9 Maret 1959

Barbie adalah Sosok Kontroversial yang Mengalami Krisis Identitas

Oleh: Joan Aurelia - 9 Maret 2018
Dibaca Normal 4 menit
Cantik pesona.
Guna-guna boneka
gadis remaja.
tirto.id - Gabriela Jirackova memperkenalkan diri sebagai Barbie Ceko. Usianya masih 18. Ia memiliki banyak boneka Barbie. Sejak umur 16, Gabriela ingin berpenampilan seperti boneka-bonekanya. Ia mulai melakukan bedah plastik, filler wajah permanen, dan mengecat rambut supaya nampak serupa dengan Barbie.

Setiap hari Gabriela menghabiskan waktu selama 3,5 jam untuk berdandan. Hasil rias wajah dan rambut itu mengundang komentar terutama dari para ibu.

“Mereka menganggap saya adalah pengaruh buruk bagi anak-anak mereka. Saya pikir saya masih jauh lebih baik dibanding dengan para selebritas yang menggunakan narkoba. Saya justru bermaksud memberi dukungan pada anak-anak di luar sana agar berani mewujudkan keinginan mereka,” kata Gabriela seperti dikutip MetroUK.

Remaja yang mengaku sebagai pebisnis ini punya keinginan untuk tampil menonjol. Menurut dia, berpenampilan seperti Barbie ialah cara terbaik untuk mewujudkan keinginannya. “Saya ingin dikenal dengan citra Barbie ini.”

Gabriela ialah wujud kekhawatiran sejumlah orang terhadap dampak boneka Barbie. The Conversation pernah menulis sebuah hasil penelitian yang menyebutkan bahwa anak-anak perempuan yang memandang Barbie merasa tidak puas dengan bentuk tubuh diri sendiri. Ada indikasi bahwa mereka menginginkan tubuh yang sangat kurus ketika mereka dewasa.

Penelitian lain yang dilakukan Retrospective menyebutkan, tidak ada pengaruh antara anak-anak yang hobi bermain Barbie dengan tingkat ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh.

Dua tahun lalu Refinery29 pernah menulis berita tentang hasil penelitian jurnal Body Image. Hasil penelitian serupa dengan riset yang ditulis dalam The Conversation beberapa tahun sebelumnya, yakni anak-anak yang bermain Barbie merasa tidak puas terhadap bentuk tubuh diri sendiri.


Dari Amerika sampai Indonesia

Barbie adalah benda yang mengundang perdebatan bahkan saat wujudnya belum diciptakan. Perdebatan pertama terjadi antara Ruth Handler dan Elliot Handler, pasangan suami-istri pendiri Mattel, grup produsen mainan di Amerika Serikat. Ruth hendak menciptakan boneka mainan bagi anak perempuan. Ia ingin wujud boneka itu adalah sosok wanita dewasa. Dalam Barbie and Ruth (2009), Robin Gerber menceritakan bagaimana Ruth membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk meyakinkan Elliot bahwa ada pasar bagi produk mainan tersebut.

Ide membuat mainan anak yang menampilkan boneka wanita dewasa muncul saat Ruth mengamati Barbara, anaknya, sedang bermain dengan teman-teman sebaya. Momen itu terjadi pada 1950-an. Mainan yang terkenal saat itu ialah paper dolls—boneka yang menunjukkan figur binatang, bayi, dan balita. Ruth melihat bawa ketika bermain, anak-anak itu punya fokus terhadap sosok wanita dewasa.

“Setiap anak perempuan membutuhkan mainan yang bisa membuat mereka memproyeksikan diri mereka di masa depan,” kata Ruth seperti dikutip dalam obituarinya di The New York Times.

Keinginan Ruth mulai mendekati kenyataan saat ia sekeluarga berlibur keliling Eropa. Saat bertandang ke Swiss, Ruth melihat boneka berbentuk wanita dewasa menggantung di salah satu dinding. Boneka tersebut bernama Bad Lilli.

Bad Lilli ialah wujud tiga dimensi dari figur dalam komik yang dimuat di harian Bild-Zeitung. Bad Lilli tidak diciptakan untuk anak-anak. Pada masanya, boneka tersebut dianggap sebagai sex toy dan biasa menjadi hadiah yang diberikan pada calon pengantin pria saat pesta bujang.

Bad Lilli tampil dalam berbagai busana mulai dari kostum ski sampai busana tradisional Eropa. Ruth dan Barbara terpana melihat boneka tersebut lantaran belum pernah melihat boneka serupa di Amerika Serikat. Ruth memutuskan untuk membeli beberapa boneka Bad Lilli dengan berbagai kostum.

Usai berlibur, Ruth langsung bergerak untuk mewujudkan impian menciptakan boneka wanita dewasa. Ruth segera mengontak perusahaan manufaktur rekanannya di Jepang untuk menggarap boneka ini. Setelah boneka jadi, Ruth menamainya "Barbie".

Produk Barbie jadi pada 1959. Wujudnya serupa dengan Lilli. Barbie tampil dalam beberapa tema busana seperti busana pengantin dan busana dalam menghadiri acara di karpet merah.

Dalam Dream Doll: The Ruth Handler Story (1994), Jacqueline Shannon menjelaskan bahwa Ruth pernah berkata, “Barbie selalu merepresentasikan fakta bahwa perempuan punya pilihan. Filosofi saya terhadap Barbie ialah lewat mainan ini anak-anak bisa menjadi apapun yang mereka inginkan.”

Ruth memasarkan Barbie pertama kali di ajang Toy Fair di New York pada 9 Maret 1959, tepat hari ini 59 tahun lalu. Tanggal itu juga diperingati sebagai ulang tahun Barbie.

Ia berharap para buyer mainan tersohor bersedia membeli Barbie. Kenyataannya tidak demikian. Ruth pun menangis tersedu.

“Mainan ini dibenci. Para buyer pria berpikir kami gila karena menciptakan boneka dengan payudara. Terlebih lagi, bisnis mainan ini ialah bisnis yang didominasi pria,” kata salah seorang sales Mattel dalam Barbie and Ruth.

Tangisan Ruth toh tidak berlangsung lama. Barbie boleh jadi tidak laris dalam ajang Toy Fair tetapi mainan ini diminati konsumen di Amerika Serikat. Fast Company melaporkan Mattel menjual 351.000 Barbie di tahun pertama. Jumlah tersebut memecahkan rekor penjualan mainan di Amerika Serikat.

Barbie kemudia menjadi mainan yang diminati dalam beberapa dekade. Hampir satu miliar Barbie terjual di seluruh dunia. Bahkan ada sebuah periode ketika 92% anak di Amerika Serikat memiliki Barbie.

Pada tahun 1960-an, Ruth memproduksi Barbie dengan busana astronot dan barbie kulit hitam. Tiga dekade berikutnya, pada tahun 1990-an, muncul koleksi kandidat presiden. “Barbie tampil dalam beberapa karier seperti dokter bedah, atlet, penyiar berita, pilot, rapper, scuba diver, insinyur, pengusaha, dan dokter hewan,” tulis Fast Company.

Salah satu pabrik yang memproduksi Barbie berada di Indonesia. Mattel membuka cabang Indonesia sejak 25 tahun lalu. Antara melaporkan bahwa Mattel Indonesia memproduksi 60% dari total produksi Barbie di seluruh dunia.

Di Indonesia ada pula komunitas pecinta Barbie yang disebut Barbie Lovers. Randi Ramliyana, anggota komunitas, mengungkap bahwa Barbie Lovers muncul sekitar awal tahun 2000-an. Interaksi antaranggota komunitas semakin sering dilakukan sejak media sosial Instagram dan Facebook makin populer di dalam negeri.

"Anggota komunitas ini ada yang merupakan fotografer Barbie seperti saya, kolektor Barbie yang menyimpan sejumlah Barbie premium, doll lover atau pecinta boneka yang juga penjual boneka, mereka yang murni menjual Barbie, dan orang-orang yang punya keterampilan reroot (mengubah rambut Barbie) serta repaint (mengubah rias wajah Barbie)," kata Randi ketika dihubungi Tirto via saluran telepon, Rabu (7/3/2018).

Randi bergabung dengan Barbie Lovers sekitar 1,5 tahun. Mereka rutin berkomunikasi lewat direct message Instagram dan grup WhatsApp. Saat ini, Randi dan kawan-kawan sedang merencanakan Barbie Convention Indonesia. Tujuannya ialah meresmikan komunitas Barbie Lovers dan menyusun struktur organisasi.

Pria yang berprofesi sebagai dosen ini membuat ajang Barbie Next Top Model. "Saya hobi memotret Barbie dan ingin mengeratkan hubungan antar Barbie Lovers. Dalam ajang ini saya menantang peserta untuk memotret Barbie mereka dengan tema tertentu. Setelah itu akan saya seleksi. Ajang ini pertama kali diadakan pada tahun lalu. Peserta yang ikut sekitar 200 orang," kata pria yang tertarik pada Barbie bertubuh curvy dan berkulit gelap ini.


Popularitas yang Terus Merosot

Tidak semua tema koleksi Barbie bisa diterima masyarakat. Barbie pernah meluncurkan koleksi babysitting Barbie yang memuat buku diet berjudul Don’t Eat. Ada pula koleksi pesta piyama yang menunjukkan Barbie membaca buku How to Lose Weight.

Dua koleksi tersebut dianggap memicu anak-anak untuk melakukan diet sebelum waktunya. Barbie Koleksi Midge yang menunjukkan boneka tersebut memiliki anak juga mendapat protes lantaran dianggap tidak sesuai dengan karakter target pasar boneka.

Barbie terus berupaya menyesuaikan diri seiring perkembangan zaman. Di era milenial, Barbie tidak lagi populer. Keuntungan penjualan Barbie telah menurun sejak 2012.

Matell melaporkan penurunan penjualan yang kembali terjadi di tahun 2017. Penurunan tersebut salah satunya disebabkan lantaran daya pikir ibu milenial lebih kritis. Mereka menilai Barbie tidak relevan.

“Ibu milenial ialah masa depan kami,” kata Evelyn Mazzocco, kepala branding Barbie.

infografik mozaik barbie


Barbie mencoba menjawab kritik dengan meluncurkan produk dan kampanye yang sesuai dengan wacana di masyarakat Amerika Serikat tentang keragaman. Pada 2016, Barbie mengeluarkan beberapa tipe tubuh baru yakni curvy dan petite.

Barbie juga melansir Project Dawn, koleksi boneka dengan berbagai warna kulit, bentuk tubuh, dan warna rambut.

"Sayangnya Mattel tidak menjual Barbie dengan tubuh curvy dan kulit hitam di Indonesia," kata Randi.

Selain Randi, anggota Barbie Lovers yang menyukai Barbie berkulit gelap dan bertubuh curvy ialah Zoe. "Bentuknya unik. Saya suka Barbie dengan seri Made to Move sehingga badan boneka ini bisa digerakkan dengan leluasa," kata Zoe yang punya ratusan Barbie.

Majalah Time pernah menjadikan Barbie sebagai sampul dengan cover blurb berjudul "Now Can We Stop Talking About My Body?" Dalam cerita sampul, Time menulis tentang anggapan anak-anak terhadap ragam model Barbie. Anak-anak perempuan tersebut tidak memperhatikan bentuk tubuh. Mereka memilih boneka Barbie dengan berbagai warna rambut terang seperti biru. Ketika diminta untuk menunjuk Barbie, anak-anak itu akan menunjuk boneka dengan rambut pirang dan tubuh langsing.

Dalam sesi diskusi, seorang ibu berkata bahwa anaknya bertanya "di manakah Barbie?" saat sang ibu menunjukkan koleksi Barbie kulit hitam dan rambut merah. Evelyn berkata, perlu waktu bagi masyarakat untuk menerima kebaruan-kebaruan yang ditampilkan Barbie.

Di samping kritik masyarakat, Barbie pun menghadapi kompetisi serius dengan produsen mainan lain sejak pertengahan tahun 2000-an. Bratz dan Elsa “Frozen” adalah beberapa pesaing kuat. Kampanye Barbie yang menunjukkan isu sosial seperti Love Wins masih belum cukup untuk membuatnya kembali populer.

“Barbie mengalami krisis identitas,” kata Richard Dickson, mantan presiden Barbie, dalam wawancara dengan Time.

Baca juga artikel terkait BARBIE atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Joan Aurelia
Penulis: Joan Aurelia
Editor: Ivan Aulia Ahsan