13 September 2000

Bom BEJ: Keterlibatan TNI, Tudingan terhadap GAM, dan Kejanggalan

Infografik Mozaik Bom Bursa Efek Jakarta
Ilustrasi Mozaik Bom meledak di Bursa Efek Jakarta. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 13 September 2019
Dibaca Normal 4 menit
Bom yang meledak di BEJ pada 13 September 2000 membuat ekonomi Indonesia goyah. Proses pengungkapannya diliputi sejumlah kejanggalan.
tirto.id - Ada kesibukan tak biasa di bengkel Krung Baro Motor pada siang 13 September 2000, tepat hari ini 19 tahun lalu. Nuryadin diminta bosnya, Tengku Ismuhadi Jafar, mengambil sekotak kardus di lantai dua kantor bengkel dan menaruhnya di bagasi Toyota Corona Mark II yang sudah disiapkan di bawah. Sebagai karyawan biasa, ia hanya menurut.

Di bengkel yang berlokasi di bilangan Ciganjur, Jakarta Selatan itu juga sudah berkumpul beberapa kenalan Ismuhadi. Mereka adalah Ibrahim Manaf, Ibrahim Hasan, dan Irwan. Dua nama terakhir adalah tentara. Ibrahim Hasan anggota Kostrad, dan Irwan anggota Kopassus.

Selesai dengan tugas pertama, Nuryadin lantas disuruh untuk merusak nomor mesin mobil tersebut. Ia lagi-lagi hanya menurut. Mobil itu kemudian dikemudikan oleh Irwan, sementara Ismuhadi, Ibrahim Hasan, dan Ibrahim Manaf mengikutinya dengan mobil lain.

Tujuan pertama mereka siang itu adalah kantor Bank BNI di Jalan Raya Ragunan. Hanya Ismuhadi yang turun, sementara yang lain menunggu di mobil. Irwan sempat merepet kepada Ismuhadi gara-gara terlalu lama di bank sementara siang begitu teriknya. Irwan khawatir pada kotak di dalam bagasi mobilnya.

Dua mobil itu lantas menuju ke Bank BCA di Jalan Cilandak KKO. Rupanya Ismuhadi telah menarik sejumlah besar uang dan hendak membeli dollar di bank kedua ini. Entah tersebab apa, Ismuhadi menitip uang dollar itu pada petugas bank dan berjanji akan kembali untuk mengambilnya nanti.

Usai beres semua urusan, kedua mobil itu lantas meluncur ke tujuan terakhir mereka siang itu: Bursa Efek Jakarta (BEJ), yang sekarang bernama Bursa Efek Indonesia (BEI). Kedua mobil itu beriringan menyusuri Jalan T.B. Simatupang, Margasatwa, Warung Jati, Warung Buncit, Gatot Subroto, dan terus menuju Kawasan Bisnis Terpadu Sudirman hingga sampai di BEJ.

Hanya Irwan dan mobilnya yang masuk gedung BEJ, sementara mobil satu lagi berhenti di depan gedung tersebut. Irwan masuk dan memarkir mobilnya di lantai P2. Ia lantas pergi begitu saja meninggalkan mobilnya yang belum terparkir rapi.

Irwan segera bergabung dengan kawan-kawannya yang telah menunggu di luar. Bergegas mereka menuju kawasan Parkir Timur Senayan, meninggalkan mobil Toyota Corona Mark II dan kotak kardus di yang tersimpan bagasinya. Di Parkir Timur Senayan mereka istirahat sambil menikmati minuman ringan.

Kira-kira pukul 15.30 WIB, saat Ismuhadi dan kawan-kawannya memuaskan dahaga, tiba-tiba terdengar ledakan keras dari arah BEJ. Asap hitam tebal membubung dari gedung itu. Orang-orang seisi gedung BEJ dan gedung-gedung di sekitarnya berhamburan keluar karena panik.

Ismuhadi dan kawan-kawannya lalu bergerak lagi. Mereka kembali melewati jalan depan gedung BEJ yang dilalap api, lalu meneruskan perjalanan kembali ke Ciganjur.

Kerugian yang Ditimbulkan Bom BEJ

Ledakan di BEJ benar-benar menggegerkan Jakarta. Ia menambah daftar panjang kasus ledakan bom yang mengguncang Indonesia pada tahun itu. Kian menggegerkan lagi karena peristiwa itu terjadi tepat sehari sebelum sidang kedua mantan presiden Soeharto.

Esoknya, harian Kompas melaporkan 10 orang tewas akibat ledakan bom TNT yang bersumber dari lantai parkir P2. Semua korban tewas ditemukan di dekat titik ledakan. Ada yang ditemukan terjebak di dalam kendaraan yang terparkir, ada juga yang tergeletak di lantai.

Seorang pekerja BEJ yang berada di lantai parkir P2 saat ledakan terjadi dan selamat mengatakan bahwa sumber ledakan adalah sebuah mobil yang terparkir di sana.

“Seorang saksi, Suryadi, petugas satuan pengaman (satpam) di lantai P2, saat terjadi ledakan mengaku sempat terlempar dan membentur tiang. Meski tidak tahu persis apa yang meledak, Suryadi memperkirakan ledakan berasal dari sebuah mobil yang diparkir di bagian tengah antara kantin dan kantor pos, di lantai parkir tersebut,” tulis harian Kompas (14/9/2000).

Selain sepuluh korban tewas, 90 korban lain mengalami luka berat dan ringan, 104 unit mobil rusak berat, dan 57 unit mobil rusak ringan. Kegiatan transaksi di bursa berhenti total selama dua hari. Dan karena perdagangan saham terhenti, maka perdagangan uang jadi marak. Pengaruhnya, rupiah jadi terpuruk seketika.

Terhentinya operasi BEJ diperkirakan berdampak panjang terhadap aktivitas ekonomi dan bursa global. Pasalnya, gedung BEJ juga jadi kantor broker-broker investasi asing maupun domestik, bank komersial, Bank Dunia, juga beberapa perusahaan besar. Selain itu, BEJ juga punya jaringan ke Bursa Efek Hongkong, Tokyo, New York, London, hingga Paris.

Ekonom Raden Pardede dalam analisisnya yang terbit di Kompas (18/9/2000) menyebut pemboman BEJ juga menambah tekanan pada pasar modal dan pasar uang Indonesia yang sejatinya belum pulih dari krisis. Menurut hitungannya, selama dua hari berhentinya perdagangan saham, kerugian yang dialami penyelenggara transaksi saham dan pemerintah mencapai Rp 4,52 milyar.

Kerugian lain adalah menurunnya minat investor asing yang bisa menjatuhkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Di saat bersamaan juga menjatuhkan nilai kapitalisasi pasar, padahal nilai kapitalisasi pasar Indonesia sudah menurun sejak akhir tahun 1999.

Pada Desember 1999 nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp 450 trilyun dengan IHSG pada level 676. Sehari sebelum bom meledak nilai kapitalisasi pasar turun hingga Rp 307 trilyun dengan IHSG pada level 442.

“Bila IHSG turun pada beberapa hari mendatang, maka nilai kapitalisasi pasar pun akan menurun,” tulis Raden Pardede.

Tak habis di situ, masih ada implikasi lanjutan yang mesti ditanggung. BPPN maupun BUMN jadi kesulitan menjual aset-aset dengan harga yang baik. Perekonomian secara umum juga jadi limbung karena pasar modal adalah penopang perekonomian Indonesia selain sektor perbankan.

“Pada saat peranan perbankan sebagai sumber pembiayaan belum pulih, penurunan peranan pasar modal sebagai alternatif sumber pembiayaan jelas sungguh memprihatinkan,” imbuhnya.

Kejanggalan Penyelesaian Kasus

Mobil yang meledak di lantai parkir P2 BEJ tak lain adalah mobil yang dikendarai Irwan. Kotak kardus di bagasi mobil itu berisi bom yang sudah dirakitnya bersama Ibrahim Hasan. Bagi mereka yang tergabung dalam kesatuan elite TNI, merakit bom adalah kemampuan dasar yang biasa.

Polisi pada akhirnya berhasil menangkap komplotan ini. Selain Ismuhadi, Ibrahim Manaf, Nuryadin, Irwan, dan Ibrahim Hasan, polisi juga menangkap Iswadi H. Djamil alias Bang Is, Iwan Setiawan alias Husein bin Suripto, M. Mudin, dan Saifan Nurdin alias Ipan. Mereka semua dituduh sebagai dalang di balik beberapa pemboman di Jakarta dan dikaitkan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Harian Kompas (10/4/2001) melaporkan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Endang Rachwan dalam dakwaannya atas Ismuhadi dan Nuryadin menyebut bahwa BEJ sengaja diledakkan untuk melumpuhkan perekonomian Indonesia.

Ismuhadi membantah semua dakwaan itu. Ia menolak disebut sebagai aktor intelektual di balik pemboman BEJ. Ia juga membantah tuduhan bahwa dirinya adalah anggota GAM dan bengkelnya sebagai tempat merencanakan dan merakit bom.





"Saya merasa dikorbankan demi menjaga citra pemerintah Indonesia di mata investor asing, untuk menjaga stabilitas keamanan negara," kata Ismuhadi di persidangan sebagaimana dikutip Kompas (17/4/2001).

Sejak awal, pengungkapan dan penyelesaian kasus pemboman BEJ penuh kejanggalan. Majalah Gatra (7/10/2000) menyebut bahwa polisi sebenarnya sudah mengintai bengkel Krung Baro Motor sejak lama. Hanya saja, pengintaian itu sama sekali tak terkait dengan urusan terorisme, melainkan penyelundupan ganja dari Aceh.

Istri Ismuhadi, Cut Hasnani, juga membantah bahwa bengkel suaminya jadi tempat merencanakan teror. Ketika bom BEJ meledak, Ismuhadi mengaku tidak sedang bersama Irwan dan kawan-kawan, melainkan bertransaksi mobil Suzuki Sidekick di Jati Padang, Jakarta Selatan.

“Saat bengkelnya digerebek, Ismuhadi sebenarnya sedang tidak di tempat. Ia kemudian datang ke markas Polda untuk membebaskan karyawannya yang diciduk. Bukannya berhasil, ia sendiri malah dijebloskan ke sel tahanan. Penasihat hukumnya menganggap penangkapan ini menyalahi prosedur. Mereka pun berniat mempraperadilankan Polda Metro Jaya,” tulis Gatra.

Gatra juga mendapati bahwa keterkaitan Ismuhadi dengan GAM hanya bersumber dari keterangan penyidik polisi. Penasihat hukum Ismuhadi, Johnson Panjaitan, menyatakan bahwa Ismuhadi hanya mengaku sebagai aktivis Forum Perjuangan dan Keadilan Rakyat Aceh (Fopkra).

Wakil Panglima GAM wilayah Aceh Utara, Abu Sofyan Daud, yang dikonfirmasi oleh Gatra juga menolak tudingan keterkaitan organisasinya dengan pemboman di BEJ.

"Kalau mau, mengapa harus di Jakarta. Di sini banyak proyek milik orang asing," ucapnya.

Pengakuan para tersangka yang tertera dalam BAP polisi diduga dibuat di bawah tekanan. Pasalnya, Nuryadin dalam sidang pembacaan eksepsi mengaku mendapat intimidasi dari penyidik kepolisian. Selama proses penyidikan, Nuryadin tak jarang mendapat tinjuan di kepala, tendangan, dan ancaman ditembak kalau tak mau mengaku terlibat pemboman BEJ.

"Walaupun saya sendiri sudah menjelaskan apa yang dituduhkan itu tidak benar dan tidak pernah saya mengerti, tetapi oknum-oknum [kepolisian] tersebut makin bertambah garang dan memperberat siksaan terhadap saya," kata Nuryadin dalam eksepsinya sebagaimana dikutip Kompas (17/4/2001).

Meski diliputi perbagai kejanggalan, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang menyidang kasus ini menetapkan Ismuhadi dan Nuryadin bersalah. Mereka divonis hukuman penjara 20 tahun. Sementara Irwan dan Ibrahim Hasan yang disidang secara militer dijatuhi hukuman seumur hidup.

Baca juga artikel terkait LEDAKAN BOM atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Hukum)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight