tirto.id - Harga minyak mentah dunia pada penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026) mencatatkan penurunan mingguan terbesar sejak 2022. Penurunan ini terjadi jelang pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) untuk membahas gencatan senjata permanen.
Minyak mentah berjangka melayang mendekati 100 dolar AS per barel karena serangan terus berlanjut sehingga membuat aliran minyak dunia melalui Selat Hormuz mengalami gangguan. Anjloknya harga minyak berjangka juga didorong oleh potensi gangguan pasokan di Arab Saudi.
Mengutip Reuters, minyak mentah berjangka Brent turun 72 sen atau 0,8 persen ke posisi 95,20 dolar AS per barel. Posisi tersebut turun 12,7 persen menyusul aksi jual tajam setelah Iran dan AS pada Selasa kemarin sepakat untuk gencatan senjata dua minggu yang ditengahi oleh Pakistan. Ini menjadi penurunan tertajam minyak berjangka Brent sejak Agustus 2022.
Di sisi lain, minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) turun 1,30 dolar AS atau 1,3 persen, menjadi 96,57 dolar AS per barel. Posisi tersebut mencatatkan penurunan mingguan sebesar 13,4 persen, yang terbesar sejak April 2020 selama periode pandemi Covid-19.
"Masalah utama bagi pasar minyak adalah apakah lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz akan kembali normal. Sejauh ini, belum ada tanda-tanda ke arah tersebut. Jika pasokan minyak dari Teluk Persia tetap terhambat, harga minyak kemungkinan akan kembali naik,” kata analis Commerzbankdalam sebuah catatan pada Jumat, dikutip Reuters.
Pasalnya, lalu lintas melalui selat tersebut masih berada di bawah 10 persen dari volume normal, seiring peringatan Teheran terhadap kapal-kapal untuk tetap berada di perairan teritorialnya. Data pelacakan kapal pada hari Jumat menunjukkan bahwa sebagian besar kapal yang melintasi Selat itu dalam sehari terakhir memiliki keterkaitan dengan Iran.
Sementara itu, seorang pejabat Teheran mengatakan, sebagai bagian dari skema kesepakatan damai, Iran berencana mengenakan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Namun, gagasan tersebut mendapat penolakan dari para pemimpin Barat serta badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fahreza Rizky
Masuk tirto.id






































