan jihad baru. Mereka bertujuan mengusir pasukan Amerika dari Irak, mendirikan khilafah, memperluas konflik ke negara tetangga dan melibatkan diri dalam konflik Arab-Israel.

Pada Juni 2005, al-Zarqawi sempat membentuk organisasi payung Mujahidin Shura Council (MSC) yang bertujuan menyatukan perlawanan Sunni. Namun, upaya ini gagal karena Jamaah tauhid Wal Jihad melakukan tindakan kekerasan yang sembrono terhadap warga sipil dan menerapkan hukum Islam secara ketat di wilayah kekuasaannya yang dihuni komunitas Sunni moderat.

Setelah al-Zarqawi tewas pada 2005, posisinya digantikan Abu Ayyub al-Masri. Pada pertengahan Oktober 2006, al-Masri mendeklarasian Daulah Islam fi Iraq atau Islamic State of Iraq (ISI). Ini adalah peristiwa penting ketika sebuah elemen al-Qaeda mendeklarasikan pembentukan sebuah negara.

Pada 2007, kekuatan Islamic State of Iraq (ISI) atau Al-Qaeda di Iraq (AQI) sebagian besar terdiri dari sukarelawan asing. Sekitar 2.000 orang berasal dari Suriah dan sekitar 250 orang lain dari kawasan utara, yakni Chechen—mereka menyebut diri sebagai Jaish Muhajirin wal Anshar (AJA), yang dipimpin oleh Abu Umar al-Shishani.

Setelah mendeklarasikan Daulah Islam fi Iraq, pada 19 April 2007, mereka mengumumkan terbentuknya pemerintahan yang dipimpin oleh Abu Umar al-Baghdadi, dengan anggota kabinet sebanyak 10 orang. Sebelumnya, Abu Umar al-Baghdadi adalah wakil komandan Al-Qaeda, kemudian menjabat komandan. Pada April 2010, setelah Abu Ayub al-Misri dan Abu Umar al-Baghdadi terbunuh di Tikrit, Abu Bakar al-Baghdadi pun mengambilalih komando.


Pada April 2013, Abu Bakar al-Baghdadi mendeklarasikan perluasan ISI menjadi Islamic State of Iraq and Levant/Daulah Islamiyah Fi al-Iraq wa Sham (ISIL). Levant adalah nama lain dari Sham, gabungan Suriah dan Lebanon serta Palestina—yang lebih kita kenal dengan nama ISIS. Deklarasi ini sekaligus pernyataan penggabungan Jabhah al-Nusrah sebagai bagian dari ISIL.

Namun, karena misi berbelok dari misi perjuangan dengan menciptakan perang sektarian di Irak dan Suriah dan penggunaan aksi-aksi kekerasan, Jabhah al-Nusrah/al-Qaedah Syiria tidak lagi mengakui ISIS sebagai bagian darinya. Abu Bakar al-Baghdadi bahkan bersumpah untuk memimpin penaklukan Roma dan menyerukan umat Islam agar tunduk kepadanya. Sekitar 500 miliar dinar atau setara Rp5 triliun lenyap dari Bank Sentral Irak cabang Mosul ketika ISIS merebut kota di utara tersebut.

Meskipun Aiman al-Zawahiri, pemimpin tertinggi al-Qaeda pengganti Usamah bin Laden, menyatakan al-Qaeda tidak memiliki hubungan dengan ISIS, tetapi ISIS mengalami perkembangan pesat pada 2014.

Meski begitu, perbedaan antara Abu Bakr al-Baghdadi dan Al-Zawahiri tidak boleh disalahartikan sebagai sinyal bahwa ISIS tidak mengakui ideologi Al-Qaeda. Pada dasarnya ISIS tetap menganut ideologi al-Qaeda, sehingga ISIS lebih layak disebut kelompok sempalan al-Qaeda.Dan meskipun memiliki perbedaan taktis tentang tahapan perjuangan dan perbedaan substantif mengenai kepemimpinan pribadi, Al-Qaeda dan ISIS mengejar tujuan strategis yang sama.

Pengumuman Al-Baghdadi tentang sebuah “Khilafah” pada 29 Juni 2014 dan pidato publik pada 4 Juli 2014 menunjukkan langkah ISIS untuk mengambil keuntungan teritorial. Dengan menggunakan diksi “khalifah”, ISIS bermaksud mengeksploitasi konotasi agama, sejarah, dan ideologi sebuah kata, guna mengesankan kebangkitan pemerintahan khalifah di tahun-tahun awal Islam.

Hal ini sejalan pernyataan Usamah bin Laden bahwa tahap akhir dari kampanye teror al-Qaeda adalah pembentukan struktur politik guna mengoreksi kesalahpahaman tentang agama. Teknik propaganda yang demikian tersebut dirancang untuk mendorong relawan internasional bergabung dengan gerakan.

Al-Qaeda, dari Gagasan ke Praktik

Al-Qaeda sudah bermutasi dari serangkaian ide ekstremis menjadi serumpun gagasan dan praktik yang menyebar melalui pelbagai kelompok dan jaringan sosial, dengan kampanye-kampanye kekerasan yang membahayakan keamanan internasional.

Apa yang dilakukan ISIS tidak terlepas dari kepentingan global pelbagai negara besar dan negara-negara Timur Tengah dalam rangka merombak lanskap geopolitik di Timur Tengah. Dan yang lebih penting lagi: hadirnya para sukarelawan dari negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, Inggris, Australia, Jerman, Perancis, yang membantu para anggota ISIS.

Ancaman permanen al-Qaeda, ISIS, dan beberapa kelompok terkait kini tak bisa dianggap isapan jempol semata. Mereka memiliki kemampuan finansial dan logistik untuk mendesain, mendanai, memfasilitasi atau melaksanakan serangan teroris. Melalui perencanaan jangka menengah dan panjang, al-Qaeda menyasar kombatan-kombatan asing agar terlibat dengan gerakan al-Qaeda.

Sementara itu, banyak militan al-Qaeda melakukan diaspora, berpindah kelompok atau mendirikan kelompok baru di Semenanjung Arab dan di Afrika (contoh teranyar adalah al-Shabaab). Tokoh-tokoh veteran al-Qaeda membawa pelbagai keterampilan, kemampuan, dan jaringan sosial ke kelompok-kelompok ini, sampai ke Indonesia.

Situasi pasca konflik di Irak dan Suriah hanya akan mendorong mereka menyebar ke pelbagai penjuru dunia, sebagaimana perang Afganistan dan Uni Soviet mendorong diaspora kombatan di banyak tempat, dari Aljazair hingga Filipina, lengkap dengan jaringan, gagasan, dan kecakapan di lapangan.

Semakin sulit memprediksi kapan berakhirnya gelombang terorisme ala ISIS yang kita hadapi kini, tidak terkecuali di Indonesia, negara berpenduduk mayoritas muslim yang menjadi bagian dari dinamika Islam Politik di Timur Tengah, sekurang-kurangnya sejak 1980-an.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.
DarkLight