Menuju konten utama

Beda Nasib Penghuni Rusun Bersubsidi

Sebagian penghuni rusun lebih sering menyebut tempat tinggal sebagai apartemen, misalnya di Kalibata City. Sebagian lain tetap menyebutnya rusun. Padahal keduanya sama-sama menghuni hunian bersubsidi. Beda kelas sosial, beda penyebutan.

Beda Nasib Penghuni Rusun Bersubsidi
Kawasan hunian vertikal apartemen Kalibata City. Tirto.ID/Andrey Gromico

tirto.id - Taufik Cahyono tertegun pasrah melihat api melalap sebagian rumah-rumah di perkampungan RW 07, Jalan Tebet Barat, Jakarta Selatan. Pagi di tahun 1993, lidah api merambat cepat di kampung padat penduduk dan rumah dari kayu dan tripleks. Hanya segelintir barang tetangga yang berhasil ia selamatkan.

Usai kebakaran, warga korban kebakaran segera mengungsi ke rumah warga yang selamat dari jilatan api. Rumah Taufik salah satunya. Rumahnya cukup luas, 90 meter persegi, sehingga beberapa tetangga dapat mengungsi sementara.

Beberapa saat kemudian, pemerintah mengambil kebijakan untuk membangun rumah susun sederhana hak milik atau rusunami di dekat lokasi kebakaran. Itu ditujukan bagi warga RW 07, baik yang rumahnya terbakar atau tidak. Konsekuensinya, semua rumah di sana harus dirobohkan, rata tanah.

Taufik salah satu yang menolak. Alasannya, rumahnya tak ikut terbakar. Tetapi kondisi lain memaksanya ikut desakan pemerintah. Rumah tempatnya tinggal berdiri di atas tanah milik negara. Ia pun terpaksa menerima.

“Saya dulu enggak mau pindah. Kan, dulu saya itu pengrajin tempe, kalau pindah, terus saya nanti kerja apa? Saya enggak bisa produksi tempe. Yang lain juga menolak, sebagian besar itu juga pengrajin tempe dari Pekalongan,” kata Taufik kepada Tirto, 5 Januari 2017.

Pada 1994, Dinas Perumahan Pemda DKI memulai pembangunan rusunami. Ada empat blok dibangun secara bersamaan. Satu blok gedung dibangun empat lantai. Total ada 320 unit dengan ukuran masing-masing 21 meter persegi. Satu unit memiliki ruang seukuran 18 meter persegi, dapur 2,5 x 1,5 meter, kamar mandi 1,5 x 1,5 meter, dan balkon 2 x 1,5 meter. Rusunami itu rampung dibangun pada 1996 dan diresmikan setahun kemudian. Ia diberi nama Rumah Susun Murah Harum Tebet, atau dikenal Rusunami Tebet.

Sebelum diresmikan, Taufik dan keluarganya sudah menempati rusunami itu, dan mendapat jatah di blok C lantai 2. Jatah ini tidak gratis dari pemerintah. Warga harus membeli dengan harga subsidi, yang berbeda tiap lantai. Lantai 2 seharga Rp12,5 juta, lantai 3 Rp10 juta, lantai 4 Rp9 juta, dan lantai 5 Rp8 juta. Sementara lantai 1 untuk halaman parkir dan sewa ruang usaha.

Pelunasan diberi tenggat 20 tahun. Warga bebas untuk memilih untuk mencicil atau membayar tunai. “Saya dulu cicil, kadang sebulan bisa Rp1 juta, bulan depan enggak. Bulan depan bayar lagi. Seadanya uang,” ujar Taufik.

Sejak 1996, Taufik dan istri dan tiga anaknya tinggal di rusunami Harum Tebet. Satu ruang utama seluas 18 meter persegi disekat menjadi satu kamar. Kamar itu dipakai untuk Taufik dan istrinya. Tiga anaknya tidur di sisa ruang utama yang tinggal 4 x 4 meter.

Hidup di rusunami adalah hal baru. Taufik perlu melakukan banyak penyesuaian. Lingkungan yang berubah, tetangga baru, dan pekerjaan di lokasi baru. Setelah menempati, pemerintah membangun 12 bedeng di sisi barat gedung blok C. Bedeng itu dipakai untuk tempat produksi tempe Taufik dan teman-temannya.

Memulai produksi tempe di tempat baru bukan perkara mudah. Beberapa kali produksi itu gagal. Taufik sempat kebingungan, sebab modal produksi semakin menipis. Namun, setelah beberapa kali percobaan dan penyesuaian resep, akhirnya tempe berhasil diproduksi.

Sayangnya, sejak 2014, bedeng itu dibongkar pemerintah. Lahannya dijadikan tempat bermain untuk anak-anak. Sejak itu Taufik menganggur. Teman-temannya sesama pengrajin tempe memilih pindah dan mencari tempat lain untuk produksi tempe.

“Sekarang ternak ayam di kampung. Hasilnya dicukup-cukupkan untuk anak sekolah dan makan,” ujar pria yang kini berusia 45 tahun itu.

Sejak banyak penghuni yang pindah, Rusunami Tebet tampak sepi. Kini sebagian besar penghuni adalah pekerja kantoran yang menyewa rusunami. Mereka biasanya berangkat kerja pagi hari dan pulang malam hari. Saat reporter Tirto mengunjunginya, sepanjang lorong di blok C lantai 2 dan 3 lengang. Begitu juga di blok B. Hanya di lantai 1 yang terlihat aktivitas warga berjualan makanan.

Noto, 39 tahun, terlihat santai mendengarkan musik dari ponsel sembari menjaga warung makan di lantai 1 blok B. Segelintir pembeli yang datang. Biasanya warung itu ramai saat jam makan siang dan sore menjelang malam.

“Ya begini tinggal di rusunami. Sejak 2000 saya di sini. Begini saja kondisinya,” ujar perantauan dari Pekalongan itu.

Noto sebetulnya tidak ingin tinggal di rusunami. Namun ia tidak punya pilihan lain. Satu unit rusunami di lantai 3 blok B yang kini ditempatinya adalah pemberian dari mertua. Tempat itu satu-satunya properti yang dimilikinya.

Semula hidup di rusunami sulit. Noto bekerja serabutan dan ia kerap bingung bila harus membayar listrik, air, dan sumbangan pemeliharaan gedung. Ia akhirnya membuka warung makan kecil, tepat di bawah tangga, seukuran ± 5 x 5 meter. Di warung itulah ia menggantungkan hidup bersama istri dan dua anaknya.

“Kalau pekerja kantoran enak, bisa perkirakan pendapatan berapa, untuk rusunami berapa. Nah kalau kayak saya, ya pusing juga,” imbuhnya.

Rusunami Karet Tengsin

Sekitar 10 kilometer dari Rusunami Tebet, Ismi, 55 tahun, duduk di kursi warung dengan napas tersengal. Tenaganya terkuras karena menggendong cucu berusia 4 tahun dari lantai 3 ke lantai I Rusunami Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Kondisi Rusunami Karet itu bak perkampungan kumuh. Sejumlah atap jebol, genangan air di mana-mana, tembok lembab dan rapuh, dan tegel lantai lepas di beberapa tempat. Sampah berserakan di sudut-sudut tembok yang penuh coretan.

Rusunami 40 unit itu berdiri bermula dari kebakaran pada 1992 di permukiman kumuh Tengsin. Kebakaran itu membuat warga kehilangan tempat tinggal. Termasuk juga rumah seluas 25 meter persegi milik Ismi. Sama seperti di Tebet, pemerintah berinisiatif membangun rumah susun di dekat lokasi kebakaran. Ismi semula menolak, tapi dia tidak punya pilihan lantaran rumahnya hancur dilalap api.

Sembari pembangunan rusun berjalan, Ismi dan suaminya, Wagimin, 57 tahun, membuat rumah sementara di bekas rumah mereka yang terbakar. Rusun dibangun pada 1994 dan selesai pada 1996. Ismi tidak langsung pindah. Dia memilih tetap tinggal di rumahnya. Ia baru pindah ke rusun setelah terjadi kebakaran lagi pada 2001.

“Dulu rumah saya di sana.” Ismi menunjuk bangunan Rusun II Tengsin. “Sebelum kebakaran, saya di sana. Terus kebakaran kedua, akhirnya kami pindah.”

Bagian paling menyedihkan dari kebakaran itu mata pencaharian suaminya hilang. Suaminya tidak bisa berjualan alat elektronik lagi. Ismi kemudian mengambil alih urusan pekerjaan. Dengan modal pelajaran waktu sekolah, Ismi menjual jamu.

“Ya bisanya cuma ini. Suami sudah enggak kerja. Jadi harus kerja untuk anak,” ujar Ismi.

Di rusun seukuran 21 meter persegi Ismi meracik jamu. Kecuali menumbuk, kegiatan meracik jamu dilakukannya di kamar. Ia memilik menumbuk di lantai dasar karena khawatir jika suara tumbukan mengganggu tetangga.

Kebanyakan para pelanggannya adalah tetangga. Namun, seiring waktu, tenaganya mulai melemah. Kini dia lebih banyak menghabiskan waktu memomong cucu. Kedua anaknya, yang sudah sukses dan memiliki rumah di Bogor, membiayainya. Akan tetapi Ismi tak lantas ikut pindah ke rumah anaknya. Dia dan suaminya memilih tetap di rusun.

“Sudah betah di sini, tetangganya baik-baik. Kita sudah bertetangga sejak tahun 1980-an,” ujarnya.

INFOGRAFIK HL Rusunami Sisi Lain Kehidupan Apartemen

Kehidupan di Kalibata City

Berkebalikan dari Rusunami Tebet dan Tengsin, di Kalibata City, Jakarta Selatan, mayoritas penghuninya dari warga berpendapatan menengah ke atas. Mereka yang tinggal di sana biasanya tidak menyebut rusunami, melainkan apartemen. Meski sama-sama rusunami, bedanya adalah Kalibata City dibangun swasta. Baik Rusunami Tebet dan Tengsin maupun apartemen Kalibata City—ketiganya bersubsidi. Luasnya hampir sama, 21 meter persegi untuk tipe studio, 30 meter persegi untuk tipe dua kamar.

Di Kalibata City, setiap orang yang masuk harus melewati pintu gerbang. Bagi yang membawa kendaraan, harus mengambil karcis parkir otomatis. Di lingkungan Kalibata City, mobil terparkir rapi dan dari bermacam merek; Honda, Toyota, Mitsubishi, hingga Mercedes-Benz.

Nyaris di lantai dasar tiap sudut menara dipenuhi kios-kios makanan kelontong maupun waralaba, jasa penatu hingga cukur rambut. Dari pantauan Tirto, ada tujuh toko waralaba di kompleks Kalibata City, selain mal di depan kompleks. Ada juga tempat tongkrongan berkelas seperti Starbucks, Domino's Pizza, J.Co, dan Solaria.

Banyak orang lalu-lalang di lobi menara, di lingkungan kompleks, dari menara A (Akasia) hingga H (Herbras). Hanya orang yang memiliki kartu akses seperti penghuni dan petugas yang bisa memasuki gedung. Setiap tamu harus menunggu di lobi hingga dijemput penghuni rusunami.

Fauzan Afianto, 29 tahun, penghuni Tower C (atau Cendana) di lantai 21 mengatakan bahwa kondisi lingkungan memang sangat ramai. Karena terlalu ramai, Fauzan sampai enggan keluar dengan mobil atau motor miliknya. Alasannya, ia bakal sulit mendapatkan parkir.

Berbeda dengan Taufik yang tak punya pilihan selain pindah ke Rusunami Tebet, Fauzan justru sengaja tinggal di apartemen Kalibata City lantaran lokasinya di tengah kota. Untuk berangkat ke kantor cukup dengan naik kereta api listrik dari stasiun Kalibata.

“Ini unit dikasih orangtua. Saya milih di sini karena strategis dan memang aman kalau di apartemen. Faktor keamanan sih yang lebih utama,” ujar pegawai perusahaan yang berkantor di MidPlaza Sudirman itu kepada Tirto, 7 Januari 2017.

Sangat jarang interaksi sosial antara Fauzan dan penghuni lain di Kalibata City. Saban hari ia berangkat kerja pukul 07.30 dan pulang sekitar pukul 19.00. Begitu sampai ia langsung ke apartemen untuk istirahat, kecuali bila ada janji temu.

“Jiwa sosial memang jadi kurang. Dengan tetangga satu lantai saja saya tidak kenal. Cuma satu yang kenal. Itu pun baru kenal lewat grup WhatsApp,” tuturnya.

Bisa jadi karena minim interaksi sosial ini bikin celah sejumlah kasus kejahatan di lingkungan Kalibata City. Ada kasus pembunuhan, narkoba dan prostitusi, hingga bunuh diri—menebalkan sisi lain masyarakat urban yang tinggal di hunian vertikal.

“Ya ini banyak yang kosong, disewakan harian. Itu yang jadi tidak terkontrol, sampai kita terkenal dengan tempat orang bunuh diri dan prostitusi,” ujar Ainuddin, 30 tahun, penghuni Tower Nusa Indah.

Jaringan prostitusi via aplikasi jejaring sosial kerap memakai kamar hotel maupun apartemen sebagai lokasi transaksi.

Untuk membuktikan praktik prostitusi di Kalibata City sebagaimana disampaikan Ainuddin, reporter Tirto melakukan penelusuran melalui aplikasi jejaring sosial. Dalam aplikasi itu secara terbuka sejumlah akun dengan foto perempuan menawarkan jasa seksual. Harganya dari Rp300 ribu hingga Rp1,5 juta.

“Nanti call saja kalau sudah di Tower Borneo,” kata akun bernama Antie melalui pesan singkat.

Pada November 2016, kepolisian sektor Pancoran menggerebek apa yang mereka sebut “pesta seks” di Tower Damar lantai 7. Tiga belas orang dibawa ke Polsek untuk diusut keterangan lebih lanjut.

Kasus lain adalah bunuh diri dan pembunuhan. November 2016, Desi Wulandari, 19 tahun, bunuh diri dari lantai 9 Tower Akasia dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Sebelumnya pernah terjadi dua kasus pembunuhan. Pada akhir September 2012, Mirza Nuruzzaman, 35 tahun warga India, membunuh kekasihnya bernama Aswara Indah Sari di Tower Borneo Lantai 16. Setahun setelahnya Holly Angela Hayu Winanti dibunuh dengan dijatuhkan dari lantai 9 Tower Ebony.

“Saya dengan istri dan dua anak mungkin sudah tidak cocok kalau tinggal di apartemen,” kata Ainuddin. “Kalau ada rezeki, penginnya beli rumah saja.”

Baca juga artikel terkait RUSUN atau tulisan lainnya dari Mawa Kresna

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Fahri Salam