6 Maret 2016

Ireng Maulana yang Jadi Saksi Cinta dan Pertentangan

Oleh: M Faisal - 6 Maret 2018
Dibaca Normal 6 menit
Sayup irama.
Mencatat hidup pada
melankolia.
tirto.id - Sore itu, di rumahnya yang terletak di Pejompongan, Jakarta Pusat, Martiani Candraputri sedang menyirami tanamannya. Cuaca sedang baik setelah beberapa hari hujan mengguyur tanpa henti. Tanamannya beraneka rupa; dari bunga melati, mawar, anggrek, kamboja, sampai pohon mangga yang berdiri dengan gagahnya.

Dengan potongan rambut sebahu, wajahnya nampak segar dan ceria. Usianya menginjak angka 70. Akan tetapi, banyak orang yang tidak percaya dengan hal itu. Mereka yang pertama berjumpa Martiani kebanyakan beranggapan bahwa usianya berada kisaran 40-50 tahun.

“Enggak pakai apa-apa. Cukup jalan-jalan pagi hari, makan banyak sayur, dan terpenting: sering melakukan aktivitas yang kita senangi,” ujarnya tentang resep awet mudanya.

Usai menyiram tanaman, ia masuk ke dalam rumah dan menuju dapur. Dari ruang tengah, saya mendengar bunyi kompor dihidupkan. Ia berkata dari dapur, menanyakan apakah saya ingin dibuatkan teh. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengiyakannya.

Sembari menunggu, saya memperhatikan perkakas yang terdapat di ruang tengah. Di hadapan saya, berdiri rak yang berisi banyak buku. Jenisnya macam-macam; filsafat, politik, sastra, sejarah, hingga seni-budaya. Sementara di sebelahnya, terpasang deretan foto keluarga dengan ukuran bingkai yang berbeda-beda.


Kami lalu mengobrol banyak hal. Topiknya macam-macam; dari kemacetan Jakarta, keluarga, sampai kisah asmara saya. Demi menghangatkan suasana, ia memutuskan untuk memutar musik yang diambil dari koleksi piringan hitamnya. Koleksinya cukup banyak. Ia punya album David Bowie, Bruce Springsteen, Elton John, sampai Frank Zappa.

“Rasanya cukup sulit mencerna musik zaman sekarang,” jelasnya seraya tertawa. “Makanya, koleksi album di sini tak jauh dari tahun 1980an.”

Dari sekian koleksinya, Martiani paling suka dengan musik jazz. Koleksi piringan hitamnya membuktikan hal itu. Nama-nama musisi jazz seperti Oscar Peterson, Aretha Franklin, Bud Powell, Frank Sinatra, Jack Lesmana, Rien Djamain, sampai Ermy Kulit tersimpan rapi di lemari kepunyaannya. Namun, bagi Martiani hanya ada dua musisi jazz yang jadi inspirasi kehidupannya.

“Bill Evans dan Ireng Maulana,” sebutnya dengan mantap.

Ia kemudian mengambil album piringan hitam Ireng Maulana berjudul Bossanova Indonesia (1982) yang dibuat bersama penyanyi Rafika Duri dan memasangnya di pemutar. Saat memasuki lagu pertama, Martiani diam sejenak.

“Ireng jadi saksi bagaimana perjalananku bersama dia,” katanya sembari memandang fotonya bersama sang suami yang terpasang di tembok dekat lemari piringan hitam.

Hasrat Bermusik Tak Bisa Ditampik

Di mata Martiani, Ireng Maulana bukan sekadar musisi jazz semata. Ia adalah inspirasi sekaligus penanda momen kehidupannya yang terbentang panjang.

Ireng Maulana lahir di Jakarta pada 15 Juni 1944 dengan nama asli Eugene Lodewijk Willem Maulana. Ireng tumbuh dalam keluarga yang berkesenian. Ayahnya, Max Maulana, yang berasal dari Cirebon mahir memainkan banyak alat musik. Ibunya, Georgiana Sinsoe, yang asli Sulawesi Utara, adalah penyanyi. Tak ketinggalan, pamannya, Tjok Sinsoe, juga musisi jazz yang bermain di era 1940an.

Semasa kecil, Ireng dikenal bandel. Saking bandelnya, orangtuanya menitipkan Ireng ke tetangganya dengan harapan kenakalan Ireng dapat diredam. Di sinilah, saat usianya 7 tahun, nama “Ireng”—yang dalam bahasa Jawa berarti “hitam”—disematkan padanya oleh si tetangga. Kendati kulitnya putih, perubahan namanya jadi “Ireng” dimaksudkan supaya kelakuan bengalnya mampu berkurang.


Beberapa tahun kemudian, sang ayah meninggal dunia. Situasi tersebut membuat Ireng bertekad jadi “orang” agar mampu membantu memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia lantas belajar dengan tekun; mengambil jam tambahan untuk belajar bahasa Perancis, mengetik, dan akuntansi.

Meski demikian, hasrat bermusiknya muncul di umurnya yang menginjak remaja. Terlebih, kakaknya, Kibod Maulana, sudah lebih dulu menempuh jalan kesenian dengan jadi gitaris yang cukup kondang. Ireng lalu belajar musik secara otodidak. Alat musik yang dipilihnya adalah gitar. Setelah merasa yakin dengan kemampuannya, ia bergabung dengan Joes & His Band.

Semula, motivasi Ireng bermain musik hanya untuk bersenang-senang. Tapi, keadaan berkata sebaliknya. Pada suatu kesempatan, Joes & His Band menang dalam festival dan Ireng turut didapuk jadi gitaris terbaik di ajang yang sama. Hal itu kemudian semakin membulatkan tekadnya untuk menjadikan musik sebagai jalan hidupnya.

Dua Jalan yang Berbeda

Perkenalan Martiani dengan Ireng Maulana terjadi pada awal 1977. Usianya saat itu menginjak 30 tahun dan ia bekerja di Departemen Keuangan. Album yang ia dengarkan yakni Jazz Vocal Indonesia Volume 1 (1976) yang Ireng buat bersama Margie Segers.

“Itu kalau enggak salah karya perdana Ireng. Pertama kali dengar karena teman yang memberi tahu di jam pulang kerja. Aku langsung jatuh hati mendengar album itu. Terutama petikan gitar Ireng yang bisa melengkapi vokal Margie secara pas,” katanya.

Setelah perkenalan tersebut, Martiani rajin membeli rilisan Ireng. Setiap album Ireng keluar, ia rutin menyambangi toko musik di bilangan Senen yang tak jauh dari tempat kerjanya di kawasan Banteng, Jakarta Pusat. Terhitung, selama bekerja di Banteng, Martiani telah mengkoleksi lima buah album Ireng.

Menurut Martiani, waktu itu adalah fase baru dalam hidupnya. Delapan tahun sebelumnya, kala ia menempuh studi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, ia menjalin asmara dengan Ilyas Zulkarnaen, lelaki satu kampus yang kelak jadi pasangan hidupnya. Namun, hubungan mereka tak seindah nada-nada yang dibuat Ireng.

Ayah Martiani tidak menyetujui hubungannya dengan Ilyas. Alasannya: Ilyas berasal dari keluarga biasa dan Martiani, akan dijodohkan dengan lelaki pilihan ayahnya yang berasal dari keluarga terpandang selepas menuntaskan studinya.


“Masa-masa itu, jujur, merupakan masa paling berat. Sampai sekarang, aku masih mempertanyakan apa yang ada di benak ayah ketika ia melarang hubunganku dengan Ilyas. Seolah tidak cukup semua yang ia dapatkan: jabatan tinggi di departemen dan kondisi finansial yang sangat mencukupi,” sesalnya.

Perkelahian itu berlangsung lama. Baik Martiani dan ayahnya bersikeras memegang sikap masing-masing. Martiani menolak hidupnya terlalu diatur oleh sang ayah termasuk perkara percintaan. Hingga akhirnya, Martiani memutuskan pergi dari rumah.

Keputusan tersebut ia ambil selepas ayahnya bertindak di luar batasan: mengusir Ilyas kala ia bertandang ke rumahnya dan membahas agenda pernikahan dengan keluarga dari pria yang akan dijodohkan dengan Martiani tanpa persetujuan dirinya.

Desember 1971, Martiani dan Ilyas melangsungkan pernikahan. Saat acara pernikahan berlangsung, sang ayah tak nampak. Hanya ibu dan ketiga adiknya yang datang. Martiani sudah mengira keadaan itu bakal terjadi. Akan tetapi, ia meyakini telah mengambil keputusan tepat, sebab, Ilyas merupakan lelaki yang nantinya dapat membahagiakan dirinya dan anak-anaknya kelak.


Tahun berjalan. Pernikahan mereka berlangsung harmonis. Pada 1973, putri pertama mereka lahir. Momen tersebut, diakui Martiani, sebagai “fase paling membahagiakan dalam hidupnya.” Meski demikian, masih ada satu hal yang kurang: ia masih belum berdamai dengan ayahnya.

Pada akhir 1985, Martiani pindah ke Inggris. Di sana, bersama tiga putrinya, ia menemani Ilyas menyelesaikan beasiswanya. Saat Martiani pindah ke Inggris, Ireng Maulana sedang berada di puncak kariernya. Dua tahun sebelumnya, Ireng bersama grupnya, Ireng Maulana All Stars mendapatkan standing ovation dari penonton Singapore International Jazz Festival.

Seperti dicatat Deded Er Moerad dalam Jazz Indonesia (1995), Ireng Maulana All Stars berdiri pada 1978. Anggotanya yakni Benny Likumahuwa (trombone), Hendra Wijaya (piano), Maryono (saksofon), Benny Mustapha (drum), Karim Tes (trompet), Ronny Isnani (bas), serta Ireng (gitar dan banjo).

Lewat grup ini pula, masih menurut Moerad, Ireng membentuk organisasi bagi musisi jazz di Jakarta bernama Ireng Maulana Associates dan menyelenggarakan ajang Jakarta Jazz Festival pada 1988 di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Pada helatan perdana, JakJazz diikuti setidaknya oleh musisi jazz dari 23 negara serta menjadikannya festival jazz terbesar di Asia.

Pencapaian Ireng di era 1980an tersebut tidak bisa dilepaskan dari proses berkesenian yang dilakukan secara intensif dari medio 1960an. Usai menamatkan studi musik di LPKJ—sekarang IKJ—Ireng meneruskan sekolahnya di City Line Guitar Centre, Amerika, dan Konijnklijk Conservatorium, Den Haag, Belanda. Di sana, bukan teknik permainan gitar jazz yang didalami Ireng, melainkan gitar klasik.

Sepulangnya dari pengembaraan di Belanda dan Amerika, Ireng bergabung dengan Eka Sapta. Denny Sakrie dalam 100 Tahun Musik Indonesia (2015) menulis, Eka Sapta terdiri dari Bing Slamet, Idris Sardi, Eddy Tulis, Kibod Maulana, Jopie Item, dan Enteng Tanamal.

Eka Sapta merupakan band pengisi acara Pojok Jazz di TVRI pada 1970an yang diinisiasi oleh Mus Mualim. Di Eka Sapta ini pula kemampuan Ireng dalam mengolah jazz meningkat serta namanya perlahan dikenal publik. Selain Pojok Jazz, Ireng juga pernah menjadi pengisi acara di Berpacu Bersama Melodi dan Friday Jazz Night yang mekar pada medio 1980an. Kedua acara tersebut dijalankan bersama pembawa acara legendaris Koes Hendratmo.


Musim dingin 1988, beberapa saat setelah JakJazz diadakan, Martiani memutuskan kembali ke Indonesia sebelum melanjutkan pekerjaan tetapnya di Inggris. Ia terkadang berpikir, apa yang dilakukannya kepada sang ayah terlalu berlebihan. Maka dari itu, kepulangannya ke Jakarta dimaksudkan untuk memperbaiki hubungannya dengan sang ayah.

“Saat tiba di rumah, suasananya masih sama. Ada beberapa hal yang berubah tapi itupun tidak banyak. Ayah dan ibu enggak tahu tentang kepulangan waktu itu. Saat mengetuk pintu, ayah yang membuka. Kami saling diam sejenak. Lalu, air mata pun pecah. Kami berpelukan erat tanpa mengeluarkan sepatah kata,” kenangnya.

Sejak saat itu, hubungan Martiani dengan sang ayah perlahan membaik. Martiani mengatakan, keduanya saling mengerti bahwa perkelahian yang terjadi selama sepuluh tahun lebih merupakan kesalahan yang tak perlu terjadi. Tiga tahun kemudian, sang ayah menghembuskan nafas terakhir.

Selepas kepergian ayahnya, Martiani kembali ke Inggris. Ia mencoba melanjutkan hidup dengan ketiga anak dan suaminya. Namun, ia harus menghadapi fakta pahit lainnya: Ilyas meninggal dunia akibat komplikasi yang dideritanya.

Kehilangan dua sosok yang disayangnya dalam waktu berdekatan membuat Martiani terguncang. Ia sempat merasa kehilangan arah. Seiring waktu, lukanya perlahan tertutup dengan sendirinya. Pikirnya, semua hidup harus terus berjalan. Terlebih, ia masih punya tanggungjawab terhadap ketiga putrinya.

Tahun 2005, Martiani menetap di Jakarta. Ia merasa sudah saatnya mengakhiri perjalanan, dan baginya, tempat kelahiran adalah satu-satunya tujuan untuk pulang. Ia kemudian tinggal di kediaman orangtuanya di Pejompongan. Rumah itu, dijadikan tempat berkumpul keluarga besarnya saat Lebaran tiba.

Waktu luangnya diisi dengan melakukan hal-hal yang ia suka: menyirami tanaman, membaca buku, menggendong cucu kesayangannya, dan paling utama, mendengarkan lagu-lagu Ireng Maulana untuk mengenang cintanya bersama Ilyas dan sang ayah.

Infografik Mozaik Ireng Maulana

Ujung Perjalanan

Selama terjun di dunia jazz, Ireng Maulana tercatat sudah melahirkan lebih dari 17 album. Tiap album punya cerita dan karakteristik masing-masing. Ia pernah membuat album bersama Harvey Malaihoho hingga Rafika Duri. Tak hanya itu, Ireng juga sempat merilis album bersama kakaknya, Kiboud, berjudul Ireng dan Kiboud Maulana – Guitar Bossa (1975).

Dalam album tersebut, keduanya menghasilkan permainan gitar, yang mengutip Warta Jazz, seperti “sedang melakukan percakapan.” Kiboud, tambah Warta Jazz, menelusuri notasi yang cenderung bluesy. Sedangkan Ireng, “lebih banyak menjaga ritme dengan riffing yang tak berlebihan.”

Tidak sebatas dikenal sebagai musisi jazz yang mahir, Ireng dikenal sebagai sosok yang terbuka dengan perkembangan zaman. Dalam sebuah artikel di The Jakarta Post, Tertiani Simanjutak menyatakan Ireng merupakan musisi yang tak ragu belajar dari musisi lainnya, termasuk mereka yang lebih muda. Semua itu dilakukannya untuk memperkenalkan jazz kepada masyarakat luas.

Ungkapan senada diutarakan W. Royal Stokes, kritikus jazz, dalam bukunya Growing Up with Jazz: Twenty-Four Musicians Talk about Their Lives and Careers (2005). Menurut Stokes, Ireng adalah musisi yang gemar membantu musisi lain untuk tampil dalam sebuah pertunjukan jazz. Semua dilakukannya untuk menjadikan jazz sebagai tempat bermain bagi semua para musisi tanpa terkecuali.


“Ireng, lewat JakJazz, telah membantu menyingkirkan citra jazz sebagai musik elit,” jelas pengamat musik senior, Bens Leo, yang pernah bekerjasama dengan Ireng mengurus Yayasan Karya Cipta Indonesia yang dibentuk untuk meningkatkan kesadaran musisi akan hak intelektual.

Setelah melaksanakan banyak misi untuk mengembangkan jazz tanah air, tiba saatnya Ireng untuk beristirahat. Pada 6 Maret 2016, tepat hari ini dua tahun silam, Ireng Maulana meninggal dunia karena serangan jantung. Ia menyusul kakaknya, Kiboud, yang lebih dulu meninggal setahun sebelumnya.

Saat saya tanya tentang kepergian Ireng, Martiani hanya bisa tersenyum simpul.

“Ireng Maulana adalah cara untuk menjaga cinta itu terus menyala,” pungkasnya dan seketika air mata membasahi pipinya.

Kemudian, saya segera memeluknya.

“Nenek sudah melakukan yang terbaik dalam hidup ini.”

Baca juga artikel terkait JAZZ atau tulisan menarik lainnya M Faisal
(tirto.id - Musik)

Reporter: M Faisal
Penulis: M Faisal
Editor: Nuran Wibisono