Jakarta Fashion Week 2020: Terobosan Baru, Masalah Lama

Model mengenakan busana rancangan Benedicta Liem saat peragaan busana "Epitome" pada Jakarta Fashion Week 2020 di Senayan City, Jakarta, Minggu (27/10/2019). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/aww.
Oleh: Joan Aurelia - 29 Oktober 2019
Dibaca Normal 6 menit
Pekan mode bukan lagi ajang jualan, melainkan juga ajang bagi para influencer menampilkan diri dan memviralkan acara.
tirto.id - Tahun ini Jakarta Fashion Week digelar di tengah munculnya wacana global soal relevansi acara pekan mode pada zaman sekarang.

Seturut laporan Vox Februari 2019 lalu, pekan mode yang semula didapuk sebagai acara untuk mempromosikan karya perancang busana, kini tidak lagi mampu meningkatkan keinginan publik untuk membeli baju. Kesimpulan itu ditarik setelah tim Vox menyaksikan New York Fashion Week, salah satu pionir pekan mode dan juga ajang pekan mode terbesar dunia yang sanggup menggelar lebih dari 200 peragaan busana.

Rebecca Jennings, penulis artikel "The Decline of Fashion Week, Explained", menyebut bahwa hal yang ada di benak orang-orang AS--termasuk kaum milenial-- saat ini memilih menghabiskan uang untuk mengonsumsi hal-hal yang berhubungan dengan pengalaman seperti berlibur ketimbang membeli busana. Jumlah uang yang dialokasikan untuk membeli busana--baik formal maupun kasual-- terus menurun.

Orang-orang lebih tertarik melihat unggahan busana siap pakai dari jenama yang bisa mereka simak di media sosial seperti Instagram, tanpa perlu lagi menunggu tren apa yang ditampilkan dalam panggung peragaan busana.

September 2019, Marc Brain, jurnalis Quartzy, melansir laporan "Do Fashion Weeks Still Have a Purpose?" yang menyebut salah satu alasan pekan mode bisa jadi tak relevan karena sudah bukan zamannya lagi publik harus menunggu empat sampai enam bulan setelah peragaan untuk bisa membeli barang di toko.

Sistem tersebut dibuat pada dekade 1940an. Masa awal pekan mode diselenggarakan di kota seperti Paris dan New York. Prinsipnya, para desainer merancang koleksi busana untuk diperlihatkan di depan para jurnalis dan pembeli busana.

Masa itu, jeda waktu berbulan-bulan tidak jadi masalah karena para jurnalis media cetak, terutama majalah mode--medium promosi paling berpengaruh pada zamannya--memang butuh waktu setidaknya dua bulan untuk mengerjakan satu edisi. Dengan demikian, majalah akan terbit dalam kurun waktu yang berdekatan dengan ketersediaan busana koleksi terbaru di pasaran.

Tapi pada masa sekarang, kala Instagram sudah jadi medium efektif untuk menyebarkan informasi dan perusahaan retail seperti Zara, Forever 21, dan H&M mampu dengan cepat memproduksi busana serupa karya desainer yang tampil di panggung pekan mode, maka sistem tersebut tak lagi bisa sepenuhnya diandalkan.

Pada 2016, desainer Tom Ford pernah memprotes hal tersebut. Tak lama setelah protes itu muncul, rumah mode Burberry, menerapkan konsep "see now buy now" dalam peragaan busana di pekan mode. Konsep tersebut memungkinkan calon pembeli bisa mendapatkan busana sesegera mungkin tanpa harus berbulan-bulan menunggu.

Cara Burberry akhirnya diikuti oleh sejumlah label seperti Tom Ford dan Tommy Hilfigher. Namun, sampai hari ini, tak semua jenama tersohor mau menerapkan konsep tersebut.

"See now buy now" juga berpengaruh pada gaya rancangan busana yang menjadi lebih sederhana. “Sekarang kreativitas seolah bukan satu-satunya hal utama. Sejumlah brand memilih menonjolkan logo ketimbang mengeksplorasi desain. Mungkin hal itu dilakukan untuk memenuhi selera target pasar,” kata Michael Pondaag, fashion director Mugi Rekso Abadi Media Group (perusahaan yang menaungi publikasi majalah mode franchise seperti Harper’s Bazaar, Cosmopolitan, dan Her World).

Pondaag yang sering mendatangi pekan mode di Paris, New York, Milan, dan London pun merasa bahwa kini acara pekan mode terutama New York tampak lesu. Ia merasa hanya jenama besar seperti Louis Vuitton dan Chanel yang masih punya gairah dalam menerapkan konsep seliar mungkin dalam peragaan busana.

Lainnya, menurut Michael, cenderung memilih cara praktis dengan mengadakan peragaan busana di gedung tua atau bekas gudang dan tidak mendekorasi ruang. Ia sendiri tak tahu pasti alasan di balik ‘lesunya’ pekan mode, tapi kondisi finansial perusahaan retail bisa jadi salah satu alasannya.


Lepas dari Bayang-Bayang Femina Group

“Lihat sendiri, kan, di sini baik-baik saja,” kata seorang kawan kala kami berjalan bersama menuju lokasi peragaan busana JFW di lahan kosong milik Senayan City Mal, Jakarta Selatan. Hari itu adalah hari ketiga pekan mode. Saya hadir di sore hari dan mendengar selentingan obrolan panitia yang mengungkap bahwa sejumlah peragaan busana hari itu ramai pengunjung.

Sebagai gambaran, ruang peragaan busana terdiri dari delapan tribun yang masing-masing bisa memuat 70an orang. Bila ditotal, seluruh ruangan dapat menampung sekitar 600 orang. Biasanya, ruangan betul-betul padat pada peragaan busana terakhir yang menjadi penutup rangkaian acara pekan mode. Tamunya adalah para influencer, kalangan sosialita, tim sponsor, kerabat desainer, dan jurnalis.

Ziggy Zea, humas Jakarta Fashion Week 2020 bilang bahwa tahun ini target pengunjung sekitar 50.000 orang, naik 10.000 dari jumlah pengunjung tahun sebelumnya. Dalam kurun waktu satu minggu ada 79 peragaan busana dari 250an label busana.

Pada 27 Oktober 2019, fashion blogger Diana Rikasari lewat akun Twitternya menyatakan dirinya cukup menyayangkan keberadaan muse para desainer (biasanya merupakan para influencer mode dan kecantikan) dalam peragaan busana.

“Untuk fashion show sekelas JFW, rasanya yang perlu dirayakan adalah seni mode itu sendiri: baju dan makna koleksinya. Bukan jadi fokus popularitas di social media,” tulisnya. Ia merasa publik lebih tertarik melihat muse ketimbang mengamati busana karya desainer.


Kenyataannya, fokus JFW tahun ini memang bukan hanya menampilkan karya desainer. Ini adalah tahun pertama JFW lepas dari Femina Group, grup media yang menciptakan dan mengorganisir acara selama 11 tahun.

Hal ini mungkin jadi sesuatu yang “unik” karena lazimnya acara pekan mode yang membawa nama lokasi dan diselenggarakan oleh asosiasi mode. New York Fashion Week, misalnya, diselenggarakan oleh Council of Fashion Design Association. Paris Fashion Week diselenggarakan asosiasi adibusana Prancis, lalu London Fashion Week digelar British Fashion Council.

Di Indonesia, hal ini tidak terjadi lantaran negeri ini punya beberapa asosiasi mode--Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia, Ikatan Perancang Mode Indonesia, Indonesia Fashion Chamber--dengan "ideologi", tujuan, dan anggota yang berbeda hingga cukup sulit untuk menjalin kolaborasi satu sama lain dalam menyelenggarakan acara bersama.

Dua belas tahun lalu, Femina Group, sebagai majalah mode dan gaya hidup yang tersohor, merasa perlu membuat acara pekan mode agar Jakarta bisa dipandang sebagai kota fesyen di Asia Tenggara. Saat itu, pekan mode JFW memang jadi pekan mode terbesar yang diselenggarakan di Asia Tenggara.

Mereka tak hanya ingin menampilkan desainer lokal, melainkan juga ingin memproduksi para desainer lain lewat berbagai program--lomba perancang mode dan program mentoring desainer. Kelak, sebagian besar para desainer alumni program tersebut akan mengisi slot peragaan busana di JFW.

Kini, JFW selepas Femina Group ingin menjangkau massa yang lebih besar dan lebih muda. Maka dari itu, penjualan tak selalu jadi fokus utama. Tahun ini, jumlah buyer yang diundang dan hadir di dalam JFW tidak bertambah secara signifikan. Tetapi panitia menitikberatkan pada proyek kerjasama dengan berbagai komunitas dan individu berpengaruh seperti influencer yang memiliki lini busana.

Salah satu pola kerjasama yang terjadi ialah berbagi tips fesyen kepada para peserta program dalam membuka booth di area penjualan busana, termasuk pula memberi masukan terkait tips bisnis.


Harapan dan Tantangan

Kini JFW masih bisa dikatakan sebagai pekan mode skala terbesar yang diselenggarakan di Jakarta dan masih jadi harapan bagi sejumlah pelaku mode untuk membesarkan label mereka.

Nonita Respati, pemilik label busana Purana, mengisahkan dirinya sudah lebih dari lima kali mengikuti peragaan busana di JFW dengan bekerjasama bersama sponsor. Dua tahun terakhir, ia berkolaborasi dengan Sinarmas yang hendak menjalani CSR di bidang fesyen ramah lingkungan. Nonita menciptakan busana yang diproduksi dengan material yang lebih organik. Koleksi yang diberi nama Humbang Kriya tersebut mendapat respons yang baik dari pembeli dari Kuwait.

“Ia membeli secara wholesale dan terus repeat order. Di Kuwait, busana dipasarkan di multi brand store. Selain itu, pihak Sinarmas juga terus meminta untuk memproduksi ulang koleksi. Berarti mereka memang benar-benar tertarik dengan konsep ini,” kata Nonita.

Harapan juga muncul dari Yoshio Yokobori, konsultan fesyen asal Jepang. Lima tahun belakangan, ia selalu membawa desainer busana asal Jepang untuk menggelar peragaan busana di JFW. Desainer-desainer yang dibawa adalah desainer yang telah terkurasi dan masuk dalam asosiasi Japan Fashion Week.

“Pemerintah Jepang sebagai pihak yang mensponsori Japan Fashion Week melihat Indonesia sebagai pasar potensial sehingga mereka ingin bekerjasama dengan pelaku fesyen di Indonesia,” kata Yokoburi yang bekerja untuk Japan Fashion Week.

Kami berbincang di fashionlink, ruang yang dibuat sebagai arena berjualan para desainer yang tampil di JFW. Booth yang memamerkan karya para desainer Jepang ini memang sepi pembeli--yang selalu tampak ramai di tempat ini ialah booth hijab yang menjual barang dengan harga ramah kantong--, tapi bagi Yokoburi hal itu tak masalah lantaran ia tetap dikontak oleh sejumlah e-commerce yang tertarik memasarkan produk karya para desainer Jepang.

“Kami terbuka untuk segala jenis kerjasama termasuk dari sisi produksi barang. Dan JFW adalah satu-satunya pekan mode yang bisa membuat kami terekspos lewat peragaan busana,” lanjutnya lagi.

Selain itu, ada saat di mana para pelaku event harus bersabar hati menghadapi kendala teknis seperti keterlambatan waktu dan perkara teknis produksi. Perdebatan klasik seperti warna lampu dan waktu kemunculan logo juga tetap muncul seperti tahun-tahun yang lalu, seolah belum bisa diuraikan solusinya.

Setiap desainer memiliki konsep peragaan busana masing-masing dan mungkin ini pula yang membuat para panitia--yang sebagian tidak berasal dari ranah event organizer--cukup kesulitan memenuhi permintaan yang berbeda dari tiap desainer atau fashion stylist.

Dengan jumlah panitia internal yang kurang dari 50 orang, maka dapat dimaklumi jika mereka cukup kewalahan mengurus 108 jenis acara. Sementara perekrutan tim eksternal juga tak selalu mampu membuat acara berjalan sempurna.



Kata Mereka tentang JFW

Ada yang menganggap JFW tampak stagnan dalam empat tahun belakangan. Tidak ada perubahan berarti dari segi teknis produksi--alur backstage, proses gladi bersih, dan teknis tata panggung-- maupun program-program yang ada.

Lenni Teja selaku Ketua JFW terus menyatakan timnya tetap berupaya menghadirkan kebaruan soal tampilan ruang peragaan busana agar bisa serupa dengan kiblat mereka yakni Tokyo Fashion Week. Dari sisi konten, ia berupaya membuat beragam talkshow seputar fesyen--tahun lalu tema yang diangkat ialah fesyen berkelanjutan. Tahun ini tema ditambah soal keragaman di Indonesia.

Tirto menghubungi beberapa jurnalis dan pengamat mode untuk menanyakan pendapat mereka terkait pekan mode. Salah satunya adalah Lynda Ibrahim, penulis mode yang setiap hari menghadiri JFW sejak sembilan tahun lalu. Menurutnya, acara ini bisa punya dampak signifikan bagi banyak kalangan.

“Desainer pemula & sponsor yang langsung berkaitan dengan dunia mode (probabilitas mendapat paparan dari jumlah kru media yang amat besar tiap harinya), awak media yang serius mengikuti perkembangan mode karena bisa mendapat paparan tinggi jumlah show, serta desainer hanya dalam waktu seminggu.”

Ninuk Pambudy, mantan jurnalis mode senior yang kini jadi Pemimpin Redaksi Kompas berpendapat bahwa pekan mode adalah ajang promosi karya desainer yang kesuksesannya bergantung pada setiap pihak yang terlibat dalam acara.

Sementara Samuel Mulia, penulis dan pengamat mode, cukup menyayangkan bahwa Indonesia belum mampu menjadikan ranah mode sebagai industri dan pekan mode sebagai acara yang mendukung industri tersebut.

“Dalam industri, (semestinya) ada data yang bisa dikonsumsi publik. Kita bisa tahu pergerakan bisnis setiap desainer dengan jelas. Siapa yang bangkrut siapa yang maju. Seperti di luar negeri. Bila tidak demikian, acara pekan mode hanya akan tampak sebagai program acara rutin tahunan yang diselenggarakan oleh institusi tertentu,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait JAKARTA FASHION WEEK 2020 atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight