Indonesia Waspadai Dampak Kombinasi Resesi & Deflasi di 2020

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 22 September 2020
Pemerintah Indonesia berupaya menghindari kombinasi antara resesi ekonomi dengan deflasi seperti menimpa Jepang.
tirto.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan pemerintah Indonesia akan mewaspadai potensi terjadinya komplikasi pada perekonomian ketika resesi diperburuk dengan deflasi.

Sri Mulyani menyatakan kondisi ini sudah menimpa berbagai negara dan pemerintah tengah berupaya menghindar dari potensi itu.

“Kita harus berhati-hati banyak negara yang alami kondisi resesi kombinasi deflasi akan menimbulkan komplikasi seperti Jepang yang lama mengalami kondisi seperti itu. Kita perlu belajar menghindari kemungkinan seperti itu,” ucap Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KITA, Selasa (22/9/2020).

Indonesia tercatat memiliki potensi mengalami resesi yang disertai deflasi. Sri Mulyani memaparkan pertumbuhan ekonomi Q3 2020 diperkirakan akan terkontraksi 2,9 persen sampai 1 persen. Angka ini melengkapi kontraksi ekonomi Q2 2020 yang mencapai 5,3 persen, sehingga membuat Indonesia akan jatuh dalam resesi teknikal.

Sementara itu, tren pemburukan inflasi terus berlanjut. Per Agustus 2020, terjadi deflasi 0,05 persen month to month dan 1,32 persen year on year.

Angka ini melanjutkan deflasi Juli 2020 yang sudah mencapai 0,1 persen mtom. Secara yoy inflasi Juli 2020, sudah turun dan mencapai 1,54 persen yoy.

“Kami lihat inflasi masih menunjukan pelemahan. Turunnya inflasi masih dipengaruhi faktor pelemahan permintaan seperti yang kita lihat April lalu,” ucap Sri Mulyani.

Dalam paparannya, Sri Mulyani memperkirakan hingga akhir tahun 2020 inflasi akan berada di angka 2,2 persen secara yoy. Angka itu di bawah target pemerintah untuk dijaga di angka 3 persen.




Baca juga artikel terkait PERTUMBUHAN EKONOMI atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Zakki Amali
DarkLight