Benarkah Anak Sulung Mandiri dan Anak Bungsu Manja?

Oleh: Widia Primastika - 23 Agustus 2018
Dibaca Normal 3 menit
Ada semacam garis besar, tapi faktor lingkungan (cara pengasuhan) juga berperan penting.
tirto.id - Anda yang memiliki anak mungkin pernah secara sengaja atau tidak membandingkan karakter buah hati. Ada yang membandingkan anak satu dengan lainnya, bisa punya mengukur anak sendiri dari apa-apa yang dimiliki anak orang lain. Jika iya, sebaiknya diingat bahwa setiap anak memiliki karakter berbeda.

Arie Nugraha (41) bercerita kepada saya soal anak-anaknya yang berusia 12 tahun, 10 tahun, dan 8 tahun. Menurut Arie, ketiga anaknya memiliki karakter yang berbeda. Dari ketiga anaknya, Arie berpendapat bahwa si bungsu memiliki sifat disiplin lebih dari kedua kakaknya.

“Yang bungsu suka ingetin kakaknya. Kalau udah masuk jadwal salat, ngaji, atau belajar. Dia juga patuh sekali dengan jadwal belajar, padahal dirancang sama dia sendiri,” ujar Arie.

Meski begitu Arie mengakui ketiga anaknya cukup manja saat kedua orangtuanya di rumah. Bahkan, saat makan, mereka sering minta disuapi. Namun, ketika Arie dan istrinya sedang bekerja, ketiganya bisa memasak dan menjerang air sendiri.


Di antara ketiga anaknya, si anak tengah adalah anak yang paling mandiri dan bertanggung jawab. “Anak kedualah, kebetulan perempuan, rapi gitu anaknya,” kata Arie.

Beda lagi dengan anaknya yang sulung. Meski si sulung lebih cuek dibanding kedua adiknya, anak pertamanya itu selalu siap pasang badan ketika ada yang menyakiti adik-adiknya.

“Dari kecil sampai sekarang, ia sering diberi tahu bahwa sesama saudara harus saling melindungi, mengasihi, dan menyayangi. Apalagi di luar rumah, harus saling mengawasi. Jangan sampai bertengkar karena hal sepele, semua bisa dibicarakan. Biasanya kalau salah satu pergi, lainnya pasti tanya,” tutur Arie.

Lain halnya dengan Putri Tirtasari (30). Ibu satu anak ini mengatakan bahwa buah hati tunggalnya, Amanta Bia Chalandri (3), sudah mulai punya kemandirian.

“Bia itu buang sampah sendiri, membereskan mainannya sendiri, bahkan kalau lapar, inginnya ambil makan sendiri, sampai tumpah semua, ada yang kotor juga ambil sapu sendiri. Inisiatif dia tinggi,” kata Putri.

Putri mengakui, terkadang anak semata wayangnya itu egois, tapi hanya dalam situasi tertentu.

“Soal egois aku bingung juga, terkadang kalau ada temannya, semua mainan dikasihkan temannya. Tapi kadang, mainan temannya dia rebut. Negatifnya Bia itu tidak bisa ‘dikerasi’. Kalau dilarang marah,” tutur Putri.

Karakter Anak Berdasarkan Urutan Kelahiran

Anak sulung begini, anak tengah seperti anu, anak bungsu begitu. Apakah karakteristik berdasarkan urutan kelahiran memang sungguh ada? Lawrence Nyman pernah melakukan studi berjudul “The Identification of Birth Order Personality Attributes” (PDF) yang melibatkan 139 responden berusia 24 tahun (87 perempuan dan 52 laki-laki) di City College of New York. Dalam penelitian itu, ia membagi sampel dalam 4 kategori, 27% merupakan anak pertama, 36% merupakan anak tengah, 30% merupakan anak terakhir, dan 7% adalah anak tunggal.


Hasilnya, urutan kelahiran mempengaruhi karakteristik yang menonjol pada masing-masing anak. Pada studi itu, anak pertama dianggap memiliki karakter yang dominan dan agresif. Karakter ini bisa menjadi kekuatan dan kelemahan bagi sang buah hati itu sendiri.

“Mandiri, cerdas, berambisi, tanggap, peduli, dan mudah bergaul. Anak pertama umumnya memiliki karakter kepemimpinan yang baik. Banyak orang melihat anak laki-laki tertua memiliki karakter egois dan manja, sedangkan anak perempuan memiliki karakter manja. Namun, dalam penelitian ini anak sulung pertama perempuan memiliki sifat pemelihara dan bertanggung jawab, sedangkan pada laki-laki bersifat dominan dan mandiri,” papar Nyman dalam penelitiannya.

Selain Nyman, Vassilis Saroglou dan laure Fiasse pernah melakukan studi berjudul “Birth order, personality, and religion: a study among young adults from a three-sibling family” (PDF) pada 122 penduduk Belgia berusia 22-29 tahun untuk meneliti pengaruh urutan kelahiran pada kepribadian.

Dalam penelitian ini, mereka menemukan bahwa anak tengah cenderung memiliki sifat pemberontak. Selain itu, mereka memiliki tingkat ketelitian yang rendah, serta kinerja di sekolah.

“Mereka memiliki nilai yang cukup tinggi dalam sifat impulsif dan keterbukaan terhadap fantasi dan nilai-nilai,” ungkap Saroglou dan Fiasse.

Pada anak terakhir, dalam studinya Nyman (PDF) menemukan jika mereka memiliki karakter mudah bergaul dan perhatian. Namun, dalam penelitian itu, anak termuda dipandang sebagai anak yang manja, tergantung pada orang lain, tidak bertanggung jawab, dan pemberontak.


“Mandiri, ambisius, ramah, dominan, tanggung jawab, perhatian, dan cerdas adalah karakter positif dari anak tunggal. Sedangkan karakter negatifnya cenderung sama dengan anak bungsu,” ungkap Nyman.

Infografik Karakter Anak Berdasarkan Urutan Kelahiran


Kenali Karakter Dasar Anak

Psikolog anak, Probowatie Tjondronegoro, tak menampik bahwa karakter anak dapat dipengaruhi oleh urutan kelahiran mereka.

“Tiap anak berbeda. Ada anak sulung, anak bungsu, anak tengah, anak tunggal. Anak sulung itu selalu menjadi perhatian orangtua, karena mereka mempunyai tanggung jawab sebagai pemimpin,” tutur Probo.

Probo pun mengatakan pada anak pertama, umumnya mereka penuh keragu-raguan, karena ia akan menjadi contoh bagi adik-adiknya. Hal ini disebabkan karena biasanya orangtua menerapkan banyak aturan kepada anaknya. Berbeda dengan anak tengah yang sudah memiliki contoh. Selain itu, anak tengah juga terbiasa berbagi kasih sayang.

Tak hanya itu, anak tengah juga biasanya memiliki karakter ambisius karena mereka terbiasa dibandingkan dengan kakaknya. Sikap itu muncul awalnya untuk merebut perhatian dari orangtuanya. Namun, mereka umumnya mudah bersosialisasi, karena memiliki teman dari kakaknya.


“Kalau anak bungsu, itu modelnya lebih banyak. Tapi bisa jadi, dia jadi anak penurut, karena sering disuruh-suruh oleh kakaknya. Biasanya kalau anak bungsu dimanja, kakaknya akan mengalah,” ungkap Probo.

Sedangkan pada anak tunggal, mereka memiliki kecenderungan untuk selalu ingin menjadi pusat perhatian, serta menganggap kedudukannya yang paling benar.

Meski begitu, Probo menyampaikan bahwa karakter itu hanyalah karakter dasar anak yang biasanya akan muncul ketika mereka berkonflik. Karakter anak juga dapat dibentuk dari lingkungan tinggal mereka. Orangtua yang sadar biasanya akan mengajarkan kemandirian pada sang buah hati.

“Semua itu [juga] tergantung lingkungan, gen, dan kepribadian awal. Sulung di keluarga A dan B, dibesarkan dalam keluarga yang berbeda, [akan berbeda]. Lingkungan lebih membentuk anak itu,” tutur Probo.

Probo menyampaikan, ada baiknya orangtua tidak terlalu protektif atas buah hatinya. Sebaiknya, mereka jangan terlalu membebani anak sulung dan permisif kepada anak bungsu.

Baca juga artikel terkait ANAK-ANAK atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani