7 Agustus 2017

Jalan Hidup Basofi Sudirman: Jenderal, Gubernur, Penyanyi Dangdut

Infografik Mozaik Basofi Sudirman
Ilustrasi Mozaik Basofi Sudirman. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Petrik Matanasi - 2 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Basofi Sudirman adalah anak jenderal yang jadi jenderal. Karir militernya mentok karena dijadikan Gubernur Jawa Timur.
tirto.id - Basofi Sudirman mendadak dangdut pada 1992. Dia tak menyangka kaset rekamannya, dengan hits andalan "Tidak Semua Laki-laki" ciptaan Leo Waldy lumayan meledak di pasaran. Meledaknya album itu, tentu mengangkat popularitas Basofi.

Suksesnya album ini sempat membuat sebagian kalangan khawatir. Tak terkecuali atasan Basofi, Mayor Jenderal Wijogo Atmodarminto. Saat itu Wijogo adalah Gubernur DKI Jakarta dan Basofi menjadi wakilnya.

“Masa itu memang tidak biasa seorang pejabat juga menjadi penyanyi yang popular,” aku Basofi dalam artikel "Tidak Semua Laki-laki" dalam buku Pak Harto: The Untold Story (2011:245).

Suksesnya hits Basofi sampai juga ke kuping daripada Presiden Soeharto. Wijogo khawatir Presiden tidak berkenan dengan Basofi yang mendadak dangdut itu dan karenanya mengaku salah. Ternyata, Presiden Soeharto malah suka Basofi berdangdut. Bagi Soeharto, seperti diakui Wijogo, menyanyi adalah bentuk komunikasi dengan rakyat.

Selain menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basofi juga menjadi Ketua DPD Golongan Karya (Golkar) DKI Jakarta. Ketika hits Basofi meledak, Indonesia sedang berada dalam masa kampanye jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 1992. Saat itu, pemilihan gubernur belum secara langsung, tapi legislatif. Hits "Tidak Semua Laki-laki" dijadikan Basofi magnet kampanye itu.

Basofi tidak tahu bagaimana efek lagunya terhadap kemenangan Golkar. Namun satu yang pasti, pada 1993 Basofi jadi Gubernur, bukan di Jakarta, melainkan di Jawa Timur.

Anak Letnan Jenderal Soedirman


Keluarga Basofi berasal dari Bojonegoro, Jawa Timur. Basofi lahir pada 28 Desember 1940 sebagai anak seorang guru dan tokoh masyarakat. Ayahnya, yang bernama Raden Soedirman, adalah lulusan Normaal School (sekolah calon guru swasta). Ayah Basofi bukanlah Soedirman yang berasal dari daerah Banyumas-Cilacap. Menurut catatan Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI AD (1989:326-327), Soedirman lahir di Ngringinrejo, Kalatidu, Bojonegoro, Jawa Timur.

“Soedirman adalah seorang santri Jawa Timur yang amat saleh,” tulis Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016:48). Soedirman sempat menjadi guru sebelum masuknya balatentara Jepang. Masa pendudukan Jepang, ikut mengubah jalan hidupnya.

Setelah ikut Seinendan, Soedirman masuk pelatihan perwira Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor dan jadi Komandan Peleton (Shodancho) dari 1943 hingga 1945. Ketika Indonesia merdeka Raden Soedirman menjadi komandan batalion pada 1945, lalu komandan resimen Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dari 1946 hingga 1952 di sekitar Bojonegoro dan Surabaya.

Setelah Peristiwa 17 Oktober 1952, Letnan Kolonel Soedirman tergolong perwira yang menentang aksi 17 Oktober 1952 yang didalangi oleh Kolonel Nasution. Di akhir bulan, dia menjadi Panglima Tentara & Teritorium V/Brawijaya (Jawa Timur) hingga 1956. Setelah jabatan ini, Raden Soedirman dikirim ke Sulawesi Selatan untuk ikut mengatasi Pemberontakan Kahar Muzakkar yang membawa-bawa bendera Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Jabatannya dalam operasi yang mustahil itu adalah: Panglima Komando Daerah Pertempuran Sulawesi Selatan dan Tenggara (KOPSST), dari 1956 hingga 1957. Raden Soedirman sempat menjadi komisi pencari fakta demi penyelesaian konflik di akhir dekade 1950an.

