Cerita tentang Aktor Serba-Bisa Sukarno M. Noor

Oleh: Petrik Matanasi - 14 Februari 2017
Dibaca Normal 2 menit
Di Banten, beredar kabar bahwa ayah Rano Karno ini komunis. Padahal, Sukarno M. Noor adalah pengurus Lesbumi, lembaga kesenian di bawah Nahdlatul Ulama, dan seniman yang besar di dunia film sebagai aktor serba-bisa.
tirto.id - Tak ada stigma paling menyakitkan bagi orang Indonesia selain: "kamu anak PKI."

Hal itu kini dialami Rano Karno yang sekarang maju dalam pencalonan Gubernur Banten minggu ini. Almarhum ayahnya, Sukarno M. Noor, disebut-sebut sebagai kader partai komunis itu. Padahal sederhana saja: Sukarno adalah legenda film remaja menye-menye—drama cinta-cintaan penuh tangis—sedangkan PKI anti-film menye-menye ala Barat.

Soal urusan komunis ini, Rais Am Nahdlatul Ulama dan Ketua MUI Ma'ruf Amin, turun tangan mengklarifikasi bahwa Sukarno bukanlah komunis, melainkan pengurus Lesbumi, lembaga kesenian Nahdlatul Ulama.

Sukarno M. Noor adalah putra dari seorang nasionalis bernama Mohammad Noer. Nama depannya, Sukarno, diberikan padanya tiada lain karena sang ayah menghormati sosok Sukarno yang melawan pemerintah kolonial Belanda dan kemudian jadi proklamator Republik Indonesia.

Mohamad Noer, ayah Sukarno dan kakek Rano Karno yang orang Minangkabau itu, adalah wartawan dari harian Pemandangan. Koran ini adalah salah satu yang paling populer di era pergerakan nasional. Nenek Rano yang bernama Janimah juga orang Minang.

Menurut catatan S.M. Ardan, dkk, dalam Jejak Seorang Aktor Sukarno M. Noor (2004), Sukarno lahir di Rawabangke, Jakarta, 13 September 1931. Setelah kematian Mohammad Noer, ketika Sukarno masih 2 tahun, sang ibu membawa dirinya dan saudaranya pulang kampung. Di masa remajanya, dia sempat menjalani masa SMP di Pematang Siantar, tempat ia menemukan dunianya: seni peran.

Saat usia SMA, dia pun kembali ke Jakarta bersama ibunya demi mendalami seni peran. Di tahun 1950an itu, dia nimbrung bersama para seniman Senen, tempat ia mendalami teater dan film. Sukarno tentu tak langsung melejit, kesuksesannya di dunia sinema tidak instan. Sukarno memulai dari bawah, dan melewati masa-masa sebagai aktor figuran. Bahkan beberapa rumah produksi pun pernah menolaknya.

Infografik Sukarno M Noor


Untuk menyambung hidup sebelum mendapat tawaran-tawaran bagus di film, Sukarno sempat menjadi pak pos di Pos Telepon dan Telekomunikasi (PTT). Akhirnya ia mendapat peran figuran pertamanya dalam film Meratjut Sukma (1953). Peran utamanya di teater pertama kali didapat pada 1953, dalam sandiwara berlakon Reruntuhan karya AU Muscar yang disponsori Palang Merah Indonesia (PMI).

Meski sempat dinasihati ibunya untuk tidak meneruskan cita-citanya menjadi aktor, Sukarno muda jalan terus. Dia sadar tampangnya pas-pasan, tapi, sebagai akto, Sukarno tentu paham bahwa dalam akting kegantengan bukanlah soal utama.

Bertahun-tahun berjuang, sebelum berusia 25 tahun, akhirnya dia mendapatkan peran utama di film Gambang Semarang (1955). Setelahnya, ia terlibat dalam puluhan judul film. Salah satunya dalam Raja Jin Penjaga Pintu Kereta (1974). Di film ini, ia menjadi mantan bintang lenong yang biasa berperan sebagai raja jin, tapi menjadi penjaga palang kereta api untuk menyambung hidup keluarganya.

Sukarno juga pernah berperan sebagai suami dan ayah yang sangat sabar dan jujur dalam film Kemelut Hidup (1979). Dia berperan sebagai Abdurahman, seorang pejabat yang jujur dan sederhana yang mendekati masa pensiun. Istrinya main serong. Satu anak perempuannya menjadi pelacur dan anak perempuannya yang lain depresi karena hamil di luar nikah.

Film lainnya yang menarik adalah Senyum di Pagi Bulan Desember (1974). Dia berperan sebagai salah satu dari tiga narapidana buron. Dalam pelarian, ketiganya diberi makan bocah perempuan yang masih kecil. Bocah perempuan itu kesepian karena sering ditinggal orang tuanya yang sibuk bekerja. Mereka berdua pun kemudian bersahabat.

Orang yang pernah menonton film-filmnya pasti tahu bahwa Sukarno adalah aktor yang peran-perannya tidak monoton. Menjadi protagonis maupun antagonis mampu dia lakoni. Sepanjang hidupnya, dia telah bermain di lebih dari 68 judul film sebagai pemeran utama, dan sekitar 30 judul film sebagai pemeran figuran, juga 20 judul drama.

Selain itu, dia mendapat predikat aktor terbaik dalam Festival Film Indonesia (Piala Citra) dalam film Anakku Sajang (1960), Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1967), dan Kemelut Hidup (1979).

Sebelum meninggal pada 26 Juli 1986, Sukarno sudah mengajak anak-anaknya menjajal film sejak era 1970an. Publik Indonesia, setidaknya mengenal Tino Karno, Suti Karno, dan tentu saja Rano Karno. Rano Karno menjadi salah satu bintang film remaja paling populer di era 1980an.

Setelah Sukarno M. Noor wafat, anak-anaknya dalam wadah Karnos Film memproduksi sinetron legendaris Si Doel Anak Sekolahan yang booming di era 1990an.

Baca juga artikel terkait RANO KARNO atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Film)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight