Hoaks dan Bahaya Rendahnya Kepercayaan terhadap Media

Oleh: Scholastica Gerintya - 17 Mei 2018
Dibaca Normal 2 menit
Hoaks tumbuh subur di media sosial. Jika media massa dianggap tidak kredibel, hoaks akan semakin tumbuh subur.
tirto.id - Peristiwa bom pada tiga gereja yang berlokasi di Surabaya Ahad (13/5) lalu berhasil membuat panik masyarakat Indonesia. Dampaknya, informasi yang tidak tepat beredar dengan luas.

Ada kabar soal serangan bom yang terjadi di Gereja St Anna di Duren Sawit, penemuan benda diduga bom di Bandara Ahmad Yani Semarang, hingga pesan yang mengatasnamakan Densus 88 dan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk menghindari pusat perbelanjaan di Jakarta dan Surabaya. Nyatanya, semua informasi yang disebarkan tersebut tidak tepat atau biasa disebut dengan hoaks.

Tingginya sirkulasi informasi di media sosial maupun aplikasi pesan memang menjadi faktor pemicu semakin berkembangnya hoaks di Indonesia maupun dunia. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, pada 2016 ada hampir 800 ribu akun, baik di media sosial maupun media online, yang telah diblokir oleh pemerintah karena menampilkan kabar bohong maupun ujaran kebencian. Pada Januari hingga Oktober 2017, jumlah akun sejenis yang telah diblokir sudah lebih dari 600 ribu.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) pada 7-9 Februari 2017 terhadap 1.116 responden di Indonesia, sebanyak 44,30 persen masyarakat menyatakan menerima berita hoaks setiap hari. Bahkan, 17,20 persen menyatakan menerima berita palsu ini lebih dari sekali sehari.

Infografik Periksa Data Hoax


Hoaks Politik Terbanyak


Jenis berita hoaks yang paling sering diterima oleh masyarakat terkait dengan isu sosial-politik, seperti pemerintah dan pilkada, terlihat dari 91,80 persen masyarakat yang menyatakan hal ini. Selain isu tersebut, 88,6 persen masyarakat juga menyatakan paling sering menerima berita tidak tepat tentang SARA. Selain itu, 41,20 persen masyarakat juga menyatakan isu kesehatan sebagai jenis hoaks yang paling sering mereka terima.

Infografik Periksa Data Hoax


Tingginya sebaran hoaks ini ternyata menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Menurut hasil survei Edelman Trust Barometer 2018 (pdf), tujuh dari 10 masyarakat dunia merasa khawatir jika berita palsu akan digunakan sebagai "senjata". Di Indonesia sendiri, 76 hingga 80 persen masyarakat khawatir akan pemanfaatan hoaks sebagai senjata untuk menciptakan ketidakstabilan dalam negeri.

Infografik Periksa Data Hoax


Sebar Hoaks lewat Medsos


Kekhawatiran masyarakat ini tak lepas dari sebaran hoaks yang semakin cepat melalui media sosial. Sebagai pengguna aktif media sosial maupun aplikasi pesan, masyarakat Indonesia rentan menerima informasi yang tidak tepat. Dalam survei Mastel, 92,40 persen masyarakat menyatakan media sosial—seperti Facebook, Twitter, maupun Instagram—adalah saluran yang paling sering menjadi medium mereka menerima berita hoaks. Selain itu, 62,80 persen menyatakan aplikasi chatting sebagai saluran lain yang juga aktif digunakan dalam penyebaran hoaks.

Infografik Periksa Data Hoax


Selain kedua saluran tersebut, situsweb ternyata menjadi saluran ketiga yang dianggap masyarakat sebagai penyebar hoaks. Sebanyak 34,90 persen masyarakat menyatakan hal ini. Bahkan, media cetak pun tak lepas dari anggapan sebagai penyebar berita yang tidak tepat. Terlihat dari 5 persen yang menyatakan media cetak sebagai saluran penyebar hoaks.

Kepercayaan terhadap Media Sempat Memburuk


Tingginya sirkulasi hoaks melalui media sosial, media elektronik maupun cetak ini pun mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap media. Dari studi Edelman, sejak 2012 hingga 2018, kepercayaan masyarakat terhadap media memperlihatkan tren yang menurun. Pada 2013, tingkat kepercayaan terhadap media memang sempat meningkat dari 68 persen di 2012 menjadi 73 persen. Namun, setelahnya, menurun bahkan mencapai 63 persen di 2016.

Infografik Periksa Data Hoax


Penurunan ini lantaran organisasi berita dianggap lebih fokus untuk menarik perhatian khalayak dalam skala besar ketimbang melaporkan berita, yang bisa dipahami sebagai berita yang bersifat click-bait. Lembaga media juga dianggap tidak akurat dan mendukung suatu ideologi atau posisi politik tertentu dalam menyampaikan informasi.

Bila dilihat berdasarkan jenisnya, kepercayaan masyarakat menurun untuk media sosial dan tradisional. Pada 2014, tingkat kepercayaan pada media sosial di Indonesia sebesar 69 persen, menurun menjadi 67 persen pada 2017. Untuk media tradisional, seperti cetak, tingkat kepercayaan menurun dari 77 persen di 2014 menjadi 75 persen di 2017.

Infografik Periksa Data Hoax


Sementara itu, kepercayaan terhadap media online terlihat meningkat. Pada 2014, tingkat kepercayaannya sebesar 72 persen, dan menjadi 76 persen pada 2017. Begitu pula dengan mesin pencari online, tingkat kepercayaannya meningkat menjadi 83 persen di 2017 dari 80 persen pada 2014.

Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap media jurnalisme mengindikasikan konsekuensi dari kegagalan media dalam melakukan tugasnya, khususnya yang terkait dengan edukasi dan peran dalam menjaga kualitas informasi.

Turunnya kepercayaan ini perlu menjadi perhatian. Sebab, temuan Edelman menyatakan sebanyak 63 persen orang tidak bisa membedakan antara jurnalisme dengan desas-desus dan kebohongan. Lebih lanjut lagi, 59 persen responden menyatakan semakin sulit untuk mengidentifikasi apakah berita dan informasi yang diterima diproduksi oleh lembaga media yang kredibel.

Kepercayaan merupakan jantung dari hubungan individu dengan institusi. Media massa tradisional mesti merebut kepercayaan masyarakat dengan meningkatkan kredibilitas lewat produksi berita-berita yang valid. Jika kepercayaan terhadap media berkurang, akan menjamur "media alternatif" tanpa ruang redaksi memadai dan prosedur jurnalisme ketat, yang lagi-lagi dapat menjadi lahan untuk bertumbuh suburnya hoaks.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Scholastica Gerintya
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Scholastica Gerintya
Editor: Maulida Sri Handayani
a