Menuju konten utama

Belajar dari Raffi Ahmad, Nama Artis Tak Jamin Bisnis Berhasil

Nama besar Raffi Ahmad bisa menjadi modal awal yang menarik perhatian, tapi tidak ada jaminan namanya mengantarkan bisnis pada kesuksesan.

Belajar dari Raffi Ahmad, Nama Artis Tak Jamin Bisnis Berhasil
Utusan Khusus Presiden Bidang Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad memberikan sambutan saat pertemuan dengan pemengaruh media sosial di Kantor Kementerian P2MI, Jakarta, Rabu (19/2/2025). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/Spt.

tirto.id - Kesuksesan Raffi Ahmad di layar kaca tak menjamin kesuksesannya di dunia bisnis. Faktanya, suami dari Nagita Slavina itu kerap mengalami batu sandungan dalam mengembangkan gurita bisnisnya. Ini menjadi pelajaran sekaligus contoh nyata bahwa meskipun memiliki nama besar dan pengikut yang loyal, kegagalan dalam mengelola bisnis tetap ada.

Baru-baru ini, Rans Nusantara Hebat yang merupakan salah satu bisnis milik Raffi Ahmad dan Kaesang Pangarep dikabarkan tutup sementara. Melalui akun instagramnya Rans Nusantara Hebat yang bergerak di bidang kuliner itu mengumumkan berhenti beroperasional mulai 28 Februari 2025. Pengumuman ini mengejutkan, lantaran belum ada setahun pasca diresmikan pada 30 Maret 2024 lalu.

Bisnis kuliner yang berlokasi di BSD, Tangerang, itu awalnya bertujuan untuk memajukkan UMKM Indonesia menjadi lebih berkelas. Rans Nusantara Hebat melakukan seleksi ketat bagi UMKM yang ingin berjualan di pusat kuliner tersebut.

UMKM harus memiliki badan hukum, termasuk sertifikat halal; omzet penjualan mencapai sekitar Rp50 juta per bulan; UMKM juga diharapkan aktif di media sosial dan website jika ada; dan memiliki minimal satu cabang toko secara fisik. Setelah semua terpenuhi, baru akan dipilih mana UMKM yang lolos untuk membuka tenant di Rans Nusantara Hebat.

Rans Nusantara Hebat sempat diklaim merupakan pusat kuliner terbesar di Indonesia. Namun, mengalami sepi pengunjung dan tenant-tenant UMKM mulai tutup. Spekulasi yang muncul dari masyarakat mengenai penyebabnya adalah harga makanan yang cukup mahal dan harga sewa tenant yang terlalu tinggi, mencapai Rp7-8 juta per bulan.

Harga makanan yang cukup mahal ini memberatkan bagi pengunjung karena ekspektasi mereka terhadap harga kuliner UMKM yang biasanya relatif terjangkau. Begitupun dengan biaya sewa tenant yang dinilai memberatkan bagi pelaku UMKM.

“Sehingga kabar tutupnya Rans Nusantara Hebat ini semestinya sudah bisa diduga sebelumnya,” ujar Peneliti Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS), Muhammad Anwar, kepada Tirto, Rabu (26/2/2025).

Menelisik ke belakang, ada beberapa bisnis Raffi Ahmad yang gagal dan bahkan tidak diketahui lagi keberadaannya. Salah satunya yakni RA Jeans. Pada 2015, Raffi Ahmad diketahui merilis label fashion RA Jeans yang menjual produk berbahan jeans di kawasan Gunawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Namun, usaha tersebut sudah tutup.

RANS Nusantara Hebat

RANS Nusantara Hebat. Instagram/@ransnusantarahebat

Di tahun yang sama, Raffi Ahmad dan Nagita kemudian mengembangkan bisnis camilan keripik talas berbagai rasa dengan maka Nagitoz. Namun, produk camilan sudah ini tidak ditemukan beredar lagi sejak 2020.

Pada 2017, Raffi Ahmad juga membuka bisnis kuliner bakmi bernama Bakmi RN yang memiliki sejumlah cabang di mal-mal besar di Indonesia pada. Sayangnya, bisnis ini harus berhenti pada pertengahan 2019.

Di tahun yang sama Raffi Ahmad juga membuka bisnis minuman olahan mangga bernama Mango Bomb. Mango Bomb sempat memiliki gerap cabang di berbagai lokasi di Jakarta, Tangerang, dan Surabaya. Namun, bisnis ini diketahui sudah tidak beroperasi lagi sejak akhir 2019.

Masih di tahun yang sama, Raffi Ahmad lagi-lagi membuka bisnis camilan keripik singkong pada 2017 bernama King Kong Snack. Namun, camilan ini tidak terdengar lagi perkembangannya sejak 2020.

Nagita juga sempat membuka bisnis kue bolu kekinian bernama Gigieat Cake. Bisnis ini menjual produk bolu yang saat itu tengah menjadi tren. Lagi-lagi bisnis dijalankannya harus tutup pada 2019 seiring meredupnya tren tersebut.

“Tampaknya, nama besar yang dimiliki oleh kedua pemilik bisnis ini tidak begitu berpengaruh terhadap perkembangan bisnis mereka,” kata Anwar.

Kendati begitu, masih terdapat beberapa bisnis Raffi Ahmad yang masih berjalan sampai saat ini. Beberapa bisnis tersebut bergerak baik di bidang entertainment, kecantikan dan fashion, olahraga, kuliner, properti, lifestyle dan pariwisata.

Mengapa Nama Besar Tak Bisa Dongkrak Bisnis?

Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Ajib Hamdani, mengatakan nama besar pemilik, memang menjadi salah satu faktor untuk usaha bisa berkembang. Tetapi, selain faktor tersebut masih ada beberapa faktor lain yang bersifat lebih fundamental. Baik faktor internal maupun eksternal.

Dalam konteks internal, efektivitas dan efisiensi harus sangat terukur. Kebijakan manajemen harus sehat secara keuangan. Kalau hal ini tidak diukur secara presisi, akan banyak burning uang untuk mempertahankan eksistensi, tapi rasio-rasio keuangan tidak sehat.

“Dalam konteks eksternal, harus ada visi pengembangan usaha yang fleksibel dan agile dalam melihat pasar,” ujar Ajib kepada Tirto, Rabu (26/2/2025).

Sementara Anwar dari IDEAS berpendapat bahwa pemilik bisnis, sejatinya memiliki peran penting dalam perencanaan dan pengambilan keputusan yang krusial. Bahkan dalam beberapa situasi pemilik juga dapat berperan ganda sebagai manajer atau kepala perusahaan yang terlibat langsung dalam kegiatan operasional bisnisnya.

Melihat aktivitas pemilik bisnis Rans Nusantara Hebat yang sangat banyak, besar kemungkinan bisnis ini tidak dikelola secara langsung dan tidak menjadi konsen utama bagi Raffi Ahmad dan Kaesang. “Mereka mungkin kurang memperhitungkan aspek-aspek penting seperti target pasar, strategi pemasaran, dan analisis risiko,” ujar dia.

Lebih lanjut, kata Anwar, branding pribadi juga menjadi aspek penting dalam bisnis yang dimiliki oleh orang ternama seperti Raffi Ahmad tetapi juga bisa bisa menjadi bumerang. Jika terlalu mengandalkan citra mereka sendiri, mungkin akan menyebabkan hilangnya fokus pada produk dan layanan yang sebenarnya mereka tawarkan.

“Hal ini berdampak pada kemungkinan gagalnya bisnis karena kurangnya perhatian terhadap kebutuhan dan keinginan pelanggan,” ujar dia.

Prabowo panggil sejumlah tokoh ke Kertanegara

Pesohor Raffi Ahmad menyapa wartawan setibanya di kediaman Presiden Terpilih Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Selasa (15/10/2024). Presiden Terpilih Prabowo Subianto memanggil sejumlah tokoh yang diyakini bakal menjadi wakil menteri untuk pemerintahan baru ke depan. ANTARA FOTO/Muhammad Ramdan/YU

Dalam kasus Rans Nusantara Hebat, Anwar melihat pusat kuliner ini telah melakukan beberapa upaya sebagai strategi bisnis seperti promo dan give away. Hadiah utamanya pun tak main-main yaitu sepeda motor. Namun sepertinya, strategi bisnis tersebut belum sepenuhnya berhasil.

Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu dan masih beradaptasi dengan kebijakan-kebijakan baru dari pemerintah saat ini, jelas berpengaruh terhadap UMKM dalam mempertahankan omzet bisnisnya. Mereka secara tidak langsung tidak mampu bertahan di pusat kuliner Rans Nusantara Hebat.

“Meskipun begitu, masih terdapat kemungkinan bahwa Rans Nusantara Hebat akan dibuka kembali dengan rebranding dan strategi bisnis yang lebih baik,” ujar dia.

Maka, salah satu hal yang bisa dipelajari dari perjalanan bisnis dari Raffi Ahmad adalah pentingnya kerja keras, inovasi, dan perencanaan matang. Meskipun, nama besar bisa menjadi modal awal yang menarik perhatian, tidak ada jaminan bahwa hal tersebut akan secara otomatis mengantarkan bisnis pada kesuksesan.

Salah satu faktor yang juga perlu dicatat adalah peran tim yang solid dan kemampuan untuk berinovasi. Sebuah bisnis tak hanya bergantung pada popularitas sang artis, tetapi juga pada manajemen yang cerdas dan perencanaan yang baik. Hal tersebut yang membedakan antara keberhasilan dan kegagalan dalam dunia bisnis.

Baca juga artikel terkait RAFFI AHMAD atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - News
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Anggun P Situmorang