Ganjar Pastikan Warga di Area Berbahaya Merapi Sudah Mengungsi

Reporter: - 28 Januari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memastikan warga yang tinggal di area bahaya letusan Gunung Merapi sudah mengungsi.
tirto.id -
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memastikan warga yang tinggal di area bahaya letusan Gunung Merapi sudah mengungsi terkait dengan adanya peningkatan aktivitas, berupa guguran awan panas dan hujan abu vulkanik.

"Kebetulan saya dilaporin setiap hari, dapat report terus oleh kawan-kawan dan sampai hari ini masih terkendali dan di tempat-tempat pengungsian selalu stand by terus," katanya di Semarang, Rabu.

Ganjar meminta BPBD di daerah yang mengelilingi Gunung Merapi untuk terus memastikan kondisi pengungsi dan tempat pengungsiannya disesuaikan dengan protokol kesehatan.

Orang nomor satu di Pemprov Jateng itu meyakini warga di lereng Gunung Merapi sudah paham dan akan ikut instruksi BPBD terkait peningkatan aktivitas.


"[Instruksinya] sama, karena mereka sudah terlatih, sudah tahu, ikuti seluruhnya perintah dari BPBD," ujarnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta mengevakuasi warga dari kelompok rentan yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III Gunung Merapi ke barak pengungsian di masing-masing kelurahan setelah terjadi 52 kali awan panas guguran di Gunung Merapi pada Rabu(27/1).

"Warga kelompok rentan di tiga titik rawan di tiga keluarahan telah dievakuasi ke barak pengungsian pada Rabu (27/1) sore hingga Kamis dinihari," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman Makwan di Sleman, Kamis (28/1/2021).

Menurut dia, warga kelompok rentan yang terdiri lansia, balita, anak-anak, ibu hamil dan menyusui serta disabilitas tersebut dievakuasi ke barak pengungsian Purwobinangun di Watuadeg, Kecamatan Pakem.

"Kemudian untuk warga rentan di Kelurahan Umbulharjo dievakuasi ke barak pengungsian Plosokerep dan warga Kalitengah Lor di barak Kelurahan Glagaharjo. Kedua kelurahan tersebut berada di Kecamatan Cangkringan," katanya.

Ia mengatakan, untuk jumlah warga rentan Dusun Turgo yang dievakuasi ke barak pengungsian meliputi di Barak Utama Kelurahan Purwobinangun, Barak Rentan Purwobinangun dan SD Negeri Tawangharjo sebanyak 145 jiwa yang terdiri lansia laki-laki 19 dan perempuan 14, dewasa laki-laki 33 dan perempuan 43, anak laki-laki 19, perempuan 13, bayi laki-laki satu, balita laki-laki satu, balita perempuan dua dan ibu hamil satu orang.

"Kemudian untuk pengungsi warga rentan di Dusun Ngrangkah yang dievakuasi ke barak-barak Plosokerep Umbulharjo, Cangkringan sebanyak 10 jiwa terdiri dewasa dua orang, anak lima orang dan balita tiga orang. Semuanya ini masih dalam satu keluarga (KK)," katanya.

Kemudian untuk pengungsi dari Dusun Kalitengah Lor yang sebelumnya dievakuasi ke Barak Gedung PNPM Kelurahan Glagaharjo, Cangkringan sebanyak 41 jiwa yang terdiri lansia laki-laki lima orang dan perempuan 19 orang, dewasa laki-laki 12 orang dan perempuan sembilan orang, anak laki-laki dua orang dan balita laki-laki dan perempuan masing-masing satu orang.

"Namun pada pagi hari ini jumlah pengungsi di barak Glagaharjo tinggal lima jiwa, sedangkan yang lainnya sudah pulang kembali ke rumah masing-masing," katanya.

Makwan mengatakan, potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor Selatan-Barat Daya meliputi Sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km.

Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak Gunung Merapi.

"Semua aktivitas penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam KRB III untuk dihentikan. Kawasan Wisata di wilayah Sleman yang ditutup sementara; Klangon, Bunker Kaliadem, Kinahrejo dan Wisata Religi Turgo," katanya.

BPBD juga diminta mengambil data keilmuan dari vulkanologis terkait dengan perkembangan aktivitas Gunung Merapi, kemudian menyampaikan data tersebut kepada masyarakat agar yang bersangkutan juga memahami.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan Gunung Merapi mulai memasuki fase erupsi 2021.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan bahwa Gunung Merapi telah memasuki fase awal erupsi sejak 31 Desember 2020 yang ditandai munculnya api diam hingga fenomena guguran lava pijar dari puncak yang terlihat pertama kali pada 4 Januari 2021 malam.


Baca juga artikel terkait STATUS GUNUNG MERAPI atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Sumber: Antara
Editor: Maya Saputri
DarkLight