Cangkir Menstruasi, Alternatif Jalani Datang Bulan

Oleh: Patresia Kirnandita - 27 September 2017
Dibaca Normal 3 menit
Pembalut adalah beban bagi lingkungan. Menstrual cup lebih ramah lingkungan dan dompet.
tirto.id - Pernahkah terpikirkan bahwa kebutuhan merawat area kewanitaan sedikit banyak berdampak terhadap lingkungan? Area vulva sebisa mungkin dijaga agar tidak lembab. Untuk itu, setiap kali selesai buang air, perempuan mesti rajin mengelapnya hingga kering, biasanya menggunakan tisu.

Bukan hanya itu. Secara rutin setiap bulan, perempuan menstruasi menyumbang sampah residu di negeri ini. Pembalut yang menggunakan bahan sulit terurai terus menumpuk. Bahkan menurut Tulus Abadi, pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, pada tahun 2015, jumlah sampah pembalut diperkirakan mencapai 1,4 miliar buah per bulan. Angka ini didapat dengan menghitung jumlah perempuan kategori subur di Indonesia, yakni sekitar 67 juta orang.

Baca juga: Apakah Menstruasi Masih Perlu Dianggap Tabu?

Sekalipun menyumbang sampah cukup banyak dan rutin, mayoritas perempuan masih lebih memilih produk ini karena kepraktisannya. Pembalut kain lama menjadi opsi yang tidak populer karena perempuan harus mau repot mencuci dan menjemurnya sebelum digunakan kembali. Bayangkan bila perempuan sedang beraktivitas di luar dan mesti mengganti pembalut kain setiap beberapa jam sekali.

Beberapa peneliti lantas mencoba berinovasi untuk menyelesaikan problem sampah residu berupa pembalut ini. Studi dari IPB misalnya, menemukan pembalut berbahan dasar umbi gadung dan kulit pisang yang tergolong biodegradable atau dapat terurai. Namun, kembali lagi, pengembangan pembalut ramah lingkungan belum dilakukan secara luas sehingga lebih sulit diakses dibanding pembalut merek pasaran.

Bukan hanya perkara lingkungan saja yang menjadi isu dalam penggunaan pembalut. Untuk para perempuan, pernahkan Anda mengalkulasi berapa biaya yang dihabiskan untuk membeli pembalut setiap bulan selama bertahun-tahun?

Sebenarnya, ada alternatif solusi untuk menstruasi, yang tak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga menghemat banyak biaya. Produknya pun mudah ditemukan di berbagai online shop dan bisa dipakai dalam jangka waktu yang panjang.

Menstrual cup atau cangkir menstruasi

Alat ini terbuat dari silikon atau lateks dengan bentuk berupa cawan yang lembut dan lentur. Menstrual cup hadir dalam berbagai ukuran, menyesuaikan dengan ragam bentuk vagina. Cara menggunakannya adalah dengan memasukkannya ke dalam liang vagina.

Berbeda dari pembalut atau tampon sekali pakai, menstrual cup bisa dicuci dan dipakai berulang kali. Salah satu produsen menstrual cup, Diva Cup, menyatakan bahwa banyak pengguna yang mengatakan produk mereka bisa awet hingga 2-4 tahun.

Lalu, kapan saat yang tepat untuk mengganti menstrual cup? Apakah ada tanda-tanda tertentu?

Darah menstruasi potensial membuat warna cup bermateri silikon berubah seiring waktu. Biasanya, kalau warna cup sudah sangat memudar, pengguna akan menggantinya dengan yang baru. Ketika cup sudah berbau tidak sedap pun, pengguna sudah mesti membeli cup penggantinya.

Harga menstrual cup beragam, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp800 ribu, tergantung pada merek. Angka ini memang terlihat besar, tetapi jika dibandingkan dengan pengeluaran pembalut selama 2-4 tahun, masih lebih sedikit biaya yang dikeluarkan untuk menstrual cup.

Baca juga: Revolusi Pembalut dari si Pria Menstruasi

infografik menstrual cup


Dua tahun silam, beredar kabar terdapat pembalut yang mengandung klorin. Zat ini berbahaya bagi kesehatan karena dapat memicu iritasi, bahkan kanker. Menstrual cup diklaim tak mengandung zat-zat berbahaya sebagaimana ditemukan dalam pembalut seperti klorin dan dioksin.

Saat sedang menstruasi dan menggunakan pembalut, sebagian perempuan merasa tidak nyaman atau leluasa beraktivitas. Beberapa saat sekali harus mengganti pembalut karena dirasa sudah tak cukup lagi menampung banyaknya darah yang keluar. Belum lagi jika mereka ingin berenang. Mau tak mau, keinginan ini mesti ditunda sejenak sampai menstruasi selesai.

Ketika perempuan memilih menstrual cup, kedua hal ini tak lagi mesti dikhawatirkan. Pertama, menstrual cup tidak harus dibersihkan sekerap pembalut. Hal ini diungkapkan oleh Ayunda (23) yang telah menggunakan menstrual cup selama setahun terakhir.

“Kalau pakai pembalut, karena darahnya menyebar ke permukaannya, saya merasa yang keluar banyak banget. Padahal, kenyataannya enggak begitu. Waktu pakai menstrual cup, pada awal masa menstruasi pun, darah yang tertampung di sana nggak pernah sampai penuh. Paling cuma sepertiga cup,” cerita Ayunda.

Ia juga mengatakan bahwa menstrual cup yang dipakainya cukup diganti setiap empat jam sekali. Pada keterangan di situs Cleveland Clinic, menstrual cup bahkan bisa tahan digunakan tanpa dicuci sampai 12 jam.

Menstrual cup juga memungkinkan penggunanya untuk berenang. Pasalnya, produk kewanitaan ini dipasang di dalam vagina dan akan menampung darah yang mengalir tanpa menetes ke luar. Sejumlah perempuan dari berbagai negara pun telah memberikan testimoninya saat berenang menggunakan produk ini dalam situs MenstrualCup Reviews.

Terdapat beberapa keunggulan lain dari menstrual cup yang dicantumkan dalam WebMD. Produk ini dikatakan lebih sedikit menimbulkan bau tidak sedap dibanding produk kewanitaan lainnya. Sering kali, bau semacam ini tercium saat perempuan menstruasi ingin buang air atau hendak mengganti pembalut. Hal ini dikarenakan bau darah menstruasi akan menguar saat terpapar udara. Ditambah dengan keadaan area kewanitaan yang lembap karena keringat dan tertutup rapat oleh pembalut, bau tidak sedap pun akan kian tercium.

Beberapa orang berpikir bahwa ada kemungkinan menstrual cup atau produk kewanitaan yang dimasukkan ke vagina lainnya semacam tampon “terjebak” di dalam. Kenyataannya justru sebaliknya. Karena didesain menyerupai cawan dan dengan pinggiran yang dapat menahan posisinya, menstrual cup tidak akan tiba-tiba terjebak di bagian vagina yang lebih dalam. Lubang kecil yang terdapat di sekitar bibir cup berfungsi untuk melepaskan lekatannya ketika seseorang hendak mengeluarkan cup tersebut.

“Selama saya pakai menstrual cup sih, nggak pernah khawatir produk ini akan ‘tersesat’ di dalam vagina saya. Cukup aman kok, karena dia akan nyangkut di liang vagina. Mengeluarkannya pun gampang, tinggal dipencet bagian ujungnya,” aku Ayunda.

Berbagai kelebihan memang dimiliki menstrual cup. Kendati demikian, produk ini tetap punya sisi negatif. Pertama, bagi yang belum pernah menjajalnya, pemakaian menstrual cup bisa lebih memakan waktu dibanding pembalut. Produk ini mesti diposisikan dengan tepat agar tidak mengganggu kenyamanan si pengguna.

Kedua, memasukkan menstrual cup ke vagina sangat mungkin merusak selaput dara. Lantaran hal ini masih diagung-agungkan dalam banyak konteks budaya di Indonesia, mereka yang masih perawan kebanyakan enggan memilih produk ini.

Baca juga: Operasi Selaput Dara Laris karena Obsesi atas Keperawanan

Bagi perempuan yang alergi lateks, menstrual cup juga bukan pilihan yang tepat. Alih-alih menghindari iritasi, produk ini malah dapat menimbulkan ketidaknyamanan untuk mereka.

Memilih ukuran menstrual cup juga merupakan kendala tersendiri. Tak banyak yang bisa memperkirakan ukuran liang vaginanya sehingga bisa memilih ukuran menstrual cup yang tepat saat pertama kali membeli. Ada merek yang membagi produknya dalam dua ukuran: 1 dan 2.

Ukuran 1 untuk pengguna yang belum pernah melahirkan secara normal atau berumur di bawah 30, sementara ukuran 2 untuk mereka yang sudah pernah melahirkan normal atau berusia di atas 30. Ada pula merek yang membagi produknya dalam kategori small-medium-large atau petite-regular-low cervix.

Usaha menjaga lingkungan memang tidak selamanya serupa membalik telapak tangan. Untuk merawat menstrual cup agar tahan lama dan tidak membahayakan kesehatan, pengguna mesti rajin mencucinya setiap kali penuh atau tak sedang dipakai. Merendamnya dengan air hangat adalah saran untuk menjaga produk ini agar tetap higienis. Butuh waktu dan tenaga lebih pastinya, tetapi setimpal bila orientasi pengguna adalah kelestarian lingkungan.

Baca juga artikel terkait PEREMPUAN atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Maulida Sri Handayani
Dari Sejawat
Infografik Instagram