Soedirman yang “pernah sekali mengajar di madrasah, dan diharapkan akan mempunyai daya Tarik Islam sebagai imbangan Kahar dan DI,” tulis Barbara Sillars Harvey, dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi ke DI/TII (1989:242).



Raden Soedirman sempat menjabat sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat di Bandung, dari 1963 hingga 1966. Pangkatnya sudah Mayor Jenderal kala itu. Kariernya tidak melesat meski ada banyak jenderal senior di Angkatan Darat terbunuh.

“Di mata Soeharto, bisa diduga, Letnan Jenderal TNI Raden Soedirman adalah potensi ancaman bagi kekuasaannya,” tulis Salim Said.

Setelah tidak aktif lagi di militer, Soedirman aktif di beberapa jabatan penting juga. Antara tahun 1966 hingga 1970, Raden Soedirman menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat-Gotong Royong (DPR-GR). Dia pernah juga menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Di luar pemerintahan, Soedirman adalah pimpinan Pendidikan Tinggi Dakwah Islam dan aktif di gerakan Pramuka. Majelis Ulama Indonesia (MUI) disebut-sebut lahir berkat Raden Soedirman pula. Keislaman Raden Soedirman sendiri kemudian makin lengkap dengan naik haji.



Basofi Juga Terkebiri


Sebelum Raden Soedirman tidak di militer lagi, putranya, Basofi Soedirman sudah jadi taruna di Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang, pada awal dekade 1960. Basofi mengikuti jejak Raden Soedirman. Basofi bahkan berhasil masuk satuan elite setelah lulus AMN pada 1963.

Menurut catatan Harsya Bachtiar (1989:327), di Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), Basofi pernah menjadi Kepala Biro Operasi. Ketika satuan itu bernama Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopasandha) dia pernah jadi komandan detasemen tempur pada 1971.



Basofi juga pernah menempati posisi komandan batalion pada tahun 1973. Saat itu tempat tugasnya adalah di Batalyon Infanteri 512 KODAM Brawijaya, tempat ayahnya pernah menjadi Panglima sebelum 1957.

Pernah pula Basofi menjabat Komandan Distrik Militer (Dandim) di Jember pada 1977. Di Seskoad, tempat ayahnya pernah jadi komandan, Basofi sempat juga jadi dosen. Di zaman M. Jusuf jadi Panglima ABRI, Basofi sempat menjadi Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara (Brigif Linud) Kostrad, dari 1981 hingga 1983.

Setelahnya dia lebih banyak di komando teritorial. Mulai dari Asisten Teritorial KODAM Brawijaya (1983-1984), Komandan Korem 083, Malang dari 1985 hingga 1986. Selanjutnya, dari 1986 hingga 1987 dia menjadi Kepala Staf KODAM Bukit Barisan. Itulah jabatan penting terakhirnya di Angkatan Darat.

Basofi kerap dianggap pensiun terlalu dini, baru 47 tahun. Pangkatnya sudah sudah Brigadir Jenderal ketika itu. Sebenarnya dia masih punya waktu sekitar 8 atau 9 tahun untuk menjadi jenderal penuh atau setidaknya Letnan Jenderal. Dari sisi kepangkatan, nasib Basofi tidak seperti ayahnya. Kesamaan dirinya dengan ayahnya adalah mereka sama-sama populer.

Di mata banyak orang sipil, Basofi yang meninggal pada 7 Agustus 2017 itu cukuplah cemerlang untuk soal jabatan, karena dia mencapai jabatan Gubernur. Namun dari sisi orang-orang yang nyaman di militer, bisa dibilang Basofi sebenarnya, “ditendang ke atas” jadi Wakil Gubernur DKI Jakarta. Tentu saja sulit baginya menuju jabatan impian perwira TNI-AD, jadi KSAD atau Panglima ABRI.

Baca juga artikel terkait MILITER atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight