Dukungan Parpol Cilik di Pilgub Jakarta

Oleh: Dieqy Hasbi Widhana - 25 Januari 2017
Dibaca Normal 2 menit
Pilkada Jakarta bukan hanya pertarungan antara partai besar. Ada pula sejumlah partai politik kecil yang bergerak mendukung para kandidat. Sebuah upaya pemanasan menuju Pemilu 2019.
tirto.id - Di antara partai pengusung kandidat—dari pemilihan presiden, gubernur hingga bupati—yang tercatat di Komisi Pemilihan Umum (KPU), ada sejumlah partai kecil sebagai pendukung mereka. Logikanya, partai pendukung, yang punya kekuatan politik dan uang, bisa bekerja bareng lewat kader-kader internal mereka demi pemenangan kandidat yang dicalonkan koalisi partai-partai besar. Misalnya di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017, kandidat nomor urut 1 dan 2 didukung oleh kekuatan parpol cilik.

Pasangan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni, yang diusung Demokrat, PAN, PPP, dan PKB, didukung sembilan partai kecil, yakni Partai Buruh, Partai Matahari Bangsa, Partai Pelopor, Partai Pakar Pangan, Partai Pribumi, Partai Kebangkitan Nasional Ulama, Partai Kasih Demokrasi Indonesia, Partai Persaudaraan Indonesia, dan Partai Persatuan Demokrasi Indonesia.

Dari sembilan partai itu, cuma tiga partai yang berbadan hukum atau diakui secara sah oleh Kementerian Hukum dan HAM. Ketiga partai ini—Partai Buruh, Partai Matahari Bangsa, dan Partai Pelopor—sempat mengikuti verifikasi di KPU bersama 46 partai lain pada 2012. Namun dari hasil seleksi akhir, ketiga partai itu tidak termasuk dari 10 partai politik yang dinyatakan lolos untuk mengikuti Pemilu 2014.

Partai kecil lain yang sempat mendekati Agus dan Sylviana adalah Partai Islam Damai Aman—disingkat Idaman pimpinan Rhoma Irama. Saat agenda Rapat Kerja Nasional di Markas Soneta Group Record, partai ini sempat mengundang Agus, yang tidak dipenuhi oleh putra mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu. Tapi menurut Ramdansyah, sekretaris jenderal Partai Idaman, Agus menitipkan pesan berjanji akan bertemu dengan Rhoma Irama.

Sejauh ini Partai Idaman masih belum bersikap memutuskan dukungan kepada pasangan calon manapun. “Nanti kita rapatkan lagi. Nanti kita akan buat pleno membuat keputusan apakah kita pilih yang mana,” kata Ramdansyah.

Sementara kandidat Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat didukung secara terbuka oleh Partai Solidaritas Indonesia. Partai yang baru menyandang status hukum pada awal Oktober 2016 ini sejak jauh hari membantu tim pemenangan Ahok.

“Kami sudah mendukung Pak Ahok sejak dia calon independen mengumpulkan KTP,” kata Grace Natalie, Ketua Umum PSI, di kantornya, jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.

Mantan presenter televisi berita itu menjelaskan, keterlibatan PSI dimulai saat membantu kesulitan yang dihadapi Teman Ahok. PSI menginisiasi pembuatan aplikasi mobile yang disebut 'Go Ahok' 1 dan 2. Pertama, mereka menyediakan jasa gratis penjemputan KTP warga Jakarta untuk mendukung Ahok dan Heru Budi Hartono, kepala badan pengelola keuangan dan aset daerah DKI, sebagai calon jalur independen saat itu. Aplikasi kedua menunjukkan kinerja yang sudah dicapai Ahok.

Namun, ketika Ahok memutuskan untuk mencalonkan diri dengan Djarot dan didukung empat partai besar (Nasdem, Hanura, PDIP, dan Golkar), PSI menyelipkan kadernya, Raja Juli Antoni, untuk menjadi juru bicara dalam struktur tim sukses. Dukungan PSI hingga kini termasuk memproduksi konten iklan video guna menangkal kampanye serangan dari pihak lawan.

INFOGRAFIK HL Partai Gurem di pilgub DKI


Sedangkan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang diusung oleh Gerindra dan PKS, belum mendapat dukungan partai kecil. Partai Perindo sempat memunculkan sinyal. Pada pertengahan Desember 2016 lalu, Hary Tanoesoedibjo mengundang Anies ke Kantor DPP Perindo, di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, untuk mengisi agenda seminar. Namun, sampai kini partai yang mengakuisisi Partai Indonesia Sejahtera itu belum memberi sinyal pasti mendukung salah satu kandidat.

“Di DKI, kita tidak fokus pada Pilkada. Karena kita fokus pada lolos 100 persen verifikasi KPU,” kata Maruli Silaban, ketua bidang pengkaderan DPW Partai Perindo DKI Jakarta.

Padahal dengan kekuatan media milik Tanoesoedibjo lewat MNC Group, Partai Perindo berpotensi tinggi menaikkan postur kampanye kandidat. Sejak mendirikan partai, televisi dan surat kabar di bawah grup itu terus-menerus memakai strategi pemasaran melalui media massa. Partai Perindo bisa sangat menguntungkan jika digaet untuk membombardir pesan kepada khalayak.

Selain itu, Anies dan Sandiaga sempat mendatangi Markas Soneta Record Indonesia di Depok, awal Januari 2017. Mereka diundang oleh partai yang mengandalkan kekuatannya pada Fans Soneta besutan Rhoma Irama. Kepada reporter Tirto, Sekjen Partai Idaman Ramdansyah menjanjikan akan mendukung pasangan nomor urut 1 atau 3.

Di samping itu, Partai Berkarya bikinan Tommy Soeharto sejauh ini belum mengumbar sikap dan dukungan pada salah satu pasangan calon. Saat dikonfirmasi, Badaruddin Andi Picunang, sekretaris jenderal Partai Berkarya, menjelaskan alasan tak menggerakkan mesin politik di Pilkada Jakarta karena berfokus pada “penataan internal.”

Meski begitu, Badaruddin mengakui partai yang asalnya perubahan dari Partai Nasional Republik ini hanya memberikan dukungan kepada calon kepada daerah di Aceh, Jambi, dan Sulawesi Barat.

Gun Gun Heryanto, dosen politik dari Universitas Islam Negeri Jakarta, menilai setiap partai politik akan diuji rekam jejak dalam momentum Pemilu. Setiap partai politik yang baru berkembang, harusnya mampu memposisikan diri di antara beragam partai lama. Namun sebagian besar partai kecil justru tersingkir karena basis konstituennya tak efektif saat digerakkan.

“Proses kelembagaan mereka itu akan diuji oleh sejarah, seberapa serius mereka menyiapkan diri, membangun infrastruktur partai, dan terlibat dalam kerja-kerja di publik sehingga kemudian mereka dapat postioning di Pemilu,” katanya.

Baca juga artikel terkait PILKADA DKI 2017 atau tulisan menarik lainnya Dieqy Hasbi Widhana
(tirto.id - Politik)

Reporter: Dieqy Hasbi Widhana
Penulis: Dieqy Hasbi Widhana
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan