Misbar

Bumi Manusia, Cukup Bersetia dengan Novel tapi Kedodoran

Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. foto/https://falcon.co.id
Oleh: Indira Ardanareswari - 17 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Bumi Manusia sekadar mengulangi masalah dalam banyak film Indonesia: megah dan tertata di depan, terburu-buru di belakang.
tirto.id - Penggemar novel Indonesia pasti akrab dengan roman Bumi Manusia. Novel legendaris karya Pramoedya Ananta Toer ini ditulis sekitar tahun 1975 dalam bentuk tetralogi saat Pram masih menjalani penahanan di Pulau Buru.

Setelah penantian lama, novel pertama dari Tetralogi Buru akhirnya diadaptasi ke layar lebar. Pada 15 Agustus 2019, film adaptasi Bumi Manusia akhirnya tayang di bioskop tanah air. Hanung Bramantyo selaku sutradara mengklaim film adaptasi ini tetap setia pada alur cerita novel.

Menit-menit pertama Bumi Manusia dibuka dengan pagelaran suasana kawasan Kranggan di Surabaya tahun 1898 yang sangat apik. Kehidupan masyarakat tempo dulu berhasil ditangkap dengan cukup baik melalui lanskap perkotaan yang dibelah trem uap serta dilalui pejalan kaki berbagai campuran warna kulit, mulai dari orang pribumi, orang Eropa, hingga Tionghoa.

Minke (Iqbaal Ramadhan) adalah pemuda Jawa berusia 18 tahun yang saat itu masih berstatus siswa Hogere Burgerschool (HBS) di Surabaya. Sekilas perilaku Minke nampak seperti pemuda-pemuda zaman masa kini yang isi kepalanya melulu kebebasan dan westernisasi. Di bawah bantalnya terselip foto Putri Wilhelmina yang hari itu juga dinobatkan menjadi Ratu Belanda. Minke memanggilnya “bidadari”.

Tiba-tiba saja Robert Suurhof (Jerome Kurnia), pemuda Indo kawan Minke di HBS menyelonong masuk dan mencela kebiasaan Minke menyimpan foto “bidadari”. Suurhof lantas menawari Minke untuk bertemu dengan bidadari sungguhan.

Untuk itu, Minke harus mau pergi bersama Suurhof ke Boerderij Buitenzorg (Perusahaan Pertanian Buitenzorg) memenuhi undangan dari Robert Mellema (Giorgino Abraham), putra sulung hartawan Herman Mellema (Peter Sterk).

Suurhof yang ternyata suka berbesar kepala dan agak rasis berusaha meyakinkan Minke untuk menaklukan hati Annelies Mellema (Mawar Eva de Jongh), adik Robert yang kabarnya secantik bidadari.

Benar saja, setelah berjumpa Annelies, Minke bagai orang linglung. Kepala Minke yang semula hanya berisi khayalan tanah Eropa, kini tidak bisa berhenti membayangkan Annelies yang lugu tetapi berpikiran terbuka dan sangat fasih menjelaskan seluk beluk perusahaan keluarganya.

Selain Annelies, sosok Nyai Ontosoroh alias Sanikem (Ine Febriyanti) pun sukses menjamah dunia Minke. Meski Ontosoroh sejatinya hanya gundik dari Herman Mellema, kharismanya berhasil melampaui sang tuan. Sang Nyai malah lebih mirip seperti nyonya-nyonya Belanda yang memegang kekuasaan penuh dalam rumah tangga.

Pada babak ini, Hanung fokus membangun hubungan antara Minke dengan Annelies dan ibunya. Sepanjang 60 menit pertama, penonton dibawa berputar-putar di sekeliling kehidupan keluarga Mellema.



Agaknya babak perkenalan ini berjalan terlalu bertele-tele dengan pengambilan lanskap pemandangan yang diulang-ulang. Tetapi, jika berpedoman dengan kisah yang pernah dituturkan Pram, bagian in memang tergelar cukup panjang.

Untungnya, Hanung tidak membuang kejadian-kejadian lucu yang terjadi antara Minke dan Annelies. Saat Minke mulai merayu dan mencium pipi Annelies dan berharap si gadis tersipu seperti perempuan Eropa pada umumnya, Annelies malah lari tunggang langgang mengadu pada ibunya.

Reaksi Nyai Ontosoroh pun tidak seperti perempuan Jawa yang kaku. Dia dengan lembut mendorong Annelies mengatasi krisis dalam dirinya dan menerima Minke. Bahkan, pemuda itu diundang tinggal bersama di kediaman Mellema agar keduanya dapat selalu bersama sampai tiba pada keputusan untuk menikah.

Karena yang memainkan sosok Minke di sini adalah Iqbaal Ramadhan, Dilan effect jadi tak terhindarkan. Karakter Minke terlanjur menjadi bagian dari memori kolektif para pembaca sastra Indonesia. Di sisi lain, selama Bumi Manusia versi Hanung adalah cinta-cintaan antara Minke dan Annelies, pilihan itu tak buruk-buruk amat.

Lewat tokoh Minke dan Annelies, Bumi Manusia versi Hanung lebih banyak mengedepankan kisah cinta ketimbang konflik sosial dalam balutan hubungan rasial yang bersitegang pada zaman itu. Keputusan ini memang tidak mengejutkan. Hanung sudah mengakuinya jauh-jauh hari.

Tapi keputusan Hanung untuk mengeksploitasi percintaan antara Minke dan Annelies harus dibayar dengan mengorbankan karakter lain. Pertemanan Minke dengan Jan Dapperste (Bryan Domani), anak angkat pendeta yang memilih menjadi pribumi dengan nama Panji Dharma, malah tidak dipertunjukan dengan jelas. Tiba-tiba saja di pengujung cerita mereka langsung akrab hanya karena Jan sekali membela Minke dari olok-olok Robert Suurhof.

Babak percintaan Minke dan Annelies bisa jadi merupakan bagian terbaik dari film ini. Sayang bagian terbaik ini hanya bertahan separuh cerita. Setelah mereka menikah, greget yang sedari awal mewarnai hubungan keduanya langsung sirna.

Karakter Annelies malah terlihat mengganggu dengan bolak-balik lunglai dan pingsan tanpa alasan yang jelas. Belakangan baru diketahui bahwa gadis indo ini mengalami gangguan psikologis dan trauma akibat diperkosa abangnya sendiri. Narasi pada bagian ini tidak dituturkan secara gamblang dan tak ditindaklanjuti.

Antara Sejarah dan Roman

Tidak seperti film-film sejarah garapan Hanung terdahulu, Bumi Manusia bukanlah drama biopik. Ketimbang mengeksploitasi kehidupan seorang tokoh sejarah, Bumi Manusia--sebagaimana yang dikisahkan Pram dalam novelnya--lebih berupaya membangun interaksi sosial antar kelas sosial dalam masyarakat kolonial.

Hanung memang sempat mengutarakan keinginan mengemas Bumi Manusia semirip mungkin dengan novelnya. Kendati sudah mewanti-wanti agar tidak menjadikan Bumi Manusia sebagai referensi sejarah, nampaknya Hanung juga tak ingin abai terhadap beberapa fakta historis, khususnya yang berkenaan dengan posisi nyai.



Bumi Manusia mempertegas pesan historis tersebut melalui cemooh dan perlakuan kurang pantas kepada seorang nyai yang disaksikan sendiri oleh Minke dari atas kereta kuda. Adegan ini tidak ditemukan di mana pun di dalam novelnya, sehingga menjadi jelas bahwa Hanung memang sedang berimprovisasi menciptakan satu adegan di mana Minke belajar menulis kolom tentang pergundikan.



Secara historis, nyai memiliki konotasi yang negatif baik di mata bangsanya sendiri maupun orang-orang kulit putih. Berdasarkan tulisan Elsbeth Locher-Scholten yang bertajuk “The Nyai in Colonial Deli: A Case of Supposed Mediation” (1992), menjadi Nyai memungkinkan seorang perempuan pekerja perkebunan untuk “kabur” dari kerja-kerja kuli.

Posisi ini dianggap kunci hidup enak bagi perempuan buruh perkebunan. Dengan melahirkan anak-anak tuan pemilik perkebunan, secara tidak langsung para nyai juga akan diganjar fasilitas yang memadai. Bahkan ada pula di antara mereka yang diberi akses keuangan.

Meski begitu, sangat jarang ditemui orang-orang Eropa yang memperlakukan seorang nyai dengan cara terhormat. Mereka dianggap tidak lebih dari pemuas hasrat seksual para tuan Belanda, sehingga mustahil dijadikan kawan hidup yang setara.

Karakter Nyai Ontosoroh versi Hanung digambarkan sebagai pendamping yang membawa perubahan dalam bisnis Herman Mellema. Tidak heran jika berkat hal itu Nyai Ontosoroh bisa berlaku seperti nyonya Eropa.

Namun, sebaik apapun Nyai Ontosoroh, ia tidak akan pernah sepadan dengan perempuan Eropa, terutama di hadapan hukum kolonial yang sangat rasis. Berbekal konflik ini, Hanung memutar babak baru Bumi Manusia di sekitar pertarungan antara sang Nyai melawan pemerintah kolonial memperebutkan harta warisan dan perwalian Annelies dan Robert sepeninggal Herman Mellema.

Sayang, bagian ini sangat kedodoran. Peranan Minke sebagai pembangun opini seputar kasus keluarga Mellema lewat tulisan-tulisannya yang tajam cuma jadi tempelan. Satu jam terakhir dari tiga jam durasi film ini serba dibawakan dengan terburu-buru.

Memasuki babak persidangan yang bersambung penyerangan rumah keluarga Mellema, cerita langsung dibawakan tergesa-tergesa. Adegan melompat dari satu ke lainnya, seolah tak ada lagi yang patut dinarasikan. Hanya sesekali saja diperlihatkan pergulatan Minke mencari keadilan lewat tulisan surat kabar. Belum lagi perkenalan Minke dengan Kommer (Christian Sugiono), jurnalis Eropa yang menulis untuk koran Melayu, terjadi dengan sangat tiba-tiba dan tidak berkontribusi banyak.

Bumi Manusia sekadar mengulangi masalah dalam banyak film Indonesia: megah dan tertata di depan, terburu-buru di belakang.

Baca juga artikel terkait MISBAR atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Film)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight