Coworking Space atau Warung Kopi, Pilih Mana?

Oleh: Mawa Kresna - 30 November 2016
Dibaca Normal 2 menit
Para pebisnis start-up yang bermodal cekak, biasanya memanfaatkan warung kopi atau kafe yang menyediakan fasilitas internet gratis. Ada kelebihan, tapi juga kekurangan. Ada juga pebisnis rintisan yang lebih memilih berkantor di coworking space. Mana lebih nyaman?
tirto.id - Konsep yang ditawarkan oleh coworking space belum bisa sepenuhnya diterima oleh para start-up baru. Terutama soal gocek yang harus dikeluarkan setiap bulannya untuk mendapatkan tempat bekerja. Kebanyakan start-up pemula memilih bekerja di rumah, bagi yang memiliki rumah, atau kamar kos.

Bagi mereka yang memiliki modal lebih, biasanya sudah langsung menyewa kantor sendiri. Sedangkan mereka yang bermodal pas-pasan, biasanya mencari tempat alternatif yang bisa dipakai sebagai tempat bekerja seharian dan sekaligus bisa digunakan sebagai tempat meeting.

Tempat alternatif itu biasanya adalah warung kopi atau kafe-kafe yang menyediakan tempat yang nyaman dan internet gratis. Cukup dengan mengeluarkan uang Rp50 ribu, sudah bisa mendapatkan secangkir kopi, cemilan dan wifi gratis. Mereka pun bisa berlama-lama di sana.

Pengalaman berkantor di warung kopi pernah dirasakan oleh beberapa pendiri start-up yang kini meraih sukses. Salah satunya adalah Kristian Harahap, CEO Maskoolin sebuah e-commerce fashion laki-laki, yang baru saja mendapatkan pendanaan pra seri A dari Indra Djokosoetono, pemilik Blue Bird Group.

Saat terjun di dunia start-up, Kristian memulai semuanya dari kamar kos. Namun karena ada kebutuhan untuk meeting dengan klien, Kristian pun akhirnya pindah berkantor di warung kopi atau kafe di bilangan Kemang.

“Dulu memang enak di kafe gitu, sama teman kerjanya di kafe. Kita kalau mau janjian ketemu orang juga mudah, ngobrol juga nyaman,” kata Kristian kepada tirto.id, saat ditemui di Freeware Spaces, sebuah coworking space, di Jalan Bangka tempat Maskoolin berkantor, Senin (21/11/2016).

Salah satu kafe yang pernah dijadikan “kantor” oleh Kristian adalah Coffee War di Kemang Timur. Pada tahun 2014, hampir setiap hari Kristian ada di sana. Dengan berbekal laptop, dia mengerjakan ide-ide start up bersama teman-temannya. Karena sering berada di sana, Kristian sampai kenal dengan pemilik Coffee War.

“Terakhir ke sana sudah beda, Coffee War lebih luas tempatnya. Dulu kecil tempatnya dan sepi, jadi enak buat kerja. Kalau sekarang sudah ramai, tidak kondusif kalau untuk kerja,” kenang Kristian.

Infografik HL Coworking atau Warung Kopi?


Kelemahan Berkantor di Warkop

Hal serupa juga pernah dirasakan oleh Cahyo Purnomo Edi, salah satu founder beritajogja.id, sebuah start-up media online lokal di Yogyakarta. Cahyo dan teman-temannya juga merintis start-up mereka dari warung kopi ke warung kopi.

Pemilihan warung kopi sebagai tempat bekerja dikarenakan modal yang cekak. Daripada modal digunakan untuk menyewa kantor, Cahyo memilih mengalihkan anggaran untuk kegiatan promosi. Seperti membuat diskusi dan roadshow ke kampus-kampus.

Hampir dua tahun mulai 2012 sampai 2014, Cahyo dan teman-temannya berkantor di warung kopi Lidah Ibu di Mrican, Caturtunggal, Sleman. Setelah bisnis berjalan baik, barulah mereka menyewa rumah untuk dijadikan kantor.

“Memang kalau start-up baru, apalagi yang modal dengkul, berat kalau harus sewa kantor. Kalau di coworking space setahu saya mahal, mungkin lebih mahal daripada sewa rumah untuk kantor,” ujar Cahyo kepada tirto.id, Jumat (25/11/2016).

Baik Cahyo dan Kristian, keduanya sama-sama mengakui kelemahan berkantor di warung kopi atau kafe. Pertama, kerja tidak bisa fokus karena banyak pengunjung lain yang keluar masuk. Kedua, pergaulan sesama start-up menjadi terbatas. Ketiga, sulit mengatur jam kerja.

“Tapi kalau untuk kantor, cocoklah. Orang punya pilihan kalau mau di coworking juga banyak positifnya, ada komunitasnya, ada mentoring, ada workshop,” aku Cahyo.

Steven Sultadi, pendiri perusahaan e-commerce Solution Business di Jakarta, justru berpendapat sebaliknya. Meski baru merintis bisnis pada pertengahan tahun 2016 , Steven langsung memilih coworking space sebagai tempat kerja.

“Di sini lebih nyaman untuk kerja. Kami juga bisa berinteraksi dengan perusahaan lain dan mungkin bisa bekerja sama satu dengan yang lain,” ujar Steven yang kini berkantor di Cre8 co-working space, di Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (21/11/2016).

Bagi Steven, coworking space lebih tepat untuk para start-up pemula. Soal harga, menurutnya tidak mahal jika dibandingkan dengan keuntungan yang di dapat. Berkantor di coworking space, tidak hanya mendapatkan tempat kerja, ruang meeting, tapi juga jaringan yang bisa membuat bisnis semakin berkembang.

“Termasuk investor, mereka lebih mudah menemukan para pelaku bisnis di coworking space,” pungkasnya.

Jadi mau berkantor di warung kopi atau coworking space? Jika ingin murah meriah bisa di warung kopi. Jika ingin menambah jaringan dan pengalaman, bisa di coworking space. Pilihan ada di tangan Anda.

Baca juga artikel terkait COWORKING SPACE atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight