Menuju konten utama

Gaya Hidup "No Life": Saat Pola Kerja Berlebihan jadi Kebanggaan

Curhat “no life” di media sosial bisa saja sekadar keluhan, tetapi bisa juga ada unsur pamer di dalamnya.

Gaya Hidup
Ilustrasi lembur. Getty Images/iStockphoto

tirto.id - Suara ketikan masih terdengar pada Minggu pagi di sebuah ruangan kantor media. Tatapan seorang karyawan belum juga lepas dari layar sejak malam sebelumnya, sesekali ia membolak-balik buku dan menyesap kopi di sisinya. “Enggak pulang lu?” tegur temannya yang melintas seraya membawa ransel.

“Belum kelar artikel buat headline Senin.”

“Kerja di rumah saja kayak gue.”

Si karyawan tadi menolak saran temannya dengan alasan masih harus berkoordinasi dengan editor. Sekitar jam makan siang, sebuah pesan dari koleganya yang lain datang, mengajaknya nonton dengan beberapa teman lain. Si karyawan melirik jam dinding, dan dengan berat hati, dia menjawab, “Kayaknya enggak keburu kalau ngejar jam segitu. Gue masih lama ngerjain tulisan buat besok.”

Berbagai tugas kantor kerap kali menciptakan kondisi seperti yang dialami si karyawan media ini. Alih-alih beristirahat atau melakukan kegiatan-kegiatan personal yang menyenangkan, akhir pekan diisinya dengan aktivitas kerja serupa hari Senin hingga Jumat.

Kemajuan teknologi komunikasi memungkinkan sebagian karyawan untuk bekerja dari mana saja. Namun, sekalipun tempat dan waktu kerja menjadi kian fleksibel, tidak berarti hal ini dipandang sebagai angin segar seratus persen.

Ada yang menganggap aktivitas kerja dengan memanfaatkan email atau Whatsapp sebagai kendala baru untuk mencapai keseimbangan antara kehidupan kerja dan personal. Pulang kerja berarti bebas tugas adalah mitos.

Kapan pun dan di mana pun, “teror” pekerjaan bisa menghampiri. Mematikan sejenak penghubung urusan kantor bisa berimbas pada menumpuknya pekerjaan pada awal minggu berikutnya. Di samping itu, ada pula kekhawatiran bila seseorang mengabaikan pekerjaan yang datang di luar jam kantor, penilaian performa kerjanya akan terdampak.

Tuntutan pekerjaan yang tidak kunjung berhenti paralel dengan bertambahnya jam kerja. Forbes mencatat, menurut survei Harvard Business School, sekitar 94 persen profesional bekerja lebih dari 50 jam per minggu. Jam kerja panjang yang dilalui karyawan seperti ini bisa mempengaruhi kehidupan relasi, kesehatan, dan kebahagiaan secara umum.

Berdasarkan survei Pew Research Center tahun 2015, 42 persen ayah bekerja dan 52 persen ibu bekerja di AS mengatakan mereka ing in berada di rumah saja dengan anak-anaknya, tetapi tidak bisa karena harus mencari nafkah. Akibat tuntutan kerja, 29 persen ayah pekerja dan 37 persen ibu bekerja selalu merasa terburu-buru untuk melakukan macam-macam hal.

Sindikasi: “Kerja Keras Menukar Waras”

Sebagian pihak, baik karyawan maupun perusahaan, lebih menitikberatkan fokus pada kesehatan fisik dibanding psikis ketika berbicara soal keselamatan kerja. Padahal, hal ini tidak kalah signifikannya mempengaruhi kondisi individual si pekerja yang lantas berimbas pula pada capaian kantor.

Kondisi memprihatinkan soal penyeimbangan kehidupan kerja-personal yang berefek pada kesehatan mental membuat Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (Sindikasi) mengusung isu tersebut dalam Work-Life Balance Fest 2018.

Dalam siaran persnya, Sindikasi mengutip catatan WHO bahwa 1 dari 7 orang mengalami gangguan kesehatan jiwa di kantor. Hasil studi Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) RI tahun 2016 juga menunjukkan, sepertiga pekerja di industri kreatif mengalami overwork dengan jam kerja lebih dari 48 jam per minggu.

Dalam laporan Sindikasi juga dicantumkan sejumlah pengalaman pekerja di industri kreatif yang berkaitan dengan kesehatan jiwa mereka. Ada MA, pekerja di perusahaan periklanan yang mesti siap siaga bekerja 24 jam nonstop. Ia kerap dihubungi atasan pada dini hari untuk merevisi pekerjaan iklan digital. Ketika hendak mengundurkan diri lantaran tak sanggup lagi menahan tuntutan pekerjaan, MA malah diancam penangguhan upah hingga diperkarakan ke pengadilan.

“Untuk datang ke kantor saja mirip dengan mendatangi medan perang,” kata MA. Sindikasi menulis, kepercayaan diri MA menurun drastis, relasinya dengan rekan sejawat dan atasan pun menjadi tidak sehat.

Ada lagi pengalaman Zaky Yamani, mantan wartawan harian Pikiran Rakyat. Pada 2016, berdasarkan hasil konseling di Biro Pelayanan dan Inovasi Psikologi (BPIP), ia dinyatakan memiliki gangguan psikologis terkait pekerjaan. Menurut Zaky, hal ini terjadi karena ia dituntut untuk meliput berbagai peristiwa traumatis, mulai dari bencana alam hingga pembunuhan. Ia pun pernah mengalami ancaman pembunuhan setelah membuat suatu tulisan di medianya.

Beban psikis Zaky diperparah dengan jam kerja panjang yang mesti dilaluinya. Seorang jurnalis bisa bekerja lebih dari 12 jam per hari, termasuk kegiatan memantau isu dan perkembangan suatu peristiwa.

Kendati karyawannya telah didiagnosis oleh spesialis kejiwaan mengidap gangguan psikis, pihak perusahaan tempat Zaky bekerja tidak menoleransi kondisi dia. Ia dianggap mangkir sampai akhirnya dipecat oleh manajemen Pikiran Rakyat. Zaky sempat mengajukan permohonan pensiun dini dengan alasan kondisi mental, tetapi ditolak pihak berwenang di kantornya.

“Manajemen tidak mengakui [masalah kesehatan jiwa]. Teman-teman sendiri juga banyak yang bilang saya bohong,” kata Zaky. Usaha advokasi ke meja hijau sempat pula dilakukannya, namun pengadilan tidak mengakui bukti sakit mental Zaky.

Kritik terhadap sistem perusahaan maupun inisiatif negara terkait kesehatan jiwa karyawan pun dilancarkan Sindikasi. Mereka menyoroti Keputusan Presiden No. 22 tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul Akibat Hubungan Kerja yang menjadi dasar menentukan Penyakit Akibat Kerja (PAK). Di dalamnya hanya terdapat 31 jenis penyakit yang seluruhnya merupakan penyakit fisik.

Kategori PAK macam ini tidak sejalan dengan kategori PAK dari ILO yang dikeluarkan tahun 2010. Pasalnya, menurut lembaga buruh internasional tersebut, gangguan jiwa dan perilaku termasuk efek pekerjaan yang tidak boleh luput diperhatikan dalam dunia profesional.

Infografik Hidup untuk kerja untuk hidup

Kondisi Supersibuk sebagai Simbol Status Anyar

Di satu sisi, bekerja terus menerus sampai merasa tak punya kehidupan personal alias “no life” menjadi bahan komplain di media sosial oleh sebagian karyawan. Namun di lain sisi, hal ini juga bisa dipandang sebagai cara seseorang meraih status dalam masyarakat. Michael Blanding menulis fenomena menarik ini dalam esainya yang dimuat situs Harvard Business School: "Having No Life is The New Aspirational Lifestyle".

Tulisan tersebut mengutip studi Bellezza et.al. pada Journal of Consumer Research (2017) yang menyimpulkan bahwa gaya hidup supersibuk telah menjadi simbol status aspirasional di kalangan orang-orang AS.

Penelitian mereka bermula dari hadirnya fenomena mengeluhkan kesibukan kerja di media sosial belakangan ini. Di Twitter, muncul cuitan-cuitan berisi ejekan terhadap diri sendiri karena saking sibuk bekerja sehingga kekurangan waktu bersantai yang disebut “humblebrag”.

Stage director Tlaloc Rivas misalnya, pernah mencuit, “Membuka pertunjukan Jumat lalu. Mulai latihan untuk pertunjukan lain Selasa depan. Di tengah-tengahnya, ada rapat di DC. SAYA TAK PUNYA KEHIDUPAN.” Aktor dan model Arthur Kade juga sempat berkicau, “Saya butuh menulis blog dengan pembaruan soal segalanya!! Saya sudah disibukkan dengan rapat-rapat dan telepon-telepon sampai mengabaikan penggemar saya.”

Belleza et.al. memandang, cuitan macam ini terus berseliweran lantaran adanya anggapan di AS bahwa orang yang bekerja, terlebih yang supersibuk, memiliki status sosial lebih tinggi dibanding yang kelihatan menganggur. Pendapat ini juga dilandasi adanya etos American Dream: keyakinan orang-orang dari kelas mana pun bisa mendapat afirmasi sosial bila mereka bekerja keras.

Dalam penelitiannya, Bellezza et.al. menyuguhkan beberapa post yang menunjukkan aktivitas supersibuk seseorang kepada sekitar 300 responden. Setelah responden membaca sekian post, para peneliti meminta mereka untuk menyatakan persepsinya terhadap si pembuat post.

Jawabannya, orang tersebut dianggap punya profesi dengan jam kerja panjang, ia kompeten, ambisius, dan berniat mengubah dunia. Makin banyak informasi soal kesibukan kerja dipaparkan seseorang, makin mungkin ia dipandang berstatus sosial tinggi. Sebagai tambahan, tingkat status sosial seseorang juga bertambah bila ia diketahui memiliki pekerjaan yang berarti.

Ketika kondisi overwork tidak lagi terhindarkan, perlahan-lahan karyawan menormalisasi hal ini, bahkan menjadikannya lawakan di antara teman-teman yang menghadapi kondisi serupa. Curhat soal beban kerja adalah keluhan dan keprihatinan, pembentuk solidaritas sesama karyawan, atau malah menjadi cara mendulang pengakuan dari sekitar.

Baca juga artikel terkait PSIKOLOGI atau tulisan lainnya dari Patresia Kirnandita

tirto.id - Gaya hidup
Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Maulida Sri Handayani