Betapa Susah Orang Pribumi Masuk Sekolah Elite Zaman Kolonial

Oleh: Petrik Matanasi - 22 Juni 2019
Dibaca Normal 2 menit
Masuk sekolah elite macam ELS tentu hal yang prestisius di zaman kolonial. Beberapa wali murid berjuang matian-matian agar anaknya diterima.
tirto.id - Pemuda pribumi ideal zaman kolonial adalah Agoes Salim. Dia berijazah Hogere Burger School (HBS). Sebelum di HBS, Agoes Salim bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS). Ini sekolah tergolong elite. ELS adalah sekolah dasar prestisius yang diperuntukkan bagi anak-anak Eropa. Anak-anak bumiputra juga ada, tapi dari golongan pembesar. Selain dua golongan itu, anak-anak indo atau blasteran Eropa-pribumi juga diterima di sekolah itu.

Sukarno jauh lebih muda dari Agoes Salim. Setelah Sukarno kecil bertahun-tahun belajar di sekolah untuk pribumi, Inlandsche School, ayahnya, Raden Soekemi, ingin si anak masuk sekolah tinggi. Maka Sukarno pun hendak dimasukkannya ke ELS. Sukarno ikut tes. Tapi kepala sekolah ELS menyampaikan sesuatu yang setengah pahit.

“Anak Bapak Pintar, tetapi bahasa Belandanya belum cukup baik untuk kelas enam ELS. Kami terpaksa menempatkannya satu kelas lebih rendah,” kata si kepala sekolah, seperti diakui Sukarno dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat (2011: 35).

Raden Soekemi tetap berkeras anaknya menyambung ke ELS, meski harus di kelas lima dan memperlancar lagi bahasa Belandanya.


Masuk ELS yang sejatinya diperuntukkan bagi anak-anak Belanda itu bukan cuma masalah prestise di mata masyarakat. Dengan masuk ELS, seorang anak punya peluang masuk sekolah menengah macam HBS. Jika lulus HBS, maka bisa masuk universitas lebih cepat dibanding anak HIS yang masuk MULO lalu masuk AMS dahulu. ELS menentukan masa depan seorang anak. Dengan ijazah ELS, bahkan berijazah sekolah dasar macam HIS saja, seseorang berpeluang untuk jadi sersan KNIL yang gajinya lebih tinggi dari guru swasta.

Diaku Anak hingga Mengancam Pemerintah

Bukan cuma Raden Soekemi yang ingin anaknya masuk sekolah macam ELS. Seorang seniman musik sekaligus anggota militer berdarah Indo-Belanda bernama Willem van Eldik juga ingin adik iparnya—yang berwajah pribumi tulen—agar bisa belajar di ELS. Dengan mengaku-aku Supratman, adik iparnya itu, sebagai anaknya dan diberi nama tambahan Rudolf.

“Wage Rudolf Supratman diterima di kelas tiga ELS Makassar. Akan tetapi baru beberapa bulan ia mengenyam Pendidikan di sekolah Belanda itu, ia sudah dikeluarkan. Bukan karena ia bodoh atau berkelakuan buruk, tetapi semata-mata hanya karena ia diketahui bukan anak kandung Sersan Willem van Eldik,” tulis Bambang Sularto dalam biografi Wage Rudolf Supratman (2012: 27).

Meski van Eldik berusaha keras agar adik iparnya itu diterima dengan menjadikannya berstatus hukum sama dengan orang Belanda lewat Gelijkgested, Supratman memilih tidak berkeras masuk sekolah itu. Belakangan Wage Rudolf Supratman (1903-1938), yang disiksa dengan diskriminasi kolonial itu, jadi musuh pemerintah kolonial. Dialah pencipta lagu "Indonesia Raya".


Seorang kakek yang pernah jadi Kapiten Arab di Pasuruan juga berjuang agar cucunya belajar di ELS. Nama bocah itu Hamid Algadri. “Saya ditolak masuk ELS karena sekolah itu khusus untuk anak Belanda. Kakek Alim sangat marah. Dia menemui Residen Pasuruan. Ia ceritakan, bahasa Belanda saya cukup baik menurut guru Frobel School (TK),” aku Hamid Algadri dalam memoarnya di majalah Tempo, yang dibukukan dalam M.E.M.O.A.R Senarai Kiprah Sejarah (1993: 158).

Di hadapan pejabat Belanda itu, orang Arab berpengaruh di Pasuruan ini tak lupa memberi ancaman demi masa depan cucunya. Bukan kepada si tuan residen, tapi juga kepada pemerintah.

"Kalau cucu saya ditolak masuk sekolah itu, bintang-bintang penghargaan yang Tuan berikan akan saya kembalikan," kata si kakek, seperti diingat Hamid dan dicatat dalam Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia (1984: 50).

Dalam memoarnya, Hamid mengaku, “akhirnya, keluar surat keputusan yang menyatakan semua anak cucu Kapten Algadri boleh masuk ELS.”

Maka bersekolahlah Hamid Algadri (1912-1998) di ELS. Setelah belajar di MULO lalu AMS, Hamid kemudian sempat belajar di sekolah hukum, Rechts Hoogeschool (RHS), di Jakarta. Belakangan dia jadi tokoh pergerakan nasional dari golongan orang-orang Arab, dengan masuk Partai Arab Indoneisa (PAI), bersama Abdul Rahman Baswedan.


Infografik Demi Masuk SD Favorit Zaman Kolonial
Infografik Demi Masuk SD Favorit Zaman Kolonial. tirto.id/Sabit


Dikeluarkan Karena Bandel

Dokter Soetomo pendiri Boedi Oetomo pun pernah punya pengalaman ditolak masuk ELS. Seperti dicatat buku Wajah dan Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional, Volume 1-2 (1983: 279), Soetomo semula bernama Soebroto. Suatu hari pamannya, Harjodipuro, hendak memasukkan Soebroto dan anaknya sendiri yang bernama Sahit ke ELS.

Sahit diterima, tapi Soebroto tidak. Pamannya tidak mau menyerah. Esoknya Soebroto dibawa lagi. Kali ini tidak pakai nama Soebroto, melainkan Soetomo. Dengan nama itu Soebroto pun diterima, setelahnya nama Soetomo terus dipakainya hingga menjadi dokter pergerakan nasional.

Seorang guru senior bernama Sayid Yudoyuwono juga berjuang agar anak sulungnya masuk ELS. Kisah sohor anak Sayid bukan karena tidak diterima. Anak Sayid diterima dan menikmati bangku sekolah elite ELS di Banyumas. Namun ini bocah harus dikeluarkan lantaran menghajar anak pejabat Belanda. Karenanya bocah yang duduk di kelas 4 ELS ini kemudian dikeluarkan dan terpaksa belajar di HIS.

Bocah bermental serdadu ini lalu masuk KNIL dan meraih pangkat sersan. Setelah Indonesia merdeka, dia masuk TNI dan jadi jenderal. Nama bocah ini Gatot Subroto.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan