tirto.id - Fernanda Gunsan kerap muncul di linimasa sebagai konten kreator audio. Ia dikenal lewat ulasan TWS, IEM, headphone, hingga speaker disampaikan lugas, minim gimmick, dan jauh dari jargon berlebihan. Namun, keterlibatannya di dunia audio tidak bermula dari kamera atau media sosial, melainkan dari balik layar.
“Sebenarnya dari dulu memang cinta sama audio,” kata Fernanda kepada Tirto, Kamis (22/1/2025).
Sejak SMP hingga SMA, Fernanda sudah akrab dengan band, rekaman mandiri, serta eksplorasi software audio. Ketertarikan itu berlanjut secara profesional ketika ia bekerja sebagai audio engineer, sebelum akhirnya berpindah jalur ke dunia media, e-commerce, dan strategi media sosial. Perpindahan tersebut justru membuka perspektif baru.

Saat menangani berbagai kampanye gadget, Fernanda melihat celah yang jarang disentuh yaitu perangkat audio hampir tidak pernah dibahas secara serius, padahal pasarnya besar dan audiensnya jelas. Berbekal latar belakang teknis dan rasa penasaran, ia mulai mengulas produk audio bukan dengan membaca spesifikasi, melainkan membedah pengalaman penggunaan.
“Formulanya sebenarnya simpel. Bukan spek duluan, tapi masalah audiens dulu. Produk ini nyelesain masalah siapa?” kata Fernanda.
Menyatukan Bahasa di Ranah yang Subjektif
Audio adalah wilayah yang sangat personal. Selera tiap orang berbeda, bahkan bentuk telinga pun memengaruhi persepsi suara. Fernanda memahami hal itu, sehingga tidak menempatkan opininya sebagai kebenaran tunggal. Pendekatannya justru berangkat dari upaya menyederhanakan bahasa.Lewat YouTube dan konten edukatifnya, dia memperkenalkan istilah dasar seperti tuning, tonality, hingga teknikalitas. Tujuannya bukan menggurui, melainkan memberi alat bagi audiens untuk menilai sendiri sesuai preferensi mereka bukan sekadar mengikuti rekomendasi mentah.

“Kalau kita satu bahasa dulu, audiens bisa berkembang. Mereka nggak tergantung sama satu reviewer,” ujarnya.
Dari pendekatan ini lahir konten edukasi berlapis, disusun seperti chapter, yang perlahan menjadi rujukan bagi banyak penggemar audio di Indonesia.
Realistis Membaca Pasar
Dalam membaca pasar Indonesia, Fernanda bersikap realistis. Faktor utama hampir selalu dimulai dari harga, disusul daya tahan dan garansi.“Baru yang ketiga suara,” katanya.
Dia juga kerap meluruskan miskonsepsi umum: spesifikasi tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas audio. Versi Bluetooth terbaru, codec mutakhir, atau angka-angka pemasaran sering kali tidak berdampak signifikan pada karakter suara.
“Audio itu harus didengar, bukan dibaca speknya doang,” ungkapnya.
Pendekatan ini membuat ulasannya relevan, terutama bagi pengguna dengan anggaran terbatas—bahwa menikmati musik dengan baik tidak harus mahal. Salah satu kontribusi penting Fernanda adalah kitab audio, sebuah google sheet berisi rangkuman dan penilaian berbagai produk audio.

Awalnya, ini lahir dari rasa lelah menjawab pertanyaan rekomendasi yang sama dari rekan-rekan kantor. Dia memilih membuat sistem mulai dari produk dapat di filter berdasarkan harga, fungsi, hingga kebutuhan spesifik.
“Bukan buat sok pinter, Biar orang bisa milih sendiri,” katanya.
Sebagai konten kreator penuh waktu, Fernanda juga realistis soal kerja sama dengan brand. Baginya, idealisme bukan berarti menolak semuanya, melainkan menjaga kejujuran. Jika sebuah produk memiliki kekurangan, ia menyampaikannya tanpa bashing dan tanpa drama. Bahkan, tak jarang ia memberi umpan balik langsung kepada brand mengenai kondisi pasar dan ekspektasi konsumen.
Pendekatan ini kadang berujung lebih jauh. Salah satunya ketika sebuah brand benar-benar mendengarkan masukannya, mengundangnya ke pabrik di Shenzhen, hingga mengimplementasikan versi custom EQ buatannya secara global.
“Itu yang bikin senang, ternyata suara konsumen bisa beneran sampai,” tuturnya.
Lebih dari Sekadar Viral
Soal algoritma, Fernanda memilih bersikap tenang. Ia tidak mengejar satu video viral, melainkan konsistensi perjalanan konten.
“Bukan 10 video harus viral. Tapi 10 video itu harus jadi satu journey,” ungkapnya.

Konten pendek tetap penting sebagai pintu masuk. Namun untuk ulasan mendalam dan komparasi, format panjang di YouTube tetap menjadi rumah paling ideal bagi konten audio ruang untuk mendengar, memahami, dan akhirnya memilih dengan sadar.
Editor: Intan Umbari Prihatin
Masuk tirto.id

































