Mengusung Festival Musik Sebagai Atraksi Wisata di Indonesia

Oleh: Nuran Wibisono - 22 April 2017
Dibaca Normal 3 menit
Sudah sejak lama negara seperti Amerika Serikat dan Inggris memasukkan festival musik sebagai atraksi wisata. Bagaimana dengan di Indonesia?
tirto.id - Beberapa hari lalu, World Economic Forum merilis laporan soal daya saing pariwisata antarnegara dunia. Indonesia menempati peringkat 42 dari 136 negara, naik 8 tingkat dari posisi tahun sebelumnya. Meski demikian, Indonesia masih tertinggal jauh dari triumvirat raksasa pariwisata Asia Tenggara: Singapura, Thailand, dan Malaysia. Untuk itu, selain perkara kebijakan, Indonesia juga perlu mendorong potensi-potensi pariwisata lain. Salah satunya adalah potensi dari festival musik.

Kenapa festival musik? Salah satunya karena festival musik bisa mengundang banyak orang dalam jumlah masif. Di luar negeri, festival musik banyak dijadikan tujuan wisata. Coachella, misalkan. Festival musik tahunan ini berlokasi di Indio, California, Amerika Serikat. Diadakan sejak 1999, festival ini sudah terbukti menghadirkan ratusan ribu manusia. Pada 2016, tiket festival ini terjual sekitar 195 ribu lembar dan menghasilkan pemasukan kotor sebesar 94,2 juta dolar. Tahun ini, Coachella diadakan pada 14-16 April, dan 21-23 April.

Alasan lain adalah karena dimensi ekonomi festival musik yang melibatkan banyak sekali rantai ekonomi. Menurut Chris Gibson dan John Connel, dua akademisi Australia yang menulis buku Music Tourism, festival musik punya potensi ekonomi langsung. Penonton mengeluarkan uang untuk transportasi, bensin, akomodasi, tiket, suvenir, makanan, minuman, hingga hotel.

Begitu pula soal jasa. Sebuah festival musik akan memerlukan penjual makanan dan minuman, penyedia jasa lighting, jasa panggung, penyewaan alat band, sound system, percetakan, jasa keamanan, sewa tenda, tukang sablon, hingga tukang parkir. Itu belum menyertakan fasilitas hotel atau transportasi, juga belum menghitung tenaga kerja informal seperti penjual kaus, pedagang kaki lima, hingga tukang ojek.

"Efek ekonomi dari festival musik bersifat panjang dan melampaui aspek geografis," tulis Connel dan Gibson.

Festival musik sebagai bentuk pariwisata sebenarnya bukan hal baru. Pada tahun 1606, diselenggarakan festival musik bernama Antrim's Oul' Lammas Fair di Ballycastle, Irlandia Utara. Lalu pada tahun 1724, ada festival Three Choirs di Inggris. Festival itu adalah festival musik tertua di Eropa, dan masih berlangsung hingga sekarang.

Sedangkan Gibson dan Connel mencatat setidaknya bentuk perjalanan mencari festival musik sudah ada sejak abad 19. Saat itu para agen perjalanan sudah mulai mempromosikan musik-musik opera. Di Venesia misalnya, disediakan band dari kesatuan militer untuk menghibur para wisatawan. Festival musik sebagai bentuk pariwisata makin berkembang setelah Perang Dunia I dan era Depresi Besar.

Festival musik kemudian jadi bentuk wisata andalan baru, terutama bagi kota kecil yang selama ini tak punya identitas pariwisata. Kota Edmonton di Kanada, misalnya. Kota ini mengandalkan festival sebagai daya tarik kota, membuat kota ini dijuluki Kota Festival Kanada. Hingga 2016, kota ini punya sekitar 13 festival musik yang rutin diadakan tiap tahun. Sejumlah festival tersebut berhasil mendatangkan sekitar lebih dari 2,7 juta turis dan menghasilkan sekitar 65 juta dollar setiap tahunnya

Festival musik yang terkenal dan bersejarah, salah satunya adalah Festival Woodstock yang diadakan di Amerika Serikat pada tahun 1969. Festival tersebut dihadiri oleh kurang lebih 500.000 penonton. Saat ini festival musik terbesar di dunia adalah Donauinselfest yang diadakan selama 3 hari di Wina, Austria. Setiap tahun festival ini dihadiri oleh 2.500.000 - 3.000.000 penonton.

Festival Musik di Indonesia

Indonesia sudah lama dikenal sebagai negara dengan skena musik paling bergairah di Asia, bahkan dunia. Ia punya sejarah musik populer yang merentang panjang. Pernah disambangi Deep Purple pada 1975. Juga menjadi salah satu tempat konser Metallica paling mengerikan, yang pecah menjadi kerusuhan pada April 1993. Hingga punya festival jazz dengan jumlah panggung terbanyak di dunia.

Jika bicara festival musik di Jakarta, umurnya pun juga panjang. Festival musik tertua di Indonesia yang pernah tercatat adalah Jazz Goes to Campus. Festival yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia ini sudah diadakan sejak 1976. Namun kelemahan festival ini adalah, ia sukar untuk menjadi besar sebab dikelola oleh para mahasiswa dan tidak bertujuan menjadi sebuah industri.

Festival musik "lawas" lainnya adalah Jak Jazz. Acara ini pertama kali diadakan pada 18,19, dan 20 November 1988. Penggagas festival ini adalah musisi Ireng Maulana. Helatan pertama diikuti oleh 150 musisi. Ireng menyebut JakJazz kala itu sebagai pesta jazz terbesar di Asia. Sayang beberapa kali festival besar ini absen karena berbagai halangan.

Saat ini festival musik terbesar di Indonesia adalah Java Jazz. Pada 2010, Museum Rekor Indonesia memberikan rekor kepada Java Jazz sebagai festival musik jazz terbesar di dunia karena menampilkan 1.300 orang musisi dan 21 panggung, dan menjual tiket sekitar 120 ribu lembar. Pada 2017, jumlah panggungnya memang menurun, menjadi 14 panggung. Namun Java Jazz tetap menjadi salah satu festival musik terbesar di Asia.

Selain Java Jazz, ada banyak festival musik di Indonesia. Sebut saja Soundrenaline. Festival ini sudah berjalan sejak 2002. Ada juga Rock In Solo yang diinisiasi sejak 2004. Atau Ngayogjazz yang pertama kali hadir pada 2007.

Di luar nama itu, ada nama-nama pendatang baru yang diadakan pasca 2010. Mulai dari Rock In Celebes, Hammersonic yang dimulai sejak 2012, hingga Djakarta Warehouse Project yang pertama muncul pada 2014. Beberapa festival musik di Indonesia menggabungkan juga menggabungkan musik dan pemandangan alam. Semisal Jazz Gunung yang bertempat di Bromo, Jawa Timur. Atau Ijen Summer Jazz yang bertempat di kaki Kawah Ijen, Jawa Timur.

Infografik Festival Musik di Indonesia


Nama-nama festival musik besar itu amat mungkin dipromosikan sebagai daya tarik wisata. Mereka dikunjungi oleh belasan hingga puluhan ribu penonton lintas negara, memberi dampak ekonomi langsung bagi banyak orang. Saat ini salah satu daerah yang sadar tentang pentingnya festival musik adalah Banyuwangi. Daerah di ujung timur pulau Jawa ini memasukkan Ijen Summer Jazz sebagai agenda rutin pariwisata, ditambah dengan puluhan festival lain.

Tentu saja perlu banyak perbaikan yang mendasar. Semisal waktu penyelenggaraan. Salah satu ciri festival musik yang bisa dikemas sebagai atraksi pariwisata adalah punya bulan penyelenggaraan yang tetap. Sebab selain bisa masuk dalam kalender wisata, hal itu juga menjadi jaminan bagi wisatawan yang akan hadir.

Coachella, sejak penyelenggaraan kedua rutin diadakan pada Bulan April hingga awal Mei, dan rutin diselenggarakan pada bulan April sejak event ketujuh (2006). Glastonbury sejak penyelenggaraan kedua (1971) diadakan rutin pada Juni. Begitu pula Montreux Jazz Festival yang rutin diadakan pada bulan Juli, dan Montreal International Jazz Festival yang selalu diadakan pada akhir Juni hingga awal Juli.

Di Indonesia, Java Jazz adalah termasuk konsisten. Ia selalu diadakan pada bulan Maret. Begitu pula Ngayogjazz yang selalu hadir pada bulan November. Djakarta Warehouse Project rutin diadakan pada bulan Desember, namun ia baru dua kali diadakan. Perlu pembuktian apakah festival ini bisa berlangsung rutin. Di luar nama itu, Hammersonic selalu berubah-ubah bulan penyelenggaraannya. Ia pernah dihelat di Maret, pernah di April, dan tahun ini diadakan di bulan Mei. Begitu pula Rock In Solo, Soundrenaline, dan Rock In Celebes.

Memasukkan festival musik sebagai bagian tak terpisahkan dari pariwisata memang butuh perjalanan yang panjang. Apalagi Indonesia masih punya banyak pekerjaan rumah terkait pariwisata, mulai dari iklim pariwisata hingga infrastruktur. Satu yang pasti, kalau festival musik ditata dengan baik, sektor ini bisa menjadi pengundang wisatawan nomor wahid.

Baca juga artikel terkait PARIWISATA atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti