tirto.id - Pada Selasa (25/2), PT Digivla Indonesia meluncurkan layanan bernama PReskripsi AI. Layanan ini disebut menghadirkan solusi public relation modern yang revolusioner dalam satu platform.
Menurut Reza A. Maulana, Presiden Direktur PT Digivla Indonesia, kehadiran PReskripsi AI ini diharap bisa menjadi platform yang mempermudah praktisi public relation, baik yang berada di dalam perusahaan maupun instansi pemerintah.
Kehadiran PReskripsi dianggap punya pembeda dengan platform sejenis, atau AI generatif yang lebih generalis. Pertama, platform ini dilatih dengan Large Language Model (LLM) berbahasa Indonesia. Tak hanya itu, algoritma platform ini secara khusus dilatih untuk menjadi "mesin" kehumasan.
"Kalau kami, memang khusus dibuat untuk kehumasan," tutur Reza.
Kedua, dalam analogi Reza, PReskripsi ibarat pisau Swiss Army yang punya berbagai alat multi fungsi dalam satu piranti.
"Kenapa pisau Swiss Army, karena kami menghadirkan sesuatu yang terintegrasi," kata Reza.
Dalam penjelasan Reza, PReskripsi bisa menghadirkan lima fitur utama dalam satu pintu, yakni: pemantauan media secara real-time, database jurnalis terkurasi, pelaporan otomatis, pembuatan siaran pers berbantuan AI, dan distribusi siaran pers yang efektif.
Sebagai bagian dari perusahaan yang bergerak di media monitoring sejak 2007, PReskripsi sudah punya database sekitar 4.000 media. Monitoring ini, ujar Reza, dilengkapi dengan fitur unggulan seperti early warning system. Tujuannya, lanjutnya, agar sebuah instansi bisa mendapat insight, juga rekomendasi, atas sebuah isu yang sedang ramai di media.
Tak hanya itu, Reza menyebut bahwa PReskripsi punya data kontak sekitar 1.500-an jurnalis dari berbagai media yang diberikan secara consent. Nantinya, layanan PReskripsi juga bisa mengirim rilis pers ke para jurnalis dan media sesuai kebutuhan.
Reza juga menyebut keunggulan PReskripsi: otomasi. Dengan bantuan AI generatif, PReskripsi bisa melakukan secara otomatis banyak hal yang dulu hanya bisa dilakukan secara manual, semisal otomasi pelaporan berita, atau pantauan isu di media. Ini juga termasuk periode blank screen yang banyak dialami para praktisi kehumasan ketika menulis siaran pers.
"Proses menatap blank canvas ini yang kemudian dipercepat. Dari sudut pandang upscaling, kami melihat teman-teman humas bisa meningkat fungsinya. Segala sesuatu yang dulu harus bisa dikerjakan manual, sekarang bisa otomatis. Nah otomasi ini yang membuat teman-teman humas bisa memakai waktunya lebih banyak untuk mengoptimalkan networking," tutur Reza.
Dengan harga paket bulanan dimulai dari harga Rp5 juta hingga Rp7,5 juta, banderol ini dianggap terjangkau untuk layanan lengkap yang diberikan.
Farchan Noor Rachman, salah seorang pengelola media sosial Direktorat Jenderal Pajak, yang siang itu juga hadir di acara perilisan PReskripsi, mengaku tertarik dengan layanan ini. Menurutnya, seiring kebutuhan pengelolaan media sosial dan kehumasan yang semakin banyak, kehadiran platform seperti PReskripsi ini sangat membantu.
"Karenanya kami tertarik. Dengan harga bulanan yang segitu, itu sudah termasuk murah banget," kata pria yang akrab disapa Efener ini.
Affan Alamudi, penasihat senior untuk Menteri Perindustrian Republik Indonesia sekaligus co-founder PT Royston Advisory Indonesia, menyambut baik kehadiran PReskripsi. Menurutnya, ini adalah wujud dari industri revolusi keempat, atau populer dengan sebutan 4.0, yang mensyaratkan banyak otomasi pekerjaan. Menulis siaran pers, melakukan pengawasan isu di media, hingga mengirim berita, bisa dilakukan secara lebih mudah dengan PReskripsi.
"Ini adalah bentuk 4.0 di bidang kehumasan. Ini menjadi luar biasa karena salah satu kebutuhan dalam komunikasi ke publik adalah kecepatan," tutur Affan.
Editor: Tim Media Service