Menuju konten utama

Gelimang Uang dari Wisata Musik

Tiket konser musisi-musisi asing di Indonesia selalu laris manis. Indonesia menjadi pasar yang sangat menggiurkan di mata promotor. Sayangnya, industri ini belum dioptimalkan dengan baik. Indonesia dapat dikatakan memiliki potensi yang besar untuk festival musik. Tak hanya di Jakarta, festival musik juga banyak diselenggarakan di wilayah lain seperti Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Bali, dan Nusa Tenggara. Festival musik di Indonesia punya potensi penonton yang besar dan juga menjadi devisa negara.

Gelimang Uang dari Wisata Musik
Penyanyi rock asal New Jersey Amerika Serikat, Bon Jovi beraksi dalam konser tur dunianya bertajuk Bon Jovi Live! di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. ANTARA FOTO/Teresia May

tirto.id - Pada senja kala kariernya sebagai bintang rock, Jim Morrison, vokalis band rock The Doors, kerap berlaku kontroversial karena sudah lelah terhadap segala ketenaran yang dianggapnya palsu. Dia mulai memberontak dari kemapanan dengan caranya sendiri. Memanjangkan jenggot, menggemukkan badan, suka mabuk-mabukan, hingga mengeluarkan kemaluan saat manggung. Alih-alih membenci Morrison, para penggemar dan wartawan justru semakin memburunya. Jim Morrison muak. Pria bernama asli James Douglas Morrison ini memutuskan pindah ke Paris pada 1971 untuk menghindar dari ketenaran.

Beberapa bulan tinggal di Paris, pria berjuluk Mr. Mojo Risin ini meninggal dunia. Dia dimakamkan di Pere Lachaise, sebuah tempat pemakaman umum terbesar di Paris. Jasad yang sudah dikubur ternyata tidak menyurutkan ketertarikan para penggemar Morrison. Makam Morrison terus dikunjungi oleh penggemarnya dari seluruh belahan dunia, hingga sekarang.

Setiap tahun diperkirakan ada 1,6 juta orang yang mengunjungi makam Morrison. Di stasiun metro Pere Lachaise, berjejer orang menjual poster, peta, kaos, bahkan karangan bunga. Biro wisata menjual paket mengunjungi makam Morrison dan bar-bar langganannya. Makam Morrison menjadi salah satu daya tarik wisata di Paris.

Wisata Musik

Mendatangi makam para musisi terkenal merupakan salah satu kegiatan wisata musik. Jenis wisata ini mulai berkembang sekitar dua dekade terakhir seiring bosannya orang-orang dengan wisata massal. Banyak wisatawan, terutama yang berusia muda, mulai mencari jenis wisata yang lebih personal dan sesuai dengan hobi. Selain mendatangi makam pesohor musik, menonton konser dan festival musik adalah kegiatan wisata musik yang paling populer.

Di luar negeri, festival musik menjadi atraksi wisata yang populer, terutama bagi wisatawan muda. Di Britania Raya, pemerintah sampai merasa perlu membentuk lembaga bernama UK Music. Tugasnya mencatat segala statistik terkait pariwisata musik. Mulai jumlah konser dan festival musik, jumlah wisatawan, jumlah pekerjaan, pendapatan, pengeluaran, hingga sumbangan pajak untuk negara.

Jumlah wisatawan festival musik sangat menggiurkan. Ada 9,5 juta wisatawan musik yang mendatangi konser dan festival di Britania Raya sepanjang 2014. Turis domestik mendominasi, dengan jumlah sekitar 8,9 juta orang. Sisanya turis mancanegara. Turis sebanyak itu kemudian membelanjakan sekitar 1,9 miliar poundsterling atau sekitar Rp 37 triliun.

Selain menghasilkan pemasukan yang tidak sedikit, festival musik dan konser juga memberikan lapangan pekerjaan penuh waktu bagi 38.000 orang.

Pariwisata musik juga bisa memberikan citra baru bagi sebuah kota. Salah satu contoh paling menarik adalah Liverpool, kota industri dan pelabuhan di Inggris. Pada dekade 60-an, kota ini mengalami krisis karena pabrik sudah mulai dikuasai oleh tenaga mesin sehingga mengurangi jumlah tenaga kerja manusia. Kondisi ini berlangsung hingga pertengahan 1980-an.

Pemerintah kota Liverpool akhirnya memutar otak untuk mengusahakan kegiatan ekonomi bagi warganya. Wisata musik dipilih sebagai mesin uang yang baru. Pemilihan itu wajar, sebab Liverpool dikenal sebagai kota kelahiran band legendaris, The Beatles. Salah satu bandaranya diberi nama Liverpool John Lennon Airport, yang diambil dari nama vokalis The Beatles. Liverpool akhirnya tak hanya dikenal dari klub sepakbolanya, tetapi juga sebagai kota musik. Guiness World Records bahkan menobatkan Liverpool sebagai World Capital City of Pop, alias Ibu Kota Musik Pop Dunia.

Selain Liverpool, kota Edmonton di Kanada juga dikenal karena kota festival musik. Setiap musim panas, ada 18 festival seni yang diadakan di sini. Festival itu berhasil mendatangkan sekitar 2,7 juta turis dan menghasilkan USD 65 juta setiap tahunnya.

Potensi Besar Indonesia

Indonesia dapat dikatakan memiliki potensi yang besar untuk festival musik. Tak hanya di Jakarta, festival musik juga banyak diselenggarakan di wilayah lain seperti Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Bali, dan Nusa Tenggara.

Salah satu festival musik terbesar di Indonesia adalah Java Jazz. Festival yang diadakan oleh PT Java Festival Production ini sudah diselenggarakan sejak 2005. Jumlah pengunjung Java Jazz selalu meningkat setiap tahunnya. Saat dimulai, festival ini ditonton oleh 47.000 orang. Meningkat jadi 52.000 orang pada 2006, 60.500 orang pada 2007, dan puncaknya pada 2014 yang ditonton oleh 114.000 orang.

Selain Java Jazz, ada banyak festival musik lain yang cukup menjanjikan sebagai atraksi wisata. Sebut saja Jazz Gunung yang diadakan di Gunung Bromo, Rock in Solo yang selalu dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, hingga Kukar Rocking Fest yang diadakan di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Festival-festival itu tidak hanya menarik penonton, tapi juga menarik bintang tamu, bahkan dari luar negeri. Indonesia dianggap pasar yang besar bagi para musisi luar negeri. Tak heran kalau setiap tahun semakin banyak musisi yang tampil di Indonesia, bahkan berulang kali. Sebut saja Santana, James Brown, Morrisey, Metallica, Helloween, Slash, Bon Jovi, Guns N Roses, Sting, Katty Perry, Boyzone, One Direction, Ariana Grande, hingga rombongan boyband dan girlband Korea Selatan seperti SHINee, X5, The Boss, dan Super Junior.

Festival musik di Indonesia punya potensi penonton yang besar. Ini karena semakin bertumbuhnya kelas menengah yang pesat. Berdasarkan data Bank Dunia, pada tahun 2005 jumlah kelas menengah di Indonesia hanya sebesar 37,7 persen. Akan tetapi, jumlah itu melonjak jauh pada tahun 2014, terutama mereka yang berada di kelas pendapatan menengah Rp 60 juta hingga lebih dari Rp 120 juta per tahun. Jumlahnya mencapai 67 persen dari angka penduduk Indonesia, atau sekitar 167 juta jiwa.

Pada 2013, Boston Consulting Group (BCG) meramalkan populasi kelas menengah dan atas di Indonesia akan berjumlah 49,3 juta jiwa. Kelas menengah ini adalah mereka yang mengeluarkan biaya hidup di atas Rp3 juta per bulan. Kelas menengah ini sudah bisa memenuhi kebutuhan primer dan sekunder, tapi juga sudah tersier.

Populasi kelas menengah di Indonesia juga termasuk yang teguh dalam mengonsumsi barang dan jasa. Pada 2013, Nielsen dan Mastercard Worldwider Index of Consumer Confidence melakukan survei tentang konsumen paling optimistis. Hasilnya, Indonesia ada di peringkat pertama di antara 58 negara yang disurvei. Ini artinya, krisis seperti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) atau lemahnya nilai tukar rupiah, tidak akan menghentikan konsumen Indonesia untuk belanja.

Dari data-data tersebut di atas, tak heran kalau tiket konser artis-artis luar negeri seperti Bon Jovi, Maroon 5, Boyzone, EXO pada 2015 selalu habis terjual. Padahal harga tiket untuk konser-konser artis luar negeri ini terbilang tidak murah. Untuk konser Bon Jovi misalnya, tiket paling murah Rp 500 ribu dan paling mahal Rp 3,5 juta. Tiket paling mahal ini lebih besar dari UMP DKI Jakarta 2016 yang hanya Rp 3,1 juta.

Penjualan tiket konser laris manis di saat ekonomi Indonesia mengalami kelesuan dengan pertumbuhan di bawah 5 persen. Harga tiket mahal bukan lagi menjadi penghalang bagi mereka-mereka yang haus hiburan sekaligus ingin meningkatkan status sosialnya. Menonton konser sudah bukan sekadar menonton hiburan, tetapi juga menjadi sebuah simbol sosial. Karena itu, mereka rela membayar berapapun.

Potensi inilah yang tidak boleh dilewatkan oleh para musisi lokal dan dunia. Pemerintah juga harus mulai serius menggarap pariwisata musik ini sebagai bagian untuk menggairahkan roda perekonomian.

Belum Tergarap

Potensi besar dari industri pariwisata musik sejauh ini memang belum dimaksimalkan oleh Indonesia. Bukan pariwisata musik saja, tetapi secara keseluruhan Indonesia memang belum mengoptimalkan sektor pariwisata sebagai tulang punggung perekonomian. Inilah sebabnya dari sisi sumbangan pariwisata terhadap PDB Indonesia masih sangat kecil.

Negara-negara tetangga Indonesia di Asia Tenggara sudah lebih maju dalam hal memanfaatkan pariwisata. Di ASEAN, Indonesia hanya unggul dari Myanmar untuk kontribusi pariwisata terhadap PDB.

Meski kini masih tertinggal, tetapi Presiden Joko Widodo bercita-cita mendorong sektor pariwisata sebagai salah satu sumber pemasukan negara. Pemerintah menargetkan kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB nasional bisa mencapai 8 persen dengan devisa yang dihasilkan Rp 240 triliun pada tahun 2019. Dalam tiga tahun ke depan, sektor pariwisata juga diharapkan bisa menggaet 13 juta tenaga kerja.

Mengejar target yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi tersebut bukan hal yang ringan. Apalagi, Indonesia masih kalah bersaing jika dibandingkan negara-negara ASEAN. Pada sisi indeks daya saing pariwisata ASEAN, Indonesia hanya menempati posisi keempat. Dari seluruh penilaian, Indonesia unggul dari sisi price competitivenes yakni untuk ticket taxes, airport charges , dan harga BBM. Namun, Indonesia paling buruk dari sisi environmental sustainability.

Indonesia adalah negara yang indah. Dengan kekayaan alam berlimpah dan jumlah penduduk besar, Indonesia mestinya bisa mengoptimalkan sektor pariwisata ini. Tak terkecuali pariwisata musik yang saat ini masih dianggap sebagai pelengkap saja.

Baca juga artikel terkait MUSIK atau tulisan lainnya

tirto.id - Musik
Reporter: Nuran Wibisono