Daftar Mitos dan Fakta terkait dengan Penyakit Jantung

Oleh: Dinda Silviana Dewi - 19 Februari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Terdapat sejumlah mitos terkait penyakit jantung yang selama ini beredar di masyarakat. Mitos-mitos itu perlu diluruskan untuk mendukung upaya pencegahan penyakit jantung.
tirto.id - Ashraf Sinclair, aktor berkebangsaan Malaysia yang populer di Indonesia menghembuskan napas terakhirnya pada Selasa (18/2/2020) kemarin. Pria berusia 40 tahun yang juga merupakan suami penyanyi Bunga Citra Lestari (BCL) tersebut diduga meninggal dunia akibat serangan jantung.

Kabar ini memperbesar perhatian publik terhadap penyakit jantung. Apalagi, selama ini Ashraf pun dikenal memiliki gaya hidup sehat dan gemar olahraga. Selain itu, dia menambah daftar pesohor yang diduga meninggal dunia akibat serangan jantung di usia masih terbilang muda.

Meskipun serangan jantung telah dikenal sejak lama, faktanya masih banyak mitos terkait penyakit ini yang beredar di masyarakat.

Salah satu contohnya ialah mitos bahwa serangan jantung hanya terjadi pada orang tua. Padahal, sudah banyak kasus orang berusia 40 tahun ke bawah yang mengalami serangan jantung.

Mitos ini juga mengabaikan fakta bahwa siapa pun berisiko mengalami serangan jantung, terutama jika tak menerapkan gaya hidup yang sehat.

Perlu diketahui, saat ini penyakit jantung menjadi pembunuh nomor satu bagi perempuan dan laki-laki di Amerika Serikat, menurut UPMC Health.


Namun, banyak pula kasus yang menunjukkan bahwa dampak bahaya sakit jantung bisa dicegah dengan pengobatan medis dan penerapan gaya hidup sehat.

Pemahaman yang benar dan tepat mengenai penyakit jantung juga penting untuk meningkatkan upaya pencegahan. Oleh karena itu, masyarakat pun perlu mengerti sejumlah hal terkait penyakit jantung yang sebenarnya hanya mitos.

Berikut adalah sejumlah mitos dan fakta terkait dengan penyakit jantung, sebagaimana dilansir dari laman Kementerian Kesehatan:

1. Mitos: Orang tua memiliki tekanan darah tinggi merupakan hal lumrah

Fakta: Resiko tekanan darah tinggi memang meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Tetapi, kondisi ini bukan hal lumrah atau aman-aman saja. Sebab, tekanan darah tinggi bisa memicu sakit atau gangguan jantung.

Tekanan darah tinggi merusak pembuluh darah dan mengganggu fungsi sirkulasinya. Oleh karena itu, tekanan darah tinggi juga bisa memaksa jantung bekerja lebih keras. Hal ini dapat membuat jantung mengalami kerusakan lanjutan dan memperbesar risiko stroke ataupun serangan jantung.

2. Mitos: Pria lebih rentan mengalami serangan jantung

Fakta: Pada usia yang lebih muda, angka serangan jantung pada laki-laki memang lebih tinggi bila dibandingkan perempuan. Namun, yang perlu diingat adalah gangguan jantung bukan merupakan penyakit para pria saja.

Seiring dengan bertambahnya usia dan memasuki masa menopause, resiko penyakit jantung akan semakin meningkat bagi perempuan. Selain itu, pria maupun wanita memiliki risiko mengalami serangan jantung yang sama besarnya apabila tidak menerapkan pola hidup yang sehat.

3. Mitos: Masih muda, tidak perlu khawatir terkena serangan jantung.

Fakta: Cara menjaga kesehatan tubuh dan kebugaran jantung secara keseluruhan di masa muda akan mempengaruhi kondisi jantung pada waktu-waktu selanjutnya.

Apabila Anda mengalami obesitas, merokok, kurang olahraga dan sering stres, risiko mengalami gangguan jantung selalu akan meningkat berapa pun usia Anda.

4. Mitos: Penyakit jantung pasti menurun kepada anak atau cucu.

Fakta: Faktor genetik memang meningkatkan risiko. Tetapi, bukan berarti Anda ditakdirkan untuk sakit. Oleh karena itu, langkah pencegahan dengan menjalani pola hidup sehat menjadi sangat penting untuk dilakukan.

5. Mitos: Dada sering sakit pasti menjadi tanda gangguan jantung.

Fakta: Nyeri dada memang menjadi salah satu gejala gangguan jantung. Akan tetapi, hal tersebut tidak berlaku pada semua orang. Mereka yang terkena serangan jantung mengalami gejala yang berbeda-beda.

Keringat berlebihan, nyeri di kedua lengan, leher, atau dagu, bahkan kepala seperti melayang atau sulit tidur adalah gejala lain dari penyakit jantung. Segera berkonsultasi dengan dokter bila Anda mengalami gejala-gejala tersebut.

6. Mitos: Makanan rendah lemak adalah pilihan terbaik mencegah gangguan jantung.

Fakta: Pola makan rendah lemak dan rendah kolesterol merupakan langkah tepat untuk mencegah gangguan jantung.

Namun, Anda juga harus mengonsumsi buah-buahan, sayuran dan protein baik guna mendapatkan vitamin dan mineral yang diperlukan bagi kesehatan jantung. Mencegah sudah baik tetapi menjadi proaktif untuk menyehatkan jantung akan bermanfaat lebih besar.

7. Mitos: Stress buruk untuk jantung.

Fakta: Berdasarkan studi, tipe kepribadian tertentu yang mudah tegang, selalu tergesa-gesa, dan sulit relaks memang cenderung lebih berisiko mengalami gangguan jantung.

Namun, ‘banyak pekerjaan’ dan ‘stres’ tidak selalu berakibat buruk terhadap jantung. Bila dikelola dengan baik, hal-hal tersebut membantu perkembangan mental dan emosional Anda. Cara Anda bereaksi terhadap stres justru faktor yang membuat jantung tertekan. Depresi, terisolasi, kurang bersosialisasi biasanya yang akan berakibat negatif pada kondisi jantung.

8. Mitos: Orang kurus tidak berisiko mengalami gangguan jantung.

Fakta: Orang dengan berat badan normal atau malah kurus pun memiliki risiko mengalami tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, gangguan jantung dan masalah lainnya. Sejumlah gangguan kesehatan itu tidak hanya dialami oleh orang yang kegemukan. Oleh sebab itu, pengecekan rutin diperlukan dan pola hidup sehat harus tetap dijalankan.

9. Mitos: Setelah minum obat penurun kolesterol akan aman untuk makan apa saja.

Fakta: Kolesterol dalam darah berasal dari dua sumber, yakni hati (liver) dan makanan yang Anda santap. Jenis obat statin memang bisa mengurangi kadar kolesterol yang dibuat oleh liver. Obat ini bisa membuat kadar kolesterol yang menumpuk di pembuluh darah berkurang.

Akan tetapi, apabila Anda tetap mengonsumsi makanan dengan kadar kolesterol dan lemak jenuh tinggi, obat tersebut tidak lagi efektif. Jadi, tetap minum obat dan batasi asupan makanan tinggi lemak.

10. Mitos: Angioplasty, pemasangan stent atau tindakan bypass akan menormalkan kesehatan jantung.

Fakta: Bedah Angioplasti kororner memang bermanfaat bagi penderita sakit jantung, mengurangi nyeri di dada dan meningkatkan kualitas hidup. Tetapi, langkah ini tak serta merta menyelesaikan masalah utama, yakni penyumbatan pembuluh darah.

Tanpa diet seimbang, olahraga teratur dan menjaga tekanan darah, pembuluh darah bisa kembali tersumbat oleh plak. Kondisi itu memungkinkan masalah jantung dan stroke bisa terulang.


Baca juga artikel terkait PENYAKIT JANTUNG atau tulisan menarik lainnya Dinda Silviana Dewi
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Dinda Silviana Dewi
Penulis: Dinda Silviana Dewi
Editor: Addi M Idhom
DarkLight