Dongeng Meningkatkan Kepekaan Otak Anak

Oleh: Aditya Widya Putri - 12 Maret 2017
Dibaca Normal 3 menit
Dengan dongeng atau cerita, otak manusia dapat menangkap pesan moral lebih baik dibandingkan dengan menjejalkan fakta secara gamblang.
tirto.id - Hari libur, waktunya menyetel televisi, menunggu acara anak-anak kesayangan bertajuk panggung boneka. Ada Kak Seto yang sedang bercerita tentang macet Jakarta karena si Komo lewat. Ada pula Pak Raden yang piawai dalam menggambar dan mendongeng. Setiap kisah yang keluar dari mulutnya, dengan cepat diilustrasikan pada lembaran-lembaran kertas karton.

Selain Kak Seto dan Pak Raden, masih ada Kak Ria dengan boneka berkarakter selengekan: Susan. Juga Si Unyil, Pak Ogah, dan teman-temannya, siap menghibur anak-anak Indonesia dengan beragam cerita sehari-hari yang jenaka.

Anak-anak generasi milenial pasti familiar dengan program-program yang pernah terkenal di zamannya itu. Sayang, sekarang program serupa dengan tema bercerita kepada anak sudah jarang ditemui di saluran televisi.

Padahal, menurut penelitian Latifah Nur Ahyani, Universitas Muria Kudus, metode dongeng seperti program-program di atas dapat memberikan sumbangan terhadap perkembangan kecerdasan moral anak usia prasekolah. Latifah meneliti siswa TK B berusia 5 tahun, dengan jumlah subyek pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol masing-masing 17 anak, 8 anak berjenis kelamin laki-laki dan 9 anak berjenis kelamin perempuan.

Rancangan penelitian ini menggunakan dua kelompok yang diamati yang terdiri dari satu kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol. Pengukuran dilakukan dua kali dengan menggunakan instrumen pengukuran kecerdasan moral yaitu sebelum diberikan perlakuan (pra-tes) dan sesudah diberikan perlakuan (pasca-tes).

Hasil analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan tingkat pencapaian kecerdasan moral anak-anak prasekolah antara mereka yang dibimbing nilai moral menggunakan metode bercerita dengan mereka yang tidak menerimanya. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa
ada perbedaan kecerdasan moral sebelum mereka menerima bimbingan nilai moral melalui metode bercerita dan setelah menerimanya sebanyak 34 persen.

Otak Manusia Suka Asupan Cerita

Pernahkah Anda merasa sedang masuk dalam sebuah cerita ketika membaca novel? Atau ikut marah, menangis, atau gregetan saat menonton film?

Satu tahun Paul J. Zak, profesor ekonomi, psikologi, dan manajemen ada Claremont Graduate University, meneliti alasan mengapa cerita dapat menginspirasi, menggerakkan manusia untuk menangis, mengubah sikap, opini, perilaku, bahkan mengubah otak menjadi lebih baik. Hasil penelitiannya berjudul “How Stories Change the Brain” mengungkapkan, sebagai makhluk sosial yang secara teratur berinteraksi dengan orang asing, cerita merupakan cara yang efektif untuk mengirimkan informasi penting dan nilai-nilai.

Cerita yang personal dan emosional akan lebih menarik otak dan lebih mudah diingat, daripada hanya mengemukakan fakta-fakta. Dalam penelitiannya, Zak memberikan suguhan film kepada respondennya tentang seorang anak yang akan meninggal karena kanker dan sang ayah berusaha untuk membahagiakannya di sisa-sisa hidup si anak.

“Kami telah menggunakan ini untuk membangun sebuah model prediktif untuk menjelaskan alasan setelah menonton video sekitar setengah dari pemirsa menyumbang untuk amal kanker anak. Kami menemukan dalam cerita yang efektif, ada dua aspek kunci. Pertama, harus mampu menangkap dan menahan perhatian penonton dan membawa masuk penonton ke dalam dunia karakter .”

Dari perspektif cerita, cara untuk menjaga perhatian penonton adalah terus meningkatkan ketegangan dalam cerita. Saat menikmati bagian ini, otak menghasilkan tanda-tanda gairah, dimana detak jantung dan napas lebih cepat, hormon stres dilepaskan, dan fokus yang tinggi. Setelah masuk bagian cerita yang menegangkan, maka perasaan emosional beresonansi dengan karakter cerita.

Para naratolog menyebutnya dengan "transportasi," dan penonton mengalami hal-hal seperti telapak tangan berkeringat saat James Bond mendaratkan pukulan pada penjahat di atas kereta api yang melaju kencang. “Transportasi” merupakan reaksi saraf yang menakjubkan. Para penonton mengetahui bahwa gambar yang ditonton adalah fiksi, tapi bagian evolusioner lama otak mensimulasikan emosi untuk ikut merasa emosi dalam layar.

Responden yang menonton film sedih ayah dan anak tersebut juga dinyatakan memiliki perhatian lebih empatik dan lebih bahagia. Hasil lainnya mengemukakan bagian saat sang ayah dan anak berbicara di depan kamera lebih membuat penonton masuk dalam cerita ketimbang harus membaca apa yang si ayah dan anak lakukan. Teori ini menjelaskan alasan penonton lebih mudah menangis saat menonton film dibandingkan ketika membaca novel.

Memanipulasi Hormon

Hormon yang disebut oksitosin dalam tubuh dipercaya menampilkan kebaikan, dan memotivasi kerjasama dengan orang lain. Zak kemudian mencoba meretas sistem oksitosin untuk memotivasi orang terlibat dalam perilaku kooperatif. Ia memberikan simulasi responden interaksi dalam video dan bukan secara langsung.

Pengukurannya diambil dengan menarik sampel darah sebelum dan sesudah narasi video. Hasilnya, cerita karakter yang konsisten menyebabkan sintesis oksitosin. Selanjutnya, jumlah oksitosin yang dilepaskan oleh otak diprediksi setara dengan oksitosin pada orang yang bersedia membantu orang lain, misalnya, menyumbangkan uang untuk amal yang terkait dengan narasi.

Penelitian terakhirnya menguji kepekaan ketika disuguhkan iklan layanan masyarakat di Inggris untuk tidak mengonsumsi alkohol, menggunakan gawai, atau obat-obatan saat berkendara. Iklan ini diproduksi oleh badan amal, sumbangan amal setelah menonton iklan dijadikan ukuran dampak dari iklan.

Hasilnya, setelah menonton iklan tersebut, responden menyumbangkan 57 persen lebih banyak untuk amal dan memberikan 53 persen uang lebih banyak. Yang terpenting responden menyatakan tidak ingin terlibat dalam prilaku berbahaya yang ditampilkan dalam iklan.

“Penelitian ini berguna bagi pebisnis untuk mengomunikasikan tujuan transaksional mereka dengan mengomunikasikan melalui cerita . Misalnya, menggambarkan situasi menyedihkan dari yang sebenarnya.”

Cara Bercerita yang Baik

Cerita selain mampu mempengaruhi penonton untuk turut hanyut dalam alurnya, juga terbukti dapat meningkatkan kepekaanmoral anak. Ada baiknya, anak-anak diperkenalkan berbagai macam cerita sejak dini untuk penanaman nilai moral dibandingkan harus mendengarkan nasehat-nasehat belaka.

Dalam penelitiannya yang dipublikasikan International Journal of Social Science and Humanity (2012), Husni Rahim and Maila Dinia Husni Rahiem menyebutkan bahwa guru TK dapat lebih menyampaikan tujuan pendidikan moral lebih tepat dengan menggunakan cerita. Temuan utama ini studi menunjukkan bahwa pendidikan moral dianggap bahan pelengkap di TK di Indonesia, dimana beberapa guru menggunakan cerita sebagai pendidikan moral di Taman Kanak-Kanak.

Kedua, guru memainkan peran penting dalam membantu anak-anak memahami cerita dan menangkap pesan dari cerita. Oleh karena itu guru ditantang untuk mengeksplorasi konten cerita dan membantu anak-anak menghubungkan cerita dengan kehidupan sehari-hari anak. Ketiga, prespektif sang guru dalam melihat moralitas mempengaruhi cara mereka menyampaikan nilai-nilai moral dalam cerita kepada anak.

dongeng penting


Ariyo Zidni, seorang pendongeng profesional mengatakan metode dongeng yang baik tak hanya memberikan sumbangan terhadap perkembangan kecerdasan moral anak usia prasekolah tapi juga anak pada umumnya. Sebab, dengan bercerita anak dapat dididik tanpa merasa dihakimi.

“Metodenya saya sebut mengatakan tapi tidak mengatakan. Tidak seperti menasihati, yang ngasih tahu tanpa memberi contoh, dengan cerita, anak bisa menangkap amanat dan mengamalkannya,” katanya kepada wartawan Tirto.

Untuk itu, Kak Aio, begitu ketua Ayo Dongeng ini sering disapa, menyarankan kepada orangtua atau guru sebagai pendongeng anak untuk mempersiapkan materi cerita yang santai dan membawakannya secara komunikatif. Agar anak akan menerima materi cerita secara wajar, sebaiknya pemilihan materi juga harus disesuaikan dengan minat anak.

“Pendongeng harus mampu improvisasi dengan waktu, bisa juga menggunakan alat bantu dengan boneka dan lain-lain untuk menarik perhatian anak agar lebih fokus.”

Menurut pengalamannya, dari sisi imajinasi, anak-anak yang sering mendengar cerita akan lebih aktif merespon melihat situasi, lebih aktif dengan banyak bertanya, dan lebih imajinatif. Sedangkan anak yang dibacakan cerita dari buku punya kosakata yang lebih banyak.

“Dongeng itu kekuatannya repetitif, anak yang sering dibacakan buku atau didongengkan bisa menangkap moral value di cerita, lebih santun, dan interpersonal skill-nya lebih baik.”

Sebagai tips bagi para orangtua dan guru untuk mendongeng, Kak Aio menekankan untuk tidak membuat kesimpilan isi di akhir cerita. Sebab hal tersebut akan menghancurkan imajinasi anak dan membuat anak seperti mendengarkan ceramah. Akhirilah dengan pertanyaan terbuka, seperti: "Menurutmu, bagaimana cerita tadi?"

Baca juga artikel terkait ANAK-ANAK atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani