Dari Solferino ke PMI

Pendonor keluar dari mobil Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) usai mendonorkan darah saat kegiatan penggalangan pendonor darah keliling di Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Kamis (8/9). PMI mengintensifkan pengoperasian mobil donor darah keliling untuk menambah ketersediaan stok darah. ANTARA FOTO/Rahmad/aww/16.
Oleh: Petrik Matanasi - 16 September 2016
Dibaca Normal 5 menit
Semangat Palang Merah lahir untuk menolong sesama. Palang Merah Indonesia tak hanya menolong sesama manusia, tapi menolong sebuah bangsa bernama Indonesia.
Hari Palang Merah sedunia biasa diperingati setiap tanggal 8 Mei, berdasarkan tanggal kelahiran Jean Henry Dunant sang penggagas, bukan diambil dari tanggal pendirian International Committe of Red Cross (Komite Internasional Palang Merah). Juga bukan tanggal 24 Juni, ketika Henry Dunant mengorganisir penduduk sipil untuk menolong korban perang di Solferino, Italia.

Di Indonesia, peringatan hari Palang Merah Indonesia (PMI) diambil dari hari pembentukannya. PMI lahir si masa sulit, sebulan setelah Indonesia merdeka. Perannya begitu penting bagi Republik Indonesia yang baru merdeka.

Meski dianggap berdiri sejak 17 September 1945, sejarah PMI sudah dimulai sejak beberapa tahun sebelum Indonesia merdeka. Gagasan pendirian Palang Merah Indonesia sudah terngiang di kepala dr Rumondor Cornelis Lefrand Senduk sejak 1938. PMI juga ikut diperjuangkan oleh dr Bahder Djohan. Pendiriannya sempat mendapatkan penolakan yang sedemikian pahit. Namun, dua dokter bumiputra itu merasa kemanusiaan yang terwujud dari gerakan Palang Merah, sangat penting adanya.

Menolong Tanpa Pandang Bulu

Jean Henry Dunant merupakan seorang bankir dan pebisnis Swiss. Dia suka mengunjungi banyak daerah di sekitar Eropa Selatan, bahkan Afrika utara. Urusan bisnisnya di Aljazair membuatnya harus bertemu Raja Perancis, Napoleon III, untuk minta bantuan sang raja di daerah koloninya. Kebetulan sang raja sedang berada di sekitar Solferino. Dunant pun ke sana untuk menemui sang raja. Ketika dirinya tiba di Solferino hari jumat, 24 Juni 1859, pertempuran yang memakan banyak korban baru saja usai. Sekitar 35 ribu korban luka, sekarat dan tewas bergelimpangan tanpa ada yang mengurus.

“Saya hanya seorang turis yang tidak ada sangkut pautnya dalam konflik besar ini,” tulis Dunant sebulan kemudian dalam A Memory of Solferino (1939) terjemahan dari Un Souvenir de Solferino. Dia merasa tidak bisa berdiam diri. Dia segera mengorganisir penduduk setempat, terutama kaum perempuan, untuk sukarela menolong yang luka. Untuk mengatasi kurangnya obat-obatan, Dunant mengatur pembeliannya. Para sukarelawan itu mendirikan rumah sakit darurat. Dunant juga berhasil melobi pihak Perancis untuk membebaskan para dokter Austria, agar bisa terlibat menyelamatkan korban yang luka.

“Kita semua bersaudara,” ujar perempuan-perempuan dari kota Castiglione delle Stiviere, yang tak jauh Solferino. Tutti Fratelli, dalam bahasa mereka. Kalimat yang belakangan jadi semboyan Palang Merah itu, mengisyaratkan untuk menolong siapa saja tanpa melihat di pihak mana korban yang mereka tolong.

Di kejadian di Solferino, para sukarelawan itu memang menolong tanpa melihat bangsa. Dalam Palang Merah, selain Kemanusian, ada asas kenetralan, artinya tak boleh berpihak pada yang satu dan membiarkan pihak lain menderita. Bulan Juli, setelah menolong banyak korban untuk dimanusiakan, Dunant meninggalkan Solferino. Dia menulis sebuah buku tipis Un Souvenir de Solferino. Buku tipis itu dicetak Dunant sebanyak 1600 eksemplar di tahun 1862. Bea cetak buku itu memakai uang pribadinya. Buku itu disebar ke para tokoh politik dan militer di Eropa olehnya.

Gustave Moynier, Presiden Perhimpunan Jenewa dan Kesejahteraan Umum, yang juga seorang ahli hukum, menjadikan buku tipis ini sebagai topik yang dibicarakan dalam forum pertemuan organisasinya pada 9 Februari 1863. Sebuah komite yang beranggota lima orang dibentuk. Selain Henry Dunant dan Gustave Moynier terdapat Panglima Angkatan Bersenjata Swiss, Jenderal Henry Dufour, ditambah dua dokter yakni Louis Appia dan Thoedore Maunoir.

Komite ini mengadakan pertemuan pada 17 Februari 1863. Tanggal ini dianggap sebagai tanggal berdirinya International Committe of Red Cross (Komite Internasional Palang Merah). Dalam komite ini, Dunant berselisih dengan Moynier soal prinsip kenetralan, yang dianggap musykil oleh Moynier dan lainnya. Setelah perselisihan dengan ahli hukum itu, hidup Dunant makin sulit. Peran Dunant diperkecil oleh Moynier dan akhirnya mundur.

Organisasi sukarela yang bergerak di bidang kemanusiaan itu lalu disebut Palang Merah dan kemudian berkembang pesat. Lambangnya mirip negara Swiss, hanya bertukar warna saja.

Peran organisasi ini begitu besar di abad XX yang masih dipenuhi perang. Palang Merah, menurut dr Bahder Djohan, dalam autobiografinya, Bahder Djohan Pengabdi Kemanusiaan, selama Perang Dunia pertama begitu penting kehadirannya menolong mereka yang luka. Prinsip kenetralan seharusnya bisa menyelamatkan lebih banyak orang.

Demi menegakan prinsip kenetralan Palang Merah, hingga lalai dalam berbisnis, Dunant pun jatuh miskin. Sebelum meninggal di tahun 1910, dia menerima Hadiah Nobel Pedamaian pada 1901. Uang hadiah kebanyakan untuk melunasi hutang-utangnya.



Semangat Dunant di Indonesia

Orang-orang Belanda pun terpesona dengan ide Palang Merah Henry Dunant. Di Negeri Belanda terdapat Nederlandsch Rode Kruis. Sementara di Hindia Belanda akhirnya, sejak 21 Oktober 1873, Nederlandsch Rode Kruis Afdeling Indie (Nerkai) berdiri. Menurut Amelia Fauzia dalam bukunya Faith and the State: A History of Islamic Philanthropy in Indonesia (2013) dan Fritz Jaquet dalam Gids van in NederlandAanwezige Bronnen Betrqfende de Geschiedenis van Nederlands-Indie/Indonesie 1816-1942 (1968), sebelumnya hanya ada beberapa perkumpulan kecil palang merah di Betawi. Belakangan, Nerkai memiliki rumah sakit di Bogor sejak 1929. Sebelumnya, sejak 1920 Nerkai punya klinik di Betawi dan Bogor.

Setelah dunia pergerakan nasional mulai memperkuat keindonesiaan orang-orang terpelajar Indonesia, muncul dokter-dokter Indonesia yang merasa Indonesia harus punya gerakan palang merahnya sendiri. Menurut Haris Munandar, dalam Mengenal PMI dan BaSARnas, Dua Garda Terdepan Menghadapi Bencana (2008), pada 1938, meski ditolak mentah-mentah oleh Nerkai, dr Bahder Djohan asal Minang dan dr Lefrand Senduk asal Minahasa tetap mengusulkan diadakannya Palang Merah Indonesia.

Menurut Bahder Djohan, dalam autobiografinya, ide pendirian Palang Merah oleh orang Indonesia itu datang dari dr Lefrand Senduk, dokter yang tinggal di Sukabumi. Palang Merah yang berisikan orang Indonesia, “memang sudah mulai dirasakan penting adanya di Indonesia, untuk menyatakan bahwa bangsa Indonesia, meskipun sedang berada di bawah telapak kaki penjajah, namun masih mempunyai perasaan peri kemanusiaan.”

Usul itu diulangi lagi pada tahun 1940, dan ditolak lagi. Bahkan sebuah komentar menyakitkan terlontar dari seorang Belanda: "orang pribumi itu tidak mengerti apa yang dimaksud dengan perikemanusiaan.”

Atas komentar angkuh tersebut, Bahder Djohan bercerita pengalamannya ketika mengalami kecelakaan dalam perjalanan ke Semarang di forum tersebut. Tiga orang kawan Bahder Djohan mengalami luka. Dia pun menghentikan mobil yang berisi dua orang Belanda. Kepada mereka kedua orang Belanda dimintai pertolongan untuk membawa orang-orang yang luka tadi ke Semarang untuk mendapat pertolongan. Pertolongan yang diminta tak diberikan dan dua orang Belanda itu meninggalkan Bahder Djohan dan kawan-kawan yang tertimpa musibah itu.

“Ternyata di pihak Belanda pun ada jga oknum-oknum yang tidak tahu peri kemanusiaan,” pungkas Bahder Djohan menutup ceritanya di forum. Orang-orang Belanda yang mendengar cerita Djohan itu tampak marah. Salah seorang perwira militer Belanda berbadan tinggi besar protes.

“Aku mengajukan protes terhadap ucapan dr Bahder Djohan,” ucap sang perwira. Forum itu rusuh hingga ketua kongres mengetuk palu agar semua tenang.

“Begitulah sikap orang Belanda terhadap anak jajahannya yang tidak hanya memandang rendah di bidang politik, bahkan di bidang kemanusiaan pun mereka berbuat yang sama,” kata Bahder Djohan.

Akhirnya Nerkai di Hindia Belanda itu dibubarkan oleh pemerintah militer Jepang di Indonesia yang mengalahkan Belanda pada Maret 1942. Nerkai baru muncul lagi setelah 1945 hingga 1949, menurut Bahder Djohan ada semacam 'rivalitas' antara Nerkai dengan PMI. Di zaman pendudukan Jepang, menurut Ayatrohaedi dan kawan-kawan, dalam Kumpulan Buklet Hari-hari Bersejarah (1994), di masa pendudukan Jepang dr Senduk mengulangi ide yang sama dan ditolak juga akhirnya oleh Jepang.

Presiden Soekarno pada 3 September memberi perintah pada dr Buntaran Martoatmodjo untuk mendirikan palang merah. Dua hari kemudian, Buntaran mengumpulkan dr R Mochtar, dr Djoehana, dr Marjuki, dr Sitanala dan dr Bahder Djohan. Terbentuklah Panitia Lima, diketuai dr R Mochtar dan Bahder Djohan sebagai sekretaris. Mereka bekerja selama 12 hari untuk menyusun pengurus.

Pada 17 September 1945, Palang Merah Indonesia (PMI), yang dulu diperjuangkan Bahder Djohan dan Senduk, terbentuk. Sebagai Ketua pertamanya adalah Wakil Presiden Mohammad Hatta. Aksi pertama PMI yang baru terbentuk itu adalah bersiaga dalam Rapat Raksasa di Lapangan IKADA (Monas) yang penuh sesak oleh manusia. Mereka bersiaga di sekitar pepohonan di barisan belakang untuk mengantisipasi jika ada orang-orang diantara kerumunan yang tumbang karena sesak nafas.

Anggota PMI kala itu biasanya dilatih oleh tenaga medis yang bekerja di rumah sakit. Baik dokter maupun suster (perawat). Bahder Djohan menyebut Suster Palenkahu salah satunya. PMI banyak di isi oleh remaja-remaja putri, yang disebut dara-dara PMI. Remaja putra kebanyakan bergabung ke laskar perjuangan. Mereka memulai PMI dengan segala keterbatasan peralatan, perlengkapan bahkan pelatihan, karena perang.

Negara Republik Indonesia yang baru berdiri tentu kesulitan menyediakan kebutuhan PMI. Beruntungnya, pengusaha Indonesia yang bisnisnya juga terganggu karena perang masih mau membantu. Bahder Djohan menyebut nama Wahid Sutan yang memberikan Gedung bekas Hotel Du Pavillon untuk menjadi markas PMI dan Djohor menyediakan truk-truk beserta supirnya dan Dasaad yang memenuhi kebutuhan lainnya.

Setidaknya, PMI turut serta menolong para pejuang kemerdekaan yang terluka di front-front pertempuran melawan Jepang, Inggris atau Belanda. Agresi-agresi militer yang dilakukan Belanda membuat PMI terdesak juga. Masa perang kemerdekaan adalah masa tugas panjang PMI dalam peperangan, sejak 1945 hingga akhir 1949. Setelah pengakuan kedaulatan, PMI mengambil alih kantor Nerkai di Pasar Baru, juga semua semua instalasi Nerkai termasuk tempat Tranfusi Darah, Gudang dan sebagianya. Istri Almarhum Sam Ratulangi, Maria Tambayong yang bergabung di PMI ikut serta memeriksa bekas gudang Nerkai dan mengurusi segala isinya.

Jelang bubarnya Nerkai di Indonesia, Bahder Djohan, melihat beberapa pegawai Nerkai yang menukar huruf di kantong darah. Sangat berbahaya jika nanti terjadi salah transfusi darah. Bahder Djohan yang marah kemudian mengusir orang-orang Nerkai itu.

Setelah lima tahun berdiri, barulah PMI menjadi anggota ke-68 Liga Perhimpunan-perhimpunan Palang Merah pada 16 Oktober 1950. setelah bertahun-tahun berdiri, setidaknya PMI sudah banyak terlibat dalam penanggulangan bencana alam di Indonesia maupun penyediaan transfusi darah yang di luar kondisi bencana terus dibutuhkan.

Baca juga artikel terkait PALANG MERAH atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight