Hikayat Indonesia di Asian Games: Si Medioker Nekat Jadi Tuan Rumah

Oleh: Husein Abdulsalam - 17 Agustus 2018
Dibaca Normal 2 menit
Indonesia sempat menjadi tuan rumah Asian Games 1962 dan menempati peringkat ke-2. Setelah itu prestasinya merosot.
tirto.id - Sitor Situmorang, penyair masyhur kelahiran Harian Boho, sebuah kampung di tepian Danau Toba, menggubah puisi yang diberi judul "Untuk Ivana dan Tan Joe Hok". Dalam Puisi itu, Sitor membayangkan Indonesia sebagai bangsa yang satu, "tak kenal warna, tak kenal darah". Sehingga jaminan yang bisa ditunjukkan para anggota bangsa ialah "kepatriotan, jasa, keyakinan bertanahair".

"Syukur jadi juara atas nama bangsa
atas nama warganegara tak bernama"

Puisi itu ditulis pada 1980 ketika Sitor berumur 57. Ia memilih Ivana dan Tan Joe Hok bukan tanpa sebab. Keduanya merupakan Tionghoa-Indonesia. Melalui puisi itu, Sitor menjadikan mereka sebagai teladan bahwa dalam sebuah nasion latar belakang etnis tidak bisa dijadikan ukuran rasa kebangsaan. Yang bisa dinilai adalah kontribusi mereka kepada bangsa.

Tan Joe Hok adalah jawara bulu tangkis Indonesia era 1950 hingga1960-an. Pada Asian Games 1962 di Jakarta, laki-laki kelahiran Bandung itu menggondol satu medali emas untuk untuk cabang bulu tangkis tunggal putra. Capaian itu membuat Tan menjadi pebulu tangkis tunggal putra Indonesia pertama yang meraih emas di Asian Games.

Sebelumnya, Tan juga masuk skuat tim Indonesia yang menjuarai Thomas Cup 1958. Setahun berikutnya, Tan menang All England 1959. Itu adalah piala Thomas Cup dan All England pertama yang berhasil diraih Indonesia.

Sedangkan Ivana Lie Ing Hoa adalah kampiun bulu tangkis Indonesia era 1980-an. Pada Asian Games 1982 di New Delhi, perempuan yang juga lahir di Bandung itu menggondol emas bersama Christian Hadinata untuk cabang bulu tangkis ganda campuran. Setelahnya, karier bulu tangkis Ivana dan Christian semakin meroket setelah menjuarai Indonesia Open dan SEA Games pada 1983.

Data Olympic Council of Asia (OCASIA) menyebutkan tim bulu tangkis Indonesia selalu menggondol setidaknya 1 medali emas di Asian Games sejak bulu tangkis masuk cabang olahraga resmi di kejuaraan itu pada 1962.

Duel tunggal putra Indonesia melawan Indonesia bahkan sempat terjadi pada laga final perebutan medali emas Asian Games. Itu pertama kali berlangsung pada Asian Games 1966 di Bangkok ketika Ang Tjin Siang harus berhadapan dengan Sen Wong Pek. Lalu, pada Asian Games 1994 di Hiroshima, laga Indonesia versus Indonesia berlangsung antara Heriyanto Arbi melawan Joko Suprianto. Ang Tjin berhasil mematahkan laju Sen Wong, sementara Heriyanto mengalahkan Joko.

Dari New Delhi ke Jakarta

Indonesia ikut Asian Games sejak perhelatan itu dilaksanakan pertama kali di New Delhi, India pada 1951. Hanya ada 11 negara yang ikut serta waktu itu. Indonesia memenangkan 5 perunggu dan berakhir di posisi ke-6. Sama seperti di New Delhi, pada dua Asian Games berikutnya, di Manila dan Tokyo, Indonesia juga tak pernah mendapat medali emas.

Medali emas baru mampu diraih Indonesia saat menjadi tuan rumah Asian Games ke-4 pada 1962. Data perolehan medali yang dihimpun dalam "The Asian Games, 1951–2002: Medal & Gold Medal Table" menyebutkan Indonesia memperoleh 11 medali emas, 12 perak, dan 28 perunggu. Pada perhelatan yang diselenggarakan di Jakarta itu, Indonesia menduduki peringkat ke-2.

Peningkatan prestasi olahraga Indonesia juga dibarengi perbaikan besar-besaran dalam manajemen pelatihan dan organisasi keolahragaan. Untuk perhelatan akbar itu, Presiden Sukarno membangun kompleks olahraga yang sekarang dinamakan Gelora Bung Karno dan fasilitas pendukung lain seperti simpang susun Semanggi.

Rusli Lutan menuliskan dalam "Indonesia and the Asian Games: Sport, Nationalism and the 'New Order'" (2005) bahwa keterlibatan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 1962 didorong ambisi politik Sukarno untuk mematahkan hegemoni Barat.

"Soekarno memainkan peran dominan dalam mengarahkan Asian Games dan, kemudian, pengembangan olahraga di Indonesia. Penyelenggaraan Asian Games merupakan lompatan besar bagi Indonesia dalam hal manajemen dan prestasi olahraga," catat Rusli Lutan.


Infografik HL Indepth Asian Games 1962

Dari Bangkok ke Incheon

Namun, capaian pada 1962 tak pernah diraih lagi. Pada Asian Games berikutnya di Bangkok pada 1966, prestasi Indonesia merosot menjadi peringkat ke-8 dari 18 negara. Setelahnya, Indonesia mentok paling tinggi di peringkat ke-6, yakni pada Asian Games 1970, 1978, dan 1990.

Meski tak pernah masuk 5 besar, posisi Indonesia selalu berada di papan tengah atas. Artinya, apabila negara-negara Asia diurutkan berdasarkan prestasi mereka di setiap Asian Games, posisi Indonesia tidak pernah lebih dari separuh jumlah negara peserta. Indonesia masuk dalam kategori medioker untuk ukuran negara yang ikut Asian Games sejak awal.


Posisi terburuk yang pernah dicapai Indonesia adalah saat berlaga pada Asian Games 2006 di Doha, Qatar. Waktu itu, ada 45 negara yang berlaga dan Indonesia menyabet peringkat ke-22 dengan 2 emas, 3 perak, serta 5 perunggu.

Hingga Asian Games terakhir diselenggarakan di Incheon, Korea Selatan pada 2014, Indonesia telah memboyong 61 medali emas, 97 perak, dan 184 perunggu. Kala itu kontingen Indonesia hanya mampu menempati urutan ke-17 dari 45 negara. Prestasi cabang wushu dan atletik layak dicatat karena berhasil memboyong medali emas.

Secara keseluruhan, sejak keikutsertaan di Asian Games pada 1951, ada 349 medali yang berhasil diraih Indonesia. Dalam 5 Asian Games ke belakang, bulu tangkis konsisten menyumbang medali emas.


Lima puluh enam tahun sejak Tan Joe Hok menorehkan medali emas di Jakarta, Indonesia didapuk kembali menjadi tuan rumah Asian Games. Perhelatan olahraga terbesar se-Asia ini bakal dibuka pada 18 Agustus 2018, sehari setelah peringatan kemerdekaan Indonesia.

Berbagai persiapan telah dilakukan. Tetapi, tentu butuh lebih dari cukup untuk mengangkat prestasi Indonesia di Asian Games 2018 supaya tak malu berlaga di rumah sendiri.

Baca juga artikel terkait ASIAN GAMES 1962 atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Ivan Aulia Ahsan
Artikel Lanjutan