Henk Ngantung: Pelukis yang Jadi Wakil Gubernur Jakarta Pertama

Henk Ngantung. FOTO/Wikicommon
Oleh: Petrik Matanasi - 23 September 2018
Dibaca Normal 3 menit
Henk Ngantung yang pelukis itu diminta Sukarno mempercantik Jakarta. Ia pun ditunjuk sebagai wakil gubernur, lalu gubernur.
tirto.id - Arnold Rori Ngantung bukan sembarang pekatik. Kuda-kuda beserta kandang yang pernah diurusnya adalah inventaris daripada tentara kolonial Hindia Belanda, Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL). Pangkat terakhir Rori adalah fourier (bintara) KNIL.

Waktu masih dinas di Bogor, Rori dapat anak laki-laki pada 1 Maret 1921, dari perkawinannya dengan Maria Magdalena Ngantung Kalsun. Bocah itu diberi nama Hendrik Hermanus Joel Ngantung. Orang-orang mengenalnya sebagai Henk Ngantung.

Sebagai anak bintara KNIL, Henk harusnya belajar di HIS dan bahkan bisa meneruskan ke MULO. Beberapa tulisan, seperti Obed Bima Wicandra dalam Henk Ngantung: Saya Bukan Gubernurnya PKI (2017: 9-12) atau Refleksi Pers Kepala Daerah Jakarta 1945-2012: Henk Ngantung Gubernur 1964-1965 (2012: 2-5), menyebut bahwa salah satu guru sekolahnya adalah Elvianus Katoppo (ayah dari pimpinan Sinar Harapan Aristides Katoppo dan novelis Henritte Marianne Katoppo).


Henk Ngantung sejatinya seorang seniman. Dia tak mau lagi bersekolah setelah tahu melukis adalah jalan hidupnya. Ensiklopedia Indonesia - Volume 3 (1954: 992) mencatat, Henk keluar dari MULO. Berbekal uang hasil pameran di Manado, Henk hijrah ke Bandung pada 1937 dan belajar dari Rudolf Wengkart untuk memperdalam seni lukis. Dia juga mempelajari apapun yang terkait seni, termasuk sejarah.

Pada 1940, Henk menetap di Jakarta dan hidup sebagai seniman. Henk pernah ikut Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi), yang dipimpin Sudjojono.

Sebelum dan sesudah Revolusi, bahkan sejak masih sekolah di Manado, Henk sudah ikut pameran lukisan. Dirinya juga terlibat dalam Revolusi Indonesia. Dia ikut Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS). Beberapa sketsa karyanya tentang revolusi dibukukan dalam Sketsa-Sketsa Henk Ngantung (1981) terbitan Sinar Harapan. Pada 1957, Henk ikut lawatan ke luar negeri mengunjungi beberapa negara di Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika.

Henk tercatat sebagai salah satu pendiri Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang belakangan dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketika jadi anggota DPA, sepengetahuan Djoebaar Ajoeb dalam Sebuah Mocopat Kebudayaan Indonesia (2004: 130), Henk merangkap juga sebagai Sekretaris Umum Lekra. Inilah yang kemudian membuat hidupnya sengsara, meski Henk sebenarnya bukan komunis.

Ditarik ke Birokrasi

Buku Refleksi Pers Kepala Daerah Jakarta menyebut, Henk mulai masuk ke birokrasi pemerintahan sejak 1957. Kala itu dia sudah belasan tahun malang melintang di dunia seni lukis. Ketika Dewan Nasional terbentuk pada 21 Februari 1957, Henk termasuk anggotanya. Henk termasuk seniman yang dikenal dekat dengan Presiden Sukarno. “Henk sering mendapat kepercayaan dari Bung Karno untuk mendekorasi istana supaya terlihat anggun,” tulis buku tersebut.

Bung Karno puas dengan kerja Henk. Hingga suatu kali Henk diberi kepercayaan lebih.

“Henk, Bapak ingin menempatkan Henk di Kotapraja Jakarta. Bapak ingin Henk mewakili Bapak. Bapak ingin kota ini cantik. Cuma Bapak belum tahu sebagai apa dan bagaimana. Nanti Bapak pikir-pikir dulu,” kata Sukarno pada Henk, seperti dikutip buku tersebut.

Ada yang menyebutkan bahwa PKI mencalonkan Henk sebagai Gubernur Jakarta. Tapi panitia teknis menolak Henk yang tidak punya pengalaman di pemerintahan. Dalam sidang Dewan Pertimbangan Agung 1960, Sukarno yang begitu berkuasa merekomendasikan dua nama untuk gubernur dan wakil gubernur.

Saat sidang, Henk dapat memo: “Saudara Henk, saya sudah mengambil keputusan, mengangkat Kolonel Dr Soemarno sebagai Kepala Daerah Jakarta dan saudara Henk sebagai Wakil Kepala Daerah. Harap bisa bekerjasama.”

“Bapak Presiden, terimakasih, terserah kepada bapak,” kata Henk.

Maka berdasarkan Keputusan Presiden nomor 20/1960, jadilah Henk sebagai Wakil Gubernur Jakarta pertama, bahkan dari kalangan seniman pula. Pelantikan itu, sepengakuan Soemarno dalam memoarnya, Dr H Soemarno Sasroatmodjo: Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya (1981: 380), terjadi pada 9 Februari 1960.

Soemarno tidak lupa hari itu, karena malamnya hujan turun sangat deras di Jakarta. Di tahun sebelumnya, Jakarta tak cukup dapat hujan hingga udara begitu panas. Setidaknya ada 6 atau 7 kali kebakaran.

Masalah di Jakarta, jika bukan kebakaran, ya banjir. Dua hal itulah yang dipusingkan Soemarno sedari awal dia jadi gubernur. Sementara Henk mempercantik Jakarta seperti dimaui Sukarno.


Henk menata Jalan Thamrin dengan pot-pot lebar di pinggirnya. Di masa itu muncul rencana pembangunan Taman Bhinneka Tunggal Ika di kawasan Ragunan sebagai tempat rekreasi. Rencana ini tak jadi karena Sukarno memprioritaskan pembangunan planetarium Cikini. Akhirnya hewan-hewan Kebun Raya di Cikini diungsikan ke Ragunan. Jadilah Ragunan sebagai kebun binatang.



Henk Ngantung pernah mengusulkan pembangunan istana baru, sementara Istana Negara dan Istana Merdeka dijadikan Museum Sejarah Nasional. Niatan ini juga tak pernah terwujud.

Ketika jadi Wakil Gubernur Jakarta, seperti dicatat Obed Bima Wicandra (hlm. 7), pada 1962, Henk bertemu seorang perempuan bernama Hetty Evelyn Mamesah alias Evie. Dia kawanua Minahasa juga seperti Henk. Evie yang jauh lebih muda dari Henk Ngantung telah memberikan beberapa anak: Maya Ngantung, Genie Ngantung, Kamang Ngantung, dan Karno Ngantung.

Waktu jadi birokrat, Henk tetaplah seniman. Ia disebut-sebut juga sebagai pembuat lambang Kostrad.


Masuk birokrat membuatnya harus necis. Itu mudah belaka. Sulit menemukan orang Minahasa atau Manado yang tidak necis. Dalam beberapa foto, jika sedang di luar ruangan, Henk tak saja tampil rapi di badan, tapi juga memakai kacamata hitam. Pada 1960-an, memakai kacamata hitam, yang semua orang belum tentu punya, adalah sesuatu yang mewah.

Pada 1964, Sukarno bikin keputusan penting di Jakarta. Soemarno rupanya dijadikan Menteri Dalam Negeri dan kursi Gubernur DKI digantikan Henk Ngantung. Soemarno cuma bisa terima keputusan itu. Dia khawatir pada Ngantung yang bukan birokrat tulen, tapi Soemarno beri solusi.

“Pak Ngantung perlu dibantu oleh orang yang gesit, yang cepat mengambil putusan. Dan orangnya terang jujur,” kata Soemarno kepada Sukarno.

Sang presiden pun bertanya, “Siapa?”

Soemarno lalu menyebut nama Dr. Suwondo. Lalu jadilah Suwondo yang dokter mendampingi Henk yang seniman.

Tak hanya Suwondo, Satoto Hapoedio juga diangkat menjadi wakil. Pelantikan pun digelar pada 22 Oktober 1964 di Balai Kota Jakarta. Ngantung tidak lama di jabatan itu. Pada 1966, Soemarno dikembalikan menjadi Gubernur DKI Jakarta. Sementara Henk Ngantung, sebagai orang yang dekat dengan sayap kiri, hanya jadi orang yang apes hidupnya.

Baca juga artikel terkait SENIMAN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight