Gaya Baju Ibu Negara dan Upaya Mempromosikan Desainer Lokal

Ibu Negara Indonesia Iriana Widodo, tengah, Mufidah Jusuf Kalla, kanan, istri Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Wuri Estu Handayani, kiri, istri Wakil Presiden yang masuk, Ma'ruf Amin berpose untuk media sebelum pelantikan presiden di gedung parlemen di Jakarta pada hari Minggu, 20 Oktober 2019. Presiden Populer Widodo, yang bangkit dari kemiskinan dan berjanji untuk memperjuangkan demokrasi, memerangi korupsi yang mengakar dan memodernisasi negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia ini akan dilantik untuk masa jabatan lima tahun terakhirnya. (Foto Adek Berry / Pool via AP)
Oleh: Joan Aurelia - 26 Oktober 2019
Dibaca Normal 3 menit
Baju ibu negara pada saat pelantikan presiden mencerminkan visi kerja mereka.
tirto.id - Iriana Jokowi tampaknya tidak akan pernah punya cap seperti Imelda Marcos atau mantan Ibu Negara AS, Nancy Reagan, yang dikenal gemar bergaya glamor dan jor-joran menghabiskan uang untuk membuat baju. Apa pasal?

Pada acara pelantikan presiden 20 Oktober lalu, istri presiden Joko Widodo itu "hanya" mengenakan baju kurung putih polos yang dipadu setelan sarung dan selendang batik. Menurut laporan Republika, busana tersebut didesain oleh Tuty Adib, perancang mode yang berdomisili di Solo dan sudah biasa menangani Iriana sejak beberapa tahun lalu.

September lalu, nama Tuty terdengar lantaran disebut-sebut tampil dalam ajang New York Fashion Week. Namun, yang sebenarnya terjadi adalah busana modest wear karya Tuty dipamerkan dalam ASC New York Fashion, acara yang diorganisir dua pengusaha asal India, Amit Singh Chauhan dan Kiran Khan, yang menghadirkan sejumlah desainer busana muslim dari Asia.

Acara itu sengaja diselenggarakan bertepatan dengan momen pekan mode New York Fashion Week. Dalam peragaan tersebut, Tuty juga menampilkan kain tenun Sumatera Barat. Jenis kain yang kabarnya pernah ia tampilkan pada sebuah peragaan busana di London, bertepatan dengan acara London Fashion Week.


Ketika hari pelantikan Presiden, sejumlah media gaya hidup menyoroti busana Iriana. Beberapa memprediksi bahwa jenis baju kurung ala sang ibu negara tersebut akan populer selama beberapa waktu ke depan.

Gaya busana Iriana sejatinya telah muncul sejak ia dinobatkan sebagai ibu negara. Pada 2014, Iriana mengejutkan publik dengan tampil mengenakan kebaya kutubaru berwarna oranye. Apa yang ia kenakan saat itu, disadari atau tidak, di luar kebiasaan gaya baju para ibu negara sebelumnya yang identik dengan kebaya polos atau kebaya berbahan satin.

Sejak itu, gaya busana Iriana kala menghadiri acara besar seperti perayaan Hari Ulang Tahun RI terus jadi sorotan. Tahun lalu, misalnya, ia memakai busana adat Minang. Pada Agustus tahun ini, ia kembali memakai busana adat Minang namun lengkap dengan aksesori emas dan hiasan kepala. Kini ia melakukan terobosan lagi dengan tidak mengenakan kebaya pada acara pelantikan.

Dalam wawancara dengan IDN Times, Tuty menyebut paduan busana Jawa dan Sumatera Barat yang dikenakan Iriana adalah simbol keragaman. “Sesuatu yang berbeda disatukan menjadi sesuatu yang harmonis,” ujarnya.

Mengapa jadi Sorotan?

Sorotan terhadap gaya busana ibu negara dalam acara pelantikan presiden biasanya terjadi di AS.

Kepada CNN, Lisa Graddy, kurator sejarah politik dari National Museum of American History mengungkap bahwa perhatian tersebut muncul sejak beberapa dekade lalu. Pada 2010, ia juga menyelenggarakan pameran A First Lady Debut yang menampilkan busana pelantikan ibu negara sejak tahun 1900an.

Dalam artikel berjudul "State of the Union? A Dress Says a Lot" yang dipublikasikan Washington Post pada Januari 1997, Robin Givhan mencatat daya tarik publik terhadap gaun pelantikan ibu negara terjadi karena gaun tersebut dianggap “melambangkan citra mereka sebagai perempuan dan orang-orang yang ia wakili. Busana juga menyiratkan bagaimana orang Amerika ingin dilihat dan siapa mereka sesungguhnya?”

Dan masyarakat AS, rasa-rasanya, memang cukup awas dalam mengamati jenis busana tersebut. Mereka tidak segan melayangkan protes kala melihat Nancy Reagan mengenakan gaun pelantikan dengan harga lebih dari $20.000 pada masanya. Mereka juga bisa menilai Rosalynn Carter sebagai perempuan yang tidak peduli penampilan karena tidak memakai busana baru dalam acara pelantikan.

Masyarakat AS juga menaruh perhatian pada Caroline Harrison yang menggunakan busana sebagai medium kampanye. Saat itu, Harrison yang punya keinginan agar AS memiliki peran lebih dalam dunia fesyen, memakai busana karya perajin tekstil asal Indiana yang membuat kain sutrera. Ia adalah ibu negara pertama yang hendak mempromosikan karya para perancang AS.

Ide yang awalnya muncul pada 1800-an itu kemudian menyeruak lagi pada zaman kepemimpinan presiden John F Kennedy dan Ronald Reagan. Jackie dan Nancy adalah ibu negara yang menganggap bahwa idealnya orang-orang AS mempromosikan desainer AS ke penjuru global.


Namun, apa yang dimaksud desainer asal AS tak selalu desainer kelahiran AS. Jackie Kennedy, misalnya, gemar mengenakan busana rancangan Oleg Cassini, desainer berdarah Rusia-Italia yang membuka rumah mode di AS. Demikian pula Hillary Clinton dan Laura Bush yang senang memakai busana kreasi Oscar de la Renta--desainer keturunan Republik Dominika yang membuka usaha di New York.



Makna “mempromosikan karya desainer AS” berubah kala Michelle Obama diangkat jadi Ibu Negara. Pada 2009, ia mengenakan rancangan Isabel Toledo dan Jason Wu. Bisa dibilang keduanya bukan desainer yang biasa mendandani para pejabat. Jason Wu bahkan bisa dikatakan desainer baru di dunia fesyen. Ini jelas berbeda dengan para desainer ibu negara sebelumnya yang biasa berkancah di kalangan menengah atas serta memiliki klien para sosialita.

Michele juga sempat mempromosikan karya perancang busana dan aksesori di AS yang bekerja untuk label retail siap pakai, J. Crew. Hal itu ia tunjukkan kala mengenakan sarung tangan J.Crew pada acara pelantikan presiden.

Sejak saat itu, Michele segera dipandang sebagai ikon fesyen AS dan membuatnya tambah dielu-elukan masyarakat. Ada pun ciri khasnya adalah memadukan karya adibusana desainer muda dan lini retail siap pakai. Bersama suaminya yang juga kompak dalam selera berbusana, pasangan ini kian identik dengan gaya rancangan J. Crew.


Sementara itu, Melania Trump, istri orang nomor satu di AS saat ini, Donald Trump, memilih tidak melanjutkan langkah Michele. Pada hari pelantikan sang suami, ia memilih mengenakan desainer AS senior yang mapan dan terpandang, Ralph Lauren. Malamnya, ia mengenakan busana karya Herve Pierre, perancang yang sempat jadi direktur kreatif label busana AS, Carolina Herrera. Selain itu, Melania juga kerap terlibat dalam proses perancangan busana yang akan ia kenakan.

Di luar AS, niat menonjolkan ‘karya desainer lokal’ dalam momen pelantikan diwujudkan pula oleh Brigitte Macron. Ia memilih rancangan busana dari rumah mode Prancis yang tua dan tersohor, Louis Vuitton, dan berani melepas pakem gaya busana politisi perempuan dengan memakai rok mini berpotongan lurus.

Baca juga artikel terkait FASHION atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight