Corona Indonesia Terus Pecah Rekor, Bagaimana Respons Pasar Modal?

Oleh: Selfie Miftahul Jannah, Vincent Fabian Thomas - 5 Desember 2020
Dibaca Normal 2 menit
COVID-19 terus pecah rekor. Tapi pasar lebih bisa menoleransi. Penguatan baru benar-benar terjadi jika vaksinasi benar-benar terealisasi.
tirto.id - Rekor penambahan kasus harian COVID-19 di Indonesia kembali pecah. Kamis (4/12/2020) lalu angkanya mencapai 8.369 dari hasil pemeriksaan terhadap 62.937 spesimen. Sebelum ini kasus terbanyak terjadi pada Minggu (29/11/2020), angkanya 6.267 kasus. Beberapa hari sebelumnya, penambahan kasus baru juga sempat mencapai rekor di angka 5.828 dan 5.534.

Dalam konferensi pers, Kamis (4/12/2020), Jubir Pemerintah untuk COVID-19 Wiku Adisasmito sampai menyebut rekor terbaru ini “tidak bisa ditolerir.”

Wiku tahu dalam beberapa hari ke depan Indonesia akan menghadapi dua momen yang potensial memperburuk angka-angka ini, yaitu pilkada serentak dan libur Natal-tahun baru. Sebagai antisipasi di pilkada, ia telah meminta penyelenggara dan pemilih sama-sama mematuhi protokol kesehatan; soal liburan akhir tahun, ia berharap masyarakat mengurangi mobilitas.

Meski demikian, Wiku memastikan “pelayanan kesehatan masyarakat dapat terjamin apa pun situasinya.”

Ekonom Trimegah Fakhrul Fulfian bilang pelaku pasar khawatir apabila kasus terus melonjak, pemerintah kembali menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). PSBB, berkaca dari beberapa bulan lalu, sama artinya dengan pengurangan aktivitis ekonomi. Meski demikian, Fakhrul melihat ada fenomena “discounted”--yang berarti pasar lebih menoleransi dampak dari COVID-19 yang berkepanjangan maupun bila diterapkan PSBB ketat lagi.


Dengan kata lain, menurutnya, penurunan IHSG ke level 5.133,15 pada 9 Maret 2020 dan 3.937,63 pada penutupan perdagangan 24 Maret 2020 tak akan terjadi lagi.

“Jadi kalau [ekonomi] turun sampai titik tertentu, mereka enggak apa. Pasar sudah ready. Kita hidup bersama COVID-19 sampai tahun depan,” ucap Fakhrul kepada reporter Tirto, Jumat (4/12/2020).

Analis dari Panin Sekuritas William Hartanto juga sependapat. IHSG pada penutupan perdagangan, Jumat (4/12/2020), memang turun tetapi masih seharga rata-rata 5 harinya. IHSG hanya turun dari pembukaan 5.820,82 menjadi 5.810,483. Selama tidak kurang dari 5.710-an, IHSG menurutnya masih menguat secara teknikal.

Usai pengumuman angka 8.369 kasus, ia juga tak melihat adanya penjualan saham yang dipicu kepanikan pasar. Buktinya, tidak ada peningkatan signifikan pada volume dan nilai transaksi.

Total volume transaksi bursa, Jumat (4/12/2020), hanya mencapai 19,85 miliar saham dengan nilai transaksi Rp13,06 triliun. Sebagai perbandingan, pada Kamis (3/12/2020)mencapai 33,33 miliar saham dengan nilai Rp19,64 triliun.

“Jadi koreksi yang terjadi hari ini adalah koreksi sehat. Untuk Senin nanti IHSG ada potensi untuk melanjutkan penguatan. Support 5.741 dan resisten 5.882,” ucap William kepada reporter Tirto, Jumat.

Vaksin Belum Jadi Sentimen Positif

Di saat Indonesia kelimpungan menghadapi lonjakan kasus yang terus-menerus terjadi, ada secercah harapan mengenai pengembangan vaksin dunia. Inggris menjadi negara pertama yang menyetujui penggunaan vaksin Pfizer dengan efektivitas 95 persen bagi warganya. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Inggris atau MHRA sudah memberi lampu hijau kalau vaksin Pfizer “aman untuk digunakan.”

Vaksinasi kabarnya akan dimulai segera dengan 800 ribu dosis awal.


Melansir BBC, keputusan Inggris ini diyakini bakal berdampak positif lantaran dapat mendesak BPOM Amerika Serikat atau FDA untuk segera memberikan persetujuan penggunaan vaksin Pfizer. Alasannya, FDA dan MHRA memeriksa “data yang sama.”

Hingga saat ini terbuka peluang persetujuan vaksin Pfizer akan diteken pada 10 Desember dan vaksinasi dimulai 14 Desember. Sementara vaksin Moderna yang juga memiliki efektivitas 95 persen turut diprediksi dapat segera mendapat persetujuan pada 17 Desember.

Sayangnya, meski kabar ini cukup menggembirakan, Trimegah Fakhrul Fulfian menilai informasi ini tak terlalu berdampak pada pelaku pasar di Indonesia. Ia bilang vaksin sudah menjadi bagian dari sentimen positif sejak beberapa bulan silam. Kini mereka butuh bukti yang lebih konkret. Misalnya, bagaimana distribusi vaksin, berapa harganya, bagaimana masyarakat mendapatkatnnya serta efektivitasnya. Fakhrul bilang, “itu yang ditunggu sama pasar.”

William Hartanto juga sependapat. Menurutnya pasar sudah beradaptasi dengan pandemi maupun ekspektasi kalau vaksin menjadi jalan keluar pandemi. Meski vaksin belum sepenuhnya hadir, pelaku pasar sudah berani berinvestasi lagi dengan harapan tahun 2021 situasi sudah normal.

Namun, tanpa kepastian vaksin sudah tiba di Indonesia, ia yakin tak banyak ada penguatan signifikan pada IHSG. “Kalau positif itu khusus untuk sektor farmasi tapi untuk membuat penguatan saham solid itu butuh vaksin sampai ke Indonesia juga,” kata William.

Baca juga artikel terkait PASAR MODAL atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah & Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah & Vincent Fabian Thomas
Penulis: Selfie Miftahul Jannah & Vincent Fabian Thomas
Editor: Rio Apinino
DarkLight