Ironi Tempe: Andalkan Kedelai Impor, Diusulkan jadi Warisan Budaya

Reporter: Riyan Setiawan - 24 Feb 2022 11:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Pemerintah ingin menjadikan tempe sebagai warisan budaya ke UNESCO, tapi bahan bakunya yakni kedelai bergantung dari impor.
tirto.id - Perajin tempe dan tahu di Indonesia melakukan aksi mogok produksi selama tiga hari, terhitung 22 hingga 23 Februari 2022. Aksi mogok tersebut dilakukan sebagai langkah protes atas naiknya harga kedelai yang menjadi bahan baku produksi tempe dan tahu.

Ketua umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu (Gakoptindo) Aip Syarifudin mengatakan, kenaikan harga kedelai setiap tahun masih bisa ditoleransi oleh perajin. Misalnya pada 2020 harga kedelai impor per kg hanya di kisaran Rp7.500/kg.

Kemudian pada 2021 kedelai dalam setahun naik menjadi Rp9.500/kg, tapi pada Desember 2021 sampai Februari 2022 alias hanya selang 3 bulan, harga kedelai melonjak menjadi 11.500/kg.

“Ada yang haganya sekarang itu Rp11.100/kg, kemudian ada juga yang sampai dengan Rp11.750/kg jadi rata-rata Rp11.500/kg. Kalau di Kalimantan Rp12 ribu/kg, di Aceh 13 ribu/kg, gimana distribusinya,” kata Aip kepada Tirto, Senin (21/2/2022).

Dampak dari tingginya harga kedelai tersebut, para perajin tempe akan menaikan harga 10 hingga 20% atau mencapai Rp6.000 mulai 24 Februari.

Namun, di tengah aksi mogok perajin tempe karena harga kedelai yang meroket, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) justru akan mengajukan tempe menjadi warisan budaya tak benda (WBTb) sebagai intangible cultural heritage (ICH) UNESCO 2022. Usul ini diklaim datang dari para perajin hingga komunitas yang difasilitasi oleh Kemendikbudristek.

Selain Tempe, terdapat juga Reog Ponorogo, Budaya Sehat Jamu, Ulos, Tenun Ikat Sumba Timur, dan Kolintang. Tempe, Reog Ponorogo, dan Budaya Sehat Jamu dijadikan sebagai nominasi tunggal.



Direktur Pelindungan Kebudayaan Kemendikbud Ristek, Irini Dewi Wanti mengatakan enam WBTb tersebut merupakan hasil seleksi Lokakarya Pengusulan ICH UNESCO pada 15-16 Februari 2022.

“Tim Juri dan Tim Direktorat Jenderal Kebudayaan memberikan rekomendasi usulan WBTb Indonesia untuk diajukan ke dalam Daftar ICH-UNESCO," kata Dewi dalam keterangan tertulis sebagaimana dikutip pada Selasa (22/2/2022).

Dewi menjelaskan, alasan tempe diusulkan menjadi WBTb lantaran telah dikenal oleh masyarakat Indonesia hingga luar negeri. Tempe juga makanan sehari-hari yang murah dan sehat.

Dewi meminta agar pengusul enam WBTb tersebut agar segera menyerahkan format nominasi yang telah dilengkapi 10 foto dan video berdurasi 10 menit paling lambat 14 Maret mendatang.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno juga pernah mengumumkan akan mendaftarkan tempe sebagai warisan kuliner budaya dunia UNESO. Upaya mengajukan tempe ke UNESCO akan dilakukan di penghujung semester kedua 2021.

“Kami mendukung tempe dari ukuran saset sampai sebesar bata bisa ditetapkan sebagai warisan budaya dunia yang membutuhkan tahapan-tahapan,” kata Sandiaga dalam Weekly Briefing Kemenparekraf di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin (24/5/2021).

Warisan Budaya, tapi Kedelai Impor

Sejarawan makanan dari Universitas Padjajaran, Fadly Rahman menilai sangat ironi ketika niat pemerintah yang ingin menjadikan tempe sebagai warisan budaya ke UNESCO, namun bahan bakunya yakni kedelai bergantung dari impor.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume impor kedelai pada 2021 mencapai 2,49 juta ton atau naik 0,58% dibandingkan 2020 yang tercatat sebanyak 2,47 juta ton. Sementara nilai impornya mencapai 1,482 miliar dolar AS pada 2021.

Amerika Serikat menjadi pemasok utama kedelai impor dengan nilai impor mencapai 1,29 miliar dolar AS dengan volume impor mencapai 2,15 juta ton. Amerika memasok sekitar 87% kebutuhan impor kedelai Indonesia pada 2021.

Selain Amerika, terdapat beberapa negara yang juga menjadi pemasok kedelai impor Indonesia meski nilainya jauh di bawah AS, seperti Kanada, Argentina, Brasil, Malaysia, Perancis, India, dan Singapura.

“Jadi, kan, kondisinya lucu kalau kita usul jadi warisan budaya ke UNESCO, tapi kedelainya impor,” kata Fadly kepada reporter Tirto, Selasa (22/2/2022).



Usulan tempe jadi WBTb, kata Fadly, semakin kontras dengan harga kedelai impor yang tidak stabil bahkan naik yang membuat para perajin tempe terhimpit. Dampaknya, para perajin tempe pun melakukan aksi mogok dan berencana menaikkan harga.

“Jadi malah nambah ironi, pada satu sisi yang akan mengangkat derajat tempe ke dunia, tapi para perajin tempe meradang, karena harga kedelai tinggi di pasaran dan impor," ucapnya.

Fadly menyarankan, jika pemerintah ingin menjadikan tempe sebagai warisan budaya di UNESCO, maka sebaiknya kedelai yang menjadi bahan baku tempe harus bisa dipenuhi dari dalam negeri dan mengurangi porsi impor.

Caranya, kata dia, perbaikan dari sisi hulu. Pemerintah harus membantu para petani kedelai agar bisa memenuhi kebutuhan bahan baku pembuatan tempe supaya tidak melakukan impor.

Kemudian bantu para perajin tempe agar bisa membeli kedelai dengan harga murah supaya bisa dijual dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat. Sehingga, tempe benar-benar makanan rakyat Indonesia yang diproduksi dari dalam negeri tanpa campur tangan asing.

“Jadi kalau mau produksi tempe dari hulu sampai hilirnya harus berdaulat, sehingga layak diajukan jadi warisan budaya Indonesia ke UNESCO," kata Fadly.

Ketua Umum Gakoptindo Aip Syarifudin mengaku pihaknya merupakan salah satu organisasi yang mengusulkan tempe sebagai warisan budaya ke UNESCO. Kendati demikian, dia berharap kedelai untuk bahan baku pembuatan tempe dapat diproduksi di dalam negeri melalui petani.

Pasalnya, saat ini petani Indonesia hanya dapat memproduksi dan menghasilkan 300 ribu ton kedelai per tahun. Sementara kebutuhan kedelai di Indonesia mencapai 3 juta ton per tahun. Artinya hanya dapat memproduksi 10% kedelai, sementara 90% harus impor.

“Ketika kita mengusulkan ke UNESCO, seharusnya mulai dari bahan baku sampai produk harus dari dalam negeri agar memiliki identitas dari Indonesia," kata Aip kepada reporter Tirto, Selasa (22/2/2022).

Aip pun berharap jika tempe dapat menjadi warisan budaya di UNESCO bisa mensejahterakan petani kedelai hingga perajin tempe.

Jika itu terjadi, kata dia, sebuah keniscayaan Indonesia bisa mengekspor tempe dan harganya bisa naik hingga 10 kali lipat menjadi Rp100 ribu/kg. Sehingga dapat mensejahterakan petani hingga para perajin tempe.

“Tukang tempe sejahtera dan petani kedelai juga lebih bergairah, bisa dapat harga yang bagus,” kata dia.

Respons Kemendikbudristek

Direktur Pelindungan Kebudayaan Kemendikbudristek, Irini Dewi Wanti mengatakan, saat ini bahan baku kedelai lokal sudah mulai digalakkan lagi.

“Bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk membuka lahan,” kata Dewi saat dikonfirmasi reporter Tirto, Selasa (22/2/2022).

Dewi mengaku, Kemendikbudristek saat ini hanya bertugas mengusulkan dan menjadi kontak person dalam mengajukan tempe sebagai WBTb. “Apabila ada perbaikan berkas usulan yang diinformasikan oleh sekretariat ICH UNESCO Paris,” kata dia.


Baca juga artikel terkait TEMPE atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Abdul Aziz

DarkLight