Menuju konten utama

Golok Buya Cep Jamhur dan Kekhawatiran Hilangnya Perajin Lokal

Saingan para pengrajin golok tradisional bukan hanya barang pabrik, melainkan juga barang impor terutama dari Cina dengan harga yang lebih murah.

Golok Buya Cep Jamhur dan Kekhawatiran Hilangnya Perajin Lokal
Golok-golok koleksi dan hasil pengrajin Cep Djamhur Fahrurrozi. foto/Umay
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Golok bukan sekedar alat untuk memotong, berkebun, serta untuk pertahanan diri. Lebih dari itu, golok merupakan salah satu senjata tajam khas Indonesia yang kerap dikenal dalam budaya Sunda, Betawi, Banten, dan wilayah Melayu lainnya.

Keberadaannya, bahkan sudah sudah tercatat dalam naskah kuno Nusantara seperti Sanghyang Siksa Kandang Karesian 1518.

Golok dalam setiap lengkung bilahnya, menyimpan cerita tentang keberanian, kebijaksanaan, dan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam.

Golok harus terus dilestarikan, bukan hanya dari sisi fungsinya sebagai alat bantu, senjata tajam tradisional ini juga harus dilestarikan lantaran memiliki nilai seni yang tinggi.

Nilai golok akan semakin tinggi ketika dibuat secara handmade atau oleh tangan perajin langsung. Namun, kini golok pabrikan mulai menggeser para perajin lantaran menawarkan harga yang lebih terjangkau.

Salah satu yang menggeluti kerajinan senjata tradisional golok, Cep Djamhur Fahrurrozi atau yang kerap disapa Buya Cep Jamhur, tetap bertahan untuk membuat golok hasil tangannya sendiri bahkan terus berinovasi. Meski di tengah gerusan golok buatan pabrik bahkan impor dari Cina, pria berusia 55 tahun ini percaya bahwa golok handmade punya tempatnya sendiri.

Festival Golok di Banten

Warga mengarak golok raksasa saat Festival Golok di Kota Cilegon, Banten, Sabtu (15/11/2025). Festival tersebut diselanggarakan dalam rangka melestarikan seni dan tradisi golok sebagai warisan budaya khas Banten serta sebagai ajang silaturahim perguruan pencak silat di Banten. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/rwa.

Awal Mula Buat Golok Handmade

Buya bercerita ketertarikannya pada golok dimulai pada 2020 atau saat pandemi Covid-19 melanda. Saat itu, pria yang juga berprofesi sebagai pendakwah ini memikirkan kegiatan atau peluang lainnya agar bertahan di tengah ancaman wabah tersebut.

Bukan hanya sebagai pendakwah, Buya Cep Jamhur juga berprofesi sebagai penjagal atau juru sembelih hewan kurban. Katanya, dia memiliki sejumlah koleksi golok yang kemudian disusun rapi oleh anak pertamanya pada masa pandemi Covid-19. Dari situ, Buya mendapatkan ide untuk menjadi perajin golok.

"Jadi akhirnya setelah itu karena sering koleksi golok-golok. Nah, karena hobinya adalah menyembelih berarti kebanyakannya ya golok-golok buat menyembelih. Pertamanya sih dari tahun 2020," kata Buya saat ditemui di Garasi Golok Buya Cep Jamhur, Larangan, Tangerang, Kamis (29/10/2026).

Kemudian, saat Buya memeriksa goloknya satu persatu, ternyata ditemukan sejumlah golok yang berkarat dan akhirnya diperbaiki dengan cara diasah menggunakan mesin batu akik yang dimodifikasi. Ide kembali muncul ketika Buya berhasil membuat goloknya menjadi kinclong bahkan menyerupai cermin.

Cep Djamhur Fahrurrozi

Pengrajin Golok, Cep Djamhur Fahrurrozi atau yang kerap disapa Buya di Garasi Golok Buya Cep, Larangan, Tangerang. tirto.id/Umay

Meski telah berhasil membuat golok menjadi seperti cermin, Buya awalnya belum terpikir bahwa hal ini bisa menjadi peluang bisnis. Kemudian, dia membuat sebuah unggahan di aplikasi WhatsApp yang menarik sejumlah orang hingga bertanya soal golok yang telah kinclong tersebut.

"Pertama kali saya masih ingat aja, saya enggak bakal menghilangkan itu Ustad Fasa. Dia juga penceramah terkenal. Nah akhirnya dibeli masih ingat Rp350.000," ujar Buya.

Buya mengaku gembira atas penjualan pertamanya. Kemudian, Buya mendapatkan modal untuk melanjutkan dan memantapkan diri menjadi perajin golok. Pelanggan pertamanya, Ustad Fasa, kemudian mendatanginya dan membawa 12 pelanggan lainnya.

Buya terus belajar cara membuat golok baik melalui internet maupun rekan-rekannya yang sudah lebih dulu menjadi perajin golok. Katanya, di tempat berdakwah yang dia kunjungi, jika di sekitarnya terdapat tempat perajin golok, dia akan mampir dan menyerap ilmu untuk diterapkan di tempat kerjanya.

"Terus kalau misalkan kita ceramah ke Sukabumi nih, Buya langsung belajar tuh, kan dia Sukabumi ada tuh yang namanya Cibatu," tutur Buya.

Buya terus mempelajari cara pembuatan golok, meski berawal dari mengasah golok yang sudah jadi, Buya tetap ingin bisa membuat golok dari nol. Namun, kata Buya, untuk urusan besi harus tetap dilakukan oleh ahli atau pandai besi.

Lebih lanjut, Buya mengungkapkan, untuk bahan pembuatan golok saat ini sudah semakin beragam. Bahkan, banyak bahan yang berasal dari luar negeri. Katanya, banyak bahan yang berasal dari bahan bekas seperti per mobil, klep kapal, dan lain sebagainya.

"Cuma pandai besi biasanya kalau klep kapal itu suka agak angkat tangan karena saking kerasnya," ucap Buya.

Buya mengaku masih bertahan menjadi perajin golok lantaran telah menetapkan kegiatan ini menjadi hobi. Enam tahun sudah berjalan, Buya tetap ingin mempertahankan Garasi Golok Buya Cep.

Namun, kata Buya, tak semuanya berjalan mulus, dia mengaku kini kendala utamanya adalah soal pemasaran, terlebih pada zaman modern ini.

Bahkan, dia menyebut sudah banyak rekan perajin lainnya yang menyerah, bukan hanya karena pemasaran, tetapi juga lantaran gerusan produk golok dari luar negeri atau barang pabrikan.

Dia mengakui bahwa golok hasil perajin dijual dengan harga yang lebih mahal karena dibuat dengan proses yang serius dan memerlukan waktu yang panjang. Katanya, industri golok handmade masih bertahan hingga saat ini karena masih ada pelanggan yang mencari golok yang benar-benar buatan Indonesia dan hasil tangan perajin.

Buya mengatakan, ketertarikannya pada domba juga membuatnya terus berinovasi di bidang golok ini. Dia mengaku otaknya terus memikirkan hal-hal baru yang dapat diterapkan untuk menghasilkan golok yang unik.

Buya kini mulai menggunakan bahan seperti tulang dan tanduk domba sehingga memiliki ciri khasnya sendiri. Dia juga menawarkan modifikasi ukiran nama pada bagian besi golok. Kata Buya, golok yang bagus membuat belajar menyembelih menjadi semakin mudah.

"Tanduk, kayu, sekarang dibuat juga dengan tulang," kata Buya.

Dia percaya, golok hasil perajin masih memiliki tempat di hati para pencintanya. Buya bercerita, banyak rekan sesama perajin yang telah berhasil memasarkan goloknya hingga ke mancanegara.

 Golok Cep Djamhur Fahrurrozi

Golok-golok koleksi dan hasil pengrajin Cep Djamhur Fahrurrozi. foto/Umay

Permintaan Menurun dan Kekhawatiran Tak Ada Penerus

Buya juga mengakui, permintaan golok semakin menurun belakangan ini. Kata Buya, permintaan golok tertinggi terjadi pada 2023-2024, dengan harga jual dari Rp150.000 hingga Rp3.000.000, saat itu Buya berhasil menjual sekitar 60 golok. Meski terdapat penurunan permintaan, Buya bertekad untuk tetap bertahan dan terus belajar.

Kekhawatiran muncul bukan karena menurunnya permintaan, tetapi karena tak adanya ketertarikan generasi muda mempelajari kerajinan pembuatan golok. Bahkan, anaknya sendiri terlihat enggan untuk meneruskan tradisi ini. Dia juga melihat di sejumlah kampung golok seperti di Sukabumi, Jawa Barat, masih didominasi oleh orang usia lanjut. Buya juga mengajak para pemuda untuk terus melestarikan budaya, termasuk salah satunya senjata tradisional golok.

Peran Golok di Masyarakat

Sekjen Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo), Edy Misero, mengatakan golok memiliki dua peran yaitu alat untuk memotong dan alat dalam rangka menjaga tradisi. Katanya, seseorang akan membeli golok berdasarkan dengan kebutuhannya.

"Potong inilah, potong itulah, potong tebas pohonlah. Tetapi ada yang membeli goloknya dalam rangka menjadi alat alat seni," kata Edy saat ditemui, Kamis (29/10/2026).

Dia mengatakan golok memiliki keragaman pasar. Katanya, pada konsumen yang hanya memerlukan golok sebagai alat potong maka akan memperhatikan kualitasnya dan tidak mementingkan asal usul golok tersebut.

Dia mengatakan, dengan kondisi saat ini, pada perajin golok perlu gencar memasarkan produknya, terutama pada konsumen yang memang melihat golok sebagai alat kesenian baik dari gagangnya hingga pembungkusnya.

Kata Edy, di tengah gempuran golok pabrikan, perajin harus berkonsentrasi pada kesenian. Namun, jika tetap ingin bersaing dengan golok pabrikan, maka harus mengedepankan standar dan harga yang setara dengan golok yang dihasilkan dari pabrik.

Sementara, Ketua Umum Asosiasi Industri UMKM Indonesia (AKUMANDIRI), Hermawati Setyorinny, mengatakan saingan para perajin golok kini bukan hanya barang pabrik, melainkan juga barang impor terutama dari Cina yang dipasarkan dengan harga yang lebih murah. Hal ini juga diperparah dengan ketersediaan bahan baku golok di Indonesia.

"Itu mempengaruhi ongkos produksi itu sendiri," kata Hermawati saat dihubungi, Kamis.

Kata Hermawati, selain bahan baku, perajin juga menghadapi berbagai biaya lain, mulai dari proses produksi hingga pengurusan legalitas dan dokumen usaha. Beban tersebut membuat harga produk lokal sulit bersaing dengan barang impor yang lebih murah.

Akibatnya, pasar golok tradisional semakin menyempit. Di sisi lain, permintaan terhadap golok juga tidak sebesar produk kebutuhan rumah tangga lainnya. Golok yang telah dimiliki konsumen umumnya masih bisa digunakan kembali setelah diasah sehingga tidak perlu sering diganti dengan produk baru.

PRODUKSI GOLOK TRADISIONAL

Pandai besi memproduksi golok secara tradisional di Sepatan, Tangerang, Banten, Rabu (22/12/2021). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/aww.

Dia menyebut, kondisi ini membuat perajin golok tradisional cenderung bertahan, alih-alih mengembangkan usaha atau meningkatkan omzet. Sebagian perajin bahkan perlu mencari sumber pendapatan lain di luar produksi golok untuk menopang kebutuhan ekonomi mereka.

Menurut Hermawati, keberlangsungan usaha perajin golok membutuhkan inovasi dan kreativitas dalam menawarkan produk. perajin perlu mencari peluang pasar baru agar produk mereka tidak hanya bergantung pada permintaan golok untuk kebutuhan sehari-hari.

Namun, dia mengatakan upaya tersebut juga perlu didukung oleh pemerintah. Dukungan dapat diberikan melalui kebijakan yang membantu perajin menghadapi persaingan, memperkuat usaha, dan memperluas akses pasar.

Hermawati menilai, golok tradisional bukan sekadar komoditas perdagangan, melainkan juga berkaitan dengan nilai budaya Indonesia. Karena itu, keberadaan perajinnya perlu mendapatkan perhatian lebih, terutama di tengah persaingan dengan produk massal dan impor.

Festival Golok Cakung

Sejumlah panitia berpose dengan golok saat Festival Golok Cakung di kawasan Kanal Banjir Timur, Jakarta, Sabtu (12/10/2024). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/nz

Baca juga artikel terkait SENI TRADISIONAL atau tulisan lainnya dari Auliya Umayna Andani

tirto.id - News Plus
Reporter: Auliya Umayna Andani
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Bayu Septianto