Info Banjir Kalsel Terbaru 2021: Penyebab & Daftar Daerah Terendam

Oleh: Addi M Idhom - 14 Januari 2021
Dibaca Normal 4 menit
Banjir di Kalsel pada pertengahan Januari 2021 melanda sejumlah kabupaten/kota, merendam ribuan rumah, dan berdampak ke ribuan jiwa.
tirto.id - Banjir dengan skala dampak luas melanda wilayah Kalimantan Selatan pada pertengahan Januari 2021. Banjir di Kalsel tercatat merendam ribuan rumah pada 14 Januari 2021, demikian mengutip laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati mencatat laporan soal kejadian banjir di Kalsel hari ini datang dari Kabupaten Tapin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan Kabupaten Balangan.

"Banjir [di Kabupaten] Tapin dipicu oleh hujan intensitas tinggi. Genangan di Kabupaten Tapin terpantau pada pukul 01.00 waktu setempat," kata Raditya di keterangan resmi BNPB yang dirilis pada Kamis sore (14/1/2021).

Menurut Raditya, banjir di Kabupaten Tapin merendam sebagian wilayah Kecamatan Binuan, seperti Kelurahan Raya Belanti. Kelurahan lain yang terdampak banjir dan data warga terdampak, kata dia masih dikumpulkan oleh petugas BPBD Tapin. Evakuasi warga dan distribusi logistik juga sedang dijalankan.

"Saat banjir terjadi [di Tapin], tinggi muka air beragam dari 50 hingga 150 cm," kata Raditya.

Banjir pun merendam wilayah Kota Banjarbaru. Raditya menjelaskan hujan dengan intensitas tinggi memicu luapan Sungai Kemuning. Kelurahan Kemuning (Kecamatan Banjarbaru) dan Kelurahan Guntung Payung (Kecamatan Landasan Ulin) merupakan kawasan yang terdampak banjir, dengan jumlah warga terdampak sebanyak 121 KK (323 jiwa).

"Banjir [di Banjarbaru] terjadi pada hari ini, Kamis (14/1) sekitar pukul 01.10 waktu setempat dengan tinggi muka air 50 – 90 cm," ujar dia. "Banjir berangsur surut di beberapa titik."

Sedangkan banjir di Kabupaten Balangan, kata Raditya, terjadi setelah hujan intensitas tinggi turun dan memicu luapan Sungai Balangan dan Pitap. Banjir terpantau sejak Kamis pagi, pukul 08.30 waktu setempat, dan melanda wilayah sejumlah kecamatan.

Banjir di Kabupaten Balangan terpantau merendam kawasan: Kecamatan Tebing Tinggi (Desa Mayanau, Gunung Batu, Sungsum, Ju’uh, Simpang Bumbu’an, Simpang Nadung dan Tebing Tinggi); dan Kecamatan Awayan (Desa Putat Basiun, Pasar Awayan, Badalungga, Badalungga Hilir, Pulantan, Muara Jaya).

"Rumah terendam sebanyak 1.658 unit. Tinggi muka air genangan saat kejadian berlangsung sekitar 10 hingga 100 cm," kata Raditya soal kondisi banjir di Balangan.

BPBD Kabupaten Balangan mencatat 1.708 KK (5.919 warga) terdampak banjir pada 14 Januari 2021. Sebanyak 2.828 warga terdampak berada di Kecamatan Tebing Tinggi. Adapun warga terdampak banjir di Kecamatan Awayan mencapai 3.091 jiwa.

Masih ada lagi yang terendam di Kalsel. Banjir di Kabupaten Hulu Sungai Tengah terjadi sejak Rabu malam kemarin dan melanda kawasan 2 kecamatan: Barabai dan Hantakan.

"Banjir di kawasan ini dipicu oleh tingginya curah hujan," ujar Raditya. "Tinggi genangan pada saat awal banjir sekitar 50 – 200 cm."

Petugas di lapangan masih mendata dampak banjir, seperti warga yang mengungsi maupun pemukiman yang tergenang, kata dia. Pada Kamis pagi, wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah masih diguyur hujan intensitas ringan hingga sedang, dan banjir belum surut.

Bencana serupa terjadi di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sejak Rabu malam (13/1/2021), banjir membuat wilayah enam kecamatan di kabupaten tersebut terendam. Sebanyak 1000 KK di daerah tersebut terdampak banjir, berdasarkan data yang diterima BNPB pada hari ini.

Enam kecamatan terdampak banjir di Hulu Sungai Selatan tersebut ialah Loksado, Padang Batung, Kandangan, Angkinang, Telaga Langsat dan Sungai Raya.

"Banjir dipicu oleh hujan intensitas tinggi dan air kiriman dari hulu Sungai Amandit. Tinggi muka air terpantau 20 hingga 150 cm," Raditya menjelaskan.


Mengutip pemberitaan Antara, banjir di Kalsel sebenarnya sudah muncul sejak 9 Januari 2021 lalu, saat hujan dengan intensitas tinggi memicu aliran sejumlah sungai meluap. Sejak hari Sabtu itu, banjir datang dengan ketinggian air bervariasi: dari 50 cm sampai 3 meter.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel Mujiyat mengatakan banjir yang paling parah terpantau di wilayah Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut, dengan ribuan rumah terenam. Mujiyat menerangkan hal ini pada Rabu, 13 Januari kemarin.

Ia pun mencatat banjir merendam sejumlah kawasan di 5 daerah lain: Kota Banjarbaru, Kabupaten Tapin, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kabupaten Balangan dan Kabupaten Tabalong.

Di Kabupaten Banjar, status tanggap darurat banjir telah ditetapkan sejak 11 Januari dan akan berlaku hingga 31 Januari 2021. Setidaknya 10 kecamatan terdampak banjir di kabupaten ini dan paling parah adalah wilayah Pengaron, dengan ketinggian air mencapai 2-3 meter.

Sementara di Tanah Laut banjir merendam Kecamatan Bati-Bati, Tambang Ulang dan Kurau paling parah dengan ketinggian air berkisar 50 centimeter hingga satu meter. Banjir di Tanah Laut ini juga merendam jalan raya poros dari arah Banjarmasin menuju Pelaihari dan sebaliknya, sehingga arus lalu lintas juga dialihkan ke jalur alternatif.

Penyebab Banjir Kalsel Januari 2021 & Prediksi BMKG

Berdasarkan keterangan Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati, banjir yang melanda setidaknya 5 kabupaten/kota di Kalsel pada 14 Januari 2021 dipicu oleh tingginya intensitas hujan.

Raditya menjelaskan, berdasarkan analisis InaRISK, terdapat 13 kabupaten dan kota di Kalsel yang berpotensi terendam banjir pada Januari 2021.

Kabupaten/kota di Kalsel yang berpotensi banjir pada Januari 2021 adalah Balangan, Banjar, Barito Kuala, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Banjarbaru, Banjarmasin, Kotabaru, Tabalong, Tanah Bumbu, Tanah Laut, dan Tapin.

"Wilayah-wilayah ini berpotensi banjir dengan kategori menengah," ujar Raditya.


Dalam siaran resmi BMKG pada 10 Januari 2021 lalu, Deputi Bidang Meteorologi Guswanto pun sudah menerangkan bahwa ada potensi banjir yang mengintai banyak daerah selama bulan Januari 2021 dan Februari mendatang.

"Sesuai prediksi BMKG yang disampaikan sejak Oktober 2020 yang lalu, bahwa Puncak Musim Hujan akan terjadi di bulan Januari dan Februari 2021," kata Guswanto.

Kata dia, pada Januari 2021, sebanyak 93 persen dari 342 Zona Musim di Indonesia telah masuk musim musim hujan. Sebagian besar wilayah terutama Jawa, Bali, Sulawesi Selatan hingga Nusa Tenggara saat ini hingga Februari juga telah memasuki fase Puncak Musim Hujan.

"Untuk itu, BMKG terus meminta pada masyarakat dan seluruh pihak agar tetap terus mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang cenderung meningkat di dalam periode Puncak Musim Hujan ini," ujar Guswanto.

Dia memaparkan, untuk periode 7 hari setelah 10 Januari 2021, potensi cuaca ekstrem yang perlu diwaspadai berada di wilayah sejumlah provinsi berikut ini:

  • Aceh
  • Sumatera Utara
  • Riau,
  • Kep. Riau,
  • Bangka Belitung
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • D.I. Yogyakarta
  • Jawa Timur
  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Utara
  • Kalimantan Tengah
  • Kalimantan Timur
  • Bali
  • NTB
  • Sulawesi Selatan
  • Sulawesi Barat
  • Sulawesi Tenggara
  • Sulawesi Tengah
  • Maluku
  • Papua Barat
  • Papua.

Cuaca ekstrerm tersebut, kata Guswanto, berpotensi berdampak pada bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, longsor yang dapat membahayakan bagi publik, serta hujan lebat disertai kilat/petir dan gelombang tinggi yang membahayakan pelayaran dan penerbangan.

Selain itu, Guswanto juga memaparkan daftar daerah dengan potensi banjir kategori menengah hingga tinggi pada 10 hari setelah tanggal 10 Januari 2021. Berdasarkan analisis terintegrasi dari data BMKG, PUPR dan BIG tersebut, daerah yang diprediksi berpotensi banjir adalah:

  • Aceh barat daya
  • Tapanuli (Sumut)
  • Indragiri (Riau)
  • Pesisir Selatan Solok (Sumbar)
  • Bungo dan Kerinci (Jambi)
  • Bangka-Belitung
  • Lampung Barat
  • Banten bagian selatan
  • Jawa Barat bagian barat dan timur
  • Jawa Tengah bagian timur wilayah pesisir utara, bagian tengah, dan barat
  • Jawa Timur bagian barat dan wilayah Tapal Kuda
  • Kalimantan Barat bagian utara
  • Kalimantan Selatan bagian selatan
  • Sulawesi Tengah bagian tengah
  • Sulawesi Barat bagian tengah
  • Sulawesi Selatan bagian utara dan selatan
  • Sulawesi Tenggara bagian utara
  • Papua Barat wilayah sekitar Teluk Bintuni
  • Papua bagian barat dan tengah.


Baca juga artikel terkait BANJIR KALSEL atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Addi M Idhom
Editor: Agung DH
DarkLight