Bayi Lebih Suka Dipijat Ayah-Ibunya ketimbang Terapis

Bayi Lebih Suka Dipijat Ayah-Ibunya ketimbang Terapis
Ilustrasi pijat bayi. Getty Images/iStockphoto
Reporter: Yulaika Ramadhani
14 Oktober, 2017 dibaca normal 2:30 menit
Idealnya, pijat bayi dilakukan oleh orangtua bayi, alih-alih terapis pijat di rumah sakit atau baby spa.
tirto.id - Pijat bayi mulai menjadi tren beberapa waktu belakangan ini. Baby spa dan tempat pemijatan bayi bermunculan, khususnya di kota-kota besar.

Pijat bayi memang bukan hal baru. Di lingkungan pedesaan, proses ini sudah berlangsung lama dan dilakukan oleh dukun bayi yang membantu persalinan. Muncullah istilah "pijat rumahan" atau pijat tradisional, baik di desa maupun daerah urban. Pijat tradisional ini dilakukan oleh tenaga non-medis.

Adhisty adalah salah satu ibu muda yang kerap membawa bayinya yang baru berumur lima bulan ke tempat pemijatan bayi di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA).

“Pernah juga pijat rumahan, tapi pijatnya keras banget. Jadi kasihan sama si bayi,” cerita Adhisty.

Banyaknya tempat pemijatan bayi, baik di rumah sakit, di baby spa, atau juga di rumah sendiri, tidak membuat Adhisty terlalu sering menyerahkan bayinya untuk dipijat orang lain. Ia juga sering memijat bayinya sendiri.

“Saya biasanya melakukan pemijatan ketika si bayi abis mandi. Biasanya, ketika dia tengkurap, dipijat lembut saja,” kata Adhisty.

Baca juga: Babymoon, Bulan Madu Sebelum Melahirkan

Orangtua baru biasanya masih ragu untuk memijat bayinya sendiri atas alasan takut salah pijat. Namun, berdasarkan sejumlah riset dan saran dari ahli anak, pijat bayi justru sebaiknya dilakukan oleh ibu dan bapak bayi sendiri, alih-alih orang lain. Hal ini disepakati juga oleh bidan Luthfi Rizki Fitriana, S.Keb., Bd.

“Idealnya, pijat bayi dilakukan oleh orangtua bayi, terutama ibunya, untuk mempererat bonding atau ikatan batin antara ibu dan bayi,” kata Luthfi yang juga Founder Hellomidwife Homecare Service and Education Center ini kepada Tirto.

Luthfi juga menjelaskan hal-hal yang harus diperhatikan oleh orangtua. Menurutnya, bayi tidak boleh dalam keadaan rewel saat dipijat.

“Karena dikhawatirkan sulit untuk membedakan apakah bayi rewel karena sakit atau karena tidak nyaman dipijat. Untuk bayi yang baru lahir, gerakan pijatnya dengan sentuhan lembut saja,” tambah Luthfi.

Baca juga:  Mitos Kehamilan, dari Nanas Hingga Hubungan Seksual 

Hal tersebut disepakati juga oleh Summer Sinclair-Menkee, seorang pengajar terapi pijat bayi tersertifikasi atau CEIM (Certified Educator of Infant Massage).

“Waktu terbaik adalah ketika bayi Anda tenang dan tidak rewel. Biasanya setelah tidur siang, setelah ganti popok, 15-20 menit setelah makan, sebelum atau setelah bayi mandi,” jelasnya.

Menurutnya, orangtua sudah bisa memijat bayinya setelah tali pusar bayi putus. Pemijatan bayi, lanjutnya, bisa dilakukan dengan menggunakan lotion atau baby oil, dan sebaiknya dilakukan searah dengan jarum jam, terutama di bagian perut bayi.

“Perut bayi harus dipijat searah jarum jam, karena usus besar dimulai dari sisi kanan dan berakhir di sisi kiri, seperti tapal kuda terbalik," lanjut Sinclair-Menkee.

Baca juga: Mengajarkan Anak-anak Menghindari Berita Hoax

Hubungan pijat bayi dengan keterikatan emosi orangtua-anak dijelaskan juga oleh Ayşe Gürol dalam penelitiannya yang ia publikasikan di Korean Society of Nursing Science.

Dalam penelitian tersebut, Gurol melibatkan dua kelompok, 57 pasangan ibu dan bayi yang melakukan pijat bayi dan 60 ibu dan bayi yang tidak melakukan pijat bayi. Pada kelompok eksperimen, bayi menerima sesi terapi pijat selama 15 menit setiap hari selama selama 38 hari masa riset.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pemijatan bayi efektif dalam meningkatkan keterikatan ibu-bayi.

"Teknik pijat yang dimiliki orangtua dari kelas pijat bayi memberi mereka kepercayaan diri untuk menenangkan bayi mereka, selaras dengan gaya non-verbal yang mereka saling komunikasikan. Pijat bayi oleh ayah atau ibu akan memperkuat isyarat dan ikatan antara orangtua dan bayi," kata Lindsey Hunter Lopez, peneliti dan penulis parenting, lulusan University of California, Santa Cruz, dan New York University.

Baca juga: Anak yang Doyan Jumpalitan adalah Anak Cerdas

Bayi Lebih Suka Dipijat Ayah-Ibunya ketimbang Terapis

Carolynn Darrell Cheng dalam penelitiannya di jurnal Perinatal Education juga menyatakan bahwa pendidikan pasca-kelahiran, seperti terapi pijat bayinya sendiri sangat bermanfaat untuk menekan tingkat stress pada ayah bayi.

Dalam penelitian berjudul "Supporting Fathering Through Infant Massage" tersebut, Cheng meneliti 12 ayah dan bayi beserta kelompok kontrol (yang tidak melakukan terapi pijat bayi). Hasilnya adalah, pijat bayi yang dilakukan oleh para ayah tersebut mampu menurunkan tingkat stres mereka sebagai orang tua. 

Terapi pijat untuk si bayi sendiri penting untuk perkembangan fisik bayi. Luthfi Rizki Fitriana, S.Keb.Bd. menerangkan bahwa pijat bayi bermanfaat untuk menambah nafsu makan, stimulasi motorik, membuat bayi tidur lebih nyenyak karena bayi merasa rileks, serta memperlancar pencernaan.

Rasa rileks ini diperlukan untuk mengurangi frekuensi menangis dan stres. Tiffany Field, PhD, direktur Touch Research Institute di University of Miami School of Medicine, menjelaskan bahwa rasa rileks dari terapi pijat ini berasal dari hormon serotonin yang meningkat karena proses pemijatan tersebut.

"Saat Anda memberi bayi Anda pijatan, Anda benar-benar menstimulasi sistem saraf pusatnya," jelas Tiffany Field.

"Itu memicu reaksi berantai, yaitu membuat otaknya menghasilkan lebih banyak serotonin [...] Akibatnya, detak jantung dan pernapasan bayi Anda melambat, dan menjadikannya lebih rileks," lanjut Tiffany.

Baca juga artikel terkait BAYI atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - ylk/msh)

Keyword