Cinta Beda Agama Pahlawan Nasional Indonesia

Oleh: Petrik Matanasi - 10 November 2017
Dibaca Normal 3 menit
Beberapa pahlawan nasional Indonesia, setidaknya Pierre Tendean, Sutan Sjahrir, dan dr. Soetomo terkenal memiliki pasangan beda agama.
tirto.id - Di Indonesia, pasangan beda agama sulit menikah. Ada beberapa interpretasi terkait UU Perkawinan, tetapi pada umumnya Kantor Catatan Sipil menolak mencatat pernikahan beda agama. Akhirnya, banyak pasangan beda agama memilih menikah di luar negeri.

Namun, dulu, ternyata urusan cinta beda agama tak semerepotkan sekarang.

Banyak tokoh sejarah Indonesia yang punya pasangan berbeda keyakinan. Ada yang pindah agama saat menikah, ada juga yang tetap menganut agamanya masing-masing. Sebelum 1960, setidaknya ada Hartono, loyalis Sukarno. Bulan September 1958, Kapten KKO R. Hartono menikahi Grace Barbara Walandau. Hartono yang muslim berasal dari keluarga Jawa, sedangkan Grace dari Manado beragama Protestan.

Mereka berdua punya empat putri. Karier Hartono juga mencapai puncak tertinggi dalam komando KKO atau Marinir. Hartono adalah Panglima KKO sejak 1961 hingga 1968.

Selain Hartono, ada juga pahlawan nasional yang menikahi pasangannya yang berbeda agama.

Sidi dan Maria

Sjahrir tiba di negeri Belanda pada 1929. Di Belanda, Sjahrir lebih banyak bergiat dengan gerakan buruh Eropa ketimbang kuliah. Seorang sosialis demokrat keturunan Yahudi bernama Salomon Tas alias Sal Tas adalah sahabat pertama dan terpentingnya di sana. Mereka dekat karena Tas juga antikolonialisme.

Selama di Belanda itu, Sjahrir pernah tinggal di apartemen Sal Tas. Di apartemen itu, selain Sal Tas, ada Maria Johanna Duchateau, istri Sal Tas ditambah dua anak mereka, serta Judith van Wamel. Judith adalah kawan perempuan Maria.

Ketika Sjahrir tinggal bersama Tas inilah kisah cintanya dengan Nyonya Tas bermula. Maria dan Tas kala itu sedang mengalami masa suram pernikahannya. Meski sudah punya dua anak, Tas lebih sibuk dengan politik. Maria belakangan bahkan seolah membiarkan Tas berhubungan dengan Judith. Maria sendiri jatuh cinta kepada Sjahrir yang cerdas, tenang, dan penuh humor.

Di Belanda, percintaan mereka baik-baik saja. Persahabatan Sjahrir dengan Tas jalan terus. Sosialisme tetap menyatukan mereka. Kedekatan Sjahrir dengan Maria pun tak memecah persahabatan mereka.

Sjahrir punya panggilan kesayangan dari Maria: Sidi. Sebaliknya, Mieske jadi panggilan kesayangan Maria dari Sjahrir.

Setelah sekitar dua tahun belajar sosialisme dan pergerakan, Sjahrir kembali ke Indonesia. Setelah dipecat dari Perhimpunan Indonesia, Sjahrir bersama Hatta membangun jaringan dalam organisasi pergerakan bernama Pendidikan Nasional Indonesia—dikenal sebagai PNI Baru. Selama di Indonesia pula, Sjahrir hendak mengadu peruntungan dalam kehidupan percintaannya dengan Maria setelah Sjahrir tiba di Jawa.

Baca juga:

“Empat bulan setelah Sjahrir meninggalkan Belanda, Maria menyusul dan berencana hidup bersama, bersamanya anak laki-laki dan anak perempuannya [dari perkawinan dengan Sal Tas]. Sjahrir berlayar dari Betawi (Jakarta) ke Medan dan bertemu Maria yang berangkat dari Colombo,” tulis Rudolf Mrazek dalam biografi Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia (1994).

Rencananya, Mieske menyusul jika perceraiannya dengan Sal Tas sudah beres.

“Tanggal 10 April 1932, di sebuah Masjid di kota Medan, mereka menikah.” Artinya mereka menikah secara Islam. Sebelumnya Mieske bukanlah muslim. Ketika itu, Sjahrir tidak sadar efek dari pernikahannya itu.

Bagaimanapun, di Hindia Belanda, derajat perempuan Belanda lebih tinggi ketimbang inlander macam Sjahrir, meski Sjahrir adalah anak jaksa.

“Mereka tinggal di Medan, di rumah tempat Sjahrir tinggal sebelum pergi bersekolah ke Jawa, bersama kakak laki-laki Sjahrir, Sutan Noer Alamsyah, dan keluarganya.”

Pasangan ini sering bepergian ke tempat hiburan yang biasanya didatangi orang-orang Belanda yang segera risih atas hubungan mereka. Gunjingan atas pasangan ini pun terjadi. Bahkan mereka jadi bahan gosip.

Koran terbesar di Medan, Sumatra Post, menurunkan artikel berjudul: "Perempuan Bersarung Kebaya Dalam Penyelidikan Polisi." Pihak berwenang di Medan, terutama ulama setempat, menyatakan pernikahan Sidi dan Mieske batal.

“Sjahrir dan Maria hanya lima bulan menikmati hidup sebagai suami-istri.”

Selesailah hubungan mereka di sana. Mieske pun dideportasi, pulang ke Belanda. Sjahrir tak bisa menyusulnya. Apalagi setelahnya Sjahrir mengalami penahanan, dan lantas dibuang ke Boven Digoel. Mereka hanya bisa berkirim surat sampai kemudian Perang Dunia II dan Perang Kemerdekaan memutus kontak mereka. Akhirnya, perceraian memisahkan mereka pada 1948.

Baca juga:
Infografik HL Pahlawan

Everdina Bruring dan dr. Soetomo

Belasan tahun sebelum percintaan Sidi dan Mieske dikandaskan, kisah cinta pribumi dan perempuan Belanda lain ada yang sukses. Pendiri dan ketua pertama dari Boedi Oetomo, dr. Soetomo, mempersunting janda yang bekerja sebagai suster bernama Everdina Bruring. Ia adalah Perempuan Belanda beragama Kristen.

Everdina jadi perempuan penting dalam hidupnya. Soetomo tak akan lupa bagaimana pertemuan mereka. Ketika itu Soetomo menjemput Suster Everdina, yang baru datang untuk membantunya, di sebuah stasiun di kota Blora.

“Romannya yang pucat, geraknya yang kurang berdaya itu, telah menarik hati saya...” tulis Soetomo dalam Kenang-kenangan Dokter Soetomo (1984) yang disunting Paul van der Veur. Soetomo mulai paham kesedihan perempuan Belanda itu. Everdina datang ke Hindia Belanda setelah kematian suami terdahulunya.

Baca juga: Saat Soetomo dan St. Takdir Berdebat Soal Pesantren

Mereka pun akrab dan berpacaran. Meski seorang Belanda, Everdina tak menghalangi Soetomo melawan politik kolonial bangsanya. Mereka menikah pada 1917.

“Perkawinan ini telah menggoncangkan dunia yang berkepentingan,” tulis Soetomo. Pernikahan itu tak disetujui kakak perempuan Everdina.

Hubungan antara Everdina dan kakaknya “seketika itu juga, terputuslah.”

Rupanya, kenyataan nikah beda bangsa dan agama pada awal abad 20 adalah hal tabu. Orang Belanda macam kakak Everdina “masih belum dapat menghargai pada anak Indonesia yang berani kawin dengan orang bangsa kulit putih.”

Kisah cinta mereka kemudian berakhir dengan kematian Everdina pada 1934. Soetomo begitu terkenang kepada istri yang beda agama dan beda bangsa tetapi rela hidup susah bersamanya. Soetomo menyusul Everdina pada 1938.

Bukan hanya dua tokoh berpengaruh dalam sejarah pergerakan bangsa Indonesia itu saja yang menikah beda agama dan beda bangsa. Salah satu pahlawan yang usianya singkat, Pierre Andreas Tendean, juga mengalaminya.

Kisah cinta beda agama Tendean dengan Rukmini Chaimin memang tak direstui ibu Pierre. Namun, pernikahan mereka kandas bukan karena sang ibu, melainkan karena Tendean menjadi korban penculikan pasukan Djaharup dalam Peristiwa Gerakan 30 September yang penuh kontroversial itu.

Baca juga: Kematian Tragis Seorang Ajudan, Pierre Tendean

Baca juga artikel terkait HARI PAHLAWAN NASIONAL atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani
Artikel Lanjutan
DarkLight