Menuju konten utama

BPS Sebut Inflasi Oktober 2016 Janggal

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan inflasi Oktober 2016 yang disumbang oleh listrik, gas elpiji dan rokok merupakan hal yang janggal. Selain itu, dari 82 kota IHK, sebanyak 48 kota menyumbang inflasi dan 34 kota mengalami deflasi.

BPS Sebut Inflasi Oktober 2016 Janggal
Sri Mulyani menyatakan asumsi dasar ekonomi makro dalam APBN 2017 yaitu pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1 persen, tingkat inflasi empat persen dan APBN 2017 masih dirancang untuk memulihkan ekonomi Indonesia saat ini. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa.

tirto.id - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan inflasi Oktober 2016 yang disumbang oleh listrik, gas elpiji dan rokok merupakan hal yang janggal. Selain itu, dari 82 kota IHK, sebanyak 48 kota menyumbang inflasi dan 34 kota mengalami deflasi.

Seperti dikutip dari kantor berita Antara, Suhariyanto menuturkan kenaikan tarif tenaga listrik menyumbang inflasi 0,06 persen dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi 0,02 persen. Sehingga secara keseluruhan, kelompok perumahan air, listrik, gas dan bahan bakar menyumbang inflasi sebesar 0,56 persen.

“Kelompok ini menyumbang inflasi tinggi pada Oktober 2016, padahal kelompok bahan komoditas makanan harganya relatif terkendali dan cenderung menurun,” ungkap Suhariyanto, di Jakarta, Selasa (1/11/2016).

Sedangkan, kelompok kesehatan pada Oktober 2016 juga menyumbang inflasi sebesar 0,29 persen diikuti kelompok makanan jadi, minuman, rokok, tembakau 0,24 persen serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga 0,10 persen.

Suhariyanto menjelaskan, inflasi dari kelompok makanan jadi disumbangkan oleh kenaikan tarif rokok baik dari rokok kretek, rokok kretek filter, dan rokok putih.

“Masing-masing 0,01 persen,” lapornya lebih lanjut.

“Ini fenomena tidak biasa, karena penyumbang inflasi Oktober adalah harga-harga diatur pemerintah yaitu tarif listrik, gas elpiji dan rokok,” imbuh Suhariyanto.

Selain itu, kelompok sandang menyumbang deflasi tinggi sebesar 0,31 persen, diikuti kelompok bahan makanan 0,21 persen serta kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,03 persen.

“Secara umum, harga komoditas bahan makanan menurun karena ada pengendalian harga dan jaminan pasokan karena distribusi yang bagus, terutama untuk bawang merah, daging ayam ras, telur ayam ras, kentang dan ikan segar” kata Suhariyanto seraya menyebut pemerintah harus memberi perhatian khusus pada harga cabai merah yang masih mengalami kenaikan tinggi.

Sementara itu, menurut BPS, 48 kota mengalami inflasi, dengan Sibolga sebagai penyumbang tertinggi yakni 1,32 persen, dan Depok serta Manado penyumbang terendah yakni masing-masing 0,01 persen. Sedangkan, deflasi tertinggi terjadi di 34 kota, dengan yang tertinggi di Sorong yakni 1,10 persen.

Dengan inflasi pada Oktober 2016 mencapai 0,14 persen, maka inflasi tahun kalender Januari-Oktober 2016 mencapai 2,11 persen dan tingkat inflasi dari tahun ke tahun sebesar 3,31 persen.

Sebagai informasi, inflasi terjadi karena ada kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya beberapa indeks kelompok pengeluaran.

Baca juga artikel terkait BPS atau tulisan lainnya dari Mutaya Saroh

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Mutaya Saroh
Penulis: Mutaya Saroh
Editor: Mutaya Saroh