Fase Pandemic Fatigue Membuat Orang Melanggar Protokol Kesehatan

Oleh: Balqis Fallahnda - 22 Januari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Berikut adalah penjelasan soal pandemic fatigue atau kelelahan pandemi.
tirto.id - Pandemic fatigue atau kelelahan pandemi adalah demotivasi untuk mengikuti perilaku perlindungan yang direkomendasikan, seperti menjaga jarak fisik, pakai masker, dan mencuci tangan.

Kelelahan macam ini tidak hanya terjadi pada masalah pencegahan pandemi, tetapi pada semua perubahan perilaku terkait kesehatan seperti meningkatkan kegiatan fisik. Biasanya, hal tersebut muncul secara bertahap dari waktu ke waktu dan dipengaruhi oleh sejumlah emosi, pengalaman dan persepsi.

Sebelum tahun 2020, masyarakat umum tidak diwajibkan mengenakan masker, menjaga jarak fisik atau sering mencuci tangan. Kini, pakar kesehatan merekomendasikan tindakan pencegahan ini kepada semua orang untuk menekan penyebaran virus corona SARS-CoV-2, yang menyebabkan COVID-19. Dan mengikuti semua itu bisa sangat melelahkan.

“Mencoba untuk mematuhi sesuatu yang ekstra selalu merupakan tantangan, Anda dapat menambahkan langkah ekstra ke rutinitas Anda selama beberapa hari, tetapi perubahan perilaku yang berkelanjutan itu sulit," kata Carisa Parrish, M.A., Ph.D pada Jhon Hopkins Medicine.

"Terutama ketika tidak ada orang di sekitar Anda yang sakit, dan Anda merasa tidak ingin memakai masker atau mengatakan tidak pada hal-hal yang ingin Anda lakukan. Padahal, faktanya tindakan pencegahan tersebut benar-benar berhasil," ungkap dia.

Kelelahan pandemi di berbagai negara bisa dilihat melalui peningkatan jumlah orang yang tidak mengikuti rekomendasi dan pembatasan, mengurangi upaya mereka untuk terus mendapat informasi tentang pandemi dan memiliki persepsi risiko yang lebih rendah terkait COVID-19.

Pesan inti yang sebelumnya efektif mengenai mencuci tangan, memakai masker wajah, dan mempraktikkan etiket hygiene yang benar serta menjaga jarak fisik mungkin tampak kurang efektif, dan banyak negara telah mengidentifikasi kebutuhan untuk pendekatan yang menyegarkan.


Penurunan motivasi seperti itu wajar dan sudah diduga pada tahap krisis ini. Pada awal krisis, kebanyakan orang dapat memanfaatkan kapasitas lonjakan, kumpulan sistem adaptif mental dan fisik yang digunakan manusia untuk bertahan hidup jangka pendek dalam situasi yang sangat menegangkan.

Namun, ketika keadaan yang mengerikan berlarut-larut, mereka harus mengadopsi gaya beradaptasi yang berbeda, kelelahan dan demotivasi mungkin terjadi.


Penurunan motivasi ini merupakan bagian dari interaksi yang kompleks dari banyak faktor yang mempengaruhi perilaku protektif.

Ini berhubungan dengan motivasi dan kemampuan individu serta peluang yang ditawarkan oleh lingkungan budaya, sosial, struktural dan legislatif. Masing-masing faktor ini dapat menjadi penghalang atau pendorong perilaku protektif.

Beberapa komponen yang terkait dengan motivasi individu sangat dipengaruhi oleh situasi pandemi yang bertahan lama.

Pertama, persepsi ancaman virus dapat menurun ketika orang menjadi terbiasa dengan keberadaannya bahkan jika data epidemiologi menunjukkan bahwa risikonya mungkin, pada kenyataannya, meningkat.

Pada saat yang sama, kerugian yang dirasakan akibat respons pandemi (isolasi, pembatasan) kemungkinan akan meningkat seiring waktu karena orang mengalami konsekuensi pembatasan pribadi, sosial dan ekonomi jangka panjang.

Bagi beberapa orang, keseimbangan dapat berubah, dan biaya yang dirasakan dari tanggapan mungkin mulai lebih besar daripada risiko yang dirasakan terkait dengan virus.

Kedua, dorongan yang tumbuh ke dalam untuk menentukan nasib sendiri dan kebebasan dapat tumbuh karena pembatasan berlanjut untuk waktu yang lama, menimbulkan ketidaknyamanan dalam kehidupan sehari-hari, atau terus berubah dalam cara yang dirasa tidak dapat dikendalikan.

Ketiga, bahkan keadaan yang paling keterlaluan menjadi normal bila dialami dalam jangka waktu yang lebih lama. Orang-orang mungkin menjadi terbiasa dengan pandemi dan ancaman yang ditimbulkannya, dan akibatnya berpuas diri, demikian dilaporkan World Health Organization (WHO).


Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Balqis Fallahnda
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Balqis Fallahnda
Penulis: Balqis Fallahnda
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight