1 Oktober 1977

Derai Hujan dan Air Mata Mengiringi Laga Perpisahan Pele

Oleh: Aji Wibowo - 1 Oktober 2021
Dibaca Normal 5 menit
Laga perpisahan Pelé dihadiri oleh lima kapten dari lima tim juara Piala Dunia. Bintang Brazil itu gantung sepatu pada usia 37 tahun.
tirto.id - Soal kapan waktunya gantung sepatu, Edson Arantes do Nascimento alias Pelé selalu menggenggam erat nasihat sang ayah, Dodinho. Saat terbaik untuk mundur dari lapangan hijau, ujar ayahnya, adalah ketika berada di puncak kejayaan, dengan demikian kamu akan dikenang. Maka, usai membawa Brazil menjadi kampiun di Piala Dunia 1970 Meksiko, Pelé kembali berpikir untuk mengakhiri kariernya sebagai pesepakbola.

Hal ini kontras dengan keputusan yang dibuat empat tahun sebelumnya. Pelé yang patah hati dan frustasi karena Brazil tersingkir dan bagaimana dia "dihabisi" di Piala Dunia 1966, membuat keputusan emosional dengan menyatakan tidak akan pernah tampil lagi di ajang Piala Dunia.

Pada ajang empat tahunan di Inggris itu, Pelé berulangkali menjadi sasaran permainan kasar Drobomir Zhechev pada laga pembuka melawan Bulgaria. Alhasil, dia cedera lutut kanan dan absen saat Brazil takluk 1-3 di tangan Hungaria. Dan pada laga terakhir fase grup, giliran João Morais yang terus menerus menghajar Pelé yang belum pulih dari cederanya dengan tekel-tekel brutal. Brazil pun kembali kalah 1-3 dari Portugal dan tersingkir di fase grup.

Tahun berganti, seiring kekecewaan yang berangsur surut dan tekad untuk pantang mengakhiri karier sebagai pecundang, Pelé mau sekali lagi memperkuat Timnas Brazil yang dijuluki Selecao di Piala Dunia. Pelé juga masih menyimpan satu keinginan untuk membuktikan diri, yakni tampil dalam keseluruhan laga dalam satu turnamen, setelah sebelumnya saat Brazil juara pada 1958 dan 1962 dia tak pernah tampil penuh.


Akhirnya, takdir membawa Pelé ke Meksiko. Dan selanjutnya adalah sejarah. Pemain berjuluk Pérola Negra itu membawa Brazil juara dengan gaya, mencetak gol paling terkenal di final Piala Dunia. Usai mengalahkan Italia pada laga final di Stadion Azteca, Pelé benar-benar berada di puncak dunia.

Tak hanya menjadi sosok sentral bagi Timnas Brasil, dia juga menjadi bintang yang bersinar paling cemerlang di ajang itu. Bersama Brazil yang dianggap sebagai tim terbaik sepanjang sejarah itu, Pelé mencetak enam gol dan lima umpan matang dalam enam laga sepanjang turnamen. Dia pun diganjar Bola Emas sebagai pemain terbaik turnamen. Hingga kini, Pelé menjadi satu-satunya pesepak bola dengan raihan tiga trofi Piala Dunia.

“Saya benar-benar sedang berada di puncak. Saya melakoni piala dunia terbaik saya, telah mencetak seribu gol dan menjadi nama yang mendunia,” kata Pelé seperti terdapat dalam buku Pelé: The Autobiography (2006).

Langkah awal Pelé untuk gantung sepatu adalah mundur dari Timnas Brazil. Dia juga mengabarkan kepada Santos, klubnya, agar mulai mencari sosok pengganti dirinya, karena kontraknya akan berakhir pada penghujung 1972. Timnas Brazil menyiapkan dua pertandingan persahabatan sebagai laga perpisahan untuknya. Pertama melawan Austria di Stadion Morumbi pada 11 Juli 1971, dan kedua kontra Yugoslavia di Stadion Maracana pada 18 Juli 1971 yang dihadiri 180 ribu penonton.

Tak seperti dengan Timnas Brazil, mengakhiri karier bersama Santos ternyata tidak mudah. Pelé adalah aset terbaik Santos, yang telah berperan besar membawa klub ini merajai berbagai ajang kompetisi lokal, nasional, kontinental, dan internasional sejak bergabung pada umur 15 tahun pada Juni 1956.

Di tingkat lokal, Santos dibawanya delapan kali juara Campeonato Paulista. Kemudian di tingkat nasional, lima kali juara Campeonato Brasileiro Série A. Sementara di ajang kontinental, menjadi juara Piala Libertadores secara beruntun pada 1962 dan 1963. Terakhir, klub yang saat itu berjuluk Os Santásticos juga dibawanya menjuarai Piala Interkontinental secara beruntun pada 1962 dan 1963.

Berkat pencapaian tersebut, Pelé dan Santos menjadi beken ke seluruh penjuru dunia dan menarik berbagai pihak untuk mengundang mereka tampil dalam laga persahabatan. Pelé dan Santos ibarat frontman dengan bandnya yang sibuk keliling dunia memenuhi berbagai undangan laga persahabatan.

Di sisa kontraknya, Santos pun seolah "memeras" seluruh potensi sang bintang dalam menghasilkan pundi-pundi uang. Dalam periode 18 bulan hingga kontraknya berakhir, Pelé dan Santos menjalani tur ke berbagai tempat di Amerika Selatan, Karibia, Amerika Utara, Eropa, Asia, dan Australia.

Meski habis kontrak, Pelé tidak bisa serta-merta memutuskan pensiun. Saat itu, belum ada aturan Bosman (aturan yang mengizinkan para pemain sepak bola untuk menentukan kariernya dalam bursa transfer, saat masa kontraknya dengan suatu klub tersisa enam bulan), sehingga ketika kontraknya berakhir, dia tidak bisa bebas pindah klub atau pensiun, harus mendapat izin dulu dari pihak klub.

Pada akhirnya, Pelé dan Santos menyepakati dua tahun perpanjangan kontrak yang akan berakhir pada penghujung 1974, dengan mengakomodasi beberapa permintaan sang pemain, salah satunya soal laga perpisahan. Pelé melakoni laga terakhir pada 2 Oktober 1974, melawan Ponte Preta, mengakhiri kebersamaan selama 18 tahun bersama Santos. Bagi Pelé, laga tersebut mestinya menjadi laga terakhir karier profesionalnya, dengan Santos menjadi satu-satunya klub yang dia bela sepanjang hidupnya.


Abaikan Eropa, Pilih Amerika sebagai Duta Sepak Bola

Setelah gantung sepatu, Pelé mencoba peruntungan di dunia bisnis yang sayangnya berujung pada kegagalan demi kegagalan. Selama hidupnya, Pelé menanamkan saham di sejumlah perusahaan atau mendirikan usaha bersama, seperti perusahaan bahan bangunan Sanitaria Santista, perusahaan pembuatan suku cadang Fiolax, Pelé Physiotherapy, Constructora Neptuno. Dan sulit menemukan kisah sukses tentang bisnisnya saat itu.

Pada akhir 1974, Fiolax mengalami masalah keuangan dan merugi hingga jutaan dolar AS. Meski bukan pemegang saham mayoritas, namun Pelé menjadi pihak yang diminta pertanggungjawaban oleh bank, ditambah denda akibat pelanggaran aturan impor. Pelé tidak ingin perusahaan itu bangkrut. Dia harus mencari uang untuk menyelamatkan perusahaannya, dan satu-satunya jalan untuk mendapatkan uang adalah kembali merumput.

Meski sempat dihinggapi kekhawatiran besar tentang bagaimana reaksi publik Brazil jika dia memutuskan menjilat ludahnya sendiri dengan membatalkan gantung sepatu, Pelé memutuskan untuk kembali berkarier dengan memilih New York Cosmos sebagai klub barunya. Pelé menolak tawaran dari raksasa Eropa seperti Juventus, Real Madrid, dan AC Milan.

Salah satu pertimbangan Pelé memilih ke Amerika Serikat dibanding Eropa adalah kesempatan untuk mempromosikan sepak bola di negara Paman Sam itu. Pelé ingin menjadi duta sepak bola dengan misi membuat warga AS tertarik dengan cabang olahraga tersebut.

“Saya akan pergi ke New York, dan memperkenalkan sedikit sepak bola Samba ke Big Apple,” ungkapnya.

Uniknya, setelah melewati proses negosiasi panjang selama enam bulan, dalam kontrak disebutkan bahwa Pelé akan bermain dua tahun bersama Cosmos dengan status sebagai karyawan Warner Communications, perusahaan pemilik Cosmos. Pelé juga akan mendapatkan hak komersial sebesar 50 persen dari setiap pendapatan klub yang menggunakan namanya.

Kehadiran Pelé berdampak instan pada Cosmos dan publik AS. Sejak melakoni debut pada 15 Juni 1975, rerata penonton kandang Cosmos melonjak menjadi lebih dari 20 ribu dari sebelumnya 8 ribu. Pelé juga membuka jalan bagi bintang-bintang beken lain untuk bergabung dengannya di Cosmos atau di klub-klub AS lainnya.

Dalam artikel berjudul "40 years on: how New York Cosmos lured Pelé to a football wasteland" yang dimuat The Guardian (2015), Franz Beckenbauer menyebut Pelé sebagai alasan utama dia rela hengkang dari Bayern Munich dan bergabung dengan Cosmos.

“[Bergabung dengan Cosmos] merupakan sebuah peluang bagus. Pelé adalah idola saya sejak 1958, sejak saya berusia 13 tahun ketika saya menonton Piala Dunia di Swedia. Dia berusia 17 tahun,” kata pemain yang berjuluk Der Kaizer itu.


Infografik MOZAIK Pele Pensiun
Infografik MOZAIK Pele Pensiun. tirto.id/Gery

Laga Terakhir Sang Raja

Pelé memperpanjang kontrak setahun dengan Cosmos hingga penghujung 1977, dan akhirnya mempersembahkan gelar pertama bagi klub tersebut. Namun, pencapaian penting Pelé adalah bahwa sepak bola semakin populer di AS. Penonton di stadion terus bertambah, liputan media semakin meningkat, dan Pelé benar-benar mengubah lanskap olahraga AS.

Senja karier pun menjelang. Usai kemenangan 2-1 atas Seattle Sounders di final Super Bowl, Cosmos menggelar tur perpisahan ke Trinidad-Tobago, Venezuela, Jepang, Cina, dan India. Selain itu, sebuah laga perpisahan yang megah untuk O Rei (Sang Raja) telah disiapkan digelar di Stadion Giants.

Pada 1 Oktober 1977, tepat hari ini 44 tahun lalu, di bawah pandangan 75.646 ribu penonton dan 650 wartawan peliput di Stadion Giants, serta sekitar 500 juta pemirsa televisi di seluruh dunia, Pelé melakoni laga pamungkasnya. Tiga pekan menjelang ulang tahunnya yang ke-37, dia melakoni laga testimonial yang emosional antara dua klub yang pernah dibelanya, Santos dan Cosmos.

Banyak sosok terkenal yang hadir dalam laga tersebut. Di antaranya lima kapten dari lima tim juara Piala Dunia terakhir yang diperkenalkan pada saat pra-pertandingan, Bellini (kapten Brasil di Piala Dunia 1958), Mauro Ramos (kapten Brasil di Piala Dunia 1962), Bobby Moore (kapten Inggris di Piala Dunia 1966), rekan setimnya di Cosmos, Carlos Alberto (kapten Brazil di Piala Dunia 1970) dan Beckenbauer (kapten Jerman Barat di Piala Dunia 1974). Tak hanya itu, sosok menonjol lain di Stadion Giants adalah petinju terhebat sepanjang masa, Muhammad Ali.

Masih pada masa pra-pertandingan, menurut artikel di laman The Guardian (2017): "How Pelé lit up soccer in America and left a legacy fit for a king", Pelé mendapat plakat dari presiden AS saat itu, Jimmy Carter. Tulisannya: “Dipersembahkan kepada Pelé untuk senyum yang dia berikan di wajah anak-anak, sensasi yang dia berikan kepada para penggemar bangsa ini dan dimensi yang dia tambahkan ke dunia olahraga Amerika. Pelé telah mengangkat permainan sepak bola ke level yang belum pernah dicapai sebelumnya di Amerika dan hanya Pelé, dengan status, bakat tiada tanding, dan simpati penuh cinta yang dapat menyelesaikan misi seperti itu. Amerika Serikat sangat berterima kasih.”

Laga perpisahan semakin meriah dengan kehadiran para selebritas dunia musik dan film seperti Robert Redford, Diane Keaton, Mick Jagger, Barbara Streisand, Sergio Mendes, Roberta Flack, dan Claudette Colbert. Ada juga tokoh politik Henry Kissinger, yang saat itu menjadi Menteri luar negeri AS.

Pada laga tersebut, dalam kondisi lapangan diguyur hujan, Pelé mencetak gol dari tendangan bebas pada akhir babak pertama saat berseragam Cosmos, sekaligus gol ke-1.281 sepanjang 22 tahun kariernya. Salah satu momen paling emosional muncul saat turun minum. Sang ayah masuk ke lapangan ditemani kapten Cosmos, Werner Roth. Pelé pun lantas memberikan jersey Cosmos kepadanya.

Pada babak kedua, Pelé ganti berseragam Santos. Setelah peluit panjang, Pelé memberikan jersey terakhirnya itu kepada Waldemar de Brito, pelatih yang menemukan bakatnya. Dengan diangkat di atas bahu rekan-rekan setimnya di Cosmos dan Santos, Pelé diarak keliling stadion. Lagu "Auld Lang Syne" menjadi latar suara victory lap terakhirnya, hujan dan air mata terus mengalir. Sebuah kemegahan yang sepadan untuk legasi Pelé, tidak hanya untuk sepak bola Amerika, tetapi juga dunia.

Baca juga artikel terkait PELE atau tulisan menarik lainnya Aji Wibowo
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Aji Wibowo
Editor: Irfan Teguh
DarkLight