Anas Syahrul Alimi

"Bikin Konser atau Festival Musik Harus Punya Konsep yang Kuat"

Oleh: Nuran Wibisono - 6 Juli 2019
Dibaca Normal 5 menit
Penyelenggara Prambanan Jazz ini mengenang kembali susahnya bikin festival musik di Prambanan.
tirto.id - Saat kamu membaca artikel ini, Prambanan Jazz sedang memasuki hari kedua. Di hari pertama (5/7), sekitar 10 ribu penonton memadati area Candi Prambanan, Yogyakarta ini. Di hari pertama, gelaran yang memasuki tahun kelima ini dimeriahkan oleh Calvin Jeremy, Ardhito Pramono, Sisitipsi, Danilla Riyadi, hingga Calum Scott.

Hari kedua, akan ada Saxx in the City, Pusakata, Maliq & D'Essentials, Yura, dan ini yang spesial: Yanni. Musisi Yunani bernama asli Yiannis Chryssomallis ini dikenal sering mengadakan konser di bangunan bersejarah. Yanni pernah manggung di Taj Mahal (India), Piramida dan Sphinx (Mesir), Byblos (Lebanon), Kremlin (Rusia), dan yang paling legendaris: Acropolis, Yunani.

Album Live at the Acropolis dirilis pada 1994, dan hingga kini diperkirakan terjual sebanyak 7 juta keping di seluruh dunia, ditonton oleh sekitar 1,5 miliar orang, dan menjadi peringkat dua dalam senarai video musik paling laris sepanjang masa, hanya kalah oleh Thriller milik sang raja pop, Michael Jackson.

Kini Yanni datang ke Yogyakarta dan akan bermain di Prambanan, candi Hindu terbesar di Indonesia sekaligus Situs Warisan Dunia UNESCO yang dibangun pada pertengahan abad 9. Mengundang Yanni adalah hasrat personal Anas Syahrul Alimi, CEO Rajawali Indonesia, pihak yang menyelenggarakan Prambanan Jazz dan banyak konser serta festival lain --termasuk Jogjarockarta, dan konser Mariah Carey di Borobudur.

Dengan sambungan telepon, alumni Universitas Negeri Yogyakarta ini berkisah tentang Prambanan Jazz, hasratnya mendatangkan artis-artis idolanya, dan kesusahan di balik glamornya profesi sebagai event organizer konser dan festival skala internasional.

Apakah anda punya keinginan untuk membuat Yanni in Acropolis versi Prambanan?

Iya betul. Jadi sebenarnya kami bahkan punya ide untuk membuat dokumenter Yanni Live at Prambanan Temple, dan itu sedang kami komunikasikan dengan pihak manajemen Yanni. Karena ini terkait dengan beberapa hal, misalkan soal lisensi, hak cipta, dan sebagainya.

Ide ini sebenarnya masih berkesinambungan dengan ide yang paling efektif dan efisien untuk melakukan branding di tingkat dunia: bikin konser atau festival. Seperti kita lihat kalo Live at the Acropolis, semua orang tahu album itu dan jadi album video musik terlaris kedua. Ini sempat saya sounding ke pihak sponsor, sayangnya kesadaran akan itu rendah. Padahal, menurutku, iklan dan branding itu lebih efektif dan murah jika dibandingkan dengan melalukan pemasangan iklan di luar negeri.

Soal video musik, berarti sampai sekarang kalian masih negosiasi terkait right dan segala macem ya?

Iya. Jadi memborong mereka itu sangat mahal. Karena rombongannya ada 60 orang. Dia ini full orkestra. Dan musisinya dari dia semua. Saya sudah pernah menawarkan ada kolaborasi dari musisi Indonesia, dan bilang kalau musisi Indonesia itu hebat dan gak kalah. Cuma ini terkait apa ya...

Chemistry dan lain sebagainya ya?

Nah, chemistry kan bukan sesuatu yang mudah. Tapi ada keinginan mengkolaborasikan itu dengan musisi Indonesia, dan sudah saya sampaikan bahwa musisi Indonesia juga tidak kalah. Tapi ini kan butuh waktu yang lama untuk meyakinkan mereka.

Flashback ya. Ini kan tahun ke 5 penyelenggaraan Prambanan Jazz, sudah jadi salah satu festival jazz yang paling ditunggu ya. Tapi di awal-awal itu pasti nggak mudah meyakinkan orang-orang bahwa festival ini akan berhasil. Bagaimana sih proses pertama kalian bikin Prambanan Jazz.

Jadi memang waktu kami bikin memang susah, mungkin lebih banyak halangan yang kami alami ya. Misalnya nih bagaimana kami meyakinkan pihak pengelola candi, dalam hal ini TWC (Taman Wisata Candi). Kami itu sampai melakukan audiensi dan menawarkan konsep, tapi ditolak, bahkan dianggap sesuatu yang tidak penting.

Sampai beberapa model bisnis itu kami tawarkan, bahwa ini adalah sesuatu yang efektif untuk melakukan branding dan bla bla bla. Sampai pada akhirnya cara yang paling mudah adalah kami sewa lahan, nah akhirnya kami sewa lahan. Pada saat itu artis pertamanya adalah Kenny G.

Aku milih Kenny G waktu itu karena aku berkeyakinan Kenny G kalau dimainkan di Prambanan itu akan menjadi new experience. Ini mengawinkan dua mahakarya yaitu mahakarya candi dan mahakarya musik. Karena biasanya di Indonesia, Kenny G itu main di balroom. Sebelumnya aku pernah nonton Kenny G di Makassar, dan hanya ditonton gak lebih dari 200 orang. Karena menurutku itu salah venue.

Dan ternyata saat aku bikin Kenny G di Prambanan, saat itu persiapannya cuma 1,5 bulan, target kami 2.500 penonton dan yang nonton ternyata sampai 6.000. Ya kaget, karena jauh melebihi target. Dugaanku benar, bahwa orang itu membutuhkan suatu pengalaman baru menonton musik. Dan menonton festival musik dengan background candi ya baru pertama ini kan. Dan waktu itu sponsor juga nggak banyak. Dan tahun kedua juga sama.

Jadi butuh waktu tiga tahun ya untuk meyakinkan sponsor bahwa ini acara bagus dan layak untuk didukung?

Sebenarnya butuh 2 tahun. Karena tahun kedua sudah dapat title.

Sekarang konser dan festival musik ada banyak banget. Promotor musik juga banyak bermunculan, dari yang skala komunitas, hingga yang skala raksasa. Sebenarnya bagimana sih bisnis promotor musik itu ? Apa ini tipikal bisnis yang high risk high return gitu?

Nah, pertanyaan ini sebenernya adalah pertanyaan paling penting. Jadi memang bisnis promotor itu high risk high return, jadi makanya yang bikin harus bisa mitigasi resiko, dan perhitungan. Yang bisa bikin orang jadi ahli mitigasi, tentunya karena jam terbang dan pengalaman. Harus bisa berhitung, itu satu.

Yang kedua: konsep adalah hal yang penting, baik itu festival maupun konser tunggal. Jadi kalau konsep ini tidak menarik sudah pasti tidak akan membuat sponsor tertarik, tidak akan bisa menarik penonton. Dan ini penting karena festival kita dihidupin dari tiket dan sponsor. Sementara kami punya rumus sponsor harus bisa menutup sekian persen dari biaya produksi, sehingga biaya tiket tidak mahal. Nah kalau biaya tiket tidak mahal maka penonton akan banyak. Nah gitu kan. Hitung-hitungan itulah yang kemudian yang harus tuntas, kalau meleset ya bahaya.

Anda sendiri mempelajari soal perhitungan dan segala macam mitigasi resiko itu belajar berapa tahun si? Setahu saya, anda kan juga bukan orang baru di dunia penyelenggaraan konser.

Sebenarnya aku pertama kali bikin konser pas masih kerja di dunia penerbitan buku, tahun 2002. Waktu itu aku bikin konser Glenn album pertama, Selamat Pagi Dunia, dan ternyata sold out. Kaget aja waktu itu. Tapi kan waktu itu, bikin konser hanya hobi, bukan pekerjaan utama. Nah saya benar-benar serius itu pas tahun 2011. Saat itu saya bikin konser Trio Lestari. Jadi saya belajar berhitung itu membutuhkan waktu sekitar 5-6 tahun. Karena saya juga pernah terjerembab dan salah hitung.


Di masa sekarang kan artis makin melimpah, makin banyak pilihan. Internet juga memudahkan kita untuk mencari musisi untuk tampil di sebuah konser. Apakah ini malah mempersulit promotor karena jadi terlalu banyak pilihan?

Sebenarnya justru tidak, kalau konsepnya jelas. Misal nih Prambanan Jazz tahun ini kami pengen mendekatkan milenial dengan tagline Music Heritage and Extraordinary. Jadi secara konsep, kami ingin banyak meraih penonton milenial. Makanya hari pertama artisnya paling banyak dari band milenial, tinggal dicari siapa sih artis yang paling banyak fansnya. Dan sekali lagi, ini soal konsep. Kalau tahun kemarin kan hari pertama itu temanya reuni.

Tapi tentu saja gak mudah juga. Karena tempat kami di Jogja, halangannya lebih besar ketimbang bikin konser di Jakarta. Pertama, secara jarak. Penonton kami lebih banyak dari luar kota. Dari Jogja itu sekitar 40 persen saja. Itupun terbagi di sekitarnya, bukan di Jogjanya. Sekitar 60 persen dari kota lain dan luar negeri. Penonton Yanni itu 60 persen dari luar negeri.

Jadi kami harus bikin konsep Prambanan Jazz dengan kuat, jadi orang mau bela-belain datang jauh ke sini. Ya seperti orang mau datang ke Bakmi Mbah Mo (bakmi masyhur di Jogja yang jauh dari pusat kota, -red), karena rasanya enak ya meskipun jauh tetap saja didatangi.

Nah terus untuk tim kurasi artis, siapa yang bertanggung jawab untuk urusan ini?

Kebetulan aku. Aku diskusi banyak sama Bowo --Bakkar Wibowo, Direktur Kreatif--, tapi tetep aku yang memutuskan dan itu tentu saja dengan diskusi tim dulu, baru aku yang mengetuk palu yang memutuskan headlinenya siapa.

Anda sudah mendatangkan banyak musisi dan bisa bikin banyak konser bagus, tapi aku yakin anda belum puas. Pasti masih ada yang ingin dicapai, entah mendatangkan artis atau bikin konsep baru. Apa langkah anda selanjutnya?

Saya ingin bawa Andrea Bocelli.

Di Prambanan Jazz atau konser tunggal?

Konser tunggal, bisa di Prambanan atau di Borobudur. Saya sudah melakukan korespondensi sudah sejak 3 tahun belakangan ini. Tapi belum pas waktunya

Jadi Yanni ini adalah mimpi terbesar saya, setelah Andrea Bocelli. Pada 2008 di Tuscany, Italia, aku nonton Andrea Bocelli. Waktu itu konsernya landscape indah, stage-nya hanya batu-batu yang ditumpuk gitu aja (tertawa). Aku mikir di Jogja ada yang lebih indah dan megah ketimbang ini, dan suatu hari aku akan bikin.

Cita cita terbesarku ya pengen bawa Andrea Bocelli di tempat yang bersejarah begitu. kemudian pengen bawa Adele, kemudian Michael Buble, dan satu lagi: lagi Norah Jones. Dan empat artis itu harus ke Jogja. Itu keinginan saya, melakukan ikhtiar dan branding terhadap peninggalan nenek moyang.


Festival musik kan lagi rame nih dari yang skala kecil skala kecil sampai yang skala gede kayak Prambanan Jazz. Menurut anda, bagaimana masa depan festival musik di Indonesia, dan apakah dengan semakin banyaknya festival akan mempercepat masa jenuh?

Bagiku yang akan bertahan adalah sesuatu yang kreatif, yang bisa menciptakan sesuatu yang baru. Karena ketika orang pada titik jenuh dan mulai jumud, maka mereka akan meninggalkan. Itu hukum alam.

Kami, meskipun sudah punya background Prambanan yang sangat luar biasa, tetap berusaha bikin konsep-konsep baru. Misalkan menggandeng seniman-seniman untuk commision artist. Tahun ini aku menggandeng Agan Harahap. Dia akan merespons artis-artis yang main. Aku juga menggandeng Heri Pemad untuk bikin display art-nya.

Kemudian kami juga punya Pasar Kangen yang jual makanan-makanan klasik. Karena Prambanan Jazz ini aslinya menjual kenangan. Karena orang yang pernah hidup di Jogja, pernah sekolah dan kuliah, atau pernah punya pacar di sini, pasti kangen toh? Nah itulah yang kemudian bisa membuat kami bertahan. Kalau bikin festival asal-asalan, ya wassalam. Akan mempercepat masa jenuh.

Dan menurut anda, Prambanan Jazz punya konsep yang kuat seperti itu?

Iya. Dan yang menarik beberapa artis besar dunia sudah banyak yang minta diundang untuk konser di Prambanan. Ada satu manajer musisi besar dunia (Anas meminta off the record) yang kapan hari kirim surel, bilang, "Artisku ingin konser di candimu."

Baca juga artikel terkait PRAMBANAN JAZZ 2019 atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Wawancara)

Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Zen RS
DarkLight