Jejak Orang-orang Indonesia di Front Eropa

Orang Indonesia di front Eropa foto moen soendoroe dan sidartawan dalam buku "di negeri penjajah" karya hari a. poeze. sejumlah nama orang-orang indonesia ditulis sebagai orang-orang yang gugur dalam perlawanan dalam buku tentang orang- indonesia di negeri belanda 1600-1950. tirto/tf subarkah
Oleh: Petrik Matanasi - 27 Mei 2016
Dibaca Normal 6 menit
Di Negeri Belanda, ada orang-orang Indonesia ikut menjadi tentara Nazi dan melawan balatentara Nazi yang terkenal kejam itu. Kebanyakan dari mereka bukanlah orang Indonesia yang jadi tentara Belanda dan setia pada ratu Belanda. Mereka adalah para mahasiswa yang ngeri pada fasisme Nazi Jerman. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia itu ditangkap di Leiden dan Amsterdam
tirto.id - Mereka ikut bagian dalam melawan Nazi. Mereka adalah pemuda Indonesia. Perlawanan mereka terhadap fasisme harus dibayar mahal dengan nyawa. Cita-cita pendidikan pun gagal di tengah jalan.

Sejak dilibas Divisi Panser Jerman, pada 10 hingga 15 Mei 1940, Belanda langsung menjadi wilayah pendudukan tentara Nazi Jerman. Hubungan Belanda dengan koloninya, Hindia Belanda, pun terputus. Putusnya hubungan negara itu berdampak pada mahasiswa Indonesia yang sedang menimba ilmu di Belanda.

Sebagian mahasiswa Indonesia di Belanda terpaksa putus hubungan dengan keluarga mereka di kampung halaman. Mereka tak bisa lagi surat-menyurat ataupun menerima kiriman uang karena terputusnya jalur pos. Mereka yang terkungkung pun sebagian akhirnya bergabung dengan gerakan bawah tanah menentang tentara Nazi.

Termasuk yang ikut dalam gerakan tersebut adalah para anggota Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda. Dalam gerakannya, PI sering mendapatkan perlindungan dari kelompok komunis Belanda. Karenanya, PI sering dicap kelompok kiri dan dianggap musuh kelompok fasis Belanda. Ketua PI di Belanda, Parlindungan Loebis termasuk salah satu yang menerima konsekuensi dijebloskan ke kamp konsentrasi.

“Waktu fasisme mulai menongolkan kepalanya pada tahun-tahun tiga puluhan, orang-orang Indonesia telah menyadari bahwa dari sudut itulah akan datang bahaya besar yang mengancam. Ini dibuktikan oleh diktatur-diktatur fasis di berbagai negeri dengan rencana-recananya yang agresif, kebencian ras dan penindasan atas tiap hak manusia. Negara-negara yang agresif ini menaruh hasrat tamaknya pada negeri-negeri koloni,” tulis Jayeng Pratomo dalam makalahnya Orang-orang Indonesia dan Gerakan Perlawanan di Nederland.

Dalam tulisan itu, Jayeng Pratomo menceritakan tentang orang-orang Indonesia di PI yang berjuang dengan mesin stensil dan senjata api melawan tentara fasis Nazi Jerman.

Menurut Jayeng Pratomo, pada dekade 1930-an, PI menjadi salah satu organisasi penting bagi orang-orang Indonesia di Belanda. Ketika Belanda diduduki Nazi, PI menjadi gerakan perlawanan anti-fasis bagi orang-orang Indonesia. Mulanya, semboyan perjuangan PI adalah Indonesia Merdeka, seperti judul pledoi Hatta waktu diadili tahun 1927 di negeri Belanda. PI termasuk kelompok non-koperasi yang menolak segala bentuk kerja sama dengan pemerintah kolonial.

PI sebagai organisasi dianggap terlarang. PI dianggap anti pemerintah kolonial karena sebagian pengurusnya adalah orang-orang anti kolonial. Setelah Hatta kembali ke Indonesia pada 1930-an, PI sempat menjadi komunis sebelum akhirnya menjadi Sosial Demokrat menjelang didudukinya Belanda oleh Jerman. Karena kelompok sosial demokrat termasuk anti fasis Hitler, maka PI pun juga menjadi musuh bagi tentara Nazi Jerman. Itulah kenapa banyak orang-orang ikut berperang melawan tentara Nazi di Belanda

Mahasiswa Bawah Tanah

PI menjadi buruan karena dianggap melawan Nazi. Pada bulan Juni 1941, Sicherhetisdienst (SD) dari kaum Nazi menggeledah berbagai tempat tinggal mahasiswa Indonesia di Leiden. Mereka mencari empat anggota pimpinan dari grup perlawanan Perhimpunan Indonesia. “Dua di antara mereka tertangkap, yaitu R.M. Sidartawan dan Parlindungan Lubis, sedang yang lain dapat meloloskan diri,” tulis Jayeng Pratomo.

Mahasiswa-mahasiswa Indonesia itu ditangkap di Leiden dan Amsterdam. Sidartawan meninggal dunia di kamp konsenstrasi Dachau. Sementara Parlindungan dibawa ke kamp konsentrasi Schoorl, Amersfoort. Parlindungan menjadi salah satu saksi ngerinya kamp konsentrasi buatan fasis Jerman.

“Setelah dipindahkan ke Buchenwald, aku memperkirakan bahwa tidak mempunyai harapan lagi untuk dibebaskan, kecuali Jerman dikalahkan Sekutu dalam perang,” tulis Parlindungan Lubis dalam autobiografinya Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi (2006).

Sedangkan anggota PI lainnya, Moen Soendaroe tertangkap pada 18 Januari 1943. Nasibnya lebih buruk. Ia berpindah dari satu kamp ke kamp lainnya dan dipaksa ikut kerja paksa. Mpen terkena disentri dan busung lapar sebelum akhirnya meninggal ada Februari 1945.

Kehidupan bawah tanah orang-orang PI ini tak jauh beda dengan kelompok resistensi anti Nazi lain yang tersebar di Eropa. Mereka hidup seperti orang sipil yang harus siap digeledah kapan saja oleh serdadu Nazi, termasuk pasukan elit Schutzstaffel (SS) yang dikenal kejam, juga polisi rahasia Nazi bernama Gestapo.

Kaum bawah tanah Indonesia itu punya nama samaran. Misalkan, pimpinan PI Soenito punya alias Fritz de Bruin, Soeripno dengan alias Karel van Delft dan Maruto Darusman alias Nico van Zuilen.

Perang Eropa, membuat PI menjadi organisasi semi militer dan intelejen. Mereka harus siap terjaga dan terus berhati-hati. Di Belanda, PI terbagi menjadi tiga kelompok besar di Amsterdam, Leiden, dan Den Haag.

Setelah tentara Nazi menyita radio orang PI pada Mei 1943, mereka menerbitkan buletin ilegal stensilan bernama Fuiten. Tiap edisi hanya satu lembar. Selalu dengan kalimat pembuka “kita kutip berita berikut dari pihak sekutu.”

Tentara pendudukan Nazi Jerman berhasil mengendus buletin ini. Akhirnya, pada 3 April 1944, tiga orang dari tujuh anggota redaksi Fuiten, yakni Moewalladi, KMI Drajat Darmakeswara dan H. van den Bosch ditangkap. Anggota redaksi lainnya lolos. Mereka adalah Oelam Simatupang, Pamoentjak, Tamzil dan Sie Soe Giang.

Mengurus mesin stensil bukan gampang di zaman perang. Mesin cetak dianggap barang bahaya bagi tentara pendudukan, karena berpotensi menyebarkan berita-berita yang merugikan pihak Nazi Jerman. Serdadu Jerman akan main tembak. Begitu yang dialami Irawan Soejono.

“Tanggal 13 Januari 1945, mahasiswa muda Indonesia RM Irawan Soejono di Leiden mengangkut perlengkapan stensil yang baru saja direparasi untuk mencetak penerbitan-penerbitan ilegal. Ia bertemu dengan pasukan SS yang sedang melakukan razia. Irawan berusaha melarikan diri, tapi ia ditembak mati,” cerita Jayeng Pratomo. Irawan adalah putra Raden Ario Adipati Soejono. Ayahnya menteri Indonesia pertama dalam pemerintah Belanda di London. Ia diangkat agar Belanda di mata sekutu terlihat peduli pada Hindia Belanda koloninya.

Di tempat lain, Jusuf Muda Dalam mengasuh De Bevrijding di tahun 1944. Tak hanya urus mesin cetak dan menulis, ia juga pernah menembaki serdadu Nazi yang lewat menjelang berakhirnya perang Eropa. Jusuf Muda, yang belakangan jadi Gubernur Bank Indonesia itu, memegang senapan mesin. Begitu pengakuan Sumitro Djojohadikusumo pada Soe Hok Gie.

Menurut Jayeng Pratomo, Jusuf Muda Dalam ambil bagian dalam penyergapan pada sebuah kantor distribusi kupon bahan makanan di Den Haag. Penyergapan itu dilakukan dengan bersepeda. Semula mereka tampak sukses, tetapi mereka kemudian disergap tentara Nazi. Namun, Jusuf berhasil lolos.

“Grup perlawanan Indonesia di Rotterdam menyadari benar-benar, bahwa jika mereka kedapatan oleh Jerman, maka akan habislah riwayatnya,” ingat Jayeng Prawiro. Akhirnya kelompok gerakan bawah tanah itu memutuskan untuk mempersenjatai diri. Semula mereka berhasil merebut empat pistol-Walther. Dari kawan-kawan gerakan bawah tanah Belanda, mereka mendapat dua karaben dan lima pistol beserta pelurunya.

“Senjata-senjata itu berasal dari serdadu-serdadu Wehrmacht (Angkatan Darat Jerman) yang sudah jemu perang dan menghilang dan bersembunyi di tempat orang-orang Belanda. Orang-orang Indonesia mendapat latihan menggunakan senjata-senjata itu dari seorang dari mereka, seorang Gefreiter (kopral)," tulis Jayeng.

PI Rotterdam pernah menempuh bahaya. Dengan gerobak sepeda, mereka mengangkut sembilan karung goni yang berisi granat tangan, senapan mesin ringan Stengun beserta pelurunya. Senjata-senjata itu dijatuhkan dari udara oleh Royal Air Force (RAF), Angkatan Udara Inggris.

September 1944, di Leiden, berdiri kelompok mahasiswa bersenjata yang terdiri dari empat grup. Satu grup di antaranya terdiri dari mahasiswa-mahasiwa PI pimpinan Theo alias Alex Ticoalu. Grup ini dapat senjata dari kelompok bawah tanah Rotterdam. Senjata dikirim dengan bersepeda, melewati jalan-jalan sepi, lorong-lorong, dan pos-pos pemeriksaan tentara Jerman. Semua dilewati tanpa gangguan. Di Leiden, orang-orang Indonesia berlatih memakai senjata di ruang bawah pabrik wol dan lakan. Mula-mula, mereka bernama Suropati. Setelah Irawan gugur dalam memindahkan mesin stensilan, mereka menamakan diri Grup Irawan Soejono.



Para Punggawa Sang Ratu

Mahasiswa Indonesia yang belajar ilmu militer pun mengalami nasib yang sama. Harry Poeze mencatat beberapa orang Indonesia yang sedang belajar ilmu militer di Belanda. Victor Makatita, pemuda Ambon yang kebetulan dapat tugas belajar ke Koninklijk Militaire Academie (KMA) Akademi Militer Belanda di Breda sejak 1939, tak bisa kembali ke Indonesia. Pendidikan militernya terputus setelah Nazi menjajah Belanda. Dia harus ikut melawan Jerman. Setelah militer Belanda keok oleh tentara Jerman, Victor harus berkeliaran dengan menyaru sebagai masyarakat sipil.

Victor sempat bersembunyi di Den Haag, tempat dia belajar bahasa Perancis. Bersama seorang kadet asal Indonesia, Victor memutuskan pergi ke Swiss. Swiss dikenal sebagai daerah netral. Mereka berharap bisa bebas dari kejaran serdadu Nazi. Tanggal 10 Februari 1942, untuk pertama kalinya mereka berusaha memasuki Swiss. Namun, upaya itu gagal karena terhalang salju. Mereka mencoba lagi dan tertangkap oleh Polisi Vichi, kepolisian Perancis di bawah komando tentara pendudukan Jerman. Atas perintah tentara pendudukan Jerman, pada 9 April 1942, Victor Makatita ditembak mati oleh Polisi Vichi. Usianya belum genap 23 tahun ketika itu.

Victor bukan satu-satunya orang Indonesia yang gugur ketika menimba ilmu militer di Negeri Belanda. Ada lagi Eduard Alexander Latuperisa juga dari suku Ambon. Usianya sekitar 37 tahun ketika dia kembali lagi datang ke Negeri Belanda di bulan Agustus 1939. Dia datang bersama istri dan dua anakanya. Jabatannya sudah kapten infanteri, bukan lagi kadet seperti Victor Makatita. Dulunya Eduard juga belajar di KMA Breda, lulus sekitar tahun 1925.

Di Belanda, Eduard seharusnya mengikuti sekolah lanjutan untuk perwira sekelas Hogare Krijg School. Niatnya menimba ilmu militer itu berantakan ketika Jerman menyerbu pada Mei 1940. Padahal, Eduard belum genap setahun ada di Negeri Belanda. Eduard yang tak bisa kembali ke Indonesia akhirnya bergabung dengan Orde Dienst (OD) alias badan ketertiban, yang anggotanya adalah bekas militer Belanda. OD biasa melakukan sabotase dan spionase. Sialnya, OD disusupi musuh dan anggotanya ditangkapi aparat Nazi Jerman.

“Di antara mereka adalah Latuperisa yang tugasnya mengorganisasi para kadet KMA dan melakukan transaksi senjata. Tanggal 13 Maret 1942 dia ditahan. Seratus anggota OD pilihan diadili pada Maret-April 1943 di kampung Haaren. Latuperisa, 41 tahun, dijatuhi hukuman mati, dan bersama 16 orang rekannya, ia ditembak mati tanggal 29 Juli 1943 di Leusderheide,” tulis Harry Albert Poeze dalam bukunya Di Negeri Penjajah (2008). .

Selain dua orang Ambon tadi, ada seorang Jawa yang jadi militer KNIL dan juga gugur di Belanda melawan Jerman. Mas Soemitro adalah seorang Sersan Militer Belanda.

Ketika Belanda dikuasai tentara Jerman, ada seruan agar militer Belanda melaporkan diri. Mas Soemitro bukannya melapor, tetapi memilih bersembunyi. Ia juga ikut bergabung dengan gerakan bawah tanah. Mas Soemitro pertama kali tiba di Belanda, sekitar tahun 1913/1914. Semula ingin ikut sekolah perwira, tetapi karena ijazah tak memenuhi syarat, ia ditolak. Belakangan, dia masuk militer juga dengan pangkat lebih rendah, hingga menjadi sersan di tahun 1940-an.

Sepak terjang, Mas Soemitro dalam gerakan bawah tanah tak selamanya mulus. Peristiwa naas menimpanya di akhir musim gugur 1943. Mas Soemitro terjatuh ketika hendak meloncat dari trem dan terluka parah. Dia meninggal pada 26 Januari 1944.

Tak semua orang Indonesia yang jadi serdadu Belanda meninggal di tangan serdadu Nazi Jerman karena membela kejayaan Ratu Wilhelmina dari Kerajaan Belanda. Andi Abdul Azis tak hanya selamat, bahkan akhirnya cukup gemilang. Sejak usia sebelas tahun, putra bangsawan Bugis ini tiba di Negeri Belanda. Sebagai anak angkat dari orang Belanda yang pernah jadi Asisten Residen di Barru, Sulawesi Selatan. Azis disekolahkan seperti anak-anak Belanda di sana. Sampai serangan serdadu Jerman mengganggu sekolahnya.

Di negeri Belanda, Azis bergabung dengan Angkatan Darat Belanda alias koninklijk luchtmacht (KL). Dia terlibat dalam gerakan bawah tanah di garis belakang pasukan Jerman. Azis ikut serta dalam rombongan gerakan bawah tanah yang kabur ke Inggris. Di Inggris, Azis mengikuti latihan pasukan komando di luar London. Dia juga ikut sekolah calon Bintara di Inggris. Di akhir perang, dia sudah menjadi Sersan. Dengan kualifikasi pasukan penerjun, dia dikirim ke Asia Tenggara dan pulang ke Indonesia. Dia termasuk perwira KNIL yang disegani dan pernah jadi Ajudan Presiden Negara Indonesi Timur. Nama Azis terkenal dalam Peristiwa Andi Azis di Makassar 1950.

Kisah Abdul Halim Perdanakusuma tentu lebih seru lagi. Sebelum menjadi navigator pesawat pembom sekutu, Halim adalah perwira Angkatan Laut Belanda di kapal torpedo yang hancur dibom musuh. Bersama Angkatan Udara Inggris dan Kanada, Halim ikut serta dalam misi berbahaya di front pertempuran Eropa.

Sebagai navigator, Halim turut serta pesawat pembom sekutu yang menjatuhkan bom ke berbagai posisi tentara Jerman di Eropa. Halim telah menempuh 42 misi dan kembali dengan selamat. Pangkat terakhirnya dalam armada udara sekutu itu adalah Kapten. Setelah Perang Dunia II selesai, Halim ikut mendirikan Angkatan Udara Indonesia dan namanya diabadikan sebagai bandar udara di Jakarta.

Baca juga artikel terkait FRONT EROPA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight