Menuju konten utama

Ceramah Tarawih Bulan Ramadhan: Keutamaan Itikaf di Masjid

Ceramah tarawih bulan Ramadan bisa membahas tentang keutamaan iktikaf di masjid. Berikut ini contoh ceramah tentang itikaf yang bisa menjadi referensi.

Ceramah Tarawih Bulan Ramadhan: Keutamaan Itikaf di Masjid
KH Ahmad Naqib Noor Rozi memberikan ceramah agama saat pengajian bulan Ramadan di Masjid Agung Kauman, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (17/5/2018). Adapun contoh ceramah tentang itikaf di masjid dapat menjadi referensi bagi para penceramah. ANTARA FOTO/R. Rekotomo

tirto.id - Ceramah tarawih bulan Ramadan yang membahas tentang keutamaan iktikaf di masjid bisa menjadi referensi bagi para penceramah. Lantas, bagaimana contoh ceramah tentang itikaf?

Pada dasarnya, iktikaf merupakan ibadah sunah yang dianjurkan bagi seluruh umat Islam. Muslimin dan muslimat bisa menjalankan amalan ini sepanjang 10 hari terakhir Ramadan, sebagaimana Nabi Muhammad SAW yang jarang meninggalkan ibadah tersebut.

Adapun keutamaan iktikaf salah satunya adalah memiliki peluang untuk memperoleh pahala malam Lailatulqadar. Mereka yang menjalankan ibadah pada malam ini akan mendapatkan pahala yang lebih banyak.

Ceramah Tarawih Bulan Ramadhan: Keutamaan Iktikaf di Masjid

Ada berbagai macam tema ceramah singkat tentang itikaf yang bisa penceramah tuturkan dalam kultum tarawih. Ceramah itikaf dapat membahas perihal cara iktikaf, hukum bagi perempuan dan laki-laki, anjuran, atau keistimewaannya.

Berikut ini contoh ceramah tentang itikaf.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

نَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ،َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ

Latin:

Innal hamda lillah, nahmaduhu wanasta’inuhu wanastaghfiruh, wana’udzu billahi min syururi anfusina, wamin sayyiaati a’maalinaa, mayyahdihillahu falaa mudhilla lah, wamayyudhlil falaa haadiya lah. Asyhadu alla ilaaha illallah wahdahu laa syarika lah, wa asyhadu anna muhammadan ’abduhu warosuuluh. Allahumma shalli wasallim wabarik ’ala sayyidina muhammadin wa ’ala alihi washahbihi ajma’in. amma ba’du.

Artinya:

"Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, yang kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kita dan dari keburukan amal-amal perbuatan kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tak seorangpun dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan maka tak seorangpun mampu memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, berikan rahmat, keselamatan serta barakah kepada Junjungan kita Muhammad beserta keluarga dan shahabatnya semuanya. amma ba’du."

Alhamdulillah, kita dapat berkumpul dalam majelis ilmu yang insyaallah diberkahi Allah SWT. Pada kesempatan ini, saya akan menyampaikan ceramah singkat tentang itikaf di masjid.

Hadirin kaum muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Umat Islam tidak lama lagi akan menapaki pelaksanaan puasa 10 hari terakhir Ramadan. Selain puasa, terdapat salah satu amalan iktikaf yang begitu dianjurkan di 10 hari terakhir bulan Ramadan.

Iktikaf berasal dari kata dalam bahasa Arab I’tikafa-ya’takifu-i’tikafan yang berarti tinggal di suatu tempat. Iktikaf dapat dimaknai berdiam diri di masjid dengan syarat tertentu untuk beribadah seperti berzikir dan membaca Al-Qur'an. Anjuran menunaikan iktikaf di bulan Ramadan salah satunya termuat dalam firman Allah Surah Al-Baqarah ayat 185 sebagai berikut:

وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ

Latin:

...Wa kulū wasyrabū ḥattā yatabayyana lakumul-khaiṭul-abyaḍu minal-khaiṭil-aswadi minal-fajr(i), ṡumma atimmuṣ-ṣiyāma ilal-lail(i), wa lā tubāsyirūhunna wa antum ‘ākifūna fil-masājid(i) tilka ḥudūdullāhi falā taqrabūhā, każālika yubayyinullāhu āyātihī lin-nāsi la‘allahum yattaqūn(a).

Artinya:

“…Makan dan minumlah hingga jelas bagimu [perbedaan] antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai [datang] malam. Akan tetapi, jangan campuri mereka ketika kamu [dalam keadaan] beriktikaf di masjid. Itulah batas-batas [ketentuan] Allah. Maka, janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa,” (QS Al-Baqarah [2]: 187).

Hukum Iktikaf adalah sunah. Ibadah ini begitu dianjurkan karena Rasulullah SAW mencontohkannya selama hidup.

Syarat menunaikan ibadah iktikaf salah satunya seseorang harus muktakif, yaitu memenuhi beberapa syarat seperti muslim, akil (berakal), mumayyiz (dapat membedakan baik dan buruk), hingga suci dari hadas besar.

Hadirin kaum muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Sebenarnya iktikaf dapat dilakukan kapan pun. Akan tetapi, waktu yang paling utama untuk menjalankan iktikaf adalah 10 hari terakhir bulan Ramadan.

Dalam riwayat dari Aisyah RA, dikatakan:

“Sesungguhnya Nabi SAW melakukan iktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan hingga beliau wafat, kemudian istri-istrinya mengerjakan iktikaf sepeninggal beliau.” (HR Bukhari dan Muslim).

Salah satu keutamaan iktikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadan adalah demi menggapai Lailatulqadar, yakni malam yang lebih istimewa daripada 1000 bulan.

Dalam sebuah hadis dikatakan: 

“Carilah Lailatulqadar pada tanggal-tanggal ganjil dari sepuluh akhir bulan Ramadan,” (HR. Bukhari).

Lailatulqadar merupakan malam yang istimewa karena berdasarkan sejarahnya dulu, Allah SWT pertama kali menurunkan Al-Qur’an dari lauhulmahfuz ke langit dunia (baitul izzah) pada waktu tersebut. Allah berfirman dalam surah Al-Qadr mengenai keistimewaan Lailatulqadar sebagai berikut:

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ࣖ

Arab Latinnya:

Innā anzalnāhu fī lailatil-qadr(i). Wa mā adrāka mā lailatul-qadr(i). Lailatul-qadri khairum min alfi syahr(in). Tanazzalul-malā'ikatu war rūḥu fīhā bi'iżni rabbihim min kulli amr(in). Salāmun hiya ḥattā maṭla‘il-fajr(i).

Artinya:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya [Al-Qur’an] pada Lailatulqadar. Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu? Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ [Jibril] dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah [malam] itu sampai terbit fajar,” (QS. Al-Qadr [94]: 1-5).

Hadirin kaum muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Tidak hanya 10 malam terakhir, Nabi Muhammad SAW semasa hidup pernah beriktikaf selama 20 hari di bulan Ramadan. Perkara iktikaf Rasulullah SAW ini diceritakan Ubay bin Ka’ab dalam riwayat sebagai berikut:

“Sesungguhnya Rasulullah SAW beriktikaf pada 10 hari terakhir dari Ramadan. Pernah selama satu tahun beliau SAW tidak beriktikaf, lalu pada tahun berikutnya beliau beriktikaf selama 20 hari.”

Keutamaan lain dari iktikaf adalah ganjarannya berlipat ganda apabila ditunaikan di bulan Ramadan. Allah juga melipatgandakan pahala berbagai amalan lain sebagaimana hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim sebagai berikut:

“Barang siapa yang pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan perbuatan yang diwajibkan pada bulan lainnya. Dan, barang siapa yang melakukan suatu kewajiban pada bulan itu, nilainya sama dengan 70 kali lipat dari kewajiban yang dilakukannya pada bulan lainnya. Keutamaan sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadan,” (HR Bukhari dan Muslim)”.

Hadirin kaum muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Demikianlah ceramah tentang itikaf di masjid. Marilah kita isi 10 hari terakhir bulan Ramadan dengan iktikaf di dalam masjid. Sebab, iktikaf memiliki banyak keutamaan, lalu dapat membantu kita memperoleh malam Lailatulqadar.

Amin amin ya rabbal alamin.

Akhirul kalam wabillahi taufiq wal hidayah.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Simak juga berbagai artikel terbaru seputar ceramah dan kultum Ramadan selengkapnya di sini.

Kumpulan Kultum Ramadan

Baca juga artikel terkait PUASA RAMADAN atau tulisan lainnya dari Syamsul Dwi Maarif

tirto.id - Edusains
Kontributor: Syamsul Dwi Maarif
Penulis: Syamsul Dwi Maarif
Editor: Fadli Nasrudin
Penyelaras: Yuda Prinada