Ekonomi Global Labil, BI Masih Tahan Suku Bunga Acuan 5%

Oleh: Hendra Friana - 19 Desember 2019
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, suku bunga acuan 5% pada Desember 2019 untuk menjaga pertumbuhan perekonomian domestik di tengah ketidakpastian perekonomian global.
tirto.id - Bank Indonesia (BI) memutuskan menahan kembali suku bunga acuan BI 7 Days Repo Rate di posisi 5 persen. Deposit facility juga masih ditahan di kisaran 4,25 persen dan lending facility tetap 5,75 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan tersebut dilakukan untuk menjaga pertumbuhan perekonomian domestik di tengah mempertimbangkan kondisi ketidakpastian perekonomian global.

"Kebijakan tersebut tetap akomodatif, konsisten dengan prakiraan inflasi tepat sasaran," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (19/12/2019).

Hingga saat ini, kata Perry, pertumbuhan ekonomi dunia melambat, namun ketidakpastian pasar keuangan global menurun.

Terdapat sejumlah perkembangan positif terkait dengan perundingan perang dagang antara AS-Tiongkok serta proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit), meskipun sejumlah risiko geopolitik masih berlanjut.

Pertumbuhan ekonomi dunia diprakirakan 3,0 persen pada 2019, menurun dari 3,6 persen pada 2018, dan kemudian pulih terbatas menjadi 3,1 persen pada 2020, ditopang pertumbuhan negara berkembang.

PDB AS dan Tiongkok melambat dipengaruhi terbatasnya stimulus dan dampak pengenaan tarif yang sudah terjadi. Ekonomi India juga menurun dipengaruhi konsolidasi di sektor riil dan sektor keuangan, baik bank maupun nonbank.

Perbaikan terlihat pada Eropa dan Jepang, meskipun masih relatif terbatas, ditopang permintaan domestik yang membaik.

Kemajuan dalam perundingan perdagangan antara AS-Tiongkok juga berdampak pada menurunnya risiko di pasar keuangan global serta mendorong berlanjutnya aliran masuk modal asing ke negara berkembang.

"Ke depan, prospek ekonomi global dipengaruhi kemajuan trade deal AS-Tiongkok, pemanfaatan trade diversion negara berkembang, efektivitas stimulus fiskal dan pelonggaran kebijakan moneter, serta kondisi geopolitik," ucapnya.


Baca juga artikel terkait BANK INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Hendra Friana
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Abdul Aziz
DarkLight