Gurita Keluarga Rektor Djaali di UNJ

Oleh: Mawa Kresna - 28 Agustus 2017
Dibaca Normal 3 menit
Tudingan miring menyasar Djaali. Ia diduga memakai kekuasaannya untuk menempatkan keluarga dan kerabatnya di UNJ.
tirto.id - “Bu, nanti akan ada pelantikan sebagai kepala Pusat Studi Wanita dan Perlindungan anak,” kata seorang pegawai Universitas Negeri Jakarta kepada Nurjannah, awal Maret 2014.

Nurjannah kaget. Ia sama sekali tidak diberitahu bahwa ia dipromosikan untuk menempati jabatan tersebut.

Ia lantas menghubungi Profesor Mulyana, kepala Lembaga Penelitian, untuk mengonfirmasi kabar itu. Sayang, Mulyana tak bisa dihubungi karena sedang umrah. Nurjannah lantas menemui Dr. Hamidah, kepala pusat studi yang lama.

“Ini benar saya yang jadi?” katanya. Setelah Hamidah berkata tidak ada masalah, Nurjannah pun baru yakin.

“Memang ada kebiasaan kalau ada yang mau menjabat sesuatu di sini itu tidak terkonfirmasi dahulu,” ujarnya.

Dari kabar yang mendadak itu, Nurjannah dilantik menjabat kepala pusat studi tersebut untuk periode 2014-2018. Pada saat bersamaan, beredar rumor ada kesalahan orang. Nurjannah yang dipromosikan sebagai kepala pusat studi itu bukanlah Nurjannah yang dosen Fakultas Ilmu Pendidikan, melainkan Siti Nurjanah, dosen Fakultas Ekonomi.

Dua tahun berselang, jabatan Nurjannah ini berujung kritik pedas di media sosial. Sebuah akun Fanpage Facebook bernama 'SAVE UNJ' mengunggah bagan berjudul "Potret Kinerja Rektor: Dari KKN hingga Pemasungan Demokrasi". Salah satu isinya dugaan nepotisme yang dilakukan Rektor UNJ Prof. Dr. Djaali.

Dalam bagan itu ditulis Istri Djaali dituduh menjadi dosen DPK Pascasajana UNJ; anak pertama Djaali disebut dosen biasa di FE UNJ menjadi kepala pusat studi di Lemlit UNJ; anak kedua dosen biasa di FT UNJ menjadi sekretaris rektor UNJ; anak keempat seorang dokter menjadi dosen di FIK UNJ; terakhir menantu (istri dari anak kedua Djaali) yang guru biasa diangkat menjadi dosen di UNJ.

Anak pertama Djaali yang menjadi kepala pusat studi yang dimaksud itu adalah Nurjannah. Namun ia bukan dosen di FE melainkan di Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini dari Fakultas Ilmu Pendidikan. Tudingan nepotisme itu dibantah oleh Nurjannah.

Ia mengatakan, ia diangkat menjadi ketua pusat studi pada masa kepemimpinan rektor Bedjo Sujanto. Saat itu ayahnya, Djaali, masih menjabat Direktur Pascasarjana UNJ periode 2009-2014.

“Bukan dekat dengan Pak Djaali, (memang) saya anaknya. Tapi saya diangkat itu pada masa Prof. Bedjo, dia yang tanda tangan SK saya,” kata Nurjannah.

Bedjo membenarkan itu. Ia juga mengklarifikasi rumor bohong bahwa orang yang menduduki kepala pusat studi tersebut bukanlah Nurjannah, melainkan Siti Nurjanah.

“Kalau memang ada kesalahan, seharusnya ada yang protes, tapi ini tidak ada, ya berarti bagaimana?” kata Bedjo.

Namun, pada 2016, UNJ merombak struktur Lembaga Penelitian (Lemlit).

Lemlit—di dalamnya ada sejumlah pusat studi—digabung dengan Lembaga Pengabdian Masyarakat dan menjadi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UNJ. Karena perubahan ini, Djaali yang sudah menjabat rektor mengeluarkan surat keputusan untuk kepengurusan pusat studi, termasuk untuk anaknya.

Tidak hanya Nurjannah yang mendapat jabatan setelah Djaali memegang rektor UNJ.

Baso Maruddani, anak kedua Djaali, yang disebut dosen di Fakultas Teknik, juga menjabat sekretaris pribadi rektor. Posisi ini tidak dibantah oleh Djaali.

Menurutnya, pengangkatan anaknya menjadi sekretaris pribadi rektor tidak menyalahi aturan.

“Saya tanya Pak Menteri, apakah ini melanggar aturan? Katanya, tidak. Hanya Pak Menteri mengatakan itu tidak etis. Saya tanya, apakah menurut aturan ini tidak boleh? Oh tidak, tidak ada yang melarang,” ungkap Djaali.

Wahyuningsih, yang disebut secara salah dalam tudingan Fanpage 'Save UNJ" sebagai anak keempat Djaali, adalah dokter yang sebelumnya dosen di Universitas Palangkaraya. Wahyuningsih adalah anak kelima Djaali yang diangkat menjadi PNS pada Maret 2014.

Namun, pada Februari 2016, Wahyuningsih mengajukan mutasi ke UNJ tempat ayahnya menjabat rektor. Dengan gelar S1 kedokteran, Wahyuningsih pun menjadi dosen di Fakultas Ilmu Keolahragaan UNJ dan membuka praktik di Poliklinik UNJ.

Dari dokumen yang diperoleh redaksi Tirto, dalam proses mutasi, Djaali memberikan memo kepada Pembantu Rektor II untuk menerima anaknya sebagai dosen di Fakultas Ilmu Keolahragaan.

“Buatkan surat kesediaan UNJ menerima,” demikian Djaali menulis pada memo tersebut.

Perlakuan istimewa juga diberikan Djaali kepada menantunya, Bazzar Ari Mighra, suami Wahyuningsih, untuk menjadi calon pegawai negeri sipil di FIK UNJ.

Pada 1 April 2015, Bazzar diangkat menjadi CPNS dan kemudian mendapat izin belajar program pendidikan dokter spesialis dari Djaali pada 1 Desember 2016. Padahal Bazzar sendiri baru ditetapkan sebagai PNS pada 1 Januari 2017.

Sementara itu, istri Djaali, Nursiah Sappaile, yang disebut dalam bagan Fanpage 'Save UNJ' sebagai dosen Pascasarjana UNJ sama sekali tidak benar.

Nursiah adalah dosen di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kusuma Negara Jakarta. Namun, Nursiah kuliah S3 di Pascasarjana UNJ dan memperoleh gelar doktor dengan promotor suaminya sendiri. Tak hanya itu, Djaali menjadi ketua penguji dalam ujian disertasi sang istri.

Selain keluarga inti, ada banyak kerabat Djaali yang bekerja di UNJ sebagai dosen hingga tenaga administrasi. Dari dokumen yang dikeluarkan oleh Aliansi Dosen UNJ, ada delapan kerabat yang bekerja di UNJ.

Rahmi, menantu Djaali (istri dari Baso Maruddani), adalah dosen DPK FE. T. Sappaile, kerabat Djaali dari sebelah istri, juga menjadi dosen di FE.

Di jajaran tenaga administrasi Pascasarjana UNJ, ada Rahmanita Vidyasari, menantu Djaali. Juga ada Mira Fauziah, adik kandung Rahmi (menantu Djaali), Abdul Malik, Tya, dan Una yang jadi keponakan Djaali, serta Ariel, adik menantu Djaali.

Infografik HL Indepth UNJ

Berujung Kriminalisasi Dosen UNJ

Tersebarnya bagan dugaan nepotisme keluarga Djaali berujung pada kriminalisasi sejumlah dosen di UNJ. Bagan itu dianggap memuat fitnah dan mencemarkan nama baik Djaali. Kuasa hukum UNJ, Abdul Rahman Hasibuan, melaporkan sejumlah orang ke polisi karena tuduhan tersebut.

Sedikitnya ada 23 dosen yang sudah dipanggil Bareskrim Polres Jakarta Timur sebagai saksi dugaan pencemaran nama baik dan fitnah terhadap Rektor Djaali.

Fitnah yang dimaksud Djaali adalah menyebut istrinya sebagai dosen Pascasarjana UNJ dan Nurjannah menjabat Kepala Pusat Studi Wanita dan Pelindungan Anak dengan kekuasaan yang dimilikinya sebagai Rektor UNJ. Lima dosen pertama dipanggil pada Januari 2017, lalu sisanya beruntun hingga Agustus 2017.

Salah satu yang dipanggil polisi adalah Ubedilah Badrun, dosen sosiologi UNJ. Menurut Ubed, awal mula pemanggilan itu karena bagan nepotisme keluarga Djaali menyebar di grup WhatsApp dosen sosiologi. Karena itu para dosen dan admin dalam grup tersebut dipanggil polisi sebagai saksi.

“Yang menyebarkan ada salah satu dosen, tapi bagan itu diambil dari 'SAVE UNJ'. Kita tidak tahu siapa adminnya,” tutur Ubed.

Selain menyebar di grup jejaring pesan dosen sosiologi, bagan infografik nepotisme Djaali ini sudah menyebar di grup para profesor dan guru besar UNJ.

Pemanggilan dosen karena dugaan pencemaran nama baik itu direspons puluhan mahasiswa dan dosen UNJ. Mereka menggelar demonstrasi pada 24 Mei 2017 dan menuntut agar rektor mencabut laporan polisi tersebut. Aksi kembali dilakukan dengan massa yang lebih besar di depan rektorat UNJ pada 15 Juni 2017.

Tuntutan mereka, selain mencabut laporan polisi, rektor harus menghentikan intimidasi, aksi represif, dan anti-demokrasi di kampus, serta mendesak rektor menghentikan praktik nepotisme keluarga di kampus.

Djaali membantah jika ia yang melaporkan para dosen itu ke polisi. Pelaporan itu, katanya, inisiatif kuasa hukum UNJ.

“Saya tidak melaporkan dosen. Pengacara kita hanya melaporkan bahwa ada fitnah terhadap rektor,” kata Djaali.

Baca juga artikel terkait REKTOR UNJ DJAALI atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - )

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight