Menuju konten utama

Dampak Karhutla Sumatra di Malaysia: Udara Buruk, Asma Melonjak

Karhutla Sumatra membuat Malaysia kalang kabut. Banyak dampak negatif yang dirasakan dari sisi kualitas udara, kesehatan masyarakat, sampai pendidikan.

Dampak Karhutla Sumatra di Malaysia: Udara Buruk, Asma Melonjak
Tim pemadam melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Ogan Ilir, Sumsel, Jumat (10/7/2026). FOTO/Manggala Agni
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra telah berdampak secara luas. Asap yang ditimbulkan terbawa angin ke Malaysia, menyebabkan kualitas udara yang memburuk hingga lonjakan kasus asma.

Sejak pertengahan tahun 2026, Indonesia mencatatkan peningkatan jumlah titik karhutla di berbagai wilayah. Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua mengalami peningkatan titik api yang membakar lahan.

Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan mencatat peningkatan titik api secara signifikan mulai terjadi pada Juni lalu dan terus menanjak hingga kini. Per Jumat (28/8/2026), Pulau Sumatra dan Kalimantan menjadi wilayah paling terdampak fenomena karhutla ini.

Di Sumatra, kebakaran terjadi meluas di berbagai titik, dari Banda Aceh hingga Lampung. Pada Senin (24/8) lalu, Sumatra Selatan bahkan menjadi provinsi dengan titik api terbanyak, yakni 33 titik.

Kebakaran juga dilaporkan telah terjadi di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), benteng terakhir sejumlah satwa terancam punah macam gajah Sumatra. Kebakaran di TNWK terjadi sejak Jumat (21/8) dan sempat berhasil dipadamkan pada Minggu (23/8), namun titik api dilaporkan kembali tercipta pada Jumat.

Sementara itu, Istana menyebut bahwa kondisi karhutla di Sumatra telah terkendali. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sebelumnya telah mengklaim bahwa pihaknya telah berhasil mengurangi titik api secara signifikan di pulau bagian barat Indonesia tersebut.

“Di Pulau Sumatra, di empat provinsi, relatif sudah terkendali,” klaim Prasetyo pada Senin lalu.

Sementara pemerintah tengah berupaya memadamkan berbagai titik api yang meluas di Sumatra, dampak kabut asap akibat karhutla telah dirasakan banyak pihak. Masyarakat Sumatra merupakan salah satu yang paling terdampak, namun skala dampak insiden ini telah meluas sampai Malaysia.

Menukil The Straits Times, kabut asap yang kini melanda kawasan tersebut telah berdampak pada peringatan hari kemerdekaan di Malaysia. Acara pidato kenegaraan Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim dilaporkan sampai harus dipindah karena hal tersebut.

Kementerian Komunikasi Malaysia menyatakan bahwa agenda pidato itu semula dijadwalkan berlangsung di Dataran Merdeka. Namun, karena situasi kabut asap akibat karhutla yang belum mereda, kegiatan dipindahkan ke Putrajaya International Convention Centre (PICC).

“[Keputusan ini] untuk memastikan acara tersebut diselenggarakan dalam lingkungan yang lebih terkendali dan nyaman,” tulis keterangan Kementerian Komunikasi Malaysia pada Kamis (27/8).

Akan tetapi, perubahan lokasi pidato kenegaraan Anwar Ibrahim itu bukan satu-satunya dampak karhutla Sumatra bagi Malaysia. Selain berdampak pada agenda kenegaraan, kabut asap karhutla juga dilaporkan telah berdampak pada kesehatan penduduk mereka.

Kualitas Udara Buruk di Banyak Wilayah Malaysia Tidak Sehat

Karhutla yang melanda kawasan Sumatra dilaporkan telah menyebabkan penurunan kualitas udara di Malaysia. Per Jumat (28/8), Departemen Lingkungan Hidup Malaysia (DoE) mencatat adanya 19 wilayah dengan kualitas udara yang buruk dan tidak sehat.

Menukil Malaymail, wilayah Malaysia dengan kualitas udara yang buruk itu termasuk Alor Setar di Kedah; Minden dan Seberang Perai di Penang; Taiping di Perak; Shah Alam dan Johan Setia di Selangor; Cheras di ibu kota; Putrajaya di Putrajaya; hingga Seremban di Negeri Sembilan.

“Kementerian Kesehatan telah menyarankan masyarakat, khususnya kelompok rentan, untuk membatasi aktivitas di luar ruangan,” tulis Malaymail.

Jumlah tersebut sebenarnya telah mengalami penurunan. Berdasarkan laporan The Straits Times pada Selasa (25/8) lalu, kualitas udara buruk di Malaysia sempat terjadi di 30 wilayah.

“Hanya beberapa wilayah terpencil di Johor, Negeri Sembilan, Melaka, Kedah, dan Perlis yang berhasil tetap berada di bawah ambang batas 100,” lapor The Straits Times pada Selasa lalu.

Ambang batas 100 yang dimaksud merupakan indeks polusi udara (API). Nilai indeks 100 merupakan ambang batas kualitas udara moderat. Nilai indeks di atas 100 menandakan kualitas udara yang tidak sehat hingga berbahaya.

Kasus Asma Mengalami Lonjakan

Selain menyebabkan kualitas udara yang buruk di berbagai wilayah, dampak kabut asap karhutla di Indonesia juga turut berdampak pada lonjakan kasus asma di Malaysia. Jumlah kenaikan kasus penyakit asma mencapai 259 persen.

Lonjakan itu diungkap Menteri Kesehatan Malaysia Dzulkefly Ahmad. Dikutip dari Straits Times, Senin (24/8). Dzulkefly menyebut kasus asma di Malaysia melonjak dari 61 kasus menjadi 219 kasus dibanding pekan sebelumnya.

Selain itu, kasus infeksi saluran pernapasan atas juga mengalami peningkatan. Dalam periode yang sama, kasus penyakit ini telah meningkat 124 persen, dari 1.637 kasus menjadi 3.674 kasus.

Lonjakan kasus penyakit pernapasan ini terjadi seiring peningkatan titik api di Sumatra secara signifikan. Indeks Polutan Udara pada 23 Agustus 2026 pukul 8 pagi terbaca cukup tinggi.

Kabut asap yang menjadi dampak turunan insiden itu disinyalir telah menjadi penyebab peningkatan kasus gangguan saluran pernapasan di Malaysia.

Sebagian Sekolah di Sarawak Sempat Diliburkan

Selama sepekan peningkatan kasus asma terjadi di Malaysia, kabut asap karhutla Sumatra juga berdampak pada aktivitas pendidikan di negara tersebut. Pekatnya kabut asap menyebabkan sejumlah sekolah di Sarawak sempat diliburkan selama dua hari, yakni pada 20-21 Agustus lalu.

Sekolah-sekolah yang memilih meliburkan aktivitas pendidikannya pada dua hari itu tercatat berada di Kuching, Padawan, Serian, Samarahan, Bau, Lundu, Sri Aman, dan Lubok Antu di Sarawak.

“Keputusan ini merupakan tindakan pencegahan untuk melindungi keselamatan kesehatan, dan kesejahteraan siswa dan staf sekolah, khususnya dari risiko paparan udara yang tidak sehat,” tulis departemen pendidikan Sarawak.

Departemen tersebut juga menjelaskan bahwa aktivitas pendidikan kemungkinan akan mengalami dampak penutupan seiring situasi kabut asap yang melanda. Berdasarkan Rencana Aksi Kabut Asap Nasional Malaysia, sekolah akan diliburkan jika kualitas udara melebihi indeks 200 API.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar