Menuju konten utama

Harga Minyak Dunia Hari Ini Naik Lagi setelah Serangan di Saudi

Harga minyak dunia hari ini mengalami kenaikan lagi. Harga minyak mentah berjangka Brent naik menjadi 96,75 dolar AS per barel.

Harga Minyak Dunia Hari Ini Naik Lagi setelah Serangan di Saudi
sebuah kapal tanker minyak mendekati Jetty baru selama peluncuran fasilitas minyak baru senilai $ 650 juta di Fujairah, Uni Emirat Arab. Uni Emirat Arab mengatakan pada hari Minggu, 12 Mei 2019 Kamran Jebreili / AP
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak naik pada awal perdagangan Jumat (10/4/2026) setelah serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi.

Pada saat yang sama, harga minyak hari ini juga didorong oleh sikap pasar yang mulai mengevaluasi premi risiko dari penutupan Selat Hormuz yang sedang berlangsung, meskipun gencatan senjata rapuh disepakati antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengutip Reuters, minyak mentah berjangka Brent naik 83 sen atau 0,87 persen, menjadi 96,75 dolar AS per barel pada pukul 01.00 GMT. Di sisi lain, kontrak berjangka minyak acuan AS West Texas Intermediate naik 1,04 dolar AS atau 1,06 persen, menjadi 98,91 dolar AS per barel.

“Gelombang awal kelegaan setelah pengumuman gencatan senjata dua minggu oleh dengan cepat telah berganti menjadi keraguan yang mendasar,” kata analis pasar IG, Tony Sycamore dalam sebuah catatan.

Sementara itu, sebelumnya dikabarkan bahwa Iran dan AS pada Selasa telah menyepakati gencatan senjata selama dua minggu yang dimediasi oleh. Namun, pertempuran masih terus berlangsung setelah pengumuman tersebut.

“Semua perhatian tetap tertuju pada arus kapal tanker yang melintasi untuk melihat adanya tanda-tanda peningkatan aktivitas menjelang pembicaraan damai yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan pada hari Jumat,” kata Sycamore.

Para analis mengatakan Pakistan akan berupaya mendorong tercapainya kesepakatan damai yang lebih tahan lama dalam perundingan tersebut. Tapi, Pakistan mungkin tidak memiliki pengaruh yang cukup kuat untuk memaksa pembukaan kembali Selat Hormuz yang krusial.

Di sisi lain, seorang pejabat Teheran kepada Reuters beberapa hari lalu mengatakan, Iran ingin mengenakan biaya bagi kapal-kapal yang melintasi Selat tersebut berdasarkan kesepakatan damai. Meski begitu, para pemimpin Barat serta badan pelayaran PBB menolak gagasan tersebut.

Jalur vital bagi aliran minyak dan gas itu pada praktiknya telah tertutup akibat konflik, yang dimulai pada 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran. Karena itu, Presiden konsultan energi Stratas Advisors, ​John Paisie memperkirakan harga minyak Brent bisa mencapai 190 dolar AS per barel jika arus melalui Selat Hormuz tetap tersendat seperti saat ini.

“Jika Iran mengizinkan peningkatan arus (pengiriman minyak di Selat Hormuz), maka harga minyak akan lebih terkendali, tetapi tetap jauh di atas level sebelum perang," tambahnya.

Sementara itu, pada Kamis (9/4/2026), Kantor Pers Saudi melaporkan serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi telah memangkas produksi minyak negara tersebut sekitar 600.000 barel per hari (bph) serta mengurangi aliran (throughput) di pipa sebesar 700.000 bph.

Laporan tersebut lantas membuat para analis JP Morgan menilai, narasi telah bergeser dari sebelumnya berupa "gangguan yang bersifat episodik menjadi guncangan pasokan yang terukur."

Pasalnya, berdasarkan catatan JP Morgan pula, sekitar 50 aset infrastruktur di kawasan Teluk telah rusak akibat serangan drone dan rudal selama hampir enam minggu sejak konflik dimulai, dan sekitar 2,4 juta barel per hari (bph) kapasitas pengolahan minyak telah terhenti (offline).

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK DUNIA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dipna Videlia Putsanra