Menuju konten utama

Cerita-Cerita dari Mereka yang Disebut Manusia Gerobak

"Manusia gerobak" ada yang sudah bertahun-tahun mengadu nasib sebagai pemulung di DKI Jakarta.

Cerita-Cerita dari Mereka yang Disebut Manusia Gerobak
Seorang anak tampak tertidur di atas gerobak didampingi ibunya yang sedang duduk di atas trotoar di Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan, Minggu (27/5/2018) malam. Hasil pemetaan Dinas Sosial DKI Jakarta, tahun 2018 di Jakarta terdapat 284 titik rawan PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) yang lokasinya semula di pemukiman bergeser menuju tempat-tempat umum di Jakarta. tirto.id/Arimacs Wilander

tirto.id - "Manusia gerobak" istilah yang merujuk pada mereka yang membawa serta keluarganya dan berkeliling menarik gerobak di jalanan. Gerobak sebagai tempat tinggalnya. Fenomena manusia gerobak melekat saat berlangsung periode Ramadan, termasuk di ibukota.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno, satu hari menjelang lebaran, mengimbau masyarakat tak memberi uang kepada manusia gerobak. Alasannya karena pemberian itu justru bisa memperkaya mereka secara berlebihan.

"Seminggu mereka dapat Rp15 juta," kata Sandi.

Sandi sejatinya hanya mengulang apa yang telah dikatakan pejabat-pejabat Pemprov DKI sebelumnya. Basuki Tjahaja Purnama, saat masih menjadi gubernur DKI Jakarta pernah mengatakan manusia gerobak itu penipu. Ia juga sempat mengatakan bahwa manusia gerobak cuma pura-pura miskin.

Pada 2012, Pemprov DKI Jakarta sempat mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 16 Tahun 2012 tentang Pembinaan dan Pengawasan Ketertiban Umum mengenai larangan memberi uang kepada pengemis dengan sanksi denda maksimal Rp25 juta bagi yang melanggar.

Namun apa pun yang disikapi pemerintah DKI Jakarta, tidak membuat manusia gerobak gentar. Jakarta punya daya tarik yang kuat bagi mereka yang menyandang sebagai manusia gerobak.

"Kalau bulan Ramadan gini banyak yang beramal," kata Yanto Supratman, 42 tahun, kepada Tirto, pada Minggu (10/6/2018) di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat.

Yanto adalah salah satu manusia gerobak yang sering mendapat sikap miring oleh pemerintah daerah. Ia memulung bersama Endang Suli, 45 tahun, istrinya, di sekitar Jakarta Pusat.

Ia bukan bagian dari kelompok yang disebut pemerintah sebagai pengemis dadakan. Sebab telah sejak 2001 ia mencari uang di Jakarta. Bukan sebagai pengemis, tapi pemulung: dari kertas bekas, botol plastik, atau aluminium. Kalau sudah dirasa banyak, barang-barang itu bakal ditebus ke pengepul.

Yanto tidak menolak bila ada yang memberikan bantuan. Biasanya lazim ia terima pada masa Ramadan. "Tadi ada perempuan yang ngasih dua makanan ini. Katanya habis buka bersama di kantor," ucap Yanto yang di gerobaknya ada kardus, pakaian, dan nasi dua kotak yang baru saja didapat jelang berbuka.

Yanto juga memanfaatkan tradisi Sahur on the Road (SOTR) agar bisa makan tanpa harus keluar uang. Sepanjang Ramadan lalu, ia biasa terjaga hingga pukul 04.00 pagi. Biasanya selalu saja ada yang memberinya bungkusan makanan. Setelahnya, ia bakal beristirahat sebentar di gerobak. Selain itu, ada pilihan lainnya yaitu tidur di rel "dekat Stasiun Pasar Senen."

Tidak jarang pula ada yang memberinya uang, dan itu tidak pernah ditolak. Ia bercerita pada tahun lalu, ia berhasil mengumpulkan Rp300 ribu per hari pada hari terakhir puasa. "Juga ada yang ngasih sirup dan biskuit."

Awalnya Yanto bekerja sebagai pekerja bangunan. Namun, pihak kontraktor memutus hubungan kerja begitu saja. Tabungan mulai menipis dan tuntutan hidup semakin banyak, membuat dia terpaksa alih pekerjaan sebagai pemulung, dengan bantuan gerobak.

Biasanya dalam sehari pada bulan biasa, ia hanya bisa mengumpulkan Rp50 ribu—itu pun kalau tidak tertangkap Satpol PP. Jelas tidak cukup untuk mengontrak rumah. Maka gerobaklah satu-satunya pilihan yang ia miliki.

Untuk mandi atau buang hajat. Yanto memanfaatkan toilet umum. "Jadi Rp50 ribu itu buat makan sama bayar toilet," katanya.

Cerita mirip-mirip juga disampaikan oleh Rojali, 60 tahun dan Winati, 31 tahun, pasangan ayah-anak, mengaku selama malam takbiran biasanya mereka bisa mendapat Rp400 ribu dari satu orang dermawan saja. Jumlah ini setara dengan delapan kali lipat dari penghasilan satu hari penuh pada bulan normal.

"Banyak yang ngasih. Malam takbiran ada yang Rp400 ribu, ada yang Rp200 ribu," ucap Rojali.

Rojali punya satu tempat lagi setelah merebahkan badan selain di dalam gerobak. Namanya trotoar. Tempat orang-orang berlalu lalang. Hal ini ia lakukan bila gerobaknya sudah penuh barang-barang bekas. Ia mengaku lebih nyaman tidur di gerobak. Tidur di trotoar, kata Rojali, membuatnya "kadang sakit punggung dan demam."

Rojali awalnya bekerja sebagai loper koran. Ia berada dalam rantai produksi-distribusi paling ujung dalam industri berita, juga kena imbasnya akibat perubahan zaman ke era digital.

"Dagang koran enggak laku. Terpaksa mulung," ujarnya.

Pinjam Uang Karena Tempat Pengepul Tutup

Sebagaimana tempat usaha lain, tempat pengepul barang bekas juga kerap tak beroperasi jelang hari raya. Itu artinya, para pemulung yang masih bekerja tak bisa menukar hasil kerjanya dengan uang.

Hal ini jadi kesialan bagi keluarga manusia gerobak Amirudin, 40 tahun, Asih, 38 tahun dan Asmirandah, 5 tahun. Biasanya mereka bisa menukar barang bekas di Manggarai, Jakarta Selatan, tapi sudah tutup satu minggu sebelum Lebaran.

"Saya mau menimbang. Rupanya tutup," katanya. Saat itu ia tidak punya uang sama sekali, pun tidak ada dermawan yang kebetulan memberikan uang padanya. "Akhirnya pinjam dikasih Rp10 ribu biar anak saya makannya enggak habis lebaran," katanya.

Amirudin tidak mau selamanya hidup sebagai manusia gerobak. Ia masih berharap bisa sedikit demi sedikit mengumpulkan uang agar bisa pulang ke Semarang, Jawa Tengah. Harapan yang sama juga dimiliki Yanto, asal Lumajang. Ini bisa jadi juga harapan banyak manusia gerobak di Jakarta.

Namun tentu harapan itu tak bisa serta merta mereka bisa lakukan. Banyak faktor yang mesti dipikirkan. Maka, pada tahun-tahun setelah ini, cerita serupa soal manusia gerobak niscaya bakal terus menerus muncul.

Baca juga artikel terkait MANUSIA GEROBAK JAKARTA atau tulisan lainnya dari Naufal Mamduh

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Naufal Mamduh
Penulis: Naufal Mamduh
Editor: Rio Apinino