Ekspor Beras ala Dirut Bulog Budi Waseso yang Dikritik Darmin

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 23 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Darmin Nasution mengkritik rencana Budi Waseso mengekspor beras tahun karena tidak berkelanjutan dan hanya sekadar merespons kondisi terkini.
tirto.id - Budi Waseso, direktur utama Perum Bulog menyatakan Indonesia akan ekspor beras tahun ini. Rencana tersebut sebagai antisipasi masa panen raya pada Februari-April 2019 di saat stok beras Bulog masih tergolong tinggi.

Sebab, stok beras Bulog saat ini masih berada di angka 2,1 juta ton dengan 1,7 juta ton di antaranya merupakan beras impor yang datang pada 2018. Pada masa panen nanti, Bulog setidaknya akan menyerap 1,8 juta ton beras produksi petani.

Jika dijumlah, maka Bulog harus menyimpan 3,9 juta ton beras. Padahal kapasitas gudang Bulog saat ini hanya mencapai 3,6 juta ton.

“Itu antisipasi panen raya nanti. [Beras petani] diserap bukan untuk disimpan, melainkan dijual ke beberapa negara. Kami mungkin akan ekspor,” kata pria yang karib disapa Buwas, di Gedung Kemenko Perekonomian, Selasa (22/1/2019).

Negara ekspor yang dituju, kata Buwas, sejauh ini masih sebatas wilayah ASEAN. Kendati belum merinci negara tujuan ekspor, ia mengklaim telah ada negara yang bersedia membeli karena membutuhkannya.

Buwas menyatakan, ekspor perlu dilakukan untuk menjaga harga beras dari banjir produksi pada masa panen nanti. Menurut Buwas, ekspor kali ini akan menyelamatkan petani dari kerugian.

“Jangan kemudian kita banjir produksi. Petani dirugikan karena harga anjlok. Jadi kami harus melakukan ekspor,” kata Buwas.

Peneliti cum dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santoso menanggapi sinis rencana ekspor beras yang dicanangkan Buwas.

Sebab, jika beras yang diekspor adalah hasil produksi petani, kata dia, maka Bulog dipastikan akan kesulitan menjualnya.

Menurut Dwi beras yang laku di pasar internasional adalah jenis organik, berbeda dengan beras produksi petani yang berjenis umum. Kalau pun akan dijual, kata dia, perlu pengolahan lebih lanjut untuk memenuhi standar kualitas pasar internasional.

Belum lagi, Dwi memperkirakan harga komoditas beras di pasar internasional berkisar Rp6.400/kg (kurs 1 dolar = Rp 14.220,-) atau 450 dolar AS/kg untuk kualitas premium per Januari-April 2018.

Padahal Dwi mencatat biaya produksi petani rata-rata mencapai Rp10.474/kg dihitung dari 2x harga gabah berdasarkan survei BPS per Desember 2018. Angka ini belum mencakup penurunan di level Rp8.000-9.000 per kg saat masa panen tiba.

Karena itu, Dwi menyarankan agar Bulog berfokus pada ekspor beras kualitas khusus, seperti yang telah lama dilakukan Indonesia dengan rata-rata ekspor per tahun menurut data BPS mencapai 3.000-5.000 ton beras organik.

“Ini jadi perhatian. Bagaimana cara jualnya saat harga internasional Rp6.300/kg? Sudah barang tentu kita perlu berpikir realistis. Kalau mau Bulog, ya bergerak di beras khusus [organik]” kata Dwi saat dihubungi reporter Tirto.



Lagi pula, Dwi menilai kehadiran stok yang berlebih ini juga tidak sepenuhnya buruk. Sebab, saat ini terdapat kemunduran musim tanam sekitar 1 bulan. Artinya, kata Dwi, Indonesia akan menghadapi masa panceklik selama 1 bulan lebih lama dari biasanya.

Pada 2018 saja, misalnya, BPS mencatat Indonesia hanya mengalami surplus beras selama Februari-April 2018 lantaran produksi beras mencapai rata-rata 3-5 juta ton dibanding konsumsi yang berkisar 2,3-2,5 juta ton.

Namun, Sepanjang Mei-September 2018, Indonesia hanya surplus tipis lantaran produksi hanya mencapai 2,4-3,1 juta ton. Selebihnya hingga akhir tahun 2018, neraca beras nasional mengalami defisit 1-1,3 juta ton.

Kehadiran stok beras yang dimiliki Bulog, kata Dwi, dapat dijadikan efek psikologi bagi pasar terutama bagi mereka yang mau mencari keuntungan dalam kesempitan. Hal ini dapat menjadi solusi pemerintah untuk meredam kenaikan yang sekiranya dapat terjadi secara drastis.

“Kita perlu hati-hati dengan produksi tahun 2019 ini. Bulog sabar lah. Kita lihat pergerakan harga. Kalau Maret stok yang disimpan masih cukup besar, boleh lah jual rugi,” kata Dwi.



Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menganggap ekspor sejatinya tidak perlu dilakukan.

Terlebih, kata Darmin, jika ekspor yang akan dilakukan tidak berkelanjutan atau hanya sekadar merespons kondisi terdekat.

“Yang penting itu bukan bisa ekspor. Kalau bisa ekspor, ya terus-menerus. Kalau Cuma sekali peristiwa. Udahlah lupakan,” kata Darmin kepada wartawan, di kantor Kemenko Perekonomian.

Sebaliknya, Darmin meminta agar stok beras yang ada saat ini melimpah digunakan untuk menjaga stabilitas harga beras. Terutama untuk mengutamakan kestabilan komoditas pangan di pasaran.

“Yang penting kita jaga harga dulu. Enggak naik dan enggak perlu turun juga,” kata Darmin.

Baca juga artikel terkait STOK BERAS atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Abdul Aziz