tirto.id - Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait syarat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tengah menjadi perbincangan publik. Meski tidak menerima permohonan yang diajukan, MK menyatakan tidak menemukan dokumen yang membuktikan Gibran memiliki ijazah, sertifikat, atau diploma sebagai tanda telah menamatkan pendidikan di luar negeri yang setara dengan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau sederajat.
Dalam putusan perkara Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026, Majelis Hakim Konstitusi memisahkan secara tegas status seseorang sebagai calon dengan status sebagai pejabat negara yang telah dilantik. Putusan tersebut dibacakan di Gedung MK, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Di tengah ramainya perbincangan mengenai isu tersebut, beredar unggahan di media sosial yang menarasikan pengakuan seorang guru SMPN 1 Surakarta bernama Sulasih. Ia diklaim menyebut Gibran pernah tidak naik kelas saat SMP, kemudian pindah ke Singapura, serta memiliki nilai bahasa Inggris di bawah 50.
Unggahan tersebut dibagikan oleh akun Facebook “Awite Bob” (arsip) di grup Muhasabah Diri pada Rabu (7/10/2026). Unggahan itu menampilkan ilustrasi Gibran Rakabuming Raka dan sosok perempuan yang diklaim sebagai Sulasih dengan menggabungkan sejumlah elemen visual.
Dalam gambar tersebut, terdapat dua kotak ilustrasi utama. Kotak sebelah kiri menampilkan sosok perempuan berjilbab dan berkacamata dengan latar belakang ruang kelas. Sosok itu diklaim sebagai guru bernama Sulasih. Sementara itu, kotak sebelah kanan menampilkan ilustrasi Gibran. Kolase tersebut ditempelkan di atas latar belakang bodi sebuah bus putih yang memuat tulisan karoseri.
Gambar tersebut disertai narasi:
“GURU SMPN 1 SOLO BUKA SUARA!! SULASIH: SETAU SAYA GIBRAN INI TIDAK NAIK KELAS, DAN PINDAH KE SINGAPURA. NILAI BAHASA INGGRISNYA DIBAWAH 50.”
Pengunggah juga menambahkan keterangan, “Pengakuan terlarang Guru SMPN 1 Solo, bu Sulasih terkait Wakil Presiden Gibran yang tidak naik kelas VIDIO ADA DIKOLOM KOMENTAR.”
Hingga Jumat (9/10/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 294 tanda suka dan dibagikan sebanyak 53 kali. Unggahan itu juga menarik perhatian publik.
Tirto menemukan unggahan serupa di sejumlah akun dan grup Facebook lain, di antaranya akun “Berita Update” dalam grup Berbagi Bintang, akun “Awite Bob” dalam grup Foto Zaman Dulu, serta akun “Repina Lumbantoruan” dalam grup Bunda Indonesia. Seluruh unggahan tersebut menampilkan gambar serupa yang memuat klaim bahwa Gibran pernah tidak naik kelas dan pindah ke Singapura.
Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?

Penelusuran Fakta
Untuk memeriksa kebenaran klaim tersebut, Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image search) menggunakan mesin pencari Google. Hasil penelusuran tidak menemukan pemberitaan dari media kredibel yang membenarkan klaim mengenai keberadaan guru SMPN 1 Surakarta bernama Sulasih yang menyebut Gibran pernah tidak naik kelas sebelum pindah ke Singapura.
Tidak ditemukan pula informasi kredibel yang mengonfirmasi klaim bahwa nilai bahasa Inggris Gibran berada di bawah 50.
Lalu, bagaimana dengan jenjang yang telah dijalani putra sulung Joko Widodo itu saat menempuh pendidikan di luar negeri?
Menukil pemberitaan Tirto, setelah menyelesaikan SD dan SMP di kota kelahirannya, Surakarta, Gibran memutuskan untuk melanjutkan jenjang menengah atas di luar negeri. Gibran lantas masuk Orchid Park Secondary School, Singapura, pada 2002.
Berdasarkan catatan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Gibran menempuh pendidikan di sekolah tersebut dari 2002 hingga 2004. Dia kemudian melanjutkan studinya di Insearch, lembaga pendidikan yang berafiliasi dengan University of Technology Sydney (UTS) di Australia.
Gibran menuntaskan studinya di Insearch pada 2010. Setelah itu, Gibran melanjutkan pendidikan tinggi di Management Development Institute of Singapore (MDIS) hingga selesai pada 2007.
Dalam penelusuran ini, tidak ditemukan laporan atau catatan kredibel yang menyebut Gibran pernah tidak naik kelas saat SMP.
Tirto juga mengamati gambar yang beredar dan menemukan sejumlah kejanggalan. Gambar tersebut berbentuk ilustrasi bergaya komik, bukan dokumentasi fotografis yang dapat dijadikan bukti bahwa percakapan atau pernyataan yang dinarasikan benar-benar terjadi.
Untuk memeriksa kemungkinan penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), Tirto menguji gambar tersebut menggunakan alat pendeteksi AI Hive Moderation. Hasil pemeriksaan menunjukkan probabilitas sebesar 97,2 persen bahwa gambar tersebut merupakan hasil manipulasi atau generasi AI.
Selain itu, unggahan tersebut tidak menyertakan rekaman video asli, tanggal pengambilan video, sumber rekaman, ataupun bukti kredibel lain yang dapat mengonfirmasi bahwa pernyataan tersebut benar-benar disampaikan oleh seorang guru bernama Sulasih.
Disinformasi mengenai riwayat pendidikan Gibran memang telah beberapa kali beredar di media sosial. Dalam artikel periksa fakta yang diterbitkan pada 29 September 2026 dengan judul “Salah, Kepsek SMPN 1 Surakarta Sebut Gibran Hanya Lulusan SD”, Tirto telah memeriksa klaim yang menyebut Kepala SMPN 1 Surakarta menyatakan Gibran hanya lulusan sekolah dasar. Hasil pemeriksaan menyatakan klaim tersebut tidak benar. Klarifikasi serupa juga dimuat di laman Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Sementara itu, mengutip laporan Kompas.com, Kepala SMPN 1 Surakarta, Wuryanti, menegaskan bahwa Gibran merupakan siswa sekolah tersebut dan telah lulus secara sah dengan ijazah resmi.
“Mas Gibran benar-benar siswa SMP Negeri 1 Surakarta dan lulus dari SMP Negeri 1 Surakarta,” kata Wuryanti, seperti diberitakan Kompas.com.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa guru SMPN 1 Surakarta bernama Sulasih mengungkap Gibran pernah tidak naik kelas saat SMP, kemudian pindah ke Singapura, dan memiliki nilai bahasa Inggris di bawah 50 adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).
Tidak ditemukan pemberitaan dari media kredibel maupun bukti yang dapat mengonfirmasi bahwa pernyataan tersebut benar-benar disampaikan oleh guru bernama Sulasih. Gambar yang beredar juga berbentuk ilustrasi dan berdasarkan pemeriksaan menggunakan Hive Moderation memiliki probabilitas 97,2 persen sebagai hasil manipulasi AI.
Editor: Tim Riset Tirto
Masuk tirto.id
